Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Suatu hari obrolan pun terjadi dan santai di teras belakang sambil menikmati suasana sore menghadap kolam renang dan di sampingnya bunga-bunga.


Di situ ada Sukma, Alfandi. Firza dan Jihan. Di tambah lagi Marwan yang baru saja datang dan ikut nimbrung bersama mereka.


"Pah, sebenarnya ada yang ingin Firza bicarakan. Tentang masa depan ku. Aku dah cukup dewasa dan aku akan berusaha tanggung jawab dengan apa yang aku lakukan." Ungkap Firza sambil menatap sang ayah.


"Tentang apa itu?" Alfandi mengerutkan keningnya sembari menatap putranya yang kini sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab sendiri.


Firza menatap kedua orang tuanya yaitu Alfandi dan Sukma, kemudian mengalihkan pandangan kepada Jihan gadis yang berkerudung putih! yang kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Sebenarnya aku ... aku ingin menikah dengan Jihan. Aku tahu kalau kita satu keluarga, akan tetapi semua orang pun tahu kalau kita hanya saudara sambung. Menjadikan tidak ada larangannya untuk kita saling mencintai dan menikah!" jelasnya Firza kembali dengan tutur kata yang hati-hati.


Degh.


Uraian kata dari Firza sudah diduga dari semula oleh Sukma. sebab wanita yang mengenakan gaun coklat itu sudah merasakan dan berpendapat kalau kabar dulu mereka dekat itu pasti akan lebih ke jenjang serius bukan sekedar main-main. Biarpun tidak ada kata pacaran di antara mereka berdua.


Jihan menghela nafas dalam-dalam seraya menundukkan kepalanya lalu detik kemudian mengarahkan pandangan ke arah Firza maupun Jihan.


"Aku tahu kalau kalian hanya saudara sambung, pertalian kita adalah Syakila. Kalau memang kalian ada jodoh nggak ada alasan untuk aku melarang niat kalian berdua." Ungkap Sukma.


"Papa juga setuju saja kalau memang kalian serius dan akan menjadikan pernikahan ini suatu yang sakral dan tidak main-main. Satu lagi. Benar-benar siap! karena rumah tangga itu tidak semudah yang kita bayangkan." Jelas Alfandi menambahkan perkataan dari sang istri.


Sukma menoleh pada suaminya. Hatinya merasa tenang karena Alfandi tidak ada masalah bila Firza mempersunting sang adik.


"Kamu sendiri gimana Jihan ... kalau kamu menikah dengan Firza . Abang ini bukan sekedar Abang tapi juga mertua dong! ha ha ha ...."


Alfandi tertawa lebar dan di ikuti oleh Marwan merasa lucu juga, Abang ipar tapi mertua. Mommy jadi Kaka ipar juga.


Jihan hanya menunduk malu dan dia memang merasa yakin kalau dia akan menerima Firza sebagai suami.


Begitupun dengan Firza, dari awal sampai saat ini dia tetap ingin menikah dengan Jihan si gadis pujaan hati nya yang selama ini dia niatkan untuk menikahi.


"Berarti kita nggak ada acara lamaran dong ya? orang satu rumah, nggak ada seserahan!" celetuk nya Marwan.


"Ada dong, seserahan." Timpal nya Firza menatap ke arah Marwan.


"Iya, atur saja lah. Toh kalian bisa mengaturnya sendiri." Tambahnya Alfandi sambil meneguk minumnya.


"Aku nggak akan bertanya kesiapan kalian seperti apa? karena yakin kalian bisa mengatur sendiri dan kalian bicara begini karena memang sanggup untuk membina rumah tangga--" Sukma menjeda perkataannya sesaat.


Semua pasang mata memandangi ke arah Sukma yang tampak penghela nafas.


"Aku hanya bisa mendoakan semoga kalian berdua bahagia dan bisa melewati biduk rumah tangga, yang sesungguhnya tidak seindah yang di bayangkan. Terus ... apa Mama akan merestui kalian?" Sukma menatap cemas kepada Firza.


Jihan menolehkan kepalanya kepada kakaknya, dia memang kepikiran soal itu karena setahu dia Vaula memang tidak suka dengan kedekatan dirinya sama Firza.


Lalu Jihan menatap ke arah Firza yang juga bengong mengingat mamanya. Tapi Firza tetap yakin dengan keputusannya untuk menikahi Jihan.


Setelah obrolan pun selesai dan keputusannya ... dalam jangka waktu yang tidak lama lagi Firza dan Jihan akan segera menikah.


Panjut Mereka pun menunaikan salat Magrib bersama, lalu kemudian mereka pun bersiap untuk makan malam bareng-bareng.


...------...


"Aku datang ke sini untuk menyampaikan suatu pada Mama. Nantinya Mama setuju atau tidak! tidak akan merubah keputusan ku!" ucap Firza.


Saat ini Firza sudah berhadapan dengan mamanya dan dia sengaja datang ke kediaman sang Mama mengajak Jihan juga.


Tatapan Vaula mengarah kepada Firza dan Jihan disertai tatapan yang sangat mengintrogasi kedua muda mudi tersebut. "Emangnya kamu menyampaikan apa?"


