Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Setenang mungkin



Vaula dan Yudi sungguh merasa heran dengan televisi yang menyala sendiri, tanpa ada yang menyalakan sama sekali.


“Kenapa televisi menyala Beb?” tanya Vaula sambil kembali memeluk pria itu.


“Mana ku tahu, kan remote nya juga di meja, emangnya aku bisa menyalakan tanpa menyentuh apa? hebat dong saya?” Yudi sedikit menyunggingkan bibir nya.


Mulanya televisi menyala dengan acara televisi umumnya, namun lama-lama saluran televisi pun


berpindah-pindah.


Membuat Vaula dan Yudi yang mau memulai lagi bercinta pun melonjak bangun dan menatap ke arah televisi yang bergonta ganti chanel itu. Kemudian televisi mati dan menyala lagi dengan warna gelap.


Bikin mood bercinta mendadak gagal fokus dan keduanya berinisiatif mengenakan pakaiannya masing-masing.


Televisi mulai menyala lagi dan apa yang dipertontonkan? di situ memutar video di sebuah kamar yang penghuninya adalah vaula dan Yudi.


Sontak wajah Vaula dan Yudi berubah pucat Pasih. Seolah tidak berdarah melihat apa yang ada di televisi, yaitu adegan dirinya barusan.


"Apa-apaan ini? apa yang memasang cctv di sini?" pekik Vaula.


Televisi itu memutar film adegan barusan, di kamar ini. Ranjang ini dan yang di lakukan beberapa saat yang lalu itu semua di putar.


Keduanya, celingukan mencari apakah ada cctv di sekitar kamar tersebut. Benar saja ada beberapa titik cctv yang terpasang di sana.


"Arrgh ... siapa yang melakukan ini?" sergahnya Yudi.


"Mana ku tahu! justru kau bertanya siapa yang melakukan ini? apa kau sengaja yang melakukan nya? untuk menjatuhkan karier ku? dan perlu kau tahu jika karier ku jatuh, auto kau juga jatuh!" balas Vaula balik menghardik Yudi.


"Mana ada, saya berbuat begitu! itu sama dengan bunuh diri, beb." teriak Yudi.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Pintu diketuk dari luar dan mengaku pelayan hotel. Sementara televisi masih memutar adegan yang menjijikan tersebut.


Vaula dan Yudi panik dengan kedatangan pelayan hotel ke san, Vaula buru-buru mengambil remote untuk mematikan televisi namun remote tidak berfungsi sehingga televisi tidak bisa dimatikan samasekali.


Mana televisi nya di dinding, dan Yudi berniat mendekati. Tetapi pintu terus di gedor dari luar. Sehingga Yudi menoleh dan mengalihkan niatnya untuk membuka pintu tersebut,


Siapa tahu orang tersebut bisa menolong mereka untuk mematikan televisi dan menghapus vidio yang sedang memutar tersebut.


Apapun akan mereka lakukan untuk menutup mulut orang itu, agar ini tidak sampai menyebar ke mana-mana apalagi ke pihak media.


Yudi dengan cepat membawa


langkahnya ke dekat pintu yang terus di gedor dari luar. “Sebentar? Tidak sabar banget jadi orang.”


Vaula dengan wajah cemas, khawatir dan sebagainya mencoba bersembunyi di balik selimut dan kebetulan dia hanya mengenakan dalaman saja.


Dalam pikiran nya tetap memutar siapa yang melakukan ini? dan


gimana kalau tayangan itu tersiar di semua layar televisi di sana?


Blak ... pintu terbuka dan siapa yang datang? dia adalah Alfandi yang langsung melipir melewati Yudi dan berjalan dengan tenang ke dalam kamar tersebut.


Betapa kaget nya Yudi ketika melihat Alfandi yang datang dengan seorang pria dan yang tidak di kenali sama sekali.


Sejenak Yudi tertegun dan tak mampu berkata-kata. Mulutnya menganga dan tangannya langsung di pegang oleh kedua orang tersebut. Tidak pernah terbayangkan kejadian ini menimpanya.


Dengan perasaan yang tidak karuan, bahkan dada pun terasa sesak. Alfandi tetap berusaha setenang mungkin,


Vaula teramat kaget melihat suaminya berada di sana, wajah nya semakin pucat pasih bibirnya terkunci dan tak mampu berkata-kata.


Prok-prok-prok, Alfandi bertepuk tangan beberapa kali. “Hem ... hebat, ini yang kau bilang mengejar karier? Ini bukan mengejar karier saja sepertinya ya? tapi ... mengejar cinta! dan kenikmatan sesaat."


Vaula maupun Yudi yang sekarang di hapit dua orang suruhan Alfandi, sudah berada di dekat tempat tidur dan didekat kan dengan Vaula. Mereka terdiam seribu bahasa dengan wajah yang seakan tidak berdarah, pucat sepucat-pucatnya.


Alfandi mengedarkan pandangan kepada Yudi juga. "Sejak kapan kau menjadi ban serep dari istri ku


hem? kau bukan Cuma bekerja dengan nya tapi juga bercinta dengannya! bukan cuma uang yang terus mengalir padamu, tapi juga air kenikmatannya terus keluarkan, tubuhnya kau nikmati hingga tiada henti, beruntung memang."


