
"Kenapa sayang?" tanya Alfandi panik, takut Sukma kenapa-napa akibat permanan barusan.
Sukma memegangi perutnya. "Mules, kayanya mau datang bulan deh."
"Ooh, aku kira sakit itu lagi. Biar ku obati! ha? mau datang bulan? lama gak?" Alfandi jadi heboh sendiri.
"Kenapa sih ... kok heboh sendiri?" Sukma menatap wajah suaminya itu yang berekspresi aneh.
"Lama gak? maksud ku ... biasanya berapa hari kalau lagi datang tamu bulanan itu? 6 7 8 atau sepuluh hari?" selidik Alfandi menatap penasaran. Hatinya panik duluan, lagi semangat-semangatnya harus puasa lagi.
"Aku sih paling 6 hari, emang kenapa sih? cemas amat?" Sukma mendongak memandangi wajah cemasnya Alfandi.
"Cemas lah sayang, berarti aku harus puasa lagi dong sayang ..." jawabnya Alfandi sambil menggerakkan jemarinya mengelus pipi Sukma.
"Ah, bukankah dulu juga seperti itu? lama puasa, masa di kasih puasa 6 hari saja beratnya bagai mau berbulan-bulan sih?" kata Sukma sembari menarik bibir ya tersenyum.
"Itu kan terpaksa sayang, bukan kemauan. Kalau gak terpaksa sih gak bakalan juga aku berpuasa," keluh Alfandi yang makin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa harus cemas sih? kan ada yang di rumah juga. Biarpun gak ke sini!" ucap Sukma sambil menyandarkan kepalnya di dada Alfandi.
"Kalau cemburu sayang hem? jujur ... aku lari ke sini karena aku benar-benar menginginkan dirimu. Istri ku sekarang mulai berubah lagi dan agak perhatian lagi sedikit," ungkap Alfandi.
Sontak Sukma mendongak. dengan refleks ia berpikir ... kalau seperti itu berarti Alfandi tidak akan terlalu membutuhkannya lagi kecuali bentuk tanggung jawab saja.
"Ya, aku pikir sudah mulai berubah lagi. Tidak sedingin dulu," lirihnya Alfandi sambil sesekali membelai rambut Sukma dan mencium pucuk kepalanya.
"Baguslah, berarti kau tidak akan kesepian lagi." Tiba-tiba kata-kata itu terlontar dari bibirnya Sukma.
Bibir Alfandi tertarik ke samping. "Kau cemburu?"
"Ha? nggak, gak cemburu. Bukankah itu bagus? jadi kau merasa mempunyai istri kan di rumah?" Sukma bangun duduk menjepit ujung selimut di bawah ketiaknya. Menaikan banyak sebagai penyangga punggungnya tuk bersandar.
Begitupun dengan Alfandi yang menirukan posisi Sukma bersandar ke bahu tempat tidur. Begitu dekat dengan Sukma.
"Yakin gak cemburu hem?" lirihnya Alfandi sembari menempelkan telapak tangan di pipi Sukma, dengan tatapan yang menurut jantung.
"Em ... buat apa aku cemburu? tidak ada hak ku untuk cemburu!" akunya Sukma sembari membalas tatapan Alfandi, sejenak keduanya saling bertukar pandangan.
Dengan ibu jari ya yang mengelus pipinya Sukma dengan lembut. "Tentunya kau punya hak untuk cemburu, sebab kau itu istri ku! Nyonya Alfandi juga!" suara Alfandi yang begitu lembut mengakui kalau hak Sukma itu sama dengan istrinya yang lain.
Sukma tidak menjawab, hanya merasakan bergelutnya perasaan antara bersyukur, kesal dan cemburu. Bagaimana pun hati sukma sudah mulai di tumbuhi benih-benih cinta pada Alfandi pri yang sudah menjadi suaminya itu.
Namun tentunya Sukma harus pandai menekan perasaannya sendiri dan tahu diri kalau dirinya hanya istri siri yang masih di sayang suami saja sudah sesuatu yang harus ia syukuri.
"Oya, uang bulanan masih ada?" tanya Alfandi setelah sekian lama menikmati suasana hening dan saling bicara dengan tatapan mata.
"Masih ada," balasnya Sukma pelan sambil menundukkan wajahnya.
Tangan Alfandi menarik bahu Sukma agar masuk ke dalam pelukannya. "Dimana jadi pakai kontrasepsinya?" cuph! ciuman hangat mendarat di kening Sukma.
"Jadi," Sukma mengangguk pelan.
