
Wajah Sukma memerah seraya berkata. "Lepaskan? malu sama bibi!" tangannya berusaha melepaskan tangan Alfandi.
Alfandi pun akhirnya memudarkan rangkulannya. Menjauh dari Sukma yang melanjutkan masaknya. "Oke! anak-anak di mana sekarang?"
"Sepertinya Fikri ... sedang berada di kamar Marwan," sahutnya Sukma sembari menunjuk ke arah kamarnya Marwan.
"Baiklah, aku menemui mereka dulu!" cuph! dasar Alfandi, tidak perduli dengan orang yang ada di sana. Mau kecup? ya kecup saja ke pipi sang istri.
Alfandi membawa langkah nya mendekati sofa dan mengambil beberapa paper bag lantas membawanya ke kamar Marwan.
"Fikri, marwan? Papa bawakan baju nih, Fikri?" Alfandi mendorong handle pintu. Dan tampak Fikri sedang guling-guling di atas tempat tidurnya Marwan.
Sementara Marwan sendiri sedang membaca buku, langsung menoleh. "Abang sudah datang?"
"Papa-Papa, hore ... Papa datang! mana baju buat aku, Pah?" Fikri langsung melonjak bangun dan menghampiri sang ayah.
"Ini, Papa bawakan berapa potong pakaian buat kamu ganti bila sedang berada di sini, komplit dengan ********** juga! dan yang ini buat Kak Wawan, semoga suka dan cukup, nggak kekecilan ataupun kebesaran." Alfandi mengalihkan penglihatannya pada Marwan serta memberikan 2 paper bag kepada Marwan.
"Makasih, Bang? makasih banyak," Marwan langsung mencium tangan Alfandi sebagai tanda terima kasih.
"Sama-sama, dan ini sarung juga pecinya." tambah Affandi memberikan sarung dan peci buat Marwan.
"lah, sarung dan peci buat aku mana, Pa!" Fikri menatap lekat pada sang ayah.
"Buat Fikri ini?" Alfandi memberikan sarung dan peci buat putranya.
"Pah, sarung dan peci ini buat di sini! apa buat di rumah sana?" tanya anak itu dengan polosnya.
"Eee ... buat di sini sajalah, kalau buat di rumah sana! beli saja lagi ya?" sahutnya sang ayah.
"Ooh, berarti Fikri simpen di kamar ya semuanya ini?" anak itu menatap pada papanya tersebut.
"Iya simpan saja, dan sekarang kamu ganti dengan pakaian yang baru? bukannya celana yang kau pakai itu juga dingin, basah bukan?"
"Oke papa!" aku ganti dulu ya?" anak itu langsung menggantikan pakaiannya dengan yang baru.
"Yang bekas pakai, langsung bawa ke tempat cuci ya? Jangan disimpan di mana saja," pesan sang ayah.
"Hem!" Fikri merespon dengan anggukan.
"Wan, tolong ini kasihkan buat kak Jihan ya? mukena! tadi Abang gak lihat kak Jihan, entah dimana dia?" Alfandi memberikan 1 paper bag lagi pada Marwan yaitu isinya mukena buat Jihan.
"Buat, kak Jihan? makasih ya Abang? aku antarkan dulu sama Kak Jihan," Marwan yang tampak bahagia mendapatkan hadiah dari Alfandi, langsung mengambilnya dan berlalu berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Begitupun dengan Fikri, dia membawa pakai yang kotornya ke tempat cucian beserta menjinjing paper bag yang masih berisi pakaian lainnya, yang dia mau simpan ke kamarnya yang berada di atas.
Alfandi membuka jasnya dan juga keluar dari kamar Marwan, sebelum melanjutkan langkahnya. Dia menoleh ke arah sang istri yang masih tampak sibuk dengan wajan dan sodet nya.
"Sayang, aku capek. Aku mau mandi dulu ya?" kata Alfandi sambil membuka jasnya yang di arahkan pada Sukma.
"Ooh iya? mau aku bikinkan kopi atau Teh?" tawar Sukma dengan suara lirih.
