
Setelah sekitar tiga puluh menit mereka bermain sebagai sarapan pagi. Mereka pun langsung membersihkan diri bersama dan lanjut menunaikan subuhnya.
Saat ini Sukma tengah membereskan tempat tidur yang amat berantakan dan mengganti semua tilamnya.
Alfandi yang masih mengenakan sarung mengambil ponsel serta mengecek dan ternyata ada beberapa panggilan dari Vaula yang pastinya akan menanyakan soal anak-anak.
“Kenapa Al?” tanya Sukma ketika melihat sang suami menatap layar ponselnya dan menggelengkan kepala.
Alfandi menoleh dan berkata. “Ini Vaula beberapa kali telepon yang tak terjawab, pasti dia mau menanyakan keberadaan anak-anak kali.”
“Oh, bilang saja anak-anak sudah pulang dan baik-baik saja, apa susahnya sih.” Timpalnya Sukma sambil membawa cucian ke kamar mandi.
“Malas ahc, biar saja. Paling menanyakan langsung pada anak-anak,” ucap Alfandi sembari menyimpan kembali ponsel di tempat semula.
Lalu Alfandi menghampiri sang istri yang baru kembali dari kamar mandi. Lantas memeluknya dari samping, dan mengecup pucuk kepalanya.
“Em, aku mau masak dulu menyiapkan sarapan. Oya nanti siang aku ada pelajaran tambahan sepertinya dan pasti pulang telat, terus mau jemput anak-anak dari pelajaran kurikulum nya.” Ungkap Sukma sambil memegangi tangan Alfandi.
“Iya, sayang. Yang rajin rajin belajarnya dan semangat. Hati-hati juga kalau bawa mobilnya.” Pesan Alfan sembari lagi-lagi mengecup kening sang istri dengan mesra.
“Tapi. Aku kadang merasa pusing-pusing. Mau periksa ke dokter tapi malas.” Tambahnya Sukma sambil memudarkan diri dari pelukan sang suami.
“Pusing-pusing? Ya sudah, nanti malam saja sama aku pergi ke dokternya ya? aku yang antar kamu ke dokter, oke?” ungkap Alfandi sambil mengusap kepala sang istri.
“Oke, kalau begitu. Tadinya aku mau minta di temenin Mimy saja,” sambung Sukma.
“Nggak, nanti aku aja yang mengantar mu,” ucap Alfandi yang tampak cemas dengan kesehatan sang istri.
“Iya. Nanti aku tunggu kau pulang, tapi jangan terlalu malam pulang nya ya?” pinta Sukma dengan nada manja sembari mengalungkan kedua tangan di pundak sang suami yang lantas merangkul pinggangnya.
“Iya sayang, aku akan cepat pulang demi istri ku ini, tapi sekarang gak pusing kan?’’ selidik Alfandi menatap cemas ke arah wajah sang istri.
“Nggak, sekarang lagi gak pusing. Kecuali kamu mengajak yang begituan mulu, jadinya pusing. He he he ...” timpal Sukma sambari menunjukan giginya yang berbaris putih tersebut.
“Aish ... tapi suka bukan? aku gak mau. Kau yang menggoda ku. Hem ... pura-pura gak mau segala!” goda Alfandi sembari sedikit memberi gelitik kan di pinggang istrinya itu yang meras geli dan meliukkan tubuhnya.
“He he he ... geli, lagian siapa yang menggoda? Aku gak pernah menggoda, yang ada meminta dalam bahasa lain, hi hi hi ...” elaknya Sukma sembari tertawa kecil.
“Sama aja sayang ku ...” tangan Alfandi membingkai wajah sang istri dengan gemasnya dan cuph! kembali mengecup bibir Sukma yang menjadi candu tersebut.
“Ya, sudah. Aku mau menyiapkan sarapan dulu ya?” kata Sukma dengan manik mata yang menatap wajah tampan suaminya tersebut.
“Baiklah, masih kangen nih ....” Muahc ... muahc, mengecup pipi Sukma berkali-kali.
Detik kemudian, Sukma membawa langkahnya keluar kamar untuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan.
“Mbak, yang bersih ya pel nya? nanti saya potong gaji. Atau tidak saya kasih makan selama seminggu! He he he ...” canda sukma kepada Mimy yang sedang mengepel di lantai atas.
“Hik-hik-hik, jahat amat jadi majikan. Nanti pembantu kabur lho ... baru tahu rasa dan tidak ada yang membantu baru tau rasa kau.” Mimy mendelik dan menunjukan rasa sedihnya. Dilanjut tertawa.
