Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Ijab kabul



Saat ini di ruang tengah sudah berkumpul para tetangga sekat dan juga dari pihak KUA yang sudah tampak hadir di tempat tersebut.


Sementara Alfandi masih berada di kamarnya. Dia baru saja selesai di make up. Bersama putranya, Firza. Sementara Fikri sudah keluar sedari tadi bersama Marwan.


"Papa harap dapat mengerti keadaan ini, setidaknya suatu hari nanti kita akan memahami semuanya." Alfandi menatap lekat pada Firza yang tampak melamun.


"Aku izinkan kok, Papah. Menikah sama wanita itu. Aku tidak apa-apa," sahutnya Firza dengan nada datar.


"Terima kasih, Nak? Papa bangga padamu, dan jadilah kebanggaan Papa, semoga dengan seiringnya waktu berjalan. Kau dapat mengenal istri Papa! insya Allah dia akan menjadi ibu yang baik untuk kalian berdua." Alfandi memeluk putra sulung tersebut.


Terlihat jelas di ruang mata Firza. Dimana Sukma menyuapi Fikri dengan sabar dan tulus. Tidak terlihat canggung atau pun kagok pada Fikri yang notabene nya anaknya masih manja.


Setelah itu, Alfandi mengajak putra, Firza untuk turun dan kebetulan Arman datang menjemputnya.


"Ayo bro turun? Penghulu sudah menunggu," kata Arman seraya berdiri di depan pintu menatap ke arah Alfandi.


"Iya, ini juga mau turun," sahutnya Alfandi seiring melirik ke arah Arman.


"Wieh ... gagah sekali dirimu Al seperti masih bujang saja, kalau gak tahu? gak bakalan menyangka kalau kau punya anak dan istri." Kata Arman sembari melihat ke arah Alfandi dengan intens.


"Tentu dong ... aku kan masih muda. Ha ha ha ... istri mu di bawa gak?" tanya Alfandi sambil merapikan jas nya.


"Kayanya sebentar lagi bersama istrinya Rijal, saya dan Rijal duluan datang untuk ya ... ikut mengurus semuanya." Balas Arman jadi berbincang dengan Alfandi di depan pintu.


"Pah, aku duluan turun!" Firza melipir, berjalan di antara papa dan temannya.


"Iya, boleh." Alfandi mengangguk pelan.


"Eeh ... Firza ada di sini juga. Aku kira Fikri saja yang ada di sini?" sapa Arman dan Firza hanya menoleh sekilas, senyum tipis lalu berlalu duluan menuju lantai dasar.


"Sengaja saya bawa, biar menjadi saksi Papanya berucap janji suci yang kedua kalinya, pokoknya supaya dia tahu kalau papanya ini punya istri lagi. ha ha ha ..." jawabnya Alfandi.


"Istri mu tahu gak?" tanya Arman pada Alfandi yang tampak bahagia.


"Istri ku ... tidak tahu lah, buat saja suatu saat nanti juga pasti tahu sih, yang jelas saya tidak berbohong pada kedua putra ku itu. Masalahnya ... kalau mereka tahu, kan? ketika saya tidak pulang ke rumah, tentu mereka tahu. Oh ... papa di istri mudanya." jelas Alfandi.


"Terus, putra mu tidak bermasalah papanya menikah lagi?" tanya Rijal yang baru datang. Dia menyusul karena Arman lama menjemput Alfandi nya.


Keduanya berjabat tangan. "Tidak, malah yang bungsu. Putra bungsu saya tampak dekat dengan calon istri," tambahnya Alfandi. Kemudian Alfandi melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kanannya yang sudah menunjukan pukul 10.40 kemudian Alfandi mengayunkan langkahnya berjalan di depan kedua temannya.


"Jal, saya bilang. Kenapa Alfandi harus bawa anak? dia ngaku bujang saja gak akan di curigai kok, iya gak?" Arman melirik ke arah Rijal.


"Emang benar." Rijal mengangguk.


