
"Sebaiknya kita jaga jarak! jangan terlalu dekat. Lagian kamu kan bilang ... sebelum kita mencapai tujuannya kita boleh dekat sama yang lain. Jadi menjaga jarak itu akan lebih baik!" ucap Jihan sambil berjalan masih di area mall.
Firza terdiam sesaat lalu dia berkata. "Baiklah, kalau mau kamu seperti itu, dan memang ... ada baiknya juga apalagi untuk dirimu Jihan!"
Jihan dan Firza saling bertatapan satu sama lain dengan perasaan yang tidak menentu. Keduanya menyetujui kalau mereka menjaga jarak, dalam artian tidak terlalu dekat dan sewajarnya saja.
Firza mengantarkan Jihan ke kosannya lalu setelah itu Firza pulang ke kosannya juga.
...----------------...
Kini Fikri bersiap untuk pergi mondok di salah satu pesantren di Sukabumi plus sekolah SMP. Semua barangnya pun sudah siap angkut. termasuk pakaian dan alat-sekolah. Tas sepatu dan lainnya.
Fikri Menangis. Bagai mau di kucilkan atau terbuang, memeluk Sukma sebagai mommy nya.
"Kok sedih sih ...harusnya senang dong ..." suara Sukma yang bergetar menahan tangisnya, sedihau berpisah dengan anak sambungnya yang manja yang apa-apa kadang masih mommy.
Sekarang tidak akan ada lagi terdengar di telinganya Sukma. Dalam diam Sukma pun terisak sambil memeluk Fikri yang juga terisak.
"Mommy, akan tetap sayang kan sama Fikri biarpun Fikri tidak di sini lagi! hik-hik-hiks." suara Fikri yang sambil terisak.
"Tentu dong sayang ... di manapun Fikri berada selalu sayang dan merindukan Fikri." balasnya Sukma sambil mengusap punggung anak itu.
"Kalau Fikri kangen gimana sama Mommy, papa dan yang lainnya ya?" gumamnya lagi Fikri dengan masih terisak.
"Telepon kan bisa, pakai telepon pesantren dan Mommy, papa akan menjenguk Fikri ke sana. Fikri belajar yang rajin dan jangan nakal ya, Fikri harus membanggakan papa dan Mommy. Dalam arti sesuatu kebaikan bukan sebaliknya!" Sukma kembali memberi pesan.
Wajah Fikri banjir dengan air mata yang Sukma keringkan dengan tisu. Kemudian Fikri memeluk adiknya Syakila yang melihat Fikri yang menangis.
Alfandi dan Firza lah yang akan mengantar kan Fikri ke pesantren. Dan kini koper miliknya Fikri sudah berada di dalam mobil Alphard milik Alfandi.
Marwan kini yang memeluk Fikri yang selama ini menjadi teman bercanda dan bersedih di rumah dan kini mereka akan berubah. Bahkan Marwan pun sebentar lagi akan kuliah di Bandung.
"Semoga betah dan berhasil menjadi ustad ya Fikri ... Kak Wawan doakan semoga Fikri di sana sehat dan belajar yang bener, belajar yang giat. Agar menjadi ustadz Fikri." Marwan tersenyum getir sambil menepuk pundaknya Fikri.
"Hngi ... hngi ... hngi ... Kak Wawan. Kita tidak akan bertemu lagi di waktu yang dekat ini. Aku akan merindukan mu Kak!" Fikri memeluk erat Marwan.
"Aach Cemen. Mau mondok kok sedih sih!" cibirnya Jihan yang dia pun sendiri tak ayal menangis merasa terharu dengan pemandangan yang ada.
"Aku sedih, Kak. Tidak bisa ketemu sama mommy, papa dan yang lainnya setiap hari. Aku tidak bisa bermanja lagi sama mommy." hik-hik-hiks." Fikri kembali menangis dalam pelukan Jihan.
Yang paling Fikri sedih kan adalah akan berpisah sama mommy nya. Makanya dia kembali memeluk Sukma dan menangis kembali dalam pelukan.
"Fikri harus janji ya. Jaga kesehatan selana di sana. Jangan telat makan. Dengan apapun makannya syukuri. Oke?" sukma membingkai wajahnya Fikri dengan suara pelan juga bergetar.
Fikri mengangguk dengan wajah yang basah kembali itu.
"Sudah. Fikri jangan menangis dan jangan sedih lagi, pergilah ... nanti keburu sore." Sukma kembali mengeringkan air matanya anak itu yang kemudian ia suruh berangkat.
Ketika Fikri mau menuju mobil, datang lah sebuah mobil yang membawa Vaula. Wanita pemilik body goals dan mengenakan kaca mata hitam itu mengedarkan pandangan ke tempat sekitar dan juga orang-orang yang ada di teras rumah tersebut, di pandanginya satu persatu.
