
Sukma hanya tersenyum manis. Kemudian mereka berdiri di teras, dan kedua tangan Alfandi membingkai wajah Sukma sedikit mengangkatnya.
Pasang mata keduanya saling bertatapan satu sama lain, lalu kepala Alfandi celingukan melihat kanan dan kiri untuk memastikan kalau tempat tersebut benar-benar aman. Begitupun manik mata Sukma yang bergerak melihat gerak-gerik nya Alfandi.
Setelah memastikan tempat itu aman, Alfandi mendekatkan wajahnya sehingga nafasnya menyapu kulit wajah Sukma. Tatapannya terkunci pada bagian wajah yang membuat dirinya candu untuk menyentuhnya, detik kemudian, Alfandi melepaskan kecupan di benda tipis milik sang istri dengan lembut nan mesra.
Kedua tangan Sukma memegangi kedua tangan Alfandi yang membingkai wajahnya. Serta memejamkan kedua manik matanya, seolah menikmati sentuhan dari suaminya itu.
Beberapa saat kemudian, manik mata Sukma terbuka setelah merasakan ada gerakan jari yang mengusap bibirnya.
"Aku akan merindukan mu?" suara Alfandi pelan.
Sukma mengangguk pelan, lalu mencium punggung tangan Alfandi dengan hormat. Rasanya ingin memeluk pria itu, namun ia merasa malu bila dia yang duluan memulai.
Rijal datang dari arah pintu utama. Dan Alfandi langsung menjauhi Sukma mendekati mobilnya.
"Ayok bro? kita berangkut sekarang? alias berangkat ..." Rijal menyoren tasnya sambil berjalan menuju mobil.
Sukma melambaikan tangan pada Alfandi yang melihat dirinya dari dalam mobil. Kemudian Sukma memasuki ke dalam.
Berjalan ke dapur untuk membantu beres-beres! tetapi sudah di rapi dan bi Lasmi pun sudah bersiap untuk pulang.
"Non, Bibi mau pulang dulu ya?" kata bi Lasmi sambil melipat celemek di tempatnya.
"Iya, Bi. Hati-hati ya?" balas Sukma sembari mengangguk.
Setelah bi Lasmi pulang. Sukma langsung ke kamarnya dan belajar, sementara Jihan dan Marwan menonton televisi di bawah.
Waktu begitu cepat berganti dan berlalu. Malam tidak berasa sudah pagi lagi saking betahnya hidup di dunia Pana ini.
Sukma sudah rapi dengan balutan dress panjang dan sopan, begitupun dengan Jihan dan Marwan sudah siap dengan seragamnya masing-masing.
Luky di luar, sudah siap untuk mengantar Sukma ke sekolahan.
"Bi, mungkin aku agak lama di luar. Sebab mau ke sekolah Fikri juga." Sukma menoleh ke arah bibi yang sedang menyetrika.
"Ya, Non. Bibi juga mau ke pasar, Non belanjaan mingguan sudah menipis," balas bi Lasmi tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Ooh, iya sebentar?" Sukma merogoh tasnya untuk mengambil dompet.
Bi Lasmi hentikan aktifitasnya melihat ke arah Sukma.
"Ini buat belanjanya ya, Bi?" Sukma memberikan sejumlah uang untuk belanja mingguan.
Tangan bi Lasmi menerima uang tersebut. "Iya, Non."
"Ayo, Kak? siang nih!" ajak Jihan sambil merapikan kerudungnya.
Sukma menoleh pada Jihan. "Ya sudah, kita pergi dulu ya?" Sukma melihat ke arah bi Lasmi yang langsung mengangguk.
"Wan ... cepetan?" pekiknya Jihan.
Detik kemudian, Marwan muncul dari pintu belakang. Sebelum pergi ke sekolah dia ingat sama peliharaannya dulu.
"Ayo-ayo!" balas Marwan sambil mencuci tangan di wastafel.
Lantas mereka bertiga keluar mendekati mobilnya yang sudah di bukakan pintu oleh sang supir.
"Kak, mau langsung ke sekolah aku bukan?" tanya Jihan setelah duduk di dalam mobil.
"Iya, emang mau kemana dulu?" Sukma balik bertanya pada Jihan dan melihat ke arah Marwan yang asik makan Snack.
