
Suatu hari, Sukma baru pulang kerja dan di rumah sudah ibu kos yang menunggui dirinya untuk menagih uang kontrakan. Sukma sudah kehabisan uang, di dompet dan hanya tersisa Rp 50. Itupun buat ongkos.
Buat makan? mungkin dia harus mencari pinjaman lagi pada Mimy. Terkadang Alfandi suka mengirimi paket makanan ke tempat Sukma, dan itu Alhamdulillah sebagai penyambung hidup bagi dia dan adik-adiknya.
"Maaf, Bu. Saya belum ada uang, kan gajiannya juga masih beberapa Minggu lagi, Bu?" lirihnya Sukma.
"Saya tidak mau tau ya? yang saya mau adalah kamu bayar sekarang atau keluar dari sini sekarang juga, atau besok lah." Tegas ibu kos menatap tajam ke arah Sukma yang menunduk.
Sukma menunduk sambil memegangi tangan kedua adiknya yang berwajah sendu.
"Tapi saya belum gajian Bu dan untuk kajian itu masih butuh waktu, untuk makan saja saya harus pinjam sama temen jadi tolong Bu kasih? kasih waktu sampai kajian, saya pasti bayar kok!" pinta Sukma dengan nada memelas.
"Saya itu setiap ngasih kontrakan selalu uang dimuka, di awal. Ini boro-boro full, setengahnya pun tidak, kau pikir ini kontrakan nenek moyang lho gratisan." Tegas ibu ngekos.
"Bukannya saya tidak mau bayar, Bu ... cuma saya mohon kasih waktu sampai gajian nanti!" pinta Sukma sambil menatap ke arah ibu kos.
"Iya, Bu. Kasih teman saya waktu?dia pasti bayar kok Bu." Bela Mimy yang baru datang dan masuk ke kontrakannya Sukma.
Ibu kos melihat pada Mimy yang baru datang di tempat itu.
"Teman saya nggak akan kabur, Bu. Lagian mau kabur ke mana?dia nggak punya tempat tinggal, kalau bukan ngekos di sini," sambung Mimy kembali.
"Tapi saya lagi butuh duit! dan kebetulan cuma dia yang belum bayar, wajar dong bila saya menagih ke sini?" ucap ibu kos sambil menatap tajam.
"Iya, Bu ... wajar, tapi gimana dengan yang ditagih nya itu bila belum ada? Sukma beda dengan saya, dia punya tanggungan, dia punya adik-adik yang harus dia tanggung! bukan memikirkannya dirinya sendiri," ungkap Mimy yang terus membela Sukma.
"Saya tidak perduli, itu mah derita dia! bukan urusan saya, urusan saya mah cuma menagih duit, itu saja. Tidak mau tau apa-apa." seru ibu kos.
"Emang berapa bulan yang belum dibayar, Bu?" suara pria yang muncul dari balik pintu.
Semua mata menoleh pada sumber suara bariton tersebut. Dan ternyata itu suara Alfandi yang langsung masuk, Sukma buru-buru mengusap pipinya yang basah.
Ibu kos mengerutkan keningnya melihat kedatangan sosok Alfandi. "Sebulan ini, cuman saya sedang butuh sekali uang."
"Mana nomor rekening Ibu? saya transfer dan sebutkan nominalnya! Satu bulan bukan?" Alfandi langsung mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
Sukma kaget, mendengar mau dibayarkan kontrakannya. Senang sekaligus bingung. Sebab dia tidak mau merepotkan orang! ataupun berhutang Budi.
Ibu kos tersenyum lebar. Kemudian memberikan nomor rekening miliknya serta menyebutkan nominal yang harus di bayar oleh Alfandi.
"Saya sudah transfer satu juta. Terima kasih Ibu sudah mau menampung mereka di sini?" ucap Alfandi sambil mengamati tempat tersebut yang kosong melompong, Tidak ada perabotan ataupun tempat tidur. Hanya ada tikar dan beberapa bantal.
Mimy sedari tadi terdiam dengan mulut menganga, dalam hati berkata. "Baik sekali, Tuan ini."
"Terima kasih, Tuan? tapi ngomong-ngomong, anda siapa?" selidik ibu kos sembari senyum-senyum bahagia.
"Ibu tidak perlu tahu saya siapa? lagian ... setelah satu bulan tinggal di sini, mereka akan pindah dari sini." Alfandi mengibaskan telapak tangannya.
"Pi-pindah? pindah kemana Ma? kok kamu gak bilang-bilang aku sih?" Mimy mengedarkan pandangan pada Sukma dan Alfandi bergantian, dia heran dan penasaran kalau temannya itu akan pindah.
"Kenapa mesti pindah? sudah di sini saja, Sukma. Saya tidak akan mengusir kalian kok apa lagi bayarnya kaya gini! ya sudah, saya pamit dulu, yang betah ya?" ibu kos pun pergi dengan mengantongi uang transparan dari Alfandi.
"Ama, bukannya waktu itu. Sudah bayar Rp 200? lebih dong?" Mimy melihat Sukma dan ke arah ibu kos yang melenggang tenang.
"I-iya, waktu itu aku kasih. Dua ratus." Sukma mengangguk.
"Kelebihan dong, enak betul! nanti dikira satu bulan segitu! sayang dong, Ma ... lumayan buat makan beberapa hari lho." Mimy menyayangkan sekali.
"Iya, bener Kak. Sayang Kak, buat bekal Kak," timpal Jihan.
"Bener itu!" Mimy mengangguk.
Alfandi mesem-mesem mendengar obrolan mereka tentang uang. "Ini buat bekal kalian, makan sehari-hari." Alfandi memberikan uang kes satu juta pada Jihan.
"Aduh, Pak. Aku merasa malu, anda baik sekali pada kami semua, ucapan terima kasih pun tidak akan cukup untuk membalas kebaikan anda! padahal anda baru mengenal kami," ucap Sukma sambil menunduk dalam.
Mimy pun mengangguk, membenarkan perkataan Sukma yang ditujukan pada Alfandