
''Dompet dan tas saya?" Sukma mengingat dompetnya. Setelah mobil tersebut melaju.
"Tas? saya buang. Kalau dompet nya ada saya pegang," sahut Alfandi sambil fokus menyetir.
Sukma mengusap pipinya yang terus basah dengan air mata. Hidup Sukma setelah orang tua tiada, menjadi berantakan dan kalang kabut penuh dengan cobaan.
Alfandi mengajak Sukma masuk ke sebuah restoran. Dan memilih kursi yang berada di dekat jendela dan langsung dengan pemandangan jalan raya.
"Mas, pesan stik daging ya dua? minumnya jus melon dan air putih juga." Pinta Alfandi pada pelayan restoran.
Sukma hanya termangu memikirkan kejadian barusan yang menimpanya. Membayang di ruang mata lembaran uang yang seharusnya cukup untuk sebulan ke depan.
"Sudah, jangan melamun terus. masih mending cuma uang yang hilang, gak sampai diri kamu yang celaka. Uang bisa di cari," ucap Alfandi menenangkan.
Sukma menoleh pada Alfandi yang sedang menatap dirinya. "Untungnya uang bulanan anak-anak gak aku bawa. Kalau saja ku bawa pasti raib semua, itu uang gaji ku yang terakhir buat sehari-hari. Raib sudah," terlihat Sukma sangat menyesali kejadian tersebut.
"Emangnya kamu sedang apa di situ? bukannya jam segini waktunya bekerja?" tanya kembali Alfandi.
"Saya sudah tidak bekerja lagi di sana," sahutnya Sukma dengan lemas.
Alfandi tertegun, mendengar Sukma sudah tidak perjaka lagi di rumah sakit tersebut. "Kenapa?
"Karena saya ... seminggu lebih tidak masuk kerja, karena menunggui Marwan waktu itu. Jadi saya dipecat," jawabnya Sukma seraya menghela nafas.
Posisi Alfandi yang duduk di hadapan Sukma serta menatap ke arah gadis itu, sesekali menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Rasanya begitu kering dan memerlukan asupan air yang menyegarkan.
"Mungkin rumah sakit sistemnya seperti itu, saya kurang mengerti juga masalah pekerjanya." Kata Alfandi.
"Aku butuh pekerjaan Pak, dan aku tidak masuk kerja juga sudah membuat laporan! kalau adik aku sakit dan nggak ada yang nungguin, kalau bukan aku. Nggak mungkin kan menyuruh Jihan? sementara dia harus sekolah, sayang juga kan baru masuk," kenang Sukma dengan suara sangat lirih.
"Sudahlah nggak usah dipikirkan dan juga nggak usah bingung, nanti saja kita obrolkan kembali soal itu! sekarang kamu makan saja dulu, hem?" Alfandi menoleh pada pelayan yang sudah datang membawakan pesanannya.
Sukma kembali mengusap pipinya dengan beberapa lembar tisu. kemudian menarik piring yang ada di hadapannya itu, biarpun sedih dan kecewa. Tetapi perutnya tetap merasa lapar.
"Kamu jangan banyak pikiran, jalani saja hidup ini apa adanya. Jangan dibuat bingung, dan jangan dibuat pusing nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit? siapa yang akan mengurus adik-adikmu?" tambah Alfandi sambil menyantap sajian di meja.
"Gimana nggak kepikiran? justru aku yang harus bertanggung jawab akan adik-adik ku itu. Nggak mungkin terus-menerus berharap bantuan dari orang." Jelasnya Sukma.
"Saya yang akan bertanggung jawabkan hidup kamu juga adik-adikmu. Menikahlah denganku?" Alfandi menatap sangat dalam ke arah Sukma.
Uhuk-uhuk, uhuk! Sukma terbatuk-batuk, lagi-lagi mendengar ucapan itu, ucapan Alfandi yang mengajak nya menikah.
Alfandi segera menggeser gelas air putih ke dekat Sukma. "Minumlah?"
Sukma pun bergegas meminum air putih tersebut. Lek-lek-lek.
"Saya tahu kamu pasti berpikir saya ini punya istri dan punya anak! dan apa saya tidak puas dengan satu istri gitu, kan? yang ada dalam pikiranmu?" Alfandi terus menatap dengan tatap yang lembut.
Sukma merespon dengan anggukan. Karena memang itu yang ada dalam pikiran Sukma, dia itu yang punya istri terus mau menikahinya? emangnya nggak cukup dengan satu istri? atau gak puas atau gimana?