"Gak bisa saya berbohong. Gimana saya bisa bohong coba? waktu itu Fikri kabur dari rumah yang temuin itu calon istri saya," lanjutnya Alfandi.


"Lah penyelamat dong ya?" kata Arman.


"Yang mana sih, calon istrimu? tadi saya ketemu sama wanita muda, cantik berkebaya dan bersanggul apakah dia?" tanya Rijal pada Al dan melihat ke arah Arman.


"Ah kayaknya bukan! bukan dia deh. Kalau pengantin sih pasti pakai melati gitu, itu kan nggak! gak ada melati-melati nya di rambut. Berarti bukan itu ..." timpal Arman.


"Ha ha ha ... emangnya melati itu wajib? gak juga! buktinya yang pakai kerudung, gak pakai melati, Man." Alfandi tertawa.


"Ya ... kan rata-rata." Bela nya Arman.


"Bener, si Arman ada-ada saja, yang wajib itu ijab kabul bukan melati. Ha ha ha ..." timpal Rijal.


Lalu mereka bertiga berjalan menuruni anak tangga dengan santai. "Lah, itu baru bener." Alfandi membenarkan perkataan Rijal.


Alfandi menghampiri tempat yang sediakan buat pengantin. Sebelum menempelkan bokongnya, Alfandi berjabat tangan dengan orang-orang yang ada di sana termasuk dari pihak KUA yaitu bapak penghulu.


"Anda yang akan menjadi pengantinnya?" tanya Bapak penghulu kepada Alfandi.


"Iya, saya sendiri!" lalu netra matanya mencari Marwan yang sedang berada tidak jauh dari sana, bersama putra bungsunya, Fikri.


Alfandi berbisik pada Arman agar memanggilkan Marwan, karena dia yang akan menjadi wali dari Sukma, Arman pun langsung kembali berdiri dan memanggil anak itu.


"Mana wali perempuannya?" tanya Bapak penghulu mengarahkan pandangannya pada Alfandi.


"Itu sedang dipanggil," Alfandi menunjuk pada Marwan yang sedang dipanggil oleh Arman.


"Masih anak-anak, nggak ada bapaknya atau kakaknya? paman juga bisa, kakeknya mungkin? khususnya dari pihak ayah," ucap bapak penghulu.


"Calon istri saya ini sudah yatim piatu, sudah tidak punya ayah dan ibu, dan keluarganya pun jauh-jauh! bahkan tidak tahu nomor teleponnya sekalipun. Sementara kami di sini ingin segera menghalalkan hubungan kami untuk menghindari fitnah," Alfandi menjelaskan pada pak penghulu.


Bapak penghulu, mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang Alfandi jelaskan.


"Seandainya anak itu tidak memenuhi syarat untuk menjadi wali, saya menyerahkan keputusan atau mewali hakim kan kepada wakil bapak penghulu atau gimana baiknya lah? yang penting kami bisa dihalalkan," sambungnya Alfandi kembali.


Pak penghulu memandangi ke arah Marwan Yang kini sudah duduk tidak jauh dari beliau.


"Baiklah, Adek kelas berapa nih sekolahnya?" tanya pak penghulu pada Marwan yang sudah duduk bersila di depan Alfandi.


"Aku kelas satu, Pak." Jawabnya Marwan sambil mengangguk pelan.


Di tangga, Sukma sedang berjalan dengan pelan. Didampingi Mimy dan juga jihan, berjalan teratur menuju tempat duduknya pengantin yang akan disandingkan dengan mempelai pria yang tiada lain adalah Alfandi.


Netra Alfandi mantap intens pada Sukma yang benar-benar membuat dia pangling. Sukma tampak sangat cantik dengan riasan pengantin yang menempel di kulitnya, tubuhnya terlihat ramping dengan balutan kebaya putih dan batik biru keemasan.


Rambutnya yang di sanggul moderen, namun tetap memakai atau hiasan melati menambah kesan cantik. Sukma mengulas senyum gugup nya sembari berpegangan pada tangan Mimy dan Jihan, tanpa melihat ke arah Alfandi yang sedang menatap dirinya begitu lekat.


