
Alfandi menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana. Tatapannya menerawang ke langit-langit dan mencoba untuk terpejam, mengontrol diri dan keinginan yang memang tidak dapat di pungkiri.
Alfandi merubah posisi tidurnya dan mencoba tengkurep untuk menekan keinginannya yang menggebu.
Keesokan hari nya Alfandi ke kantor dan memulai aktifitas paginya yang menumpuk mana meeting juga belum dijadwalkan padahal harus di adakan hari ini juga.
“Ah mana belum sarapan lagi gara-gara bangun kesiangan. Gini nih kalau jauh dari istri tidak ada yang perhatikan.” Gumamnya Alfandi sambil membuka berkas yang membutuhka uluran tangannya itu.
“Kalau saja ada istri setidaknya ada yang menyiapkan semuanya. Ach aku terbiasa semua di urus oleh sang istri jadinya kalau jauh kaya gini.” Alfandi bermonolog dalam hati.
“Pagi, Bos? ini buat sarapannya,” kata seorang ofice pria yang membawakan sarapan untuk Alfandi.
“Makasih Bang. Ini buat rokok,” tangan Alfandi mengambil selembar uang kertas berwarna merah lalu diberikannya pada ofice tersebut yang langsung di sambut dengan senang hati.
“Makasih Bos, makasih banyak dan kala butuh sesuatu penggila saya saja,” ucapnya sambil sedikit membungkuk hormat pada Alfandi yang kemudian mengundur diri darai ruangan Alfandi.
Alfandi hanay memberi isyarat dengan matanya tanpa membalas lagi dengan perkataan, dia menyibukan kembali dirinya dengan beebrapa map ang pada akhirnya ia tinggalkan juga untuk sarapan yang sudah menunggu dan melambaikan yangan minta di santap.
“Met pagi Pak? Maaf menggangu dan ini jadwal meeting hari ini.” Ucap seorang pria yang masih muda dan menjabat direktur di perusahaan tersebut. Seseorang yang Alfandi percai untuk menjabat jabatan itu di sana.
“Oke, atur saja dengan baik dan saya ingin di saat saya pulang nanti semua urusan sudah klier dan saya bisa tenang di Jakarta. Sudah beberapa hari saya di sini belum juga klier.” Balasnya Alfandi sambil menyudahi sarapannya dan menegu minumnya sampai tandas.
Bawahannya itu hanya terdiam dan mengangguk pelan. Kemudian dia mengundur diri. “Baiklah ... sampai jumpa di ruang meeting nanti.”
“Ya.” Alfandi memulai kembali kerjaannya dan kini dia menggelar kertas dengan ukuran lumayan besar lalu dia menggambar sebuah bangunan dengan instuktur yang indah.
Di saat sedang menggambar. Dia terbayang kembali diruang mata kejadian semalam di kamarnya dan untungnya tidak ada yang tahu tentang itu. Bisa-bisa Vaula mendatangi nya di kamar dan akan menimbulkan fitnah bila ada yang tahu dan melihat.
“Tapi kan kan pasti ada cctv. Dan akan ketahuan kalau aku tidak bersalah, eeh cctv itu adanya di luar kamar dan tidak ada cctv di dalam kamar. Ach ... ngapain sih aku memikirkan itu, sampah.” Gumamnya Alfandi kembali.
Kemudian dia melanjutkan kerjaannya yang dia tatapa dengan sangat serius. Pikirannya fokus ke gambar bangunan tersebut lalu merapikan yang salah ia hapus dan menggantinya dengan yang lebih rapi.
Waktu berjalan tidak terasa dan sudah menujukan pukul 12.30. Dimana akan di laksanakan nya meeting yang sudah di jadwalkan sebelumnya. Alfandi buru-buru merapikan pekerjaannya dan bergegas menyambar ponsel meninggalkan runagn kerjanya tersebut, setengah berlari ke mushola sebentar sebelum mendatangi tempat meeting.
Kini Alfandi sudah berada di sebuah ruangan, duduk menghadap meja panjang dan berhadapan dengan para staf yang sudah tidak sabar menggung meeting di mulai.
“Ehem, selamat siang semunya? Semoga kabar kalian baik semuanya dan saya ucapkan terima kasih atas kerjasama kalian semua. Tanpa adanya kerja sama dari kalian ini ... saya yakin kalau perusahan ini gak akan maju. Saya harap ... ke depannya perusahaan ini semakin berkembang dan memajukan kehidupan kita semua.” Ujar Alfandi membuka meeting siang ini.
Kemudian salah seorang menunjukan gambar-gambar hasil karya staf di sana yang cukup berbakat. Dan Alfandi pun menujukan hasil ia sendiri dan menjelaskan sesuatu yang harus di uraikan dengan jelas.
Sekitar dua jam kemudian ... meeting pun berakhir dengan hasil yang memuaskan dan Alfandi menutup acara meetingnya dan lalu menikmati hidangan yang ada di meja tersebut sebelum beranjak dari ruang tersebut.
