Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Masa lalu



Beben turun dari motornya berjalan menghampiri, mendekati teras rumahnya Sukma. Kembali duduk bergabung di antara Sukma Reno dan bibi.


"Ma. Maaf ya ... jika kedatangan gue berdua sudah mengganggu ketenanganmu pagi-pagi begini! tapi bagaimanapun kalian harus bertemu dan bicara, gue tahu kalian saling mencintai dan gue juga tahu gimana tuh tersiksanya menanggung beban rindu terhadap seseorang yang sangat kita cintai," ujar Beben datang-datang bicara seperti itu.


Sukma mengusap wajahnya yang basah dibanjiri air mata. Dengan senyuman yang getir. "Tidak apa-apa, Ben. Lagian lu tau apa sih tentang perasaan gue?" he he he ...."


"Ya ... tahulah secara kalian berdua itu sahabat gue dan gue tahu hubungan kalian dulu gimana? dan gue juga tahu kalian itu sampai saat ini belum putus, iya, kan?" Beben melihat keduanya bergantian.


Sukma menghela nafas sebelum dia melanjutkan pembicaraannya. "Dan ... sekarang gue minta maaf yang sebesar-besarnya, dan gue minta hubungan kita putus sekarang juga! dan tatapan Sukma tertuju kepada Reno.


Membuat Reno tercengang dia tahu benar kalau Sukma sangat mencintai dirinya, Reno tau pasti kalau Sukma itu sangat menyayangi dia. Namun tiba-tiba Sukma malah minta putus? ya dia sadar dan mengakui salah, yang sudah meninggalkan Sukma tanpa kabar dan itu waktu yang cukup lama.


"Gue minta maaf? Ma ... gue mengaku salah? tapi selama ini nggak pernah ada niat tuk mutusin kamu, dan kamu tahu gue sangat mencintai kamu! menyayangi kamu, selama ini gue merindukan kamu, Ma. Gue pun tahu gimana perasaan kamu terhadap gue!" jelas Reno kepada Sukma dengan panjang lebar.


Sukma mengangkat telapak tangannya memberikan tanda cukup. "Cukup! nggak perlu bicara apa-apa lagi, seharusnya dari dulu kamu pikir itu! berpikir gimana perasaanku disaat kamu tidak ada kabar? berpikir gimana perasaan aku di saat sedang sayang-sayang nya kau tinggalkan?"


"Tapi gue ninggalin lu bukan ... bukan apa-apa! gue buat kuliah--"


"Tapi bukan berarti seperti itu caranya! emangnya gak bisa pamit ha? lu pergi tanpa kabar. Seharusnya di mana pun lu berada? komunikasi kita tetap lancar bukan seperti itu los konteks, bukan. Gue minta maaf mungkin gue juga salah? gua meminta maaf yang sebesar-besarnya? anggota saja ... kita sudah tidak ada apa-apa lagi!" Sukma terus mengusap pipi nya yang basah itu.


"Tidak, Ma. Gue tidak mau mutusin lu, kita akan menjalin lagi hubungan kita yang pernah renggang. Kita akan bina kembali, kita akan bangun istana cinta dengan tiang-tiang kebahagiaan. Berhiaskan kasih dan sayang, percaya sama gue? gue akan membahagiakan mu, Ma ..." Reno menatap ke arah Sukma yang terus mengusap pipinya.


"Kalian harus tahu, dan kau Beben. Lu tahu kan kemarin gue ngekos di mana? di rumah kecil di samping kosannya Mimi tahu kan?" Sukma mengarahkan pandangannya kepada Beben yang langsung merespon dengan anggukan.


"Dan ... sekarang gue tinggal di sini dan sekalian juga Mimu pun gue boyong ke sini sama-sama gue menjadi sebagai keluarga gue, kenapa? karena gue sudah menikah dengan seorang pria yang memberikan rumah ini pada gue!" ujar Sukma dengan jelasnya.


Membuat Reno dan juga Beben tercengang tidak percaya dengan apa yang mereka dengar! terutama dengan Reno, dia begitu percaya kalau Sukma bisa setia menunggunya sekalipun bertahun-tahun dia tinggalkan tanpa kabar sekalipun.


Namun kenyataannya berbeda! apa yang dia dengan saat ini bagaikan petir di siang hari, jika memang benar Sukma sudah menikah dengan pria lain. Lalu dimana letak kesetiaannya itu?"


"Tidak, gue tidak percaya! kamu setia kan sama aku, Ma! kamu sangat mencintai aku. Em ... nggak mungkin kau menikahi laki-laki lain selain gue! itu bohong? Sukma jawab? lu nggak menikah sama laki-laki lain kan, Ma? hanya gue yang lu cinta, Kan Ma!" Reno terus menggelengkan kepalanya kasa, dia benar-benar meragukan perkataan dari Sukma tadi.


Sementara Beben hanya melihat ke arah Sukma dan Reno pergantian, hati dan pikirannya benar-benar mengambang! apa benar ya Sukma sudah menikah dengan pria lain! kok Mimy juga nggak cerita sama dia? kalau mereka pindah ke rumah ini karena Sukma sudah menikah?


"Yang gue katakan adalah benar, kalau gue sudah menikah dengan seorang, dan bibi ini saksinya. Kini gue bukan Sukma yang dulu lagi! Sekarang gue adalah seorang istri dari seseorang. Lalu wajahnya mendongak ke langit-langit, berharap air matanya tidak akan kembali turun ataupun mengering.


Reno dan Beben mengalihkan pandangan kepada bibi dan Bibi pun langsung mengeluarkan suaranya.