Firza menghela nafas dalam-dalam yang kemudian dia berkata. "Aku akan menikah dengan Jihan!"


"Apa? kalian mau menikah? kalian itu bukannya saudara? masa mau menikah, tidak saya tidak setuju! dengan alasan apapun. Saya tidak setuju kamu menikah dengan putra saya!" jelas Vaula sembari menatap ke arah Jihan.


Jihan mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Firza tanpa berkata-kata kemudian dia menunduk kembali. Sudah diduga kalau Vaula tak akan merestui hubungan nya dengan Firza.


"Ehem, Mah! di awal pun sudah kubilang. Setuju ataupun tidak setuju tidak akan merubah keputusan ku! aku akan tetap menikahi Jihan, aku hanya bilang saja sama Mama bukan untuk minta restu. Karena aku tahu mama Nggak akan Restui kami berdua!" ucapnya Firza dengan tegas.


Vaula menatap tajam ke arah putra dan yang katanya calon istri yaitu Jihan. "Oke, kalau begitu ngapain kamu datang dan bilang itu semua? kalau kamu tidak pernah mau mendengarkan kata-kata Mama, dari dulu! kamu itu keras kepala dan lebih mendengarkan kata Papa ketimbang kata Mama! padahal Mama ini yang mengandung kamu lho, yang merawat kamu dari kecil sampai besar!"


"Mah ... aku hanya bilang itu aja, karena apapun keputusan Mama tidak akan merubah niatku!" suara Firza dengan lirih kemudian dia menghela nafas dalam-dalam. "Oke, karena itu saja yang ingin aku katakan, sekarang aku pamit!"


Kemudian Firza beranjak dari duduknya seraya melirik ke arah Jihan dan memberi kode bahwa mereka akan segera pulang.


Jihan pun berdiri mengikuti Firza Kemudian mereka pun melangkah keluar setelah sebelumnya bersalaman dengan Paula, dengan sikapnya yang tetap tidak suka.


"Kalau kamu nekat untuk menikahi gadis itu. Jangan harap Mama datang dan menghadiri pernikahan kamu!" pekiknya Vaula.


Namun Firza tidak menghiraukan perkataan dari mamanya! dia terus saja berjalan hingga mendatangi mobil yang dia bawa.


...--------...


Saat ini di kediamannya Jihan, sudah tampak di dekor dengan pernak-pernik acara pernikahan ala modern! berhiaskan bunga-bunga yang dominan warna putih dan pink.


Undangan khusus pun sudah nampak di sana, berlalu-lalang dan bersiap untuk duduk mengikuti acara ijab dan khabul.


Di meja yang dikhususkan untuk ijab dan Kabul, sudah tampak Firza duduk berhadapan dengan bapak penghulu siap untuk mengucap janji.


"Jangan tegang bro, santai ... tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan ... tarik lagi, hembuskan kembali ... begitulah sampai kau bosan!" celetuk Marwan yang duduk tidak jauh dari Firza sehingga tangan Firza bisa menjangkau dan menepuk pahanya Marwan.


"Kurang ajar! aku pikir serius ternyata bercanda," gumamnya Firza dengan suara pelan, dan keringat dingin pun mulai bercucuran. Dia tanpa gugup menghadapi ijab dan khabul.


Namun ketika dimulai, Firza malah lancar mengucapkan janji suci dengan satu tarikan nafas saja.


Sehingga tahu-tahu orang berkata sah, tanda bahwa Jihan dan Firza sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


Tampaklah wajah-wajah yang penuh dengan bahagia dan mengucapkan selamat kepada Firza dan Jihan atas pernikahan mereka berdua.


Dan para tamu begitu terpukau dengan bacaan tilawah yang disuguhkan oleh Fikri, anak itu bukan cuman belajar berdakwah tetapi juga membaca tilawah. Dengan suaranya yang merdu melengking! kemampuannya pun cukup mengagumkan orang-orang yang berada di sana.


Membuat Alfandi dan Sukma sebagai keluarga, merasa terharu bulu kuduknya merinding mendengar suara merdunya Fikri.


"Aku bahagia dan juga sangat terharu, Fikri sudah mulai menunjukkan kemampuannya dan alhamdulillah mampu membanggakan ku!" suara Alfandi yang bergetar, mengusap wajahnya dengan satu telapak tangan.


Serta tetapan yang mengarah pada Fikri yang duduk di atas panggung pelaminan yang indah dan menjadi tujuan pandangan semua mata ke arah tempat tersebut.


"Aku juga bangga dan aku bahagia. Kini Fikri sudah dewasa bukan lagi anak yang manja dan dia sudah menunjukkan kemampuannya, lain dari yang lain ini lebih dari membanggakan ku." Timpalnya Sukma sembari manggut-manggut.


Kemudian Alfandi dan Sukma pun berbaur dengan kedua mempelai. Ikut menerima tamu dan berfoto bersama.


Pada akhirnya keluarga itu sangat bahagia, dengan kehidupannya.


TAMAT