
Saat ini Firza, Marwan dan Fikri Tengah bermain jetski. Mereka bertiga tampak sangat happy bermain jetski saling kejar mengejar. Dan membuat sebuah lingkaran.
Disusul oleh Alfandi yang bonceng Sukma. Berbaur dengan mereka, sementara Syakila bersama Jihan bermain di Pasir Pantai.
Senyuman Jihan yang mengembang tidak pernah pudar dari bibirnya apalagi melihat keluarganya yang tampak happy. Dan mengingat tentang semalam tentang ia dan Firza.
Yang kemudian Marwan, Fikri dan Firza menghampiri Jihan bersama jetski nya masing-masing dan mengajak Jihan untuk naik jetski dan turun ke laut.
"Ayo Kak, bukannya Kakak mau naik jetski. Biar aku yang jagain Syakila!" kata Marwan yang langsung turun dari jetski nya.
"Kakak nggak bisa, apalagi bawa sendiri. Nggak bisa bawa," jawabnya Jihan sambil menatap ke arah jetski.
"Ya sudah, Kak Jihan dibonceng Kak Firza aja, ayo cepetan ... nanti keburu sore lho. Tuh mommy sama Papa aja balik! ayo sekarang sama Kak Firza cepetan!" tambahnya Fikri memberi semangat agar Jihan naik jetski bersama sang kakak.
Iebetulan saat ini Jihan pun sedang mengenakan celana panjang dan kemeja.
"Ayo mau naik nggak? sebelum aku berubah pikiran nih tawarnya Firza kepada Jihan.
Sesaat Jihan terdiam, dia merasa ragu dan malu.
"Kalau Jihan mau naik jetski ayo? nggak bisa kan bisa belajar itu ada Firza yang siap jagain juga ngajarin, Syakila sudah ada kakak kok. Makasih ya!" suaranya Sukma ambil melepas rompi pelampung di tubuhnya.
"Nggak mau ah ... takut, takut jatuh dan nggak bisa bawa!" Jihan pun menggelengkan kepalanya.
Membuat Marwan dan Fikri mencibir. "Ach ... Cemen ... gitu aja takut, Cemen ....."
"Kila mau ikut Abang Eza. Kila mau ikut Abang Eza. Mommy, Papa Kila mau ikut apang Eza." Syakila merengek ingin ikut sama Firza dan dia langsung mendekati kaki Firza dan minta dinaikkan.
"Nggak mau, nggak mau. Kakak nggak bisa bawanya kalau harus bawa Syakila. Takut nanti kalau Syakila jatuh gimana? nggak mau ach, nggak mau." Firza menggelengkan kepalanya dan menggeser tubuhnya.
"Ngah ... mau ikut!" Syakila menangis dan di ambil sama papanya.
"Yah ... si gamoy nggak bisa ikut kasihan deh lo, kasihan deh lo," Fikri menggoda sang adik hingga tambah keras menangisnya.
"Mau ikut ... mau ikut Apang Eza. Mau ikut!" teriak Syakila.
Lalu kemudian Sukma yang menenangkan Syakila, sehingga dengan cepat anak itu berhenti menangis.
"Gimana ini mau naik nggak? nanti keburu sore dan aku berubah pikiran nih ... buruan?" ucapnya Firza yang di tujukan kepada jihan yang masih saja mikir, sambil merapikan kerudung motif bunga-bunganya.
Dan pada akhirnya Jihan pun naik ke jetski nya milik Firza, dia duduk di belakang yang sebelumnya mengenakan rompi pelampung, Firza yang langsung melajukan jetski nya ke tengah setelah Jihan duduk dengan baik.
"Jangan terlalu cepat, nanti aku jantungan!" pintanya Jihan sambil memegang kuat-kuat rompi bagian pinggangnya Firza.
"Ha ha ha ... kayak orang nggak pernah naik pesawat aja jantungan!" Firza malah tertawa lepas yang diiringi dengan hembusan angin yang kuat.
"Kalau memang itu nyatanya gimana? aku tuh takut, Za ..." suara Jihan kembali dengan suara tinggi karena kalau pelan nggak akan kedengaran.
Sementara Alfandi, Sukma. Marwan, Fikri juga Syakila. Mereka semua memilih bersantai di sebuah kedai di pesisir pantai dan menikmati minuman air kelapa asli.
"Kak, gimana kalau kak Jihan sama Firza saling jatuh cinta! boleh tidak?" celetuknya Marwan kepada Sukma.
Dengan refleks Sukma menoleh kepada Marwan, sang adik. Lalu kepada Alfandi suaminya yang langsung bengong! tersentak dengan pertanyaan itu. Ia baru kepikiran gimana. Kalau iya ya? sementara Jihan adalah adik iparnya Alfandi dan Firza adalah putranya.
"Iya sayang, Marwan bener ... gimana kalau mereka seling jatuh cinta? kalau saling sayang sebagai keluarga kita sudah seharusnya! kalau lebih dari itu gimana?" suara Alfandi pelan pedas sang istri.
Sukma menaikkan kedua bahunya sembari berkata. "Mana aku tahu, tapi ... kalau emang jodoh sih nggak apa-apa!"
"lho, kok begitu sayang? kita kan keluarga?" Alfandi menatap heran pada sang istri.
"Setahu aku boleh saja. Karena pertalian saudaranya kan sambung, boleh. Sebab tidak ada pertalian darah sebelumnya. Kalau memang berjodoh ... kalau tidak ya lebih bagus, sebab Syakila kan keponakannya Jihan dan Firza kakaknya Syakila." Uraian dari Sukma.
