Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



"Tapi sebagai orang tua ... seharusnya kita bangga mempunyai anak yang mandiri tidak ingin terlalu merepotkan orang tuanya, sekalipun berpunya!" ucapnya Sukma kepada Vaula yang sepertinya kurang suka dengan kemandirian nya Firza.


"Itu memang benar, akan tetapi kan dia itu masih kuliah, ya kuliah aja yang bener yang serius! soal biaya kan ada orang tuanya!" timpalnya Vaula sembari meneguk minumnya.


"Sekiranya tidak mengganggu dengan kuliahnya ... dengan tanggung jawabnya! tidak apalah, justru harus kita dukung!" tambahnya Sukma sembari memberi kue kepada Syakila.


Kemudian Fikri mengajak shakila bermain ke taman sehingga di ruangan tersebut hanyalah Vaula dan Sukma saja.


Sebelum pergi tadi, Sukma tidak lupa membawa anting yang dia temukan di kamar hotel waktu itu.


"Aku menemukan sesuatu di kamar hotel waktu itu, dan kata suami saya mungkin saja itu miliknya Mbak." Sukma menunjukkan anting yang ia temukan.


Vaula langsung menatap anting yang berada di tangannya Sukma. Bibirnya pun tersenyum dan mengakui kalau anting itu memang miliknya. "Iya benar, itu milik saya. Kamu temukan di mana? pantas saya cari-cari di tas tidak ada! di kamar hotel saya pun tidak ada!"


Tangan Vaula langsung mengambil barang tersebut dari tangan Sukma dengan bibir yang tersenyum mengembang.


"Aku menemukannya di kamar tepatnya di bawah meja. Ku sebarkan ke office girl tapi mereka tidak mau mengakuinya karena memang bukan milik mereka. Akhirnya ku simpan dan kutanyakan pada suamiku katanya mungkin, mungkin itu milik Mbak Vaula." Sukma menjabarkan dengan detail.


"Makasih ya? sudah kamu simpan dan mengembalikannya padaku, mungkin saat kami berdua sedang anu anting ku terjatuh. Maklumlah ... kita sama-sama saling merindukan!" Kalimat yang keluar dari mulut Vaula seolah-olah menceritakan kalau antara dia dan Alfandi sudah terjadi sesuatu.


Sukma terbengong-bengong dan pikirannya mendadak travelling kemana-mana. Membayangkan kalau mereka berdua sudah melakukan suatu yang di luar batas kewajaran.


"Kamu pasti tidak percaya kan kalau kami telah melakukannya di kamar itu, dan aku cukup bahagia begitu pun dia, ya ... hitung-hitung mengenang masa lalu gitu. Dan siapa tahu ke depannya kami akan lebih sering lagi--"


"Maksud Mbak apa? Saya tidak mengerti. Emangnya kalian lakukan apa dan apa maksudnya? Lebih sering gimana?" Di benaknya Sukma dihinggapi rasa penasaran yang lebih tinggi dengan kalimat-kalimat yang Vaula keluarkan yang penuh dengan tanda tanya.


Vaula beranjak dari duduknya, melipat tangan di dada, berjalan mondar mandir dengan pelan. Hatinya tersenyum dan merasa kalau dia akan mampu menghasut hati dan pikiran Sukma dengan omongannya.


"Sebagai wanita dewasa kamu pasti mengerti apa yang telah kami lakukan, apa saja yang sudah terjadi di saat kita sedang kesepian!" ucap Vaula dengan pelan.


Sukma dibuat bengong pikirannya semakin travelling kemana-mana dan hatinya terasa sesak bagai tak ada ruang untuk bernapas.


Vaula melirik dengan ujung matanya ke arah Sukma yang tampak bengong dan terdiam seribu bahasa. "Entah sengaja atau tidak ... karena kita merasa kesepian dan akhirnya kita melakukan itu, jujur aku sangat merindukannya dan saat itu aku bisa merasakan kembali. Pelukannya yang hangat, sentuhannya yang lembut ... Sentuhan yang sangat menggairahkan, ach ... aku tidak kuasa untuk menceritakan nya, terlalu indah bagi ku."


Mendengar semua kalimat dari Vaula, bagai goresan benda tajam di dalam hatinya yang paling dalam, bagaikan belati tajam yang menghujam jantung yang sangat menyakitkan. Hancurnya perasaan Sukma beriringan dengan tak kuasanya buliran-buliran bening jatuh dari sudut mata yang indah yang tak dapat membendung lagi ungkapan dari perasaannya saat ini.


Vaula yang berdiri memunggungi Sukma tentunya tersenyum lebar, tatkala melihat reaksinya Sukma yang tampak hancur.