"Em ... gimana ya? saya harus menjelaskannya mulai dari mana? karena ini mungkin terlalu dewasa atau juga mungkin terlalu ful-gar. Tetapi bagaimanapun kamu juga sudah dewasa, mungkin wajar bila saya sharing sama kamu soal ini?" tambahnya Alfandi.
"Ngomong saja? terserah mau mulai dari mana? aku dengerin kok?" balasnya Sukma di sela menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Rumah tangga saya mungkin terlihat harmonis! seperti tidak ada masalah apapun, tapi justru di dalamnya terasa bagai benang yang kusut, berapa tahun terakhir ini ... saya tidak pernah berhubungan intim dengan istri saya--" Alfandi menggantung perkataannya sesaat di diselingi dengan menyesap air jus tampak nikmat sekali.
Dan Sukma memandangi ke arah Alfandi, menunggu lanjutan perkataannya itu pria tersebut.
"Memang kita tidur masih satu kamar, satu tempat tidur? iya, tapi untuk hubungan itu nggak pernah! setiap saya minta, dia selalu beralasan capek karena memang dia lebih banyak berada di luar rumah. Pulang selalu malam. setiap saya ingin menunaikan kewajiban saya sebagai suami selalu ditolak mentah-mentah."
Alfandi menjeda kembali kalimatnya dengan mengunyah makanan yang masih banyak di piring. Sesekali melirik pada Sukma yang tampak lahap.
Sukma menikmati makannya dan dengan setia mendengarkan keluh kesah atau cerita dari pria tersebut, yang terdengar terlalu pribadi namun harus juga di ungkapkan sebagai penjelasan.
"Kadang saya berpikir apa yang kurang dari saya? materi saya cukupkan dan nafkah lain pun saya berusaha penuhi. Entah apa yang ada dalam pikirannya istri saya itu?"
"Entah! aku tidak tahu!" Sukma menaikan bahunya.
"Saya tidak bertanya sama kamu, Nona!" Alfandi tersenyum.
"He he he ... oh iya, lanjutkan?" Sukma nyengir.
"Alasan ingin mengembangkan hobi dan ingin berkarier. Sehingga dia semakin lama semakin sibuk dengan dunianya, dan semakin tidak sempat untuk memberikan haknya pada saya selaku suaminya. Dan juga anak-anak."
Sesekali Sukma memandangi pria itu, dia percaya pada omongannya yang sepertinya dia jujur dan bantuannya selalu tulus.
"Sebenarnya saya bisa mencari kesenangan di luar, banyak pula kupu-kupu malam ataupun wanita bayaran yang bisa dengan tarif mulai termurah dan termahal, tapi saya nggak bisa melakukannya." Alfandi menjeda kembali lalu meneguk minumnya, tenggorokan yang kering berubah menjadi terasa basah.
"Saya ingin bersenang-senang dengan wanita yang halal buat saya, dan saya tidak bisa meminta itu dari istri saya biarpun bisa tidak akan seindah atau tidak akan senikmat yang dilakukan dengan tulus ikhlas! karena pasti akan penuh dengan keterpaksaan." Alfandi menghela nafas panjang seraya mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Kenapa nggak diomongin dengan baik-baik? itu kan masalah kebutuhan pribadi, kan bisa dibicarakan," akhirnya Sukma mengeluarkan suaranya.
"Saya sudah sering membicarakan tentang ini, namun ujung-ujungnya pertengkaran itu terjadi dan itu justru menggambarkan sesuatu yang tidak baik untuk anak-anak kita. Seperti waktu itu kita bertengkar hebat dan pada akhirnya Fikri kabur! untungnya ketemu dengan dirimu."
"Terus apa akar permasalahannya? sehingga tidak mau menunaikan kewajiban itu? bukankah itu sesuatu yang dibutuhkan bagi hubungan suami istri?" lanjut Sukma yang rupanya sudah cukup dewasa untuk memahami masalah tentang rumah tangga.
"Jujur, saya tidak mengerti permasalahannya di mana? saya berusaha untuk menunaikannya. Saya sering meminta hak saya kepada istri, tapi apa yang saya dapatkan hanya rasa kecewa karena dia selalu menentang dan tidak mau memberikan hak saya." Jawabnya Alfandi.
"Bukannya banyak wanita yang menggoda di luaran sana? dan wanita yang siap diajak kencan olehmu! karena jangankan wanita malam, wanita baik-baik saja tidak akan menolak jika kamu mengajaknya, he he he ..." Sukma menunjukkan gigi putihnya yang berbaris rapi tersebut.