"Cantik sekali calon istri ku?" gumamnya Alfandi dalam hati.


Sukma terus menebarkan senyuman manisnya. Menambah manis wajahnya dan wajahnya pun tampak bercahaya, kini dia duduk di samping Alfandi.


Seorang wanita yang tadi merias Sukma pun memasangkan kerudung panjang, dari kepala Sukma sampai kepala Alfandi. Sebagai simbol akan menyatunya dua kepala dan dua jiwa yang berbeda.


"Ini ya? calon mempelai wanitanya?" pak penghulu melirik Alfandi yang begitu anteng melihat ke arah Sukma.


"Ooh iya," Alfandi seraya mengangguk. Melihat ke arah pak penghulu.


"Apakah, Neng sudah siap? jadi istri calon istrinya pria yang yang berada di samping mu?" tanya bapa penghulu sambil tersenyum pada Sukma.


Sukma yang menunduk mengangguk seraya berkata. "Siap!"


Sudah bisa dibayangkan gimana perasaan Sukma saat ini, dadanya yang berdebar-debar. Jantungnya yang berdegup dengan sangat kencang, inilah detik-detik dia mau melepas masa lajangnya. Menjadi seorang istri dari seorang pria arsitek beristri yang bernama Alfandi.


Firza, Fikri duduk tepat di belakang sang ayah yang kini mengenakan jas setelan warna biru, tampak gagah dan tampan. Fikri tampak ceria dan seolah tanpa beban. Mungkin karena anak itu belum terlalu mengetahui apa-apa.


Sementara Firza, bagaimanapun dia sudah lebih dewasa dari Fikri, sehingga bisa berpikir ataupun perasaan. Gimana kondisi keluarganya nya saat ini, gimana perasaan sang bunda bila mengetahui bahwa sang suami menikah lagi?


Tetapi dia kembalikan lagi, tidak mungkin papanya menikah lagi. Kalau seandainya hubungan mereka benar-benar harmonis atau penuh kasih sayang, justru karena papanya tidak mendapat perhatian dari sang bunda! membuatnya berpaling di tambah lagi ada kesempatan.


Jihan duduk di belakang Sukma yang terus menunduk merasa nervous, malu. Dilihatin terus sama orang-orang yang berada di sana, meskipun tidak banyak! tetap saja dia merasa malu.


Dengan tidak membuang waktu, pak penghulu pun mulai membacakan doa pembuka acara.


Kemudian Marwan pun di tuntun oleh pak penghulu untuk menjadi wali nikahnya sang kakak, Sukma yang tampak sangat gugup dan terlihat dari tangannya yang berkeringat dingin.


Marwan maupun Alfandi. Sebelum saling berjabat tangan keduanya menghela nafas bersiap untuk mengucap sesuatu yang benar-benar akan menjadi bersejarah pertama dalam hidup Marwan.


Detik-detik ijab kabul pun membuat semua orang dag-dig-dug ser, harap-harap cemas dan berharap semuanya lancar.


"Sekarang silakan ananda Marwan menikahkan kakak tercintanya dengan ananda Alfandi?" ucap pak penghulu.


Kini tangan Marwan dan Alfandi sudah berjabat tangan dengan erat. Lagi-lagi menghela nafas sebelum memulainya.


Sorot mata Marwan menatap lekat pada Alfandi.


Lanjut di awali dengan bismillah. "Saya kawinkan dan nikahkan engkau dengan kakak adinda yang bernama Sukmawati, binti Darmawan dengan maskawin sebuah rumah beserta isinya, dan seperangkat perhiasan, di bayar tunai."


"Saya terima kasih dan nikahnya Sukmawati binti Darmawan dengan maskawin tersebut tunai!" sambut Alfandi dengan lantang dan satu tarikan nafas saja.


"Gimana, sah?" tanya pak penghulu pada para tamu yang berada di sana.