"Yang dikatakan, Nona Sukma adalah benar. Nona Sukma sudah diperistri oleh majikan saya. Dan saya harap kalian tidak menganggap lebih Nona Sukma selain teman ataupun sahabat! karena, Nona Sukma sudah bersuami," ungkapnya bibi.


Keduanya tertegun tetap merasa tidak percaya, belum yakin dengan apa yang Sukma katakan. Bahkan dari pernyataan Bibi pun tedak membuat mereka berdua langsung percaya.


"Saya tidak percaya, saya tidak percaya kalau kau sudah menikah! karena saya yakin kau itu sangat mencintai saya--"


"Iya, memang benar gue sangat mencintaimu. Gue sangat menyayangimu, sangat merindukanmu. Tetapi ... itu dulu sebelum kamu ninggalin aku, sekarang aku sudah mempunyai suami, sungguh tidak pantas jika aku harus merindukan orang lain selain suami ku sendiri."


Sukma menjeda perkataannya. "Terserah kau mau percaya atau tidak? dengan pernyataan gue ini. Yang jelas gue adalah seorang istri dari suami gue." Kemudian Sukma beranjak dari tempat tersebut, memutar badannya hendak masuk ke dalam rumah.


"Maaf, gue harus masuk! gue tidak ingin tetangga gue pada tahu kalau gue punya hubungan yang aneh-aneh dengan pria lain, selain suami gue! permisi?" Sukma mengayunkan langkahnya dengan cepat ke dalam rumah tersebut.


Dan tinggallah di teras tersebut Reno dan Beben yang tertegun, melamun dan juga bibi yang masih menemani mereka di sana.


Sukma langsung memasuki kamarnya dan duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya berkali-kali. Sesekali mendongak ke langit-langit.


"Ya Allah ... kenapa sih dia harus datang di saat ini? kenapa dulu dia harus menghilang? kenapa dia meninggalkanku di saat aku sayang-sayangnya ya Allah?" gumamnya Sukma dalam hati.


"Baiklah sekarang nenek kok siap-siap untuk kuliah!" namun tangannya mulai dawai yang berada dalam saku celananya dan kedua menikmatinya menemukan sebuah pesan dari sang suami yang berisi.


^^^Alfandi: "Aku akan selalu merindukanmu sayang! bidadariku, tunggulah kepulanganku!"^^^


Membuat bibir Sukma tertarik ke samping, melengkungkan sebuah senyuman! kata-kata itu mampu membuat hatinya berbunga.


Kemudian Sukma pun bersiap mengganti kostumnya untuk berangkat kuliah sebentar lagi.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Bi Lasmi mengetuk pintu kamar Sukma yang kebetulan tidak dikunci dan terbuka sedikit. "Non?"


Sukma menoleh ke arah pintu, gimana bi Lasmi berdiri dan menatap ke arah dirinya. "Ada apa, Bi! apa mereka berdua sudah pulang?" tanya Sukma.


"Sudah, Non. Mereka sudah pulang! mereka pesan kalau mereka meminta maaf! tidak berpamitan dulu pada, Non." Lirihnya bibi


"Nggak apa-apa, Bi. Aku emang sengaja ninggalin mereka berdua," balasnya Sukma.


"Eh ... Non tidak kenapa-napa?" selidik Bi Lasmi menatap intens ke arah sang majikan.


"Nggak, emangnya kenapa Bi?" Sukma malah balik tanya.


"Oh tidak, kirain Bibi Nona sedang sedih?" tambahnya bi Lasmi merasa, agak tenang melihat Sukma yang tengah bersiap-siap untuk kuliah tidak terlihat larut dan sedih apalagi menangis.


Sukma mendekati ambang pintu, dimana Bibi berada, sambil menunjukkan senyumnya yang manis.


"Tidaklah, Bi ... ngapain aku sedih? aku sudah mempunyai segalanya. Tempat tinggal yang nyaman, suami yang sayang sama aku dan anak-anak juga. Buat apa aku ingin kembali pada masa lalu? sama saja aku tidak bersyukur atas semua yang sudah aku dapatkan ini, bibi jangan khawatir aku baik-baik saja kok."


Bibi turut senyum bahagia mendengar perkataan dari Sukma, dan dia pun percaya kalau Sukma adalah wanita yang terbaik untuk Alfandi.


"Wah ... Bibi merasa tenang dan lega kalau melihat, Non tidak larut dalam kesedihan ataupun kembali ke masa lalu!" Bibi tampak menyiratkan kebahagian di wajahnya.


"Tidak, Bi ... dan doakan aku ya? semoga aku menjadi istri dan ibu yang baik," Sukma memeluk bi Lasmi dengan erat.


Dan tangan bi Lasmi mengusap punggung Sukma dengan lembut. "Tentu, Bibi akan mendoakan untuk kebahagiaan kalian semua! kebahagiaan Enon sama Tuan."


"Terima kasih, Bi?" gumamnya Sukma sembari melepaskan rangkulannya pada bi Lasmi.


Sesaat kemudian, bi Lasmi tinggalkan kamar Sukma untuk mengerjakan tugasnya yang belum terkena uluran tangan alias masih terbengkalai.


Sukma membawa semua peralatan kuliahnya, tidak lupa ponsel dia pun tidak ketinggalan. "Bismillah ... semoga saja aku mendapatkan ilmu yang bermanfaat? Aamiin ya Robb!"


Langkah Sukma mengayun dengan teratur, menuruni anak tangga dengan mengalunkan sholawat yang dia suka ....


.


...Bersambung!...