
Saat ini. Alfandi dan Sukma sudah bersih-bersih dan tampak segar, setelah membuka-buka gorden. Sukma pun menghampiri Alfandi yang sedang mengenakan pakai formalnya.
"Tedak apa-apa kan? kalau ibu dan bapak menginap di sini?" tanya Alfandi sembari mengancingkan lengan baju nya.
"Lho. Kenapa bertanya begitu sih? aku gak suka ahc." Sukma menggeleng sambil memasangkan dasi di leher Alfandi.
"Bukan begitu sayang, aku cuma gak enak saja. Oya, kuliah mu gimana?" Alfandi sembari mengelus pipinya Sukma dengan lembut.
"Kuliah ku, baik. Hari ini aku juga mau kuliah." Sukma merapikan jas nya Alfandi.
Kemudian. Sukma pun turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat semuanya. Setelah matang mereka semua pun sarapan.
Semuanya menyantap sarapan dengan lahap. Sesekali pak sardi dan Alfandi mengobrol, mewarnai ramainya meja makan dengan suara anak-anak mengobrol.
"Bapak rasa ... tempat ini nyaman. Dan ... di belakang tanaman sayuran. Berasa di kampung." Pak Sardi sambil menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Iya, Pak. Memang sengaja, agar kalau sesekali ada sayuran yang tinggal metik." Alfandi mengangguk.
"Iya, Ibu juga suka lihat nya. Ini pasti dari hasil metik ya? kangkung dan sawi." Bu Puji menunjuk ke arah tumis kangkung dan sawi.
"Iya, Oma itu. hasil metik dan kak Jihan yang metik nya." Timpal Fikri.
"Oya, Oma lebih suka lho." Bu Puji mengambil tumis kangkung dan sawi dipindahkan ke dalam piringnya.
Alfandi menyudahi. Makannya dengan segelas air minum. Kemudian dia pamitan untuk pergi bekerja.
"Oke. Aku pergi dulu, sebentar lagi juga istri ku akan pergi kuliah. Ibu dan bapak di sini saja sama anak-anak dan bibi juga." Alfandi beranjak sambil menyalami kedua orang tua nya.
"Neng Mimy, kerja di mana apa kuliah juga?" Bu Puji mengalihkan pandangan nya kepada Mimy.
"Saya kerja di rumah sakit. Bu." jawabnya Mimy.
"Oh. Suster atau dokter. Atau bidan?" tanya Bu Puji kembali.
Mimy menggeleng. "Bukan. saya cuma cleaning service."
"Oh, tidak apa, yang penting halal. Jangan malu dengan pekerjaan." Timpal pak Sardi dan Bu Puji mengangguk setuju.
"Firza, Fikri. Papa kerja dulu ya? jangan nakal. Temani Oma dan opa! kalian juga Jihan dan Marwan. Abang pergi dulu ya!" Alfandi berpamitan juga ke anak-anak yang masih sarapan.
"Oke, Papa." Fikri mengangguk.
Sukma mengantar Alfandi ke teras. "Aku ... sepulang kuliah mau belanja mingguan. Jadi pasti pulang agak telat."
"Jangan ngelayap kemana-mana aja. Apalagi sama laki-laki. gak rela saya." Alfandi tersenyum sambil mencium kening nya Sukma dengan mesra.
"Ha ha ha ... emang aku pergi sama laki-laki. Pak Luky, bukanya laki-laki ya? Oya, kalau aku kelayapan. Kagak bakalan ngomong-ngomong." Sukma sambil tertawa.
"Awas ya? kalau seperti itu! aku Kuring di kamar selamanya." Alfandi mencolek hidung Sukma yang bangir tersebut.
"Nggak pa-pa. Di kurung juga, orang enak. Di kasih makan dan gak harus bekerja! hi hi hi ..." Sukma mesem.
"Heh ... Siapa bilang? ku siksa terus, tanpa ku kasih makan yang ada ku makan terus sarinya. Ku hisap sampai habis. Tinggal tulang, ha ha ha jahat amat ya saya sebagai suami? kalau sampai tega seperti itu." Alfandi tertawa sendiri.
Sukma pun ikut tersenyum. "Sudah ah, hati-hati ya?" mencium punggung tangannya sang suami.
"Baiklah, kasih kecupan dulu di sini" Alfandi menunjuk pipi.