"Iih ... kau bekal makanan ya?" Jihan menyambar Snack di tangan Marwan.
"Ya ... Kakak! bawa dong ... aku cuma bawa itu doang!" Marwan merebut kembali cemilannya.
"Mau dikit napa? punya ku di rumah habis tahu," Jihan merampas dan memakannya.
"Ahk, Kak jihan! dikit lagi juga." keluh Marwan.
Sukma menoleh pada keduanya. "Nanti sepulang dari sekolah beli! gak usah ribut deh!"
"Di bayarin ya?" kata Marwan sumringah. "Soalnya gak bawa uang aku."
"Iya, santai saja?" Sukma mengibaskan tangannya, lalu sibuk kembali dengan benda pintarnya.
Tidak terasa diperjalanan. Mobil pun sudah tiba di halaman sekolah Jihan dan Marwan.
Sukma langsung bergabung dengan wali lainnya. Sembari duduk, Sukma celingukan mencari kali saja ada Firza dan dia sendiri tidak tau kelasnya.
"Kak. Kalau Firza di sebelah sana kelasnya!" Jihan menunjuk ke sebelah kelas.
Sukma pun mengangguk, menunggu mengantongi raport kedua adiknya.
Isi kepala Sukma terus mencari cara agar dengan cepat bisa mengambil raport Jihan dan Marwan, takut telat mengambil raport Firza. Belum ke sekolah nya Fikri, sementara waktunya bersamaan.
Beberapa saat kemudian Sukma pun sudah mendapatkan raport nya Jihan dan Marwan.
"Iya, Bu guru. Saya kakaknya!" Sukma membungkuk hormat pada para guru yang berhadapan dengannya.
Setelah berbincang sebentar. Sukma berpamitan kepada ibu dan bapak guru. Dan tidak lupa mengucap terima kasih banyak atas bimbingan mereka pada kedua adik nya.
Setelah itu, dia buru-buru ke kelasnya Firza dan langsung ke guru nya, dengan alasan dia mau ke tempat lain lagi.
"Maaf, sebentar! anda siapanya Firza ya? mana pak Fandi atau Bu Vaula?" tanya gurunya Firza.
Sebelum menjawab. Sukma menoleh pada Firza yang sedari tadi hanya diam saja, tak sepatah kata pun yang dia ucapkan.
"Em ... saya wakil dari pak Fandi dan ibu, untuk datang ke sini! mengambil raport adek Firza. Dan saya juga harus ke sekolah adiknya dek Firza. Makanya saya buru-buru mendatangi ibu dan bapak di sini." Lirihnya Sukma dengan sedikit menunduk sebagai tanda hormat.
Para guru yang berada di sana saling bertukar pandangan satu sama lain, lalu berkata. "Ini raport nya adek Firza mohon lebih diperhatikan lagi. Karena hakikatnya semua nilai pelajaran adek Firza sudah bagus dan menonjol."
Sukma menoleh kepada Firza yang tetap saja bersikap dingin, acuh dan gak mau bicara.
"Oh iya, sekali lagi terima kasih? selama ini sudah membimbing dia. Dan mohon maaf atas segala kekurangannya mohon dimaklumi?" lagi-lagi Sukma mengangguk hormat.
Guru pembimbing Firza pun mengangguk ramah. Selepas itu ... Sukma langsung berpamitan kepada semua guru, lantas menyuruh Firza untuk mencium tangan guru-guru yang berada di sana sebagai salam hormat dan terima kasih.
Sukma, berjalan bersama Firza di lorong sekolah menuju mobilnya yang terparkir di depan sana.
"Firza mau pulang sekarang apa nanti? kalau sekarang diantarkan! tapi ke sekolah Fikri dulu dan saya nggak tahu sekolahnya di mana?" Sukma melirik ke arah Firza yang sedang berjalan dan sedikit agak jauh darinya.
"Itu bukan bertanya, tapi sama saja dengan menyuruh! menyuruhku untuk ikut!" akhirnya dari tadi yang diam 1000 bahasa. Pada akhirnya Firza mengeluarkan suaranya juga walaupun dengan nada ketus dan dingin.
