Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Menduga-duga



"Maksud, Za. Apa? jangan suudzon ahc pamali, biar yang berwajib saja yang menyelidiki siapa pelakunya." Sukma dengan lirih.


"Benar. Biar polisi saja yang menanganinya, kita tidak perlu menduga-duga dan akhirnya menjadi fitnah." Tambah Alfandi yang cocok dengan perkataan sang istri.


Bu Puji dan pak Sardi beristigfar berkali-kali, karena sudah menduga-duga siapa yang sudah membuat mantunya seperti itu.


"Astagfirullah ... kita sudah suudzon ya Pak dan menduga-menduga siapa orang yang sudah tega membuat mantu kita seperti itu," ucap bu Puji yang mendapat anggukan dari sang suami.


"Ya sudah, kita mau makan dulu atau di rumah saja?" tanya Alfandi menatap ke arah sang istri dan anak-anaknya.


"Kalau aku sih mending pulang saja, kasihan Fikri bobo, yang... tapi kalau Ibu dan Bapak juga, Za. Mau makan di resto, silakan saja." Balasnya Sukma sambil melihat ke arah mertua dan putra nya secara bergantian.


"Em ... aku sih di rumah saja, kasihan juga Marwan dan Jihan gak di ajak," ucap Firza, dia ker juga pada Marwan dan Jihan yang ada di rumah.


"Ibu sih dan Bapak gimana kalian saja," tutur bu Puji.


"Em ... gimana kalau pesen saja yang ... biar makan nya di rumah?" Sukma melirik pada sang suami,


"Oke, aku setuju. Biar kita pesan saja lauk pauk nya, Kalau nasi sih di rumah juga sama." Alfandi merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya untuk memesan buat makan.


Kemudian mobil menepi di depan restoran dan pak Luky mengambil pesanan Alfandi di resto tersebut. Tidak lama kemudian pak Luky kembali dengan menjinjing kantong di tangan, lantas melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.


Setibanya di depan rumah, semuanya langsung turun dan Alfandi membawa Fikri yang tidur nyenyak.


"Sayang. bangunkan dulu Fikri nya, suruh makan dulu kasihan?" pinta sukma pada sang suami.


"Biar saja, sayang ... kalau dia lapar pasti bangun juga." Alfandi terus membawa putranya itu menaiki anak tanga.


"Iya lah, biar saja. Paling lauknya kita habiskan," ucap Marwan dari dekat meja makan yang menemani jihan dan Mimy menyiapkan segala sesuatunya.


Mendengar suara Marwan, Fikri langsung terbangun dan minta diturunkan pada sang ayah. "Eeh ... apaan dihabiskan? aku juga lapar nih, enak enak saja main habiskan!" Fikri langsung turun dan menuruni anak tangga, lantas duduk di dekat mommy nya yang sedang menuangkan minuman ke dalam beberapa gelas.


Alfandi dan Sukma saling bertukar pandangan serta menarik dua sudut bibirnya, melihat anak itu yang langsung segar untuk bersiap makan.


“Hem … Fikri lapar ya?” bu Puji tersenyum pada Fikri.


"Opa kira Fikri itu beneran bobo, ternyata cuma akal-akalan aja biar digendong sama papa ya?" sambung pak Sardi.


“Beneran Opa, tadi aku ngantuk berat. Tapi aku lapar dan pengen makan,” sahut anak itu sambil bersiap makan.


"Sayang, baiknya cuci muka dulu sana? malu sama makanannya." Pinta Sukma pada Fikri.


“Ahc … Mommy, lapar nih?” protes Fikri namun beranjak juga dari duduknya. Mendekati Wastafel untuk mencuci muka.


Saat ini Sukma baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian dinas, yang sengaja dia pakai untuk merayu suaminya biar tidak memikirkan apa pun yang seharusnya tidak di pikirkan.


