Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Pingsan



"Fikri, sayang. Mama kangen deh!" Vaula merengkuh bahu putra sulungnya tersebut.


Firza hanya terdiam dalam pelukan mamanya.


"Firza, ikut Mama ya? besok kita liburan ke Bali atau Lombok." Ajak Vaula penuh harap. "Dan kita hanya bertiga saja tanpa ada yang mengganggu kebersamaan kita."


"Ahc Fikri gak mau ikut, gak asih tanpa kak Wawan dan kak Jihan. Tanpa mommy juga." Anak itu mendongak ke arah Sukma.


Vaula bengong melihat putra bungsunya itu. Dan kata-kata nya mengiris hati dan bikin sesak.


Suasana menjadi canggung. Sukma segera berjongkok agar sejajar dengan Fikri. "Ehem. Sayang ... kan kemarin kita dah liburan bersama dan sekarang tinggal kalian sama mama. Lain kali kita bisa liburan lagi bersama."


"Nggak mau. Aku mau nya sama Mommy aja liburannya sama papa juga biar kita semua liburannya. Kak Jihan dan kak Wawan juga ikut kalau papa dan Mommy pergi." Kata Fikri dengan nada sedih.


"Aku juga gak mau, karena ini bukan waktunya liburan. Tapi waktunya sekolah, kenapa ketika waktu liburan Mama gak ada? sementara sekarang ini! aku gak mau ketinggalan pelajaran ku." Kini Firza yang memprotes ajakan mamanya.


"Kalian kenapa sih? tidak memberi kesempatan buat dekat dengan kalian berdua ha? sebenci itukah kalian sama Mama ha sebenci itu kah." Nada suara Vaula sedih dan tak dielakkan kedua manik matanya pun berkaca-kaca menahan tangisnya. Dia berdiri menatap kedua putranya dan Sukma bergantian.


"A-aku tidak benci kok, aku cuma mengutarakan pendapat ku kalau saat ini waktunya sekolah bukan liburan." Jawabnya Firza.


"Maaf, memang ada benarnya kok, kalau ini bukan waktu yang tepat untuk liburan. Kalau seandainya mereka berdua ikut, auto mereka bolos sekolah dong ... jadi ... sebaiknya, lain waktu saja liburannya. Agar tidak mengganggu sekolah nya," ungkap Sukma yang membenarkan pendapat Firza.


Vaula menatap tajam ke arah Sukma, dengan tatapan yang tidak bersahabat. "Kau juga tidak membiarkan anak-anak dekat dengan ku, kau pikir kau ini siapa? yang hanya ibu sambung buat mereka berdua, yang suatu saat tidak akan diakui keberadaannya."


Sukma menelan Saliva berkali-kali sembari membalas tatapan dari Vaula yang begitu tajam dan menunjukan keangkuhannya.


"Mama, jangan marahi mommy. Kasihan ... dia sayang sama Abang dan Kakak Za." Fikri mendongak pada mana dan mommy nya bergantian.


"Dia, dia itu sayang sama papa bukan sama kalian. Dan juga sayang sama harta papa kalian! belum tentu tulus menyayangi kalian, Fikri. Firza." Vaula menunjuk ke arah Sukma dan melirik ke arah kedua putranya.


Sukma menggelengkan kepalanya. "Itu, tidak benar. Sama sekali tidak benar!"


"Saya, ibu kandung yang mengandung dan melahirkan kedua putra saya! saya mengasuh ketika mereka masih kecil. Sekarang kamu enak! karena mereka sudah besar dan tinggal suruh-suruh saja, jangan pernah racuni otak anak-anak saya, karena antara ibu dan anak tidak akan pernah terpisahkan." Kata Vaula sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sukma.


"Firza. Ini Mama kamu, bukan dia!" Vaula menatap ke arah Firza yang di anggap lancang.


Bu Puji yang datang menghampiri. "Kalian masih di sini?"


Vaula dan Sukma menoleh ke arah Bu Puji yang kini mendudukan dirinya di sofa. Sementara mereka berdiri.


"Oke, kalau kalian gak mau ikut sama Mama, lain kali saja kalau kalian libur. Mama mau pulang dulu, Bu. Saya pulang dulu dan titip anak-anak." Vaula mencium tangan Bu Puji, kemudian mencium pipi Fikri dan Firza.


Vaula berjalan mendekati mobil nya. Bugh ... pintu mobil sedikit di banting dan lalu kemudian Vaula memukul kemudi. "Sial, anak-anak lebih memilih wanita itu ketimbang aku mamanya."


Sukma tertegun dengan apa yang dia dengar dari mulutnya Vaula yang pedas tersebut.


"Neng, kau oke?" Bu puji menatap ke arah Sukma yang mematung di tempat dan terlihat ada buliran air mata di pipinya.


Fikri pun tidak kalah cemas melihat mommy nya yang menangis. "Mommy, Mommy tidak apa-apa kan?"


Sukma menoleh pada Fikri dengan senyuman getirnya. Namun matanya mendadak berkunang-kunang, kepala menjadi pusing. Lutut bergetar dan lalu .... pandangannya Sukma menjadi kabur dan akhirnya Sukma tidak ingat apa-apa lagi.


"Mom?" Firza langsung berlutut ketika tubuh Sukma luruh ke lantai dan dia sendiri tidak mampu menahan beban, tangannya mengangkat kepala mommy nya yang pingsan.


Bu Puji, Fikri panik melihat Sukma pingsan. Dan Fikri memekik memanggil sang papa yang tengah di ruang kerjanya.


Mendengar suara Fikri yang teriak-teriak. Semua yang berada di dalam rumah pun berburu ke luar. Pak Sardi. Bi Lasmi, Jihan dan Marwan yang sedang belajar langsung melonjak dan berlari menuju teras.


Sementara Fikri berlari mencari papanya yang barada di lantai atas. "Papa? Papa dimana sih?" Pekik anak itu sambil berlari menaiki anak tangga ....


.


...Bersambung!...