Yang kemudian mengarahkan pandangannya pada Fikri yang berwajah kusut. Memakai Koko dan sarung juga peci hitam.
Fikri menggeleng. Dua tetap pada keputusannya yang ingin mondok plus sekolah. Biarpun sedih dan berat untuk meninggalkan keluarganya, akan tetapi keputusan anak itu tetap kukuh.
"Ya sayang ya? mau kan sekolah formal, Fikri boleh pilih sekolah apa saja semaunya Fikri bila perlu Mama temani di sana!" tangan Vaula membelai kepala Fikri bagian samping.
"Tidak, aku tidak mau! aku ingin di sini saja." Fikri mencium punggung tangannya faula. Lalu berpamitan.
Fikri menoleh pada Alfandi dan kakaknya. Firza yang berdiri tidak berjauhan.
Alfandi dan Firza pun memasuki mobilnya yang di susul oleh Fikri yang terus mengeluarkan air mata yang terus berjatuhan.
"Sayang. Dengarkan Mama Fikri?" Vaula menyusul dan meminta Fikri membuka kaca jendelanya namu tidak dihiraukan.
"Firza? tunggu Mama dan biarkan Mama bicara sama adik mu dulu!" paketnya maulah kepada kedua anak-anaknya.
Tapi tidak satupun yang mendengarkannya. mobil terus saja berjalan dan semakin lama semakin kencang meninggalkan tempat kediamannya bersama.
"Firza? Fikri? kenapa sih kalian itu tidak pernah mau mendengarkan perkataan Mama!" Vaula berteriak frustasi.
Kemudian semua pun menghampiri. "Tenang Mbak ... mudah-mudahan apa yang menjadi keputusan anak-anak adalah yang terbaik."
"Terbaik buat siapa ha? terbaik buat kalian? aku ini mamanya. Aku ingin uang terbaik untuk anak-anak ku akan tetapi sama sekali aku tidak pernah didengar oleh mereka berdua!" Vaula malah berkata dengan nada tinggi pada Sukma yang membuat Sukma merasa kaget.
"Tapi Mbak, apa yang mereka pilih adalah keinginan mereka! bukan paksaan dari kami." Suara lirihnya Sukma.
Jihan menarik tangan Sukma agar menjauh dari Vaula yang membuat Jihan merasa risih dan khawatir.
Vaula menatap tajam pada Sukma dengan tatapan menyimpan kebencian. Tangannya terangkat dan menunjuk ke arah wajah Sukma.
"Kamu, kamu yang sudah merampas semuanya dariku. Oke suami ku kau ambil dari, tidak masalah bagiku! karena mungkin memang kesalahan ku, tapi anak-anak! kau rampas kau ambil semuanya dari ku, perhatiannya. Kasih sayangnya, sehingga aku tidak mendapatkan apa-apa. Aku ini mamanya yang mengandung dan melahirkan mereka. sementara kamu bukan siapa-siapa! tapi mendapatkan semuanya dari mereka. Sungguh ini tidak adil." sergah Vaula.
"Tapi itu bukan maksudku Mbak ... dan aku tidak pernah meminta ataupun memaksanya untuk menyayangi ku!" lirihnya Sukma sambil sedikit mundur dari Vaula.
"Kau cekokin apa sih mereka sehingga tunduk sama kamu ha?" Vaula mengulang tangan hendak menampar pipi Sukma.
Jihan saja menjerit sesaat melihat tangan panjang Vaula hampir mendarat di bagian wajahnya Sukma. "Kakak?"
Namun Sukma dengan cepat menangkap pergelangan Vaula sehingga hanya mampu menampar angin.
"Dengar ya, aku jelaskan pada mu nyonya Vaula. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai istri dan juga mommy buat anak-anak! selebihnya aku tidak pernah meminta ataupun memaksa mereka untuk menyayangi ku lebih menyayangi ibunya sendiri. Tidak pernah! dan aku sudah berusaha untuk mendekatkan kalian. Tapi kenyataannya anak-anak memang jauh dari mu!" Sukma memekik yang tertahan serta tatapan yang tidak kalah tajam dari Vaula.
Vaula menarik tangannya yang lalu Sukma hempaskan.
"Anda tidak perlu mengkambing hitamkan aku yang yang bersalah, oleh karena semua itu mungkin sudah di atur oleh yang di atas!" Sukma kembali.
Vaula kehabisan kata-kata sehingga dia tidak berucap lagi selain menunjukan wajah nya yang marah. Rahangnya mengeras dan bibirnya pun mengatup terkunci. Lalu dia dengan teratur membawa langkahnya mendatangi mobil sembari mengenakan kaca mata hitam yang mulanya berada di kepala ....
.
Bersambung.