"Sah ..." jawab orang-orang yang ada di sana serempak, mereka turut bahagia dengan kebahagiaan kedua mempelai.


"Kalau ada cincin kawin silakan sematkan dijari pasangan kalian masing-masing," ucap wakil pak penghulu.


Namun Alfandi menggeleng karena memang dia tidak menyiapkan cincin kawin. Perhiasan buat maskawin pun Rijal dan Arman yang menyiapkan nya bersama istri mereka.


"Baiklah. Sekarang ... kalian sudah sah menjadi suami istri dan silakan saudari Alfandi mencium kening sang istri yang kini sudah halal buat anda." Titah bawahan pak penghulu tersebut.


Alfandi tersenyum mengembang Lalau melirik ke arah Sukma yang menunduk dalam. Dia tampak masih malu-malu dan tak kuasa menatap wajah pria yang baru saja menjadi suaminya itu.


Lantas Alfandi mendekatkan wajahnya pada kening Sukma dan mengecupnya dengan mesra. Jelas Alfandi sudah pengalaman dalam hal itu, beda dengan Sukma yang belum pengalaman. Walaupun pernah pacaran, namun hanya sebatas pegangan tangan saja.


Nyes ....


Sukma memejamkan kedua manik matanya sembari tetap menundukkan kepalanya.


"Nah ... sekarang, silakan ananda Sukma mencium tangan suami mu, agar terbiasa dan panut pada sang suami." Lanjut pang penghulu.


Sekilas Sukma mengangkat wajahnya, melihat ke arah Alfandi yang terus mengembangkan senyum nya. Menggambarkan betapa hatinya bahagia, detik kemudian Sukma mengarahkan pandangannya ke tangan Alfandi yang sengaja di ulurkan pada dirinya. Kemudian ia sambut dan mencium punggungnya.


"Alhamdulillah ..." kemudian pak penghulu memimpin doa penutupan.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُلِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًايُوَافِى


نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُوَلَكَ الشُّكْرُكَمَايَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ


وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَامُحَمَّد


"Aamiin ..." suara orang-orang dengan serempak mengaminkan doa yang di pimpin oleh pak penghulu tersebut.


Begitupun dengan Alfandi dan Sukma yang mengusap wajahnya setelah selesai membaca doa. Lanjut Alfandi menyerahkan maskawin berupa seperangkat perhiasan kepada sang istri, serta sebuah map surat-surat rumah dan tanahnya.


"Terima kasih? terima kasih banyak?" pada akhirnya Sukma mengeluarkan suara dari mulutnya sambil menerima yang Alfandi diberikan.


Dan tanpa diundang! air mata yang sedari tadi ingin keluar, akhirnya tak dapat terbendung lagi. Semua air matanya tumpah begitu saja.


"Jangan menangis dong, Ma ... ini kan hari kebahagiaanmu!" kata Mimy lirih sambil memeluk Sukma erat.


"Justru aku bahagia, aku nggak pernah membayangkan ini. Hik-hik-hik. Sekaligus aku bersedih karena aku menikah tidak di saat orang tua ku sudah tidak ada!" Suara Sukma yang bergetar karena menangis.


Tidak dapat di pungkiri kalau dia teringat pada kedua orang tua nya yang sudah tiada. Dan dia di walikan Marwan sebagai ganti sang ayah.


Alfandi menarik bahu Sukma dari pelukan Mimy seraya berkata dengan pelan. "Sayang ... jangan menangis? malu dilihat orang nanti dikira kamu terpaksa menikah dengan saya!"


Tangan Alfandi mengambil tisu, lalu dia mengusap air mata dari wajahnya Sukma. "Sekarang kau adalah istriku, jadi apapun yang aku lakukan itu untuk membahagiakanmu dan kedua adikmu."


Sukma tersenyum getir kepada Alfandi, sejenak Afandi menatap gadisnya itu lalu kembali menarik bahunya, dibawa ke dalam pelukan. Menyediakan bahu dan dada bidangnya yang insya Allah akan menenangkan sang istri dari kegundahan.