"I-iya sih ... kan sekalian saja, nanti juga paling dijemput lagi kan sama mobil? dan apa salahnya kalau sekarang bareng aja! Saya sudah diamanatkan oleh papa kamu untuk mengurus kalian berdua," Sukma sambil tetap berjalan hingga akhirnya sampai ke mobil miliknya.
Ternyata Marwan dan Jihan sudah berada di dalam mobil. Sesampainya di situ, Firza bengong melihat mobil tersebut dan merasa heran mobil siapa ini?
"Kenapa? ayo masuk? kasihan Fikri menunggu," titahnya Sukma kepada Firza yang malah bengong.
"Mobil siapa ini? dari papah kan?" selidik Firza.
Dan Sukma bukannya menjawab. Dia malah langsung duduk di sampingnya Jihan serta memberi ruang buat Firza duduk. Firza pun langsung masuk, duduk di sampingnya Sukma. Meskipun terkesan malas.
Sukma tidak peduli dengan sikap Firza yang dingin atau apalah? yang penting dia bisa mengawasi anak itu dan bisa mengurus keperluan mereka.
"Mas tolong lebih cepat jalannya? ke sekolah SD yang berada di depan, bukan?" Sukma juga melirik ke arah Firza yang langsung mengangguk.
"Oke!" balas supir, langsung melakukan mobil tersebut dengan cepat.
Sepanjang perjalanan. Firza tidak bersuara sedikit pun, tidak seperti Jihan dan Marwan yang terus mengobrol. Membuat suasana di dalam mobil terasa ramai.
Selang beberapa saat kemudian. Mobil sampai di tempat tujuan. dan Luky memarkirkannya gak jauh dari parkiran yang penuh dengan kendaraan lain.
Namun manik mata Sukma melihat keberadaan Fikri yang berdiri di dekat gerbang. "Ya Allah ... Fikri berdiam diri di sana, kasihan sekali! menunggu kali ya?"
"Kalian tunggu di sani ya?" pinta nya Sukma pada Firza, Jihan dan Marwan.
Sukma buru-buru turun dan setengah berlari menghampiri Fikri. "Fikri sedang apa di situ? kenapa nggak masuk, Nak?"
Fikri, setelah melihat kedatangan Sukma. Yang tadinya terlihat murung berubah menjadi ceria dan dia langsung menyambut kedatang Sukma dengan histeris. "Mommy?"
Lantas Fikri memeluk Sukma dengan erat, seakan menunjukan kalau dirinya begitu sangat merindukan kehadiran mommy nya yang satu ini.
"Kenapa mommy telat datangnya sih? yang lain sudah pada pulang sebagian!" anak itu tampak sedih dan manik matanya berkaca-kaca.
"Ya ampun ... maafin Mommy ya? Mommy kan harus mengurus kakak Firza dulu, sebelumnya kak Jihan dan kak Marwan! jadinya telat deh ... ke sini nya! mau kan Fikri maafin mommy hem?" Sukma berjongkok menatap anak itu penuh haru, tangannya mengusap rambut Fikri yang tampak berantakan.
Fikri pun mengangguk sembari mengusap sudut matanya yang basah.
Sungguh, Sukma tidak tega melihat anak ini dan sesaat dia memeluk kembali. Dan beberapa saat kemudian, Sukma pun melepaskan rangkulannya seraya mengusap sudut matanya yang sempat basah. "Ya sudah. Kita temui ruang gurunya ya?"
Mereka berdua berjalan cepat untuk menemui gurunya Fikri.
"Kau mau kemana?" tanya Marwan kepada Firza yang turun dari mobil tersebut.
"Turun lah, apa kau melihat ku tiduran?" jawabnya Firza sambil melihat-lihat suasana sekitar.
"Kali saja mau pergi! kata kakak jangan kemana-mana," timpal Jihan.
"Jangan banyak bicara! saya tidak perlu di atur!" Firza berdiri dan bersandar ke badan mobil.
Luky yang sebagai sopir di sana hanya diam serta menyimak obrolan mereka.
"Mama dan papa Fikri mana? nggak datang juga ya?" tanya ibu guru sambil menatap kedatangan Fikri yang datang bersama seorang wanita muda yang tidak pernah dikenali sebelumnya.
"Datang kok, ini Mom--" Fikri menggantung perkataannya ....
.
.
...Bersambung!...