Alfandi sendiri, dia langsung keluar dan karena belum makan siang ... meskipun sudah lewat ia mendatangi restoran terdekat. Dia ditemani oleh Bani yang tida lain adalah bawahannya itu yang menjabat direktur tersebut.
“Kalu anda butuh seseorang ... saya bisa mendatangkannya untuk anda.” Kata Bani di sela makannya.
“Seseorang ... maksudnya?” Alfandi tidak mengerti dengan maksudnya Bani barusan.
“Iya ... maksud saya mungkin anda butuh teman sepi saya bisa menyewakannya untuk anda, lumaan lah teman pengusir penat.” Timpal nya Bani. Yang dia maksud adalah wanita sewaan.
“Iya Pak. Barang kali anda membutuhkan nya.” Bani sedikit malu-malu sembari meneguk minumnya.
“Ha! berapa lama kau mengenal ku ha? kapan aku jalan sama wanita panggilan?” Alfandi menatap lekat pada Bani yang terlihat kikuk.
“Sudah lama, Pak. Dan saya tidak pernah melihat itu.” Bani menunduk malu.
“Bani-Bani ... bisa-bisa nya kamu menawarkan saya wanita panggilan ha ha ha ... emangnya kapan ... saya jalan atau menggunakan jasa macam begitu. Apalagi saya ini punya istri, Bani ... masa saya mau mengkhianati istri saya.” Alfandi tertawa lepas dan kepalanya menggeleng.
“Ini bukan mengkhianati Pak—“
“Tapi jajan ya? saya gak bisa seperti itu, Bani. Biarpun saya hidup di kota besar sekalipun ... saya tidak pernah macam-macam. Sekalipun saya berada posisi di luar kota jauh dari istri.” Jelasnya Alfandi kembali.
Jangankan punya istri yang memperhatikan. Dulu saja ketika dia tidak di perhatikan oleh Vaula, tidak pernah seperti itu, biarpun pernah terbesit, tapi tidak kejadian.
“Maaf, Pak. Saya hanya menawarkan barangkali Anda berminat. Ternyata anda tidak. Sekali lagi saya minta maaf?” Bani menunduk bertambah malu jadinya. Ternyata Bos nya sedari dulu masih seorang yang tidak neko-neko biarpun banyak uang yang dia miliki.
“Oke. Tidak apa-apa dan saya maafkan saya cum merasa lucu saja. Ha ha ha ...” Alfandi kembali terkekeh sendiri. Mengingat tawaran dari Bani yang bikin dia merasa lucu.
Kemudian keduanya menyudahi makan siangnya tanpa menambah kembali. Di akhiri dengan setengah air minum yang Alfandi teguk sampai tandas.
“Oke. Kita balik lagi ke kantor dan berperang dengan pekerjaan lagi.” Alfandi berdiri dan meraih ponsel dari atas meja.
Keduanya berjalan meninggalkan resto dan kembali ke kantorya untuk melanjutkan tugas yang mereka tingggalkan.
Setelah berada di ruangan kerja, Alfandi merasa kangen sama istri dan putrinya. Sehingga dia menyempatkan diri untuk menelpon sekedar menanyakan kabar.
Namun Sukma bilang dia sedang sibuk mengurus putri kecilnya sehingga tidak bisa mengobrol lama apalagi vc. Tidak bisa.
Sehingga Alfandi segera mematikan sambungan telepon nya dan menyimpan di atas meja.
“Ha ... mendengar suara mu saja si joni bangun dan ingin bertemu dengan mu sayang.” Alfandi merasakan kalau ada yang bangun dan meronta hanya mendengar suaranya Sukma.
“Oh ... iya, apa dialupa ya kalau aku besok ulang tahun. Biasanya biarpun tidak pernah di rayakan ... dia suka mengucapkannya beberapa hari sebelumnya. Tapi perasaan sekarang belum ada ucapan dari istri ku. Seingat ku ... iya benar, belum ku dengar itu.” lagi-lagi Alfandi bermonolog sendiri.
“Ha! sialan ... ck, gak bisa di ajak kompromi banget ya?” Alfandi berdecak kesal dan marah dengan sesuatu yang tidak bisa di kontrol atau menetralisir perasaannya.
Alfandi beranjak dan lari ke kamar mandi. Untuk menenangkan sesuatu yang terus gelisah dan tidak ada obatnya. Alfandi pun sambil terus menggerutu sendiri dengan keadaan ini. Padahal sudah diberi bekal sebelum pergi.
“Masa harus ku suntik mati sih? eeh ... aku bicara pa sih? sembarangan saja bicara. Kalau dia mati dan perasaan mu masih hidup, dan meronta, kamu bisa apa ha? sembarang saja kamu bicara Al.” Alfandi beradu argumen sendiri sembari mengelus kepala si joni dan menyiramnya.
Ketika jam kerja habis dan waktunya pulang, Alfandi pun langsung pulang ke kamar hotelnya dan merasakan ada yang aneh dengan pintu kamar yang terbuka sedikit tersebut, ia langsung ingat semalam ....
.
Mohon dukungannya ya dan jangan lupa tinggalkan jejaknya, makasih🙏