"Saya harap kamu tahu ya Kalau kami melihat kembali untuk menyatukan keluarga kami lagi seperti dulu di saat anak-anak masih kecil kita hidup bahagia, Iya benar saya pernah oleng tergoda dengan yang lain akibat merasa bosan dengan suami saya waktu itu. Seandainya saya ingin kembali tidak salah kan? Agar kami dapat berkumpul kembali dengan anak-anak!"


Vaula membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Sukma yang sedang berderai air mata.


Sukma bergegas mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata, serta mengusap hidungnya dengan kasar.


"Saya tidak akan melarang, kalau memang suami saya ingin kembali kepada Mbak." Sukma meraih tasnya kemudian berdiri menyusul anak-anaknya yang berada di belakang untuk mengajaknya pulang seraya mengeringkan wajahnya dengan tisu.


"Ha ha ha ..." Vaula tertawa namun tertahan dengan cara membungkam mulutnya sendiri, dia merasa sangat lucu dan berhasil bahkan puas telah membakar atau menghancurkan perasaannya Sukma. "Wajar dong kalau aku ingin kembali biar anak-anakku pun kembali ke dalam pelukanku!"


"Mommy mau pulang sekarang?" Fikri malah bertanya.


"Iya, Mommy mau pulang! sudah sore, kalau Abang mau menginap boleh!" Balasnya Sukma dengan suara yang sedikit serak-serak basah.


Dan Fikri pun merasa aneh dengan wajah dan suaranya Sukma yang sedikit berubah. Tapi dia tidak banyak bertanya.


Fikri menuntun Syakila menghampiri sang mommy. "Abang juga mau pulang ah nggak mau nginep!"


"Kalau abang mau menginap, nginap saja di sini kan rumah Abang juga!" Lirihnya Sukma sembari meraih tangan kecilnya Syakila.


Fikri menggelengkan kepalanya sembari berkata. "Nggak mau ah, Fikri mau pulang aja."


"Terus hadiah dari mamanya mau di bawa nggak?" Selidiknya Sukma sembari berjalan menuntun Syakila.


"Nggak mau, di rumah juga masih ada dan masih bagus!" Jelasnya Fikri.


Kemudian mereka pun berpamitan kepada Vaula yang menunjukkan ekspresi wajah yang agak sedih.


"Emangnya sayang mau pulang, nggak mau nginep di sini? Menginap aja ya Mama di sini kesepian ... tanpa Fikri yang nggak ada, Kak Firza juga ... Mama serasa dibuang!" suara Vaula dengan nada sendu.


Fikri sesaat terdiam dan dan melihat ke arah sang bunda, Sukma hanya melihat ke arah Fikri yang terdiam dan berpikir mungkin anak itu akan berubah pikiran sehingga mau menginap di sana.


Tetapi pada kenyataannya anak itu tidak merubah niatnya sehingga dia berkata dengan ringannya. "Nggak mau, aku mau pulang aja sama Mommy!" Dan langsung menarik tangan Sukma agar keluar dari tempat tersebut.


"Hadiahnya nggak mau dibawa sayang?" Vaula menoleh pada kado yang dia berikan kepada Fikri. Yang hanya dibuka doang tadi sama putra bungsunya itu.


"Enggak Mah, kasihkan orang saja yang lebih membutuhkan! aku di rumah masih ada!" pekiknya Fikri tanpa menoleh lagi.


"Dasar anak keras kepala dikasih hadiah bukannya diterima malah ditolak! Aneh sekali, di saat yang lain pengen barang mahal dan bagus," Vaula menggelengkan kepalanya dengan kasar.


Lama-lama Vaula menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang lebar. Dia benar-benar merasa puas dan punya setitik Harapan kalau dia akan berkumpul lagi dengan Alfandi suatu saat nanti.


Kini Sukma dan Fikri sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju dengan sangat cepat, di sepanjang perjalanan pun Sukma tidak banyak bicara, sekalipun Fikri mengajaknya berbicara dan juga Syakila yang bawel.


Di dalam benak Sukma terus kepikiran kalimat-kalimat yang terucap dari mulut Vaula yang secara tidak langsung menjabarkan apa yang telah mereka lakukan ketika di luar kota. Antara suami nya, Alfandi dan mantan istrinya Vaula.


Hatinya kembali terasa teriris, sakit dan nyeri. Dadanya terasa diremas-remas dan sesak yang begitu menyiksa. Ingin rasanya kembali menangis tapi itu tidak mungkin ia lakukan di hadapannya Fikri maupun Syakila.


"Mommy kenapa sih sedari tadi melamun mulu? apakah ada yang dipikirkan?" suara Fikri kembali terdengar dan pada akhirnya Sukma pun merespon.


Dengan perlahan kepala Sukma menoleh kepada putra sambungnya tersebut. "Tidak ... nggak ada yang dipikirkan kok, Mommy hanya sedikit pusing aja!"


Fikri menatap seolah-olah tidak percaya! namun ia tidak ingin terlalu menyelidiki. Lalu kemudian dia berceloteh dengan Syakila ....