"Eem ... air putih saja ya! bawakan ke kamar saja," jawabnya Alfandi seraya berjalan mendekati tangga.
"Iya, sebentar ya aku nyusul! tinggal menuangkan sayur," lalu Sukma melanjutkan aktivitasnya.
"Sudah, Non. Biar bibi saja yang kerjakan semuanya, Non temani saja suaminya di atas. Dan Non harus pandai-pandai memanjakan dia ketika ada di rumah ini, maklum ini kan bukan rumah utamanya jadi, Non harus pandai-pandai memberikan waktu pada suami sepenuhnya," kata bibi dengan suara sangat pelan sambil melirik ke arah Alfandi yang berjalan naik anak tangga.
Sukma melirik ke arah, Bi Lasmi. "iya Bi sebentar kok cuma menuangkan ini doang! aku akan segera ke atas."
"Iya, Non. Harus benar-benar pandai mempergunakan waktu bersama suami," ucapnya Bi Lasmi penuh dengan dukungan.
Bi Lasmi begitu pengertian, karena dia tahu kalau rumah ini bukan rumah yang utama buat Alfandi, sekiranya hanya buat singgah saja maka Sukma sudah harusnya lebih pandai memanjakannya dan pergunakan waktu dan sebaik-baik mungkin.
Sudah selesai menuangkan sayur ke dalam mangkuknya dan ia simpan di atas meja dengan rapi, Sukma langsung mengeluarkan gelas besi dan menuangkan air ke dalamnya.
"Bi, aku naik ke atas dulu ya?" pamit Sukma seraya mengangguk dan juga bergerak maju.
"Non jangan khawatir! biar Bibi membereskan semuanya," balasnya Bi Lasmi seraya menunjukkan senyumnya penuh ketulusan.
"Makasih, Bi?" Sukma berjalan menaiki anak tangga dengan membawa gelas air putih buat sang suami.
Dia berjalan mendekati nakas, menyimpan gelas terlebih dahulu. Terdengar dari arah kamar mandi kucuran air dari shower pertanda di sana ada orangnya dan jas alfani pun ada di atas sofa, beserta satu paper bag yang ketika Sukma cek isinya sarung dan peci.
"Hem. Warnanya biru gelap." kemudian Sukma menoleh ke arah lemari dan mengayunkan langkahnya ke sana, menyiapkan pakaian ganti buat Alfandi.
Pakaian Alfandi sudah siap tersedia di atas tempat tidur, lanjut Sukma mendekati jendela atau penutup gordennya karena hari sudah sore dan sebentar lagi juga mau maghrib.
"Sebentar lagi juga Maghrib, cuaca jadi mendung begini," gumamnya Sukma.
Secara tiba-tiba ada yang memeluknya dari arah belakang dan menampilkan lagunya di atas bahu sebelah kiri, "Aku kangen kamu, tadi nggak bisa ngapa-ngapain kamu, maaf ya?"
Kedua tangan Sukma memegang tangan Alfandi yang memeluk perutnya dengan sangat erat. Kerutnya Sukma mengerut. "Kenapa harus minta maaf? bukannya memang itu juga privasi? dan aku mengerti itu!"
"Terima kasih sayang? sudah pengertian?" Alfandi mencium bahu Sukma mesra dan lama, membuat merinding semua bulu Roma. Apalagi ketika Alfandi menyingkirkan rambut Sukma yang di kuncir, ke samping supaya mengekspos tengkuknya dan mengecup sampai beberapa kali.
Semakin merinding semua bulu kuduk Sukma.
"Em ... bajunya sudah ku siapkan di atas tempat tidur!" Sukma mencoba mengalihkan perasaannya yang terus berdebar, jantung yang berdegup begitu kencang.
Dan bulu kuduk pun kian meremang dengan aksi-aksi kecil yang dilakukan oleh pria yang sedang bucin itu.
"Emangnya kenapa kalau aku seperti ini, hem?" Alfandi membalikan tubuh Sukma sehingga kini mereka saling berhadapan satu sama lain.
