Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Pagi-pagi Sukma sudah paking barang-barang nya Alfandi dari hal besar sampai hal kecil nya.


"Sudah siap ya sayang?" suara Alfandi yang baru saja datang dari berjoging dan melihat Sukma menggeser koper ke dekat sofa.


"Ha, iya sudah. Mau di bikinkan sarapan apa?" Sukma balik bertanya perihal sarapan.


"Apa saja sayang, terserah kamu buat apa!" Alfandi melap keringat di tubuhnya.


"Baik lah. Aku mau bangunin Syakila dulu." Sukma berjalan mendekati pintu.


Geph.


Alfandi menangkap tangannya Sukma. Di tariknya ke dalam pelukan.


"Apa sih ...."


Kedua pasang mata mereka bertemu. Saling tatap satu sama lain sangat lekat dan penuh kasih dan sayang.


Bibir Sukma menerbitkan sebuah senyuman yang manis. "Makasih ya yang semalam!" suaranya pelan.


Sukma tersenyum heran. "Lho ... kok Makasih sih, kayak nggak pernah dikasih aja!" kepalanya menggeleng.


"Bukan gak dikasih, suka dikasih sih ... setiap malam juga! kalau aku mau, cuman ... semalam berasa lebih apa ya? lebih maksimal aja, seakan-akan kekuatannya ditumpahkan semuanya, ha ha ha ..." Al mesem hingga terlihat mengembang.


"Sudah ach, sudah waktunya aku bangunkan putri kita!" Sukma melepaskan diri dari pelukan sang suami.


Berjalan meninggalkan kamar pribadinya. Alfandi masih saja mengembangkan bibirnya sambil menatapi punggung sang istri sampai menghilang dari pandangan.


"Sayang, bangun?" Sukma membangunkan putri kecilnya.


Setelah itu di mandikan dan di dandani. Lalu menyiapkan sarapan buat suami dan yang lainnya.


Kini mereka tengah sarapan dan bersiap untuk memulai aktifitas nya masing-masing.


"Kalian baik-baik di rumah ya, Papa mau ke luar kota selama beberapa hari." Alfandi mengedarkan pandangannya pada sang istri. Ipar dan putra nya.


"Oke, Pah ... aku akan menjaga Mommy dan Syakila." Fikri menyahut sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Alah ... paling bikin repot, usil sama adik nya. Ha ha ha ..." Marwan mencibir Fikri.


Selesai sarapan semuanya bubar. dengan aktivitas nya masing-masing meninggalkan rumah tempat mereka tinggal.


...----------------...


"Baby, kita mau makan siang di mana?" tanya Puspa yang menjadi gebetannya Firza.


"Em ... di rumah makan atau restoran," jawabnya Firza sambil menutup bukunya yang dengan ukuran besar.


"Huhu ... mau makan sama apa?" tanya kembali Puspa.


"Sama tangan!" Firza dengan dingin nya.


"Aish ... baby ... kau ini kalau aku tanya pasti jawabnya kaya gitu bikin mood makan ku turun deh ..." Puspa memajukan bibirnya dengan mata yang mendelik jengah.


"Pus. Kita makan di sana saja." Firza berdiri dan berjalan.


"Kamu ini, panggil aku sayang kek. kau pikir aku kucing apa, di panggil Pus segala. Panggil Sayang kek." Gerutu nya Puspa yang tidak suka di panggil Pus.


Firza tidak perduli dengan gerutu nya Puspa, dia terus saja berjalan melipir meninggalkan area kampus. Menuju sebuah warteg yang berada di sebelah luar kampus tempatnya mengenyam pendidikan.


"Hi, bro ... gua kira lu mau makan di resto, makanya gak gua ajak tadi." Kata temannya Firza yang bernama Dodi.


"Ach, mendingan makan di sini saja lah, lebih ekonomis." Firza langsung memesan makannya.


"Sudah cantik begini, tidak lihat apa penampilan ku seksi dan elegan begini. Tapi malah di ajak makan di warteg juga. resto yang yang lebih jauh kek!" Puspa masih menggerutu sambil duduk di dekatnya Firza.


"Kalau gak suka, gak usah ... aku gak ngajak kok!" Firza melirik.


"Huuh ... nasib-nasib, aku kira ..." Puspa menggantungkan kalimatnya.


"Ah, nggak. Cuma kamu itu kan anak orang yang tajir, ibu mu juga model terkenal pengusaha juga. Kok gaya kamu kata orang biasa sih?" Puspa merasa heran juga.


"Hem, benar itu?" timpal temannya Firza.


"Kau ini anak orang kaya, tapi lagak nya bagai orang biasa begitu." Tambahnya Dodi sambil memasukan telur ke mulutnya.