"Berarti kamu juga mau dong? tapi tentunya bukan untuk berkencan sesaat, namun selamanya. Karena saya akan menjadikanmu istri, saya janji saya akan bertanggung jawab dan memenuhi kewajiban saya sebagai suami akan menghidupi kami dan adik-adikmu," janjinya Alfandi dengan tulus.
"Eeh siapa bilang aku mau? aku nggak bilang begitu!" elaknya Sukma.
"Barusan kau bilang wanita baik-baik saja, pasti mau sama saya?" timpal Alfandi.
"Saya nggak mau, jangankan wanita malam ataupun wanita bayaran, atau apalah namanya. saya cuma mau dirimu! dirimu yang menjadi istriku," Alfandi menarik sudut bibirnya tersenyum tipis.
Sukma seolah berhenti mengunyah, menatap kosong piring yang berada di depannya itu.
"Ha ha ha ... jujur, terakhir saya pernah mendatangi tempat remang-remang pertama dan untuk terakhir kalinya. Karena saya nggak tahan, saya marasa gak kuat dan saya benar-benar menginginkannya! tapi saya cuma menyuruh wanita itu duduk di mobil ngobrol sebentar, lalu saya suruh dia pergi namun tidak lupa saya berikan uang--"
"Kenapa seperti itu? apa kau mengingat dosa? kau tahu pasti kalau itu berdosa?" Sukma mendongak dan memotong perkataan dari Alfandi.
"Sebenarnya ... bukan masalah dosanya? yang terbayang dipikiran saya saat itu--"
"Karena apa?" lagi-lagi Sukma memotong perkataan Alfandi seraya menatap lekat, menunggu jawaban dari lawan bicaranya itu.
"Karena saya ..." Alfandi seolah berpikir, tidak serta Merta melanjutkan omongannya.
Sukma terus menunggu Alfandi melanjutkan kata-kata yang menggantung.
"Waktu itu ... mungkin hampir saja ya? hampir mendekati. Tapi nggak sampai sih alhamdulillah, di saat saya berpikir melanjutkan atau tidak? tiba-tiba saya teringat wajah kamu dan kedua putra saya! dan itu! menjadikan alasan besar saya untuk berhenti di situ, lalu menyuruhnya pergi dari mobil saya."
Sukma menarik bibirnya melengkungkan sebuah senyuman dan dibarengi dengan sedikit mengejek lawan bicaranya tersebut. "Ooh ... berarti sudah ini dong ... rasain sedikit dong, ayo ngaku? nggak mungkin kan nggak ngapa-ngapain wanita itu," dengan refleks Sukma menunjuk ke arah hidung Alfandi seraya senyum sinis.
Hatinya terasa di gigit semut mengingat Alfandi membicarakan wanita lain, apalagi membayangkan nya melakukan sesuatu.
"Melakukan apa? melakukan apa yang kamu maksud ha?" tanya Alfandi sambil tertawa.
"Nggak percaya, nggak mungkin gak ngapa-ngapain? setidaknya pasti kau sudah--"Sukma menggantungkan perkataannya.
"Sudah apa? saya nggak ngapa-ngapain! demi Tuhan. Nggak sampai ngapa-ngapain! yang ada aku risih," jawabnya Alfandi sambil mesem-mesem.
"Ngapain risih? bukankah laki-laki emang suka, sama wanita yang seperti itu? wanita yang di tempat seperti itu kan emang bukannya pada seksi ya?" Sukma seolah tahu dunia yang seperti itu.
"Kok kamu tahu sih? kalau di tempat yang begituan penampilan wanitanya seksi-seksi? ayo pernahkah? pernahkah jadi bekerja seperti itu?" tunjuk Alfandi ada Sukma.
"Iih ... amit-amit, sekalipun aku nggak makan. Nggak bakalan aku mau jadi wanita seperti itu! mendingan jadi pemulung deh," akunya Sukma sembari menggelengkan kepalanya.
"Ya ... Sudah, nggak usah jadi pemulung jadi istriku saja! jadi Ibu dari anak-anak mau kan?" ucapnya Alfandi dengan tatapan yang begitu dalam kepada Sukma.
Sukma terdiam, senyuman yang tadinya merekah pun perlahan memudar.
"Demi Tuhan, waktu itu saya tidak jadi ngapa-ngapain wanita tersebut. Kalau dia sih ... iya sempai berapa pipi dan dada saya, kemudian tidak mau mencium saya. Tetapi saya tidak mau," sambungnya Alfandi sambil menghabiskan makannya.