Alfandi yang sudah berada di tempat tidur berbaring miring miring ke arah Sukma langsung melonjak duduk dan berkali-kali menelan ludahnya dan tatapannya seakan tidak berkedip yeng terus menghadap ke arah Sukma yang jarang memakainya, air liurnya seolah keluar begitu saja alias ngacai. Melihat Sukma berjalan mendekati dirinya dengan lenggok yang indah.


"Kemari lah sayang?" Alfandi menepuk tempat tidur di dekatnya itu.


Sukma menunjukan senyumnya dan naik ke atas tempat tidur tersebut. Tangannya langsung di sambut oleh sang suami yang menatap dengan hasrat yang mulai membakar tubuhnya.


"Sayang? aku sedih sebenarnya melihat ke adaan mamanya anak-anak. Semoga segera ketahuan ya pelakunya dan mamanya anak-anak pun segera pulih?" ucap Sukma sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami yang mulai melancarkan aksinya meraba dan menjamah apa yang ada di tubuhnya.


"Jangan bahas itu sayang," Bisik Alfandi sambil mencium pucuk kepalanya sang istri.


Kemudian tangannya Alfandi meraih remote lampu, menggantinya dengan yang temaram. Lalu mengangkat dagunya sang istri agar dia lebih mudah untuk menjangkau yang dia mau.


Sukma merubah posisinya agar lebih menghadap ke arah sang suami yang tampak sekali mendambakannya.


Telunjuk Alfandi mengangkat dagu Sukma lalu mendekati bibirnya yang ranum dan nafas pun saling  bersahutan menyapu kulit yang terasa hangatnya, selanjutnya kedua pasang bibir itu menyatu saling menyapu dengan sangat lembut dan saling menyesap. Juga mengeksplor dalamnya.


Alfandi menghujani sang istri dengan kecupan kecil. "Aku merindukan mu sayang," bisik Alfandi sambil menciumi belakang daun telinga sang istri.


Membuat sang empu merinding dan ada sensasi yang aneh. Geli-geli tapi mengasikan. Sukma mengalungkan kedua tangannya di pundak sang suami yang terus melepaskan serangan yang bertubi-tubi di area wajah, leher dan bahunya yang terbuka.


"Ahc ... mmm ..." gumam Sukma dengan suara pelan dan kedua mata pun terpejam. sedikit mendongak.


Dan membuat Alfandi lebih semakin leluasa untuk menyentuh bagian leher jenjang dan mulus itu. Serta membuat beberapa tanda kepemilikan, sementara sang empu lengah! padahal sudah sering wanti-wanti untuk tidak membuat di sana.


Namun Alfandi selalu terlanjur dan dengan nakalnya tidak mendengar ocehan dari Sukma dalam hal itu. Turun-turun ke bawah dan mulai bermain dengan buah-buah segar yang bikin gemas dan bikin bernafsu untuk melahap dengan mulutnya. Jari jemari Sukma meremas rambut Alfandi dan menjambaknya ketikan Alfandi melepas miliknya ke milik nya Sukma dengan hentakan yang sedikit terburu-buru.


"Ohc, sakit ..." pekiknya Sukma.


"Sorry sayang? gak sengaja," lirihnya Alfandi sambil menjeda sejenak lalu bergerak pelan tapi pasti. Untuk membuat gol yang indah.


Mulut alfandi tak henti-henti melahap buah segar yang ada di hadapannya tersebut. Bikin sang empu menjerit-jerit kecil dan suaranya terdengar indah di telinga Alfandi. Sehingga Alfandi semakin bersemangat untuk menjalankan aksinya yang sangat mengasyikan tersebut.


Lenguhan demi lenguhan keluar dari mulut nya Alfandi. Suaranya memenuhi ruang tersebut. Seiringnya dengan gerakan dari pinggang Alfandi yang teratur.


Sukma yang yang berusaha mengimbangi, membuat permainan semakin panas dan mengairahkan. Beberapa kali keduanya sudah mendapatkan puncak nya. Mereka melupakan semua yang sudah terjadi seharian tadi tanpa terkecuali apapun itu, selain yang sekarang yang sedang mereka ciptakan ....


.


Terima kasih bagi yang sudah membaca 🙏