Sukma menatap lekat pada suaminya itu sebelum memberikan ciuman yang di pinta. Lalu menurutinya.
"Satu lagi?" Alfandi menunjuk bibir.
"Apaan sih? gak mau, malu. Nanti di lihat orang!" Sukma tengok kanan dan kiri juga ke arah dalam rumah.
"Halal sih halal. Malu dong. Gak punya privasi banget." Sukma sedikit mendelik.
"Iya-iya, nanti saja bila di kamar. "Oke aku pergi dulu! kuliah yang serius ya?" cuph! lagi-lagi mengecup kening sang istri.
Berbarengan dengan kedatangan Beben dan Reno, yang membuat Sukma spot jantung.
Reno khususnya melihat adegan mesra tersebut. Tak ayal hatinya dibuat terbakar, panas dan cemburu. Teramat sangat dia menyesal telah menyia-nyiakan Sukma sebelumnya.
"Siapa dia?" gumamnya Alfandi sambil menatap ke arah Beben dan Reno yang turun dari mobilnya.
Sukma menghela nafas panjang. "Em ... itu Beben teman kuliah ku dulu, mungkin dia mau menjemput Mimy."
"Assalamu'alaikum. Ma. Mimy nya mana? ini suami mu ya?" Beben langsung menunjuk ke arah Alfandi.
"Wa'alaikumus salam ... Mimy ... masih ada di dalam." Jawabnya Sukma sembari menunjuk ke dalam rumah.
"Oh, mau kerja kan?" tanya Beben kembali.
"Kerja dong, Oya Ben. Kenalkan dia suami ku! dan dia adalah teman aku dari kuliah dulu ya? Ben!" Sukma melihat ke arah keduanya bergantian.
"Alfandi!" ucap Alfandi sambil mengulurkan tangannya.
Di sambut oleh Beben. "Beben. sahabat Sukma dari lama."
Sukma menoleh pada Reno yang berdiri di dekat mobilnya. Melihat ke arah teras dimana mereka berdiri. Kemudian Reno pun menghampiri ketiganya.
"Dan ini ... kenalkan teman saya sekaligus!" Beben mengenalkan Reno pada Alfandi sambil melihat ke arah Sukma yang menunduk. "Teman saya maksudnya."
"Saya Alfandi, suaminya Sukma." Alfandi memperkenalkan diri sebagai suami Sukma.
"Reno!" balas Reno singkat sambil mengangguk dan tampak gelisah.
Alfandi perkenalkan diri sebagai suami Sukma, karena dia tahu. Kalau pria ini perlihatkan sikap yang aneh dihadapannya. Tangan Alfandi yang satunya pun merangkul pinggang sang istri dengan mesra.
"Eh. Lu sudah datang? sorry ya menunggu!" suara Mimy dari dalam dan terburu-buru berjalan sambil menyoren tas nya.
"Is okai. Yo? apa mau pergi sekarang?" sambut Beben pada Mimy.
Mamy pun langsung mengangguk setuju. Sambil berjalan bersama Beben yang mengangguk pada Alfandi, di susul oleh Reno yang tidak banyak bicara itu.
"Ma, gue pergi dulu ya?" Mimy menoleh pada Sukma dan Alfandi.
"Oya, dah ...."
"Pasti, pria itu mantan kekasih mu bukan?" Alfandi menoleh pada Sukma yang menatap ke arah Mimy.
Sukma mengalihkan pandangan ke arah suaminya yang menatap ke arah dirinya dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kata siapa?"
"Kata hati ku! dan dari mata mu. Kalau masih ada dia di hati mu!" Alfandi ngeloyor sambil mengarahkan remote ke mobilnya, untuk membuka kuncinya.
Degh.
Perkataan Alfandi membuat hati Sukma berasa tergores. Perih, sakit. Sehingga manik matanya mendadak berkaca-kaca.
Alfandi pergi, membawa hati yang kesal dan rasa cemburu yang teramat dalam. Apalagi mengingat tatapan pria itu ke sang istri begitu dalam. Dugh, Alfandi memukulkan kepalan tangan ke tengah kemudi.
Benar-benar dia dilanda cemburu, sehingga dadanya terasa sesak. Bak tiada ruang untuk bernafas ....
.
...Bersambung!...