Makanan Sukma pun sudah habis, tinggal dia menghabiskan hidangan penutup saja yang masih tersisa. "Bagaimana dengan omongan orang? tentunya aku yang jadi kambing hitam, perempuan perebut suami orang."
"Siapa bilang kamu merebut? kau sama sekali tidak merebut, saya sendiri yang menawarkan! saya sendiri yang bersedia dan saya sendiri yang akan tanggung jawab atas semuanya," ucapan Alfandi begitu serius dan tulus.
Sukma kembali terdiam seribu bahasa tatapannya kosong kelainan arah.
"Saya cuma butuh jawaban, iya atau tidak? biarpun kita menikah secara agama, tapi saya akan membuktikan kalau posisi kamu sebagai istri saya! sama dengan istri yang dinikahi dengan resmi secara agama dan negara, kamu jangan takut itu. Dan kamu pasti tahu karena yang saya berikan bukan cuman janji, tapi memang sudah banyak bukti."
Alfandi semakin meyakinkan Sukma bahwa dirinya serius dan tulus, Sukma yang menunduk, kembali terdiam dengan menautkan jari-jarinya yang lentik di meja.
Kemudian Sukma mengangkat wajahnya melihat ke arah Alfandi seraya bermonolog dalam hati. "Aku percaya akan kebaikan pria ini. Aku juga yakin kalau aku sudah menjadi istrinya dia akan bertanggung jawab. Karena sekarang pun yang notabenenya aku bukan siapa-siapa! dia begitu baik pada keluarga ku."
"Saya ingin setelah kita menikah nanti. Kau meneruskan kuliahmu kejar cita-citamu itu. Seandainya kamu masih ingin kerja nggak pa-pa saya juga izinkan, hanya yang paling penting kuliahmu terus berjalan," ucap Alfandi kembali.
"Terus peran saya sebagai istri?" tanya sukma.
"Saya tidak akan menuntut apapun dari kamu, sebab saya yakin kau pengertian dan paham akan kebutuhan saya. Saya juga yakin kau tau kewajiban dan peran mu sebagai istri saya nantinya. Kau sibuk boleh! saya tidak akan melarang. Asal ... ketika saya butuh? kau selalu ada. Mau siang, sore atau malam, harus siap." Alfandi menyunggingkan bibirnya.
"Ye ... sama aja itu mah, gak boleh ngapa-ngapain! selain ngelayanin suami, nggak boleh ngerjain yang lain." Sukma senyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.
Alfandi terkekeh. "Itu tahu? ngapain saya nikah lagi kalau istri muda saya gak bisa memuaskan saya?"
"Ih." Sukma bergidik geli sambil menaikan kedua bahunya sembari senyum-senyum sendiri.
"Hayo ... ngebayangin apa tuh?" tuduh Alfandi sambil tertawa.
"Ngebayangin apa? gak ada!" Sukma menggeleng. Bibirnya terus tersenyum. Rasanya kejadian tadi terlupakan sudah.
"Cuma--" Alfandi kembali menjeda perkataannya.
"Cuma apa?" Sukma penasaran dengan kalimat yang Alfandi ucapan.
"Cuma ... soal waktu, saya minta pengertiannya. Sebab nanti bila kita sudah menikah, tentunya saya mempunyai dua keluarga." lanjut Alfandi.
Ini salah satu konsekuensi yang akan menyesakan dada Sukma. Mempunyai suami namun tidak bisa dimiliki seutuhnya. Sukma mengembuskan nafasnya kasar.
"Dalam kamus hidup saya, tidak ada namanya menceraikan istri apapun keadaannya. Kecuali ajal yang memisahkannya," ucap Alfandi seraya meneguk minumnya.
Kata-kata itu membuat Sukma tercengang berarti selamanya dimadu, tapi itu lebih baik ketimbang Alfandi menceraikan istrinya. Lebih baik ia sendiri yang di lepaskan nantinya! karena jahat sekali bila terbesit pikiran untuk Alfandi meninggalkan istrinya itu. Begitu pikir Sukma sembari menatap lekat pria tampan tersebut.
Sukma mengakui kalau ketampanan Alfandi sungguh mempesona, dan wanita mana pun pasti mau berdekatan bahkan menjadi istrinya. Akan sangat mudah untuk Alfandi mencari seorang pendamping lain.
"Kenapa kau memilih aku? untuk menjadi istri mu? kan banyak wanita di luar sana yang lebih sepadan dengan mu!" tanya Sukma sembari mengetuk-ngetuk kan jari ke bibir meja.
Alfandi menoleh dan menatap gadis itu penuh makna ....
.
.
...Bersambung!...