"Yang kaya itu orang tuaku. Aku belum bisa apa-apa! jadi jangan menganggap ku banyak duit. Sebab aku belum bisa menghasilkan duit!" jelasnya Firza sambil menikmati makannya.


Puspa hanya menggeleng dan Dodi juga yang lainnya pun menatap heran namun tidak lagi bersuara.


Selepas makan, Firza kembali ke kampus dan di jalan sempat melihat Jihan sedang jalan dengan kekasih nya yang bernama Excel, tatapan Firza beberapa saat tertuju pada keduanya.


"Pacaran mulu, bukannya kuliah." Gumamnya Firza.


Biarpun pelan, tapi suaranya Firza dapat di dengar oleh Puspa. "Bab. Kamu kenapa sih, gedek amat lihat Jihan sama Excel. Cemburu apa?"


"Ha? gue cemburu ... no, dia itu saudara gue." Firza tidak terima bila di bilang cemburu sama Jihan.


"Terus, kenapa kau selalu sinis begitu!" Puspa semakin menyelidik.


"Jangan banyak ngomong, gue mau ngikuti pelajaran lagu. Kalau mau ngobrol jangan Jam kuliah." Firza langsung masuk ke ruang kelasnya dan menyingkirkan tangan Puspa.


Puspa berdiri dan melihat ke arah Firza yang sudah berkumpul dengan teman-teman nya yang lain.


Lalu kemudian dia pun pergi untuk menuju kelasnya yang beda jurusan dengan Firza.


Jihan yang juga sempat melihat keberadaan Firza, bersama pacarnya. Puspa.


"Pacaran terus ... mana keganjenan lagi cewek nya, astagfirullah ..." Gumamnya dalam hati sambil terus berjalan menenteng beberapa buku.


"Kenapa say?" Excel melihat ke arah Jihan yang tampak melamun.


"Nggak, gak kenapa-napa kok." Jihan menggeleng dengan senyuman tipisnya.


"Oya, sampai ketemu lagi nanti malam kita dinner oke!" Excel mengusap bahunya Jihan.


"Iya," Jihan mengangguk pelan.


Mereka pun terpisah di depan pintu kelas. Sementara Excel itu satu kelas dengan Puspa.


"Selamat siang kelas!" ucap dosen dan langsung di sambut oleh mahasiswa dan mahasiswi termasuk Jihan.


Selesai kelas. Firza punya kesibukan sendiri, yaitu berniaga dan ikutan magang mie bakso. Dan hasilnya lumayan untuk menabung, uang intinya dia ikut magang bukan karena semata-mata ingin punya tambahan, sebab dari orang tuanya juga lebih dari cukup. Namun dia juga ingin mandiri dan mengisi waktu luang dan itu di ketahui keluarganya. Kecuali Vaula dia tidak tahu.


Kini pemuda tampan dan coll itu mengenakan topi hitam dan sedang melayani costumer nya.


Setiap hari pun Alhamdulillah lumayan costumer yang dayang. Selalu banyak dan hasil lumayan untuk. Dan kebanyakan adalah muda-mudi yang mengagumi ketampanan nya Firza sehingga mereka setiap harinya datang walaupun untuk sekedar jajan dan memandang ketampanan Firza.


Sekitar pukul 19.00 malam kedainya pun tutup, dan kini pin-nya udah siap untuk pulang ke kosannya yang kebetulan hanya sekitar 50 meter dari tempat tersebut.


"Alhamdulillah ... selesai juga biarpun cukup melelahkan! tapi lumayanlah aku punya tabunganku pribadi, dan hasil jerih payah aku sendiri." Firza menghela nafas dalam-dalam sembari berjalan menuju kosannya.


Langkahnya semakin dipercepat agar segera sampai di tempat tinggalnya.


Ketika melewati blok kosannya Jihan, dengan tidak sengaja netra mata Firza menemukan Jihan yang sedang menaiki mobil mewahnya Excel. Pemuda tampan itu bergumam. "Mau ke mana mereka?"


Menjadikan Firza buru-buru memasuki kosannya dan mengambil kunci motor yang kebetulan tidak dia bawa ke kedai.


Pemuda tampan itu bergegas mengendarai motornya yang tidak lupa mengenakan helm. Dan hendak menyusul mobil Excel yang sedang membawa Jihan pergi, yang entah mau ke mana mereka?


"Kemana dia? mobilnya hilang dan orangnya pun apalagi." Gumamnya Firza sambil celingukan.


Motor Firza melesat dan matanya tajam mencari keberadaan mobil Excel yang rupanya untuk sementara waktu ini telah kehilangan jejak Jihan dan Excel ....


.


Jangan lupa meninggalkan jejak ya untuk penyemangat makasih