Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Firza seakan menunggu suasana yang lebih tenang, matanya melihat ke arah Marwan dan Fikri agak jauhan dari mereka berdua.


"Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih, Za?" suara Jihan yang bertanya kembali.


Firza menoleh pada Jihan lalu dia ingin memulai kembali kalimat-kalimat yang ingin dia ucapkan. "Aku ingin bicara yang aku rasa itu sangat penting bagi diriku!"


Jihan antusias untuk mendengarkan perkataan dari Firza yang masih menjadi teka-teki apa sih yang ingin dia bicarakan?


"Sebenarnya aku itu dari sejak lama ..." Firza menggantung perkataannya dengan menatap rembulan yang bersinar dengan sangat sempurna dikelilingi bintang-bintang yang tampak indah terang cahayanya.


Begitupun dengan Jihan, dia mendongak menatap langit seperti yang dilakukan oleh Firza menetap rembulan dan bintang yang bersinar sangat indah dan sempurna.


Sesaat kemudian. Firza menoleh pada Jihan. "Sebenarnya sejak lama aku ingin mengatakan ini--"


"Ach lama. Sampai lebaran monyet pun tak akan kelar-kelar, omongan mu itu entah arahnya ke mana, awalnya dari mana. Sudahlah aku mau istirahat!" potong Jihan sambil membalikan tubuhnya mengayunkan langkah menjauhi Firza yang bengong.


Firza menjadi bengong melihat punggungnya Jihan yang berlalu pergi begitu saja, tanpa mendengarkan kelanjutan apa yang mau dia bicarakan.


"Jihan, sesungguhnya aku sayang sama kamu! cinta sama kamu!" suaranya Firza terdengar lantang dan dapat menghentikan langkah Jihan yang sudah sekitar 10 langkah jauh dari dirinya.


Degh.


Hati Jihan dibuat berdebar-debar, jantungnya berdegup begitu kencang, berdetak melebihi dari normal. Sesuatu yang sebenarnya dapat diduga terucap juga dari mulutnya Firza.


Firza membawa langkahnya lebih mendekat pada Jihan yang masih juga memunggungi nya.


"Sesungguhnya dari dulu. Aku ingin katakan ini sama kamu! tapi aku nggak berani Jihan. Aku takut dengan bermacam-macam alasan. Tetapi, semakin lama ... perasaan itu semakin menyiksaku dan aku tidak sanggup untuk menahannya lagi. Berusaha untuk mencintai gadis lain, aku tidak bisa!" gumamnya Firza yang pelan tetapi masih bisa terdengar oleh Jihan yang tengah berdiri mematung tanpa bergerak sedikitpun.


Perlahan Jihan menolehkan kepalanya beserta tubuhnya menghadap ke arah Firza. Yang disertai tatapan sendu ia lepaskan pada pemuda tersebut.


"Apa kamu tidak salah, bilang seperti itu padaku? sementara banyak gadis yang lebih baik dari aku dan juga mengejar-ngejar kamu!" gumamnya Jihan.


"Tidak salah, dari dulu aku ingin mengatakan ini padamu Jihan! aku merasakannya sedari dulu kita SMP sampai sekarang masih juga aku rasakan dan semakin menyiksaku! aku tidak sanggup lagi menahan semuanya, aku tidak bisa mencintai gadis selain kamu!" suara Firza bergetar dan sorot matanya mengarah kepada Jihan.


Jihan menunduk dalam, dia pun merasakan apa yang di rasakan Firza, perasaan itu sama! dari dulu dan sampai sekarang masih bertahta dalam hati, mengisi renung jiwa yang paling dalam satu nama yang terukir indah yang belum dapat tergantikan dengan siapapun.


"Jihan kenapa kamu tidak berkata apapun? katakan padaku. Kalau kamu juga merasakan seperti yang aku rasakan. Aku tidak sanggup lagi menyimpan atau membungkam mulut ini untuk tidak berkata jujur! semuanya terlalu menyiksa ku dan aku tidak sanggup!" sambungnya Firza kembali bagai orang yang tertekan.


Jihan mengangkat wajahnya dan mengatakan Firza. "Za. Aku tidak tahu harus berkata apa? dan ... kamu pasti tahu bahwa kita ini ada pertalian saudara! aku adalah adik ipar dari papa kamu, sekarang mereka sudah mempunyai anak yang tentunya adalah keponakan ku sekaligus adik kamu juga! hubungan antara keluarga."


"Aku tidak tahu! tapi aku tidak mengerti, kenapa perasaan ini tidak pernah hilang? tidak pernah bisa aku buang jauh-jauh dari dasar hatiku. Rasa itu kembali dan kembali bahkan semakin subur bertahta dalam sanubari. Aku," Firza mengusap wajahnya kasar.


