
"Yu, ah kita makan udah laper nih." Ajaknya Jihan.
Dan Sukma pun menoleh. "Iya, kita makan saja yu?" Sukma menggiring kedua adiknya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Mimy yang berada dalam mobil.
"Eh-eh, kalian mau ke mana? tungguin? mobil gak di kunci dong apa? Mimy buru-buru turun dari mobil tersebut.
Sukma langsung menghentikan langkahnya, mengarahkan remote yang ada di tangannya untuk mengunci mobil tersebut.
"Wih ... bagus banget bisa mengunci dari jauh!" terkagum-kagum.
Kemudian mereka pun langsung menghampiri tempat makan. Dimana Bi Lasmi sedang menyiapkan buat makan malam.
"Iih ... kak Mimy belum mandi, bau keringat lah." Kata Marwan sama Jihan.
"Iya juga sih, tapi laper ... pengen makan dulu! nggak apa-apa, kan nyonya?" Mimy melirik ke arah Sukma.
Sukma menggercapkan matanya kepada Mimy. "Kamu apa-apaan sih? nyonya-nyonya, nggak enak kedengarannya juga. Nggak enak tahu! aku masuk dulu ya? ke kamar!" Sukma beranjak kembali dari duduknya, meninggalkan meja makan. Dan mengayunkan langkahnya mendekati tangga.
"Nggak mau makan dulu, Non?" tanya Bibi sambil mendongak ke arah tangga.
"Duluan saja Bi aku mau ke kamar dulu!" sahutnya Sukma.
...----...
"Gimana! kalian happy? dan makanannya enak-enak gak?" tanya Alfandi pada kedua putranya yang sedang menikmati makan malamnya itu.
"Happy, Pah. Makanannya enak-enak kok, coba ajak mommy! kak Marwan dan kak Jihan, kita sama-sama makan stik daging ini." Fikri teringat pada Sukma dan kedua adiknya.
Firza menoleh ke arah Fikri dan menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi.
Alfandi meneguk minumnya, lalu mengarahkan pandangan kepada Fikri. "Iya nanti kita makan di luar sama-sama."
"Beneran ya? Pah biar kak Marwan dan kak Jihan juga ngerasain makanan enak seperti kita, ya Pah ya!" tambahnya Fikri.
"Iya Fikri ..." balasnya Alfandi sembari mengedarkan pandangannya ke arah luar, dan tiba-tiba kedua netranya menangkap sesuatu yang bikin spot jantung.
Di mana, di luar terlihat Vaula baru saja keluar dari sebuah mobil. Tangannya digandeng oleh seorang pria, Alfandi merasa syok. Dengan pemandangan itu dan khawatir anak-anaknya melihat ke arah luar, yang ada mamahnya itu.
Sangat kebetulan Vaula dengan pria itu tidak masuk ke restoran tempat Alfandi dan anak-anaknya makan. Melainkan ke restoran yang satunya lagi.
Netra nya Alfandi bergerak-gerak melihat ke arah luar sana dan kedua putranya pergantian, Alfandi merasa tidak enak hati. Tetapi tampaknya anak-anak tidak melihat ke arah luar tadi, mereka fokus.
"Ini kali pertama, kedua mataku dengan kepalaku sendiri. Melihat dirimu bergandengan tangan dengan pria lain." Batinnya Alfandi sembari meneruskan makannya.
Lalu menoleh ke arah Fikri dan Firza. "Gimana kalian sudah makan nya? atau mau bermain dulu ke mana gitu?"
Firza menoleh pada sang ayah sambil meneguk minumnya. "Aku pengen pulang saja."
"Iya, Pah. Pulang saja!" timpalnya Fikri.
"Ya sudah, kalau ingin pulang? Papa Bayar dulu bill nya." Alfandi memanggil pelayan restoran untuk membayar semua makanannya.
Setelah itu ... ketiganya berjalan keluar dan Alfandi mengarahkan pandangannya ke arah mobil, yang tadi dipakai oleh Vaula dan pria itu. Mobil tersebut bukanlah mobil vaula, jadi sekalipun anak-anak melintasinya mobil tersebut tidak akan mengenalinya.
Lain lagi dengan Firza, dia merasa tidak asing dengan mobil yang dilintasi. "Sepertinya ... mobil pria itu! apa mereka ada di sini?" batinnya Firza.