"Hebat sungguh hebat! kau sangat beruntung kawan? sementara pria lain belum tentu dengan mudah untuk menjadi orang seberuntung dirimu ini, prok-prok-prok.” Alfandi kembali bertepuk tangan.


“Sa-saya.” Gumamnya Yudi tampak sangat kebingungan, dia merasa mati lah riwayat nya saat ini juga.


“Oke, saya tidak menyalahkan siapapun di sini. Dan saya tidak akan banyak bertanya dari kapan


atau sejauh mana hubungan terlarang kalian, karena tidak bercerita pun setidaknya sudah terbaca sejauh mana hubungan kalian berdua yang sangat


menjijikan itu.”


“Fan-Fandi? Aku akan jelaskan semuanya—“


Alfandi mengangkat tangan di udara sebagai tanda cukup. “Cukup? Tidak perlu kau jelaskan apapun padaku. Sebab tanpa kau jelaskan pun aku sudah tahu, kenapa dan apa yang membuat kau berubah selama ini. Kau sudah lupa bahwa dirimu adalah seorang istri, selama ini kau meninggalkan kewajiban mu terhadapku. Bahkan kau tinggalkan dan kau lupakan! kalau kau itu ibu dari dua putra kita. Sungguh miris dengan apa yang


kau lakukan ini? Vaula.”


Pandangan Alfandi tertuju pada Vaula yang menunduk lesu, entah menyesal atau sekedar malu saja.


“Oke, aku juga bukan pria yang sempurna dan aku juga berbuat kesalahan, tetapi tidak sefatal yang kau buat ini. Sebab ini sudah melebihi batas dan norma yang ada, kau bukan cuma berzina saja, namun juga perselingkuhan! karena kau berstatus istri.” Alfandi melihat dengan tatapan tajam yang dapat menghujam jantung nya Vaula dan pria selingkuhan nya itu bergantian.


Vaula dengan cepat turun walau hanya mengenakan pakaian dalam saja membuat risih yang melihat.


Dan Vaula mendekati Alfandi serta lantas berlutut memegangi kaki Alfandi. Memohon-mohon agar ini semua jangan sampai diketahui keluarganya.


“Aku mohon sama kamu


Fandi, jangan sampai keluarga ku tahu soal ini apalagi sampai media tahu, aku mohon sama kamu Fandi?” Vaula memohon dan merajuk agar Alfandi menutup mulut terutama dari media.


“Hem, apa kau takut karier mu jatuh? tentunya keluarga mu pasti akan tau semua ini, sebab ... aku akan cerita ini kepada mereka besok atau lusa—“


“Tidak, aku mohon jangan ceritakan itu!” air mata Vaula


menetes namun sebabnya apa kurang tahu.


Yang jelas dia tidak mau kau usaha atau karier yang telah dia rintis hancur seketika.


Alfandi menghela nafas dengan panjang, dia berusaha tenang dan tidak mau sampai melakukan kekerasan ataupun mengotori tangannya itu. Padahal tangannya terasa gatal sekali dan ingin memukul atau menampar keduanya atas yang sudah mereka lakukan itu.


Namun Alfandi khawatir akan justru menghambat prosesnya


nanti, dia pun ingat kalau dia punya istri dan kedua putranya yang butuh perhatian darinya.


Marah tentunya dia marah dengan keadaan ini, ini benar-benar menguji kesabaran Alfandi untuk terus berusaha tenang dalam menghadapi permasalahan rumah tangganya.


Alfandi menghirup udara yang sebanyak-banyaknya, kemudian


selepas pandangan pada Yudi yang menunduk bagai burung kena pukul dan Vaula yang mengeluarkan air mata buaya nya.


Sebab Alfandi tau betul mana air mata penyesalan atau air mata sekedar saja.


“Mulai detik ini kau bukan istri ku lagi dan ... ku cerai dirimu dengan talak tiga!” jelasnya Alfandi begitu yakin biarpun tidak ada kata cerai dalam hidupnya. Tetapi dia tidak sanggup mempertahankan nya.


Sontak Vaula mendongak dan menatap tajam kepada Alfandi. Dia tau betul kalau tidak ada kata perceraian dalam kamusnya pria yang sudah menikahinya sekitar belasan tahun tersebut,


Namun apa yang di dengar saat ini? kata cerai yang keluar dari mulutnya Alfandi dengan talak tiga sekaligus, memenuhi gendang telinganya begitu menyakitkan.


 “Apa yang kau katakan?” Vaula menatap kedua netra mata Alfandi yang tampak tenang itu.


Lagi-lagi Alfandi menghela nafas dengan panjang lalu ia hembuskan dengan kasar. “Apa kau tidak mendengar ku? aku jelaskan ya? aku talak kamu 3 dan saat ini ... kau bukan istri ku lagi, aku lepaskan tanggung jawab ku


sebagai suami mu selama ini."


“Tidak, tidak mungkin. Aku pasti salah dengar, kau tidak mungkin menceraikan ku, Fan,” gumamnya Vaula sambil menggelengkan kepalanya.


Alfandi mendongak dan memejamkan kedua netra nya. Menghirup udara agar beban di dadanya berkurang ....


.


.


...Bersambung!...