Namun tangis Sukma semakin tersedu sembari berucap lirih. "Aku teringat bapak dan ibu yang sudah tiada."


Alfandi mengusap punggung gadis itu dengan sangat lembut, dan terus menyediakan dadanya untuk Sukma menenggelamkan wajahnya.


Jihan yang berada di sana pun tak luput ikut menangis. Dia pun sama teringat pada kedua orang tua nya. Mimy mencoba menenangkan Jihan dan memeluknya.


"Gak baik, menangis terus di sini! seharusnya kita bahagia sekarang ini, bukan menangis. Apa nanti kata para tetangga kita, sayang? menangisnya nanti saja ya di lanjutkan di kamar? mau sambil guling-guling pun gak akan ku larang, asal jangan di sini saja," suara Alfandi pelan.


Membuat Sukma tersenyum miris mendengarnya. Lalu menjauh dari dada Alfandi dan mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata.


"Nggak ada hujan dan gak ada angin, istri ku kebanjiran. Gimana nanti kalau aku datangi menjerit kali?" goda Alfandi.


Sukma menjadi tersipu malu mendengar Alfandi yang terus menggodanya. Mungkin niatnya menghibur.


Setelah memberikan selamat kepada kedua mempelai, semua tamu yang di sana pun menikmati hidangan yang seadanya itu.


"Selamat ya ... semoga bahagia semoga dapat kepuasan yang lebih ... ha ha ha," ucapan Arman dan Rizal kepada Alfandi bergantian.


Begitupun istrinya Rijal dan Arman yang juga turut hadir di acara nikahan Alfandi dan Sukma tersebut.


"Selamat ya? pak Al dan juga Mbak siapa namanya? Mbak Sukma ya? titip pak Al ya? maklum dia itu suami berasa duda, jadinya kesepian! jadilah pelengkap dalam kesepian nya ya? hi hi hi ...."


Sebenarnya kedua wanita ini merasa miris dengan pernikahan Alfandi ini. Di satu sisi, sebagai wanita mereka merasakan gimana sakitnya! seandainya suami mereka menikah lagi ataupun dimadu. Namun di sisi lainnya mendengar cerita dari suaminya masing-masing! bahwa rumah tangga Alfandi dan Vaula sudah tidak harmonis dan sudah sejak lama alfandi kesepian, sebagai laki-laki normal tentunya akan haus dengan belayan.


Mereka hanya bisa berharap kalau Sukma dapat menjadi istri yang diharapkan, seorang yang terbaik mengerti tugasnya dan menjunjung tinggi atas sebuah komitmen dalam berumah tangga. Menerima apa adanya Afandi yang bagaimanapun sudah memiliki istri dan dua putra.


"Terima kasih atas kehadiran kalian dan terima kasih juga sudah membantu dalam acara ini? kalian sudah menyiapkan perhiasan buat maskawin. Terima kasih banyak?" Alfandi menjabat tangan kedua sahabat nya itu. Kemudian kepada istri mereka berdua.


"Sama-sama, kalau bukan kita? sama siapa lagi? Iya kan Jal?" kata Arman sambil melirik pada Rijal.


"Yoi!" aku mau makan ah lapar," ucapnya Rijal seraya menarik tangan istrinya untuk mengambil makanan.


Begitupun juga dengan Arman, dia mengajak istrinya untuk menikmati hidangan yang ada.


"Iya, sana lah makan! sepuasnya ya ..." kata Alfandi kepada mereka semuanya.


"Ma selamat ya? sekarang kau sudah menjadi istri bukan Sukma yang dulu lagi," Mimy memeluk Sukma dengan erat, tanpa terasa air matanya pun menetes di pipi.


"Sama-sama, My. Terima kasih juga? kau selalu menjadi teman sahabat bagiku, bahkan keluarga! kau sudah seperti saudaraku," balasnya Sukma ....


.


...Bersambung!...