Kedua manik Sukma langsung menangkap sebuah pemandangan yang ahk bikin terkagum-kagum. Yaitu tubuh Alfandi yang hanya menggunakan handuk berapa senti dari pusatnya mengekspos pada bidang dan perut sixpack nya. Membuat manik mata Sukma tidak berkedip.
"Ee ... tidak apa-apa, cuman gak enak saja lihatnya. Sudah selesai ya mandinya kok sebentar banget?" Sukma terus berusaha menyembunyikan perasaan yang agak dag-dig-dug ser tersebut.
Kedua tangan Alfandi menarik punggungnya Sukma, sehingga tubuh keduanya menempel rapat, Hanya tangan Sukma yang diletakkan di dada Alfandi untuk memberi jarak dari pria tersebut.
"Hari ini aku sangat merindukanmu?" bisik Alfandi di telinga Sukma yang terasa mendengung aneh.
"Ta-tapi. Sehari ini kita sudah berapa kali bertemu, bu-bukannya sama sekali tidak bertemu?" suara Sukma begitu lirih dan terbata-bata.
"Memang benar, sehari ini kita sudah berapa kali bertemu! tapi baru kali ini saya bisa memeluk mu dengan erat dan menumpahkan rasa rindu ini yang menyiksa dada saya." Suara Alfandi yang tetap pelan dan tatapannya kian intens ke salah satu anggota yang ada di wajah Sukma.
Pandangan Sukma mengalih ke arah lain, tidak sanggup untuk membalas tatapan mata pria itu yang tajam dan seperti ingin memangsa sesuatu.
"A-aku, mau ke kamar mandi dulu?" gumamnya Sukma sambil berusaha tuk melepaskan diri dari dekapan sang suami. Bagaimanapun Sukma masih kaku dan belum terbiasa.
Kini tangan Alfandi bergerak dan berusaha menjangkau dagu Sukma yang di angkatnya supaya mendongak, kepala Alfandi pun berusaha membungkuk agar dapat menyentuh yang dia mau.
Kedua manik Sukma terpejam dengan refleks nya. Ketika bibir Alfandi tiba dan mendarat di bibirnya yang lembab tersebut.
Beberapa saat mereka menyatukan benda tipis dan kenyal tersebut. Yang dirasakan oleh Alfandi semakin menuntut lebih.
"Mmmm ... cuph! cuph! cuph! ahk ... boleh sebentar saja?" suara Alfandi pelan dan tubuhnya menyeret tubuh mungil Sukma ke tempat tidur.
Manik Sukma terbuka seraya menggelengkan kepalnya. "Jangan sekarang ya? Bentara lagi Maghrib?" tolak nya Sukma dengan nada sangat pelan dan nyaris tak terdengar.
"Terus gimana dong? kapan? aku berasa pengen sekarang nih?" Rajuk Alfandi tanpa ragu meminta pada sang istri.
Sukma terdiam dan maniknya bergerak-gerak menatap wajah pria itu dengan lekat. Di perut Sukma berasa ada yang menonjol dan meronta, sepertinya harimau sedang mengaung mencari mangsa.
"Kita maghriban dulu ya?" suara Sukma lirih, dia tahu kalau Alfandi tidak akan menginap di sini, dia pasti akan pulang ke rumah utama bersama Fikri.
Sejenak Alfandi terdiam dan tatapannya yang sayu merayu itu menatap intens pada wajah sang istri. "Aku gak tahan sayang!" suaranya bergetar.
"Sabar ya, Al? pasti akan ada waktunya!" kini Sukma menunjukan senyumnya seraya jemarinya yang lentik mengusap dada Alfandi dengan lembut. Dan lantas menempelkan pipinya di dada bidang tersebut.
Alfandi mendongak. Dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengontrol nafas serta menekan hasratnya sudah naik ke ubun-ubun.
Beberapa saat suasana begitu hening, yang terdengar hanya suara napas yang bersahutan. Terdengarlah sayup-sayup suara adzan yang mengajak umat muslim untuk beristirahat sejenak dari segala aktifitasnya serta menunaikan kewajibannya ....
.
.
...Bersambung!...