"Kenapa Firza?" tanya sang ayah.
"Ahk, nggak, Pah. Yu pulang, Pah? aku dah ngantuk nih." Firza pura-pura menguap demi agar mereka segera pulang saja.
"Oke!" Alfandi segera memutar kemudi nya. Bergegas meninggalkan tempat tersebut sebelum anak-anak melihat keberadaan mamanya.
Sementara Firza, dia ingin segera keluar dari tempat tersebut. Khawatir papanya keburu melihat sang mama bila memang berada di sana.
Sedangkan Fikri yang tidak tahu apa-apa, mereka tetap aja berwajah santai ... menikmati perjalanannya, tidak seperti sang kakak ataupun sang ayah yang tampak gelisah wajahnya mencerminkan kegalauan.
"Semoga suruhan Arman sedang mengintai Vaula dan pria itu! Agar menambah koleksi untuk bukti." Batinnya Alfandi sembari tetap fokus ke arah depan.
Setibanya di rumah mewah tersebut, Firza dan Fikri dengan cepat masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Begitupun dengan Alfandi dia memilih untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya. Namun sebelumnya bertemu dengan bi Lasmi dan Alfandi bertanya tentang istrinya, apakah dia sudah pulang atau belum? dan bi Lasmi menjawab bahwa Nyonya Paula belum pulang.
Kini Alfandi berjalan mondar-mandir dalam ruang kerjanya tersebut sambil membuka beberapa kancing di dadanya hingga terbuka.
"Aku nggak tahu harus menjelaskan apa? jika anak-anak tahu mamanya punya pria lain." rumahnya Alfandi seraya membuka laptopnya yang berada di depan.
Firza hanya tertegun setelah masuk ke dalam kamar nya tersebut. Memorinya terus berputar sama mama yang ternyata punya pria lain di luar sana.
"Bagaimana kalau papa tahu? dia pasti akan merasa sakit hati dan menceraikan mama. Gumamnya Firza dengan lesu.
"Ha ..." jeritnya Firza yang tertahan sambil mengacak rambutnya penuh fruatasi.
Sungguh rasanya dia tidak sanggup menahan beban ini yang menyiksa perasaannya sendiri. akhirnya dia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Agar dapat tertidur dan melupakan semua masalah yang menyiksa batin dan pikirannya itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan kaulah juga belum tampak hadir di rumah tersebut. Alfandi hanya berdiri di depan pintu kamarnya tersebut, namun tidak lama kemudian kapan dikeluarkan kembali dari kamarnya dan mengambil kunci mobil di ruang kerja.
Dia berjalan cepat menuruni anak tangga. Ketika melihat bibi berada di lantai bawah sedang berkumpul dengan asisten lain sedang menonton televisi.
"Bi, saya mau keluar dulu." Alfandi menapakkan kakinya di lantai bawah.
"Oh, iya. Tuan," selidik bibi sambil menatap heran pada sang majikan yang jam segini mau pergi.
"Nyonya belum pulang, Tuan!" kata bi Nunung ketika Alfandi sudah berada di dekat daun pintu.
Alfandi menoleh ke belakang, yaitu ke arah bibi. "Bukannya memang biasa seperti ini Bi? mau ke rumah teman."
"Ooh kirain, Bibi mau jemput nyonya!" Bibi mengangguk.
"Ya sudah, saya mau pergi dulu!" Alfandi memegang handle pintu dan menariknya. Membawa langkah lebarnya menuju mobil yang sudah berada di garasi.
Setelah di dalam mobil, Alfandi menghubungi temannya. Dan mendapatkan informasi kalau keberadaan Vaula sekarang sudah mulai diintai oleh orang suruhan Arman.
Serta Alfandi tidak perlu khawatir. Karena orang suruhan Arman akan sangat terpercaya dan bisa di andalkan. Membuat Alfandi setidaknya merasa tenang untuk melancarkan penyelidikannya terhadap sang istri.
Mobil Alfandi melaju dengan begitu cepat, dan mobil tersebut menuju ke arah jalan xx dimana rumah Sukma berada. Bibir Alfandi menyungging membentuk senyuman mengingat hari ini sudah bolak-balik ke rumah istri mudanya, ibarat pulang pergi setiap hari ke sana ....
.
...Bersambung!...