Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Hari-hari setelah bertemu Puspa dan mengatakan gimana perasaannya Firza kepada dirinya, membuat Jihan terus kepikiran tentang perasaan diri ya dan Firza.


"Jihan nanti malam kita makan di luar ya kamu ada yang harus dibelanjakan nggak?" tanyanya Firza ke Jihan, gadis itu terus berjalan tanpa menoleh kepada dirinya.


"Aku ada janji sama temen! jadi nggak bisa makan malam sama kamu," jawabnya dengan ada dingin.


Sejenak Firza terdiam lalu bertanya. "Kamu mau jalan sama siapa, teman yang mana, Sri?"


Jihan pun merasa bingung, karena sesungguhnya dia nggak ada janji, ya memang ada yang harus dia belanja sedikit untuk jualan online-nya.


"Em ... aku mau jalan sama siapa atau di mana, itu kan bukan urusan mu ... hak aku dong mau ke mana!" sahutnya Jihan tampak jutek.


Firza menatap dingin pada Jihan yang tampak jutek. Seakan-akan tidak ingin berkomunikasi dengan dirinya. "Oke, kalau begitu. Semoga kamu bisa menjaga diri dan ... semoga kamu temukan bahagia."


"Kok kamu bilang begitu sih? kaya gak akan ketemu selamanya saja!" Jihan menoleh dan menatap pada Firza. Pemuda itu tampak sendu.


"Mungkin, karena ... aku akan lebih sibuk dengan segala aktivitas ku. Biar tidak menganggu kamu lagi. Oke, aku pergi dulu!" Firza mengayunkan langkahnya yang gontai dengan tas di punggung.


Jihan tidak lagi berkata-kata kedua manik matanya menatap punggung Firza dengan rasa yang teramat sakit, sedih dan sesak. Rasanya hati ini bagai di cabik-cabik, tak kuasa Buliran air bening pun menetes di ujung pipi yang entah menangisi apa.


Jihan menunduk dalam, seraya memejamkan kedua manik matanya kuat-kuat, seolah memeras air matanya yang berangsur tumpah.


"Duarrrr ... aku cari-cari kamu ternyata ada di sini ada sendirian lagi awas loh nanti kamu disukai makhluk halus," suara temennya Jihan yang bernama Sri dan dua teman lainnya yang mengangguk-anggukkan kepalanya.


Jihan langsung mendongak menoleh pada ketiga sahabatnya. "Kalian ini bikin kaget deh!"


"Eh kamu kenapa matamu berkaca-kaca gitu kamu sakit atau ada yang ganggu?" tanya Sri.


"Iya, apa kamu menemukan sesuatu di sini ya? sehingga kamu menangis gitu?" celetuknya teman lain.


"Hus! kamu itu ngomongnya ada-ada aja." Timpalnya Sri pada temannya.


Jihan mengedipkan matanya dan berkata. “Aku kelilipan nih ... jangan asal bicara ya kalian ini.”


“Tuh kan ... Cuma kelilipan saja,” kata temannya yang lain.


“Ya sudah, kita ke kampus eh ke kelas.” Jihan berjalan sambil membawa tas punggungnya.


“Iya ayo, sebentar lagi jam pelajaran.” Kata temannya sambil terus berjalan.


Mereka berempat berjalan menuju ruang belajar. Sambil mengobrol dengan canda dan tawa yang renyah. Lalu mengikuti ajaran dari dosennya yang baru saja masuk.


Firza. Setelah selesai kuliah dia langsung turun berniaga kembali. Sambil memikirkan Jihan yang membuat hatinya gelisah. Hubungannya dengan Puspa sudah putus dan itu memang Puspa yang mundur sendiri. Sehingga kini dia berstatus jomblo.


“Bang satu porsi.” Pinta costumer pada Firza yang tampak sibuk.


“Iya. Dan tunggu sebentar ya saya bikinkan buat yang lain lebih dulu.” Jawab Firza sambil bikinkan buat yang lain.


“Bang, jangan lupa senyumnya. Biar tambah enak.” Kata salah satu costumer gadis cantik yang memesan mie bakso.


Firza tersenyum tipis pada costumernya, lalu kemudian dia pun melayani yang lainnya lagi.


...----------------...


Besok adalah hari libur dan Alfandi sudah menyiapkan acara liburan ke pantai bersama keluarga. Sukma pun sudah mengemas pakaian yang mau di bawa seperti miliknya Al dan Syakila juga milik dirinya.


Kemudian Sukma menemui Fikri dan Marwan untuk menanyakan apa sudah mengemas pakaiannya atau belum. “Abang ... pakaiannya sudah di paking belum nih?”


“Sudah Mom, gak banyak kok ... Cuma beberapa saja.” Jawabnya Fikri sambil mendongak.