"Apa yang kau pakai, pil atau suntik hem?" tanya Alfandi dengan suara yang lembut.
"Suntik saja, kalau pil? aku takut kalau aku lupa minum, terus kau tiba-tiba mendatangi gimana?" jawabnya Sukma sedikit menarik bibirnya.
"Nggak ahk, aku pengen kuliah dulu. Maaf bukan aku gak percaya sama kamu! tapi untuk itu aku belum siap, aku ingin selesaikan kuliah ku dulu." Lirihnya Sukma sambil menatap ke arah Alfandi.
Alfandi menghela napas lalu berkata. "Tidak apa-apa sayang, aku mengerti kok," jemarinya mengangkat dagu Sukma lalu mengecup bibirnya kembali penuh perasaan.
Tangan Sukma perlahan menyentuh punggung leher Alfandi. Dan menikmati sentuhan Alfandi dengan cara memejamkan kedua menik matanya.
Tangan Alfandi turun menyentuh sesuatu yang menggantung di bagian tubuhnya Sukma, yang belum lama ini dia nikmati kini ia jamah kembali alasannya? mumpung masih berada di sana dan sebelum Sukma kedatangan tamu bulanan.
Setelah beberapa saat menikmati setiap Senti bagian wajah Sukma. "Boleh, kan? sebelum datang tamu bulanannya!" bisik Alfandi sambil menarik selimut yang Sukma jepit.
Sukma hanya menatap pasrah ke arah Alfandi yang tidak menunggu jawaban lagi, langsung saja unboxing kembali dengan penuh semangat.
"Uhh ... kau bikin aku candu sayang, gak bisa aku berpaling darimu. Aku akan selalu membutuhkan dirimu." Suara Alfandi di sela-sela aktifitas yang dia jalani tersebut.
Sukma merangkul punggung Alfandi dengan erat, menyatukan tubuh kedua yang sedang meluapkan rasa rindu. Peluh mereka saling bercucuran menyatu satu sama lain.
"Al?" gumamnya Sukma nyaris tak terdengar.
"Apa sayang? lepaskan saja semuanya jangan di tahan-tahan!" balas Alfandi.
Pergulatan keduanya semakin sengit dan memanas, sampai-sampai keduanya merasa sangat kelelahan setelah merasakan beberapa ke puncaknya.
"Ooh ... sayang ..." lenguhan panjang terdengar dari bibir Alfandi.
Sukma mendongak ke langit-langit, menggigit bibir bawahnya dan tangannya meremas sambut Alfandi kuat-kuat.
Kemudian tubuh Alfandi ambruk di atas dada Sukma, tangan Sukma membelai rambutnya dengan lembut disertai deru napas yang naik turun tak beraturan. Lalu kemudian Alfandi menggerakan tubuhnya berbaring di samping istrinya itu.
Namun sebelum nya mengecup kening Sukma sebagai tanda terimakasih. Detik kemudian Alfandi tertidur dengan lelap akibat kelelahan.
Manik mata Sukma menatap ke arah Alfandi yang dengan cepat tertidur. Sukma pun menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukan hampir pukul empat.
Karena merasa lelah yang teramat sangat membuat Sukma pun memejamkan kedua manik matanya, yang dihinggapi rasa kantuk. Sukma menarik selimut sampai menutupi bahunya.
Sekitar pukul lima, Alfandi terbangun dan menoleh ke arah samping dimana sang istri muda tengah terlelap. Alfandi mendekat dan mencium mesra kening dan pipi Sukma.
Detik kemudian Alfandi turun menapakkan kakinya di lantai berjalan dengan cepat ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian. Sukma pun terbangun memicingkan penglihatannya mencari keberadaan Alfandi yang tidak ada di sana. Tapi terdengar suara kucuran air bersumber dari kamar mandi yang pintunya terbuka setengahnya.
Tangan Sukma mengusap wajahnya. Lalu bangun mencari pakaiannya ya semalam ia kenakan yang berserakan dengan pakaian Alfandi di lantai.
"Aduh ... capek sekali gue? doyan banget ih tuh pak suami. Untung geu sudah suntik KB. Kalau ngga? gak tau deh nantinya," gumamnya Sukma sambil mengenakan pakaian semalam beserta kimono nya.
Berjalan mendekati lemari menyiapkan pakaian ganti buat Alfandi, beserta sarungnya untuk menunaikan salat subuh terlebih dahulu. Kemudian langsung saja membuka-buka gorden lalu ke balkon untuk menghirup udara pagi yang masih belum kenabpolusi ....
.
.
...Bersambung!...