Jihan pun menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat. Dia tidak tahu siapa lagi.


Kini mereka tengah duduk berdua di atas pasir pantai yang sama-sama saling memeluk lututnya masing-masing, memandangi air laut yang terkadang tampak tenang. Tidak perduli dengan orang-orang yang barada di sekitar dan suasana yang semakin malam.


"Rasanya ... percuma diungkapkan juga, karena tidak akan merubah semuanya! kita tidak mungkin dapat bersama sekarang ataupun nanti. Hasilnya akan tetap sama!" Jihan menoleh ke arah pemuda yang duduk di sampingnya tersebut dengan tatapan yang sendu.


"Huuh ..." Firza menghembuskan nafasnya melalui mulut. "Jadi sebenarnya kamu juga suka sama aku?" Firza menatap lekat pada wajah cantik gadis yang berkerudung berwarna abu-abu tersebut.


"Sama, sayang? aku pasti sayang sama kamu! aku sayang kalian semua sebagai keluarga ku!" jawabnya Jihan dengan lirih.


"Nggak ... maksud aku bukan rasa sayang itu! tapi sesuatu yang lebih." Firza bergumam lembut.


"Kalau boleh jujur dan bisa dibilang ... aku pun merasakan yang sama, dari awal kita ketemu! aku merasa suka sama kamu. Dan aku rasa cuman aku yang merasakannya!" ungkapnya Jihan tanpa menoleh ke arah Firza.


"Itu benar. Aku tidak ingin mengajak mu pacaran atau membuang-buang waktu dengan sebuah hubungan! kita jalani saja apa adanya seperti yang sudah-sudah sebagai keluarga. Namun tentunya dalam hati kita saling menjaga sampai nanti masanya kita menikah!" gumamnya pemuda yang mengenakan kaos hitam 3/4 melirik ke arah Jihan.


Jihan menoleh dengan tetapan yang lembut. Ternyata pemuda ini tidak tidak ingin membuang-buang waktunya dengan kata pacaran! dan dia nampak serius ingin menjalin sebuah hubungan yang lebih halal nantinya.


"Apa kau yakin untuk itu?" tanya Jihan ingin meyakinkan hatinya.


"Aku yakin! seyakin-yakinnya, nanti setelah kita kuliah dan sudah tercapai cita-cita, kita akan menikah. Membina rumah tangga yang bahagia seperti papa dan Mommy. Dan aku rasa tidak akan ada yang bisa yang menentang kita kecuali maut yang memisahkan. Lagian kita kan tidak punya pertalian darah langsung!" ujar Firza meyakinkan.


Jihan mematung mengatupkan bibirnya, terdiam seribu bahasa dengan pandangan lepas ke arah lautan setelah sesaat menatap wajah Firza.


Yang kemudian karena malam sudah terlalu larut, sehingga mereka berdua beranjak dari tempatnya. Berjalan menuju kamarnya penginapannya masing-masing.


"Selamat malam dan selamat bobo! semoga mimpi indah!" ucapnya Firza kepada Jihan.


Jihan malah terkekeh mendengar ucapan yang terucap dari bibirnya Firza. "Hi hi hi ... sejak kapan kamu ucapkan itu padaku? lebay banget sih! hi hi hi ..."


Firza melongo. "Ck, kamu ini ya. Diberi ucapan manis malah begitu, tidak bersyukur banget." Firza dengan nada dingin.


"Dimana harus bersyukurnya? orang biasa juga dingin sedingin salju, jutek. Tiba-tiba berkata demikian, tapi sebentar aku bayangkan dulu ya?" Jihan menyangga dagu dan seolah-olah sedang membayangkan sesuatu.


"Membayangkan apa?" Firza menggeleng sambil mengulum senyumnya.


"Em ... Berarti kalau sama Puspa ataupun cewek lain pun ... suka bersikap manis ya? cuma sama aku aja yang nggak pernah manis dan baru kali ini gitu?" Jihan menaik turunkan alisnya menggoda Firza.


"Eh ... nggak juga sih, sama yang lain aku kayak gitu juga, cuek dan gak terlalu perhatian ah sudahlah ngapain bahas itu!" Firza mengibaskan tangannya di udara, tidak ingin membahas apapun lagi.


Jihan mengembangkan senyumnya sembari menatap ke arah Firza, wajah pemuda itu memerah tampak malu-malu.


"Selamat malam juga sayang ... semoga mimpi indah, ups!" Jihan menutup mulutnya dan langsung membalikan tubuhnya.


Ucapan itu membuat Firza menoleh ke arah Jihan yang langsung memunggungi dirinya. Dan ucapan itu membuat hati Firza seketika berbunga-bunga bagai bunga yang mendadak bermekaran ....


Bersambung.