Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Keterpurukan



Setelah beberapa saat, Alfandi jadi kepikiran email itu dan lalu mengarahkan penglihatannya ke arah ponsel yang tergeletak di meja.


Perlahan tangan Alfandi menjangkau ponsel tersebut. Di tatapnya tanpa berkedip. apa benar istrinya punya pria lain bahkan lebih dari itu?


Sejenak Alfandi menutup matanya seraya mendongak dan menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya itu.


Beberapa saat kemudian, Alfandi mulai berselancar dengan ponsel tersebut dan membual email. Di tatapnya sesaat sebelum membuka fail yang Rosa kirimkan itu.


"Semoga itu tidak benar dan mungkin hanya bagian dari akting saja." Batinnya Alfandi harap-harap cemas.


Huuh ... sebelumnya mengembuskan napas melalui mulutnya.


Klik, telunjuk tangan Alfandi mengklik dan memutar video yang dari Rosa tersebut dan alangkah terkejutnya Alfandi karena yang ada di video tersebut memang benar adanya.


Vaula sedang bercumbu bahkan terjadi pergumulan antara Vaula dengan seorang pria yang diperkirakan usianya lebih muda dari darinya.


"Astagfirullah." Alfandi sejenak menjeda video yang diperkirakan berdurasi sekitar sepuluh menit itu. Dan terdengar pula percakapan dari keduanya.


Dada Alfandi terasa sesak. Pedih, perih dan sakitnya sampai ke jantung. Tangan Alfandi meremas dadanya yang terasa nyeri itu. Sungguh tidak menyangka kalau istrinya tega melakukan itu dengan pria lain.


"Sementara kau menolak ku? ternyata mungkin kau dengan intens melakukannya dengan pria lain! tega kau Vaula! mengkhianati ku, dan kedua putra kita." Pekiknya Alfandi seraya memukul meja dengan kepalan tangannya.


Selanjutnya Alfandi kembali melanjutkan memutar video nya karena dia penasaran dan ingin tau, melihat dengan seksama kalau ini real kejadian yang sesungguhnya atau hanya sebagai akting?


Kamera yang mengintai itu memperlihatkan bahwa di ruangan tersebut tidak ada orang lain, dan hanya ada mereka berdua saja. Tidak ada pun kamera lain yang menyorot ke arah mereka selain kamera yang di pakai.


Adegan itu membuat Alfandi senam jantung, kecewa dengan apa yang dilakukan oleh sang istri. Tangan Alfandi kembali mengepal, rasanya ingin sekali melampiaskan kemarahannya pada barang-barang yang ada di sana. Namun Alfandi terus berusaha untuk menekan emosinya agar tidak meluap-luap dan hanya akan membuat semua berantakan.


Tidak terasa Netranya berkaca-kaca, orang yang dia percayai selama ini. Meskipun banyak perubahan yang aneh itu tidak serta merta membuat dia curiga. Dia tetap saja berpikir positif, oh mungkin istrinya sedang capek saja dan benar-benar mengejar karier saja! ternyata lebih dari itu.


Beberapa kali, kedua tangan itu mengusap wajahnya dengan kasar. Dalam hatinya menangis pedih, tidak bisa membayangkan bila nanti anak-anak nya tahu kelakuan Vaula di luaran sana.


Kalau Alfandi menikah lagi, itu jelas-jelas diketahui oleh kedua putranya, dan sebagai laki-laki Alfandi memang wajar dong ... menikah lagi atau mencari kepuasan di luar! sementara di rumah dia tidak mendapatkannya lagi.


Sementara Vaula adalah jiwanya wanita, seorang istri dan seorang ibu. Apa pantas? apa wajar jika berlaku seperti itu? mengingat kodratnya sebagai seorang wanita.


Alfandi tidak bisa membendung lagi air matanya yang ingin membludak dan turun membasahi wajah tampannya itu. Rasanya dia ingin menjerit yang sekencang-kencangnya. Namun itu tidak mungkin, dia hanya bisa menangis yang tertahan di ruang khusus istirahat.


Dan dia sudah bilang pada sekretarisnya, kalau dia sedang tidak ingin di ganggu sama sekali. Meratapi keterpurukan sementara waktu. Namun beberapa jam kemudian, rasanya Alfandi ingin sekali berada di sisi Sukma di saat seperti ini, yaitu istri muda nya. Dan akhirnya Alfandi bangkit dan memutuskan untuk pulang ke rumah keduanya. Dia meraih jasnya yang menggantung di dekat lemari.


Dia berjalan sambil chat Sukma, Agar Sukma segera pulang dan dia ingin ke sana, untuk saat ini dari pada bertemu di luar yang kurang leluasa mendingan di rumah saja.


"Kau mau kemana?" tanya Rahman ketika berpapasan di koridor kantor, menatap lekat pada Alfandi yang tampak lusuh dan bermasalah.


Alfandi melirik ke arah Rahman yang membawa berkas di tangannya. "Saya mau pulang!"