Alfandi manggut-manggut sembari menikmati minuman segar dari kelapa asli.
"Jadi boleh aja ya, Kak?" tanya Marwan kepada Sukma dan juga melihat ke arah Alfandi.
"Em ... tidak apa-apa! ini kan cuma nanya dan berandai-andai." jawabnya Marwan sembari mencubit pipi Syakila.
"Iih sakit ..." Syakila mengusap pipinya yang terasa panas.
"Iya nih ... kak Wawan jahat ya! biar Abang pukul saja om nya, Uuh ... jahat sekali." Bugh Fikri memukul paha Marwan dengan tidak kira-kira.
"Kamu apa-apaan sih? malah mukul aku," Marwan melotot ke arah Fikri dan Fikri hanya nyengir.
Plak ....
Syakila pun menambahkan pukulannya ke atas pahanya Marwan. "Nah, Om Wawan jahat cubit-cubit Syakila. Sakit, Apang juga suka jahat sama Syakila. Uuh ..." Syakila pun mencubit bahu nya Fikri.
"Aw, sakit ..." Fikri meringis sambil mengusap bahu nya.
Setelah itu mereka pun pulang ke penginapannya masing-masing. Dan Jihan juga Firza mengikuti dari belakang. Setalah menyerahkan jetski pada yang punya.
Setiap hari mereka menghabiskan waktunya di tempat-tempat yang ada di Nusa Bali. Menikmati suasana liburan dengan segala kebahagiaan mereka, serta melupakan semua penat dan masalah apapun yang mereka temukan di tempat mereka beraktifitas.
Jihan dan Firza tampak semakin dekat satu sama lain.
Dan pada akhirnya mereka pun pulang, setelah merasa puas beberapa hari di Bali mengunjungi beberapa tempat di sana. Kini mereka sudah berada di dalam bandara menunggu kesiapan pesawat untuk membawa mereka pulang ke kota asal.
"Apang ... aku mau sama apang Eza. Ya, ya?" Syakila membelai wajah nya Firza yang sedang menggendongnya.
"Mommy Syakila nih!" Firza menoleh pada Sukma yang sedang sibuk mengumpulkan data.
"Emangnya kenapa sih? riweh amat sih jadi kakak!" ucap Jihan yang memakaikan topi di kepalanya Syakila.
"Bukan masalah gendongnya, masalahnya membelai pipi gue terus yang bikin gue nggak biasa ha ha ha ..." sahutnya Firza.
"Ha ha ha ... makanya dekat sama adek, punya adik itu di momong bukan sibuk sendiri!" celetuknya Marwan sambil tertawa lepas.
"Hah. Nggak jauh gimana? orang kita beda tempat kok, kalau lo yang jauh sama mereka nggak wajar karena satu rumah. Kalau gue ya wajar orang nggak satu atap!" jawabnya Firza dengan masih menggendong Syakila di depan.
"Kila ... jalan dong sayang, turun ... Abang Eza nya pegal kalau harus gendong terus. Boleh nanti duduknya sama Abang, tapi sekarang turun dulu. Jangan di gendong terus ach." Sukma menatap putri nya yang di kuncir dua.
Yang malah merengek gak mau di turunkan dan maunya dalam gendongan Firza biarpun sudah berusaha diturunkan sehingga anak itu kembali digendong oleh sang kakak.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya mereka pun bersiap untuk memasuki pesawat karena sebentar lagi Pesawat akan lepas landas. Dan Syakila masih tetap dalam gendongan Firza sehingga tas miliknya dibawakan oleh Marwan.
"Awas lho, ada yang hilang! kalau satupun ada yang hilang berarti kamu yang ngambil!" canda Firza pada Marwan yang mengambil alih tas punggung miliknya.
"Aah dasar rese, sekalian aja aku buang sana! bila perlu nanti di atas sana gue lempar agar jatuh ke laut ha ha ha ..." Marwan menanggapi nya dengan bercanda juga.
"Kak Wawan, Kak Wawan ... gimana kalau pas dilempar nih ya. Bukannya ke laut jatuhnya! tapi malah nimpug kepala orang? ha ha ha ..." kini Fikri yang cekikikan.
"Iya, yah ... bener juga ya? pas dilempar bukannya ke laut! malah menimpa kepala orang, masih mending kalau kepalanya kepala dia!" Marwan menunjuk kepalanya Firza yang dibalut dengan topi gucci berwarna hitam.
Firza hanya menunjukkan pasang netra matanya yang mendelik ke arah Fikri dan Marwan.
Sukma dan Alfandi hanya senyum-senyum saja mendengar obrolan mereka.
"Mom, plester noh mulutnya mereka berdua, enak bener kalau ngomong!" Firza menunjuk pada adik dan om sambungnya itu.
Begitupun dengan Jihan dia ketawa aja melihat ekspresi wajah Firza yang digoda oleh Marwan dan adiknya Fikri.
"Sudah-sudah, ayo masuk!" ajaknya Alfandi seraya membawa melangkah kakinya menaiki anak tangga pesawat.
Kini semuanya sudah duduk manis di tempatnya masing-masing dan pesawat pun sudah mulai lepas landas membawa mereka kembali ke kota asal untuk menyiapkan diri kembali beraktivitas seperti biasanya ....
Bersambung.