“He he he ... oya, My. Aku sering pusing-pusing, tadinya mau mengajak kamu ke dokter. Tetapi kata suami ku biar dia yang mengantar ku saja,” ungkap Sukma sembari bersiap melanjutkan langkahnya.
“Oh ... kapan saja bila kau butuh. Ajak aku saja, aku siap kok. Apa kamu sedang hamil, Ma?” ucap Mimy sambil menatap punggungnya Sukma.
Sukma menghentikan langkahnya yang bersiap menuruni anak tangga. Dia melamun dan sembari berpikir.
Bi Lasmi sudah berada di dapur menyiapkan sarapan dan Sukma pun langsung mengenakan celemek nya.
Namun ketika melihat bu Puji tengah menyapu bersama Jihan,
Sukma langsung berkata. “Bu, biar Jihan saja yang menyapu, jangan capek-capek. Ibu istirahat saja. yang mengerjakan itu semua biar yang lain! nanti Ibu kecapean lho ...”
“Aduh, Neng ... Ibu ini gak punya kegiatan sama sekali, jadi biar saja Ibu mempunyai kegiatan. Anak-anak juga di luar sebelum mandi sedang menyiram bunga tuh,” bu Puji tetap meneruskan menyapunya dan jihan kini yang mengepel.
“Ooh ... ya sudah tidak apa, jangan sampai kecapean saja.” Sukma melanjutkan niatnya dan berkutat dengan sodet dan wajan.
Setelah beberapa saat dan kini tinggal menata masakan di meja. Sukma naik ke lantai atas untuk melihat suaminya yang masih belum turun dan gak tau sudah siapa atau belum.
Tangan Sukma memegang handle pintu lalu mendorongnya dan mendapati sang suami yang sedang berganti pakaian dengan yang formal.
“Belum siap ya?” Sukma berjalan menghampiri sang suami yang sedang memasang kancing kemeja nya.
“Belum, tadi ada kerjaan sedikit di ruang kerja.” Alfandi menoleh pada sang istri yang kini berdiri di hadapnya memegang dasi.
Sukma memasangkan dasi di leher Alfandi. Juga jasnya merapikan kemejanya juga. “Ingat ya? usahakan cepat pulang?”
“Oke sayang ... kanapa sih? ada pa nih gak sabar banget? Katanya keseringan begitu bikin pusing? Tapi minta aku cepat pulang,” goda Alfandi sembari mengelus pipi Sukma yang lembut.
“Ih ... bukan itu, lagian ...kalau pusing setelah begituan, kata dokter pun itu termasuk normal lho. Cuma aku penasaran aja kanapa aku sering pusing? padahal sudah minum obat dari apotek—“
“Jangan sayang. Jangan minum obat dulu, nanti saja kalau sudah tahu apa penyebabnya?” Alfandi dengan cepat memotong perkataan dari istrinya.
“Iya makanya ... cepet-cepet pulang, biar segera ke dokter. Kan biar cepat-cepat ketauan.” Kata Sukma dengan nada manja.
“Iya, aku akan secepatnya pulang dan kita akan ke dokter sama-sama.” Alfandi kembali mengecup kening sang istri, setelahnya mereka keluar kamar.
Mereka berdua berjalan ke ruang makan. dan di sana sudah berkumpul untuk sarapan bersama.
“Mommy-Mommy, Fikri mau di suapi ya?” pinta Fikri sama sang mommy.
Sukma mengangguk pelan namun menyiapkan terlebih dahulu untuk suami. “Boleh. Nanti ya? Mommy mau menyiapkan buat papa dulu ya?”
“Oke, Mommy!” Fikri mengangguk pelan.
Kemudian, mereka menikmati sarapannya dan Sukma langsung mengambil buat sarapan nya Fikri dan menyuapinya dengan tulus.
“Sayang ... kalau Fikri makannya di suapi, mommy kapan sarapan nya?” Alfandi di sela makannya.
"Nggak mau, aku mau makan di suapi mommy." Fikri menggeleng.
"Biar saja, aku gak pa-pa kok." Sukma melirik pada sang suami.
Marwan menoleh ke arah Fikri yang lagi ingin manja-manja. "Abang. Dasar si manja lagi manja, ha ha ha ...."
Yang lain termasuk bun Puji dan suami hanya tersenyum melihat ke arah Fikri dan Sukma yang tulus memanjakan si bungsu ....
.
...Bersambung!...