Rahman merasa aneh dengan sikap Alfandi yang dia rasa kurang baik-baik saja itu. "Kau oke?"


"Oke, sudah ya? saya mau pulang, kurang enak badan!" tambah Alfandi sambil berjalan menenteng jas.


Rahman hanya menghela nafas panjang. Menatap punggung Alfandi yang dengan cepat berlalu meninggalkan koridor tersebut.


Sesungguhnya langkah Alfandi terasa mengambang, antara menapak atau tidak. Pikirannya hanya ingin bertemu dengan Sukma untuk meluapkan keluh kesahnya.


Dia memundurkan mobilnya dari parkiran. Meluncur dengan cepat menuju rumah keduanya.


...---...


Sebenarnya, ketika di chat Alfandi itu. Sukma baru saja keluar dari kampus setelah mengikuti pelajaran dari dosen pembimbing, dan rencananya sehabis makan siang yang sudah terlambat itu ... dia masih ada satu pelajaran lagi. Namun ketika Alfandi menyuruhnya pulang! Sukma tidak bis membantah lantas mencari taksi untuk pulang.


"Ada apa sih? kaya penting banget deh, mana masih ada satu mata pelajaran lagi," gumamnya Sukma sambil melihat-lihat keluar jendela mobil.


"Ha? nggak, Mas!" Sukma mengulas senyumnya pada supir.


Pria itu semakin mengembangkan senyumnya ketika melihat senyuman yang manis di bibir Sukma. Yang terlihat di pantulan kaca spion.


"Mbak pulangnya masih ke rumah yang kemarin?" selidik sang supir.


"Ha! iya, Mas masih ke sana." Jawab Sukma dengan lagi-lagi menarik bibirnya melukiskan sebuah senyuman.


Setibanya di rumah, Sukma langsung turun setelah membayar transpor nya.


"Assalamu'alaikum ... Bu, anak-anak sudah pulang belum?" Sukma memasuki rumahnya yang sambut oleh bi Lasmi.


"Wa'alaikumus salam, Non. Anak-anak sudah dari tadi 0ulangnya, Non pulang lebih awal?" bibi tanya balik melihat majikannya yang pulang lebih awal itu.


"Iya, Sebenarnya masih ada jam pelajaran, namun tuan menyuruh ku untuk pulang lebih awal. Belum datang kan dia, Bi?" manik matanya celingukan ke luar yang belum terlihat mobil Alfandi.


"Ooh, mungkin lagi kangen dia, Non. Walau baru tadi pagi bertemu juga," goda bi Lasmi pada Sukma.


Sukma menaikan bahunya. "Entah, bi ... aku jadi risih, soalnya kan dia harus punya waktu juga dengan istri pertamanya." Sukma meneguk air putih.


"Maklum, Non ... namanya pengantin baru kan? tidak apa manjakan saja semampunya! biar di sayang, Non." Sambung bibi sambil mesem-mesem.


Sukma menghela napas panjang. "Oya, anak-anak sudah makan siang?" Sukma mengalihkan pembicaraannya.


"Sudah, mereka sedang makan. Den Marwan Itu sedang mengurus kolamnya memberi makan ikan. Bersama neng Jihan juga.


"Oh, iya, aku masih dulu ya? mau mandi dulu." Sukma langsung mengayunkan langkah nya mendekati tangga.


"Iya, Non. Apa bibi harus masak lagi? bukankah tuan mau pulang ke sini?" tanya Bu Lasmi menghentikan langkahnya Sukma.


Sukma memutar tubuh nya menoleh pada bibi. "Nggak usah, Bi. Biar nanti kalau dia lapar? aku saja yang nanti masak sendiri."


"Ooh, baiklah kalau begitu!" bibi mengangguk pelan.


Sukma kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga dalam menuju kamar pribadinya. Dan langsung membersihkan diri dan berpakaian santai. Seperti dasteran yang bermotif bunga-bunga.


Sukma hendak ke balkon, namun terdengar suara pintu yang didorong dari luar, seiring suara seorang pria yang mengucap salam.


"Assalamu'alaikum ..." Alfandi langsung melihat ke arah Sukma yang berdiri di dekat pintu balkon.


"Wa'alaikumus salam." Sukma menatap kedatangan Alfandi yang tampak lusuh dan berantakan itu.


Alfandi melempar jas dan tas nya ke atas sofa, sementara dia mendekati ke arah Sukma lantas memeluknya dengan erat.


Sukma bengong menerima pelukan dari Alfandi, yang membuat dia heran adalah penampilan nya yang aneh.kaya orang sedang banyak masalah.


"Aku merindukan mu, dan biarkan aku memeluk mu sementara waktu." suaranya pelan dan sedikit bergetar.


Perlahan tangan Sukma membalas pelukan dari Alfandi dan mengusap punggungnya Dangan lembut. Sejenak Alfandi ingin mencari ketenangan dalam pelukan sang istri.


Dalam pikiran Sukma terus berputar kenapa suaminya ini? kok bicara seperti itu, bikin senam jantung ....


.


.


...Bersambung!...