“Bagus lah kalau begitu jangan lupa barang lainnya ya.” Sukma memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar nya Fikri.


“Oya Mom ... Kak Firza sama Kak Jihan kapan pulangnya?” tanya Fikri sambil menoleh pada Mommy nya yang sudah berada di dalam kamarnya itu.


Langkah Sukma hentikan dan menoleh pada Fikri lagi. “Mungkin malam ini mereka pulang.”


“Oh ... iya lah.” Fikri mengangguk.


“Em ... emangnya kenapa?” selidiknya Sukma sambil mengerutkan keningnya.


“Nggak kok, Cuma bertanya saja Mom ... lagian kan besok pagi kita berangkatnya.” Fikri mengikuti langkahnya sang Mommy.


“Hem ... katanya malam ini,” Sukma melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga sambil merangkul bahunya Fikri.


“Mom. Kemarin aku melihat mama di sebuah restoran bersama seorang pria—“


“Hem ... Abang dari mana? kok lihat mama segala di resto sih.” Selidiknya Sukma.


“Kan kemarin aku sedang kebetulan lewat Mom ... dan aku melihat mama di sana.” Jawabnya Fikri.


“Ooh ... mungkin sedang ada urusan Bang ...” Sukma. Membelok kan langkahnya ke kamar Marwan yang pintunya terbuka dan sedang mengemas pakaian ke dalam tas.


“Jangan sampai ada yang ketinggalan, Wan ...” Sukma sambil berdiri di depan pintu.


Fikri masuk ke dalam kamarnya Marwan sambil menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur nya Marwan yang langsung di tegur sang empu.


“Kau ini main jatuhkan tubuh saja sih? jadi berantakan tahu ...” Marwan tidak suka bila tempat tidurnya di acak orang.


“Maaf,” Fikri langsung berdiri kembali dan menjauhi tempat tidurnya Marwan setelah ia rapikan kembali.


“Sebenarnya kita mau ke pantai mana sih Kak?” tanya Marwan sambil menyimpan tas nya ke dekat dinding.


"Em ... kalau ke mana ke mananya Kakak kurang tahu kan Abang yang mengaturnya, Abang yang mengurus semuanya! jadi kita tinggal pergi saja, tapi insya Allah tempatnya akan kita sukai kok!" jawabnya Sukma sembari mah siap untuk mengembalikan tubuhnya.


"Yang jelas kita akan ke pantai dan bukan pantai yang ada di Jakarta ya Mom?" Fikri pun mengikuti kembali langkah mommy nya.


"Bukanlah ... kalau masih di Jakarta sih ... nggak mungkin naik pesawat." Tambahnya Sukma kembali.


Sukma berjalan menuju dapur untuk membantu memasak buat makan malam bersama. Yang ada ayak goreng, rendang daging. ikan pepes. Sup dan lalapan sambal. Tidak lupa tempe bacem dan tahu. Kenapa dengan banyak menu dan masukkan pun dilebihi dari biasanya karena anak-anak akan berkumpul dan tentunya dua anggota ditambah lagi.


Dengan kepulangannya Jihan dan Firza ke rumah membuat masak pun lebih banyak. Terdengar suara motor yang tidak asing lagi ditelinga. Yaitu motornya Firza.


Tidak lama kemudian orangnya pun muncul sendirian dengan menjinjing tas di tangan dan tas di punggungnya. Membuat Sukma bertanya kepada. "Jihan nya mana, Za?"


Firza menaikkan kedua bahunya. "Entah, tidak tahu!" Firza mendekat dan merangkul bahu mommy sambung nya itu.


"Lho kenapa nggak barengan? sudah-sudah kalian akur, Hem ... jauh lagi, gimana sih?" gumamnya kembali Sukma. Yang sebelumnya merasa senang karena Mereka tampak akur! tapi sekarang kayaknya jauh lagi memang begitulah orang dua itu! kadang akur kadang tidak. Kadang dekat kadang jauh.


"Ya sudahlah! kalau begitu. Mungkin dia naik taksi!" sambungnya Sukma sambil melanjutkan tugasnya yang sedang sibuk memasak.


Firza pun berjalan membawa langkahnya yang lebar menaiki anak tangga yang tujuannya ke kamar dia.


Terdengar suara mobil dan Sukma yakin kalau itu kedatangan Jihan dan dia mengenakan taksi. "Alhamdulillah Jihan sudah sampai rumah, begitupun bayinya sudah berada di rumah membuat aku tenang dan kami sudah berkumpul lagi!" Sukma merasa lega karena dapat berkumpul lagi dengan keluarga.


Bibir Sukma menerbitkan sebuah senyuman yang indah dan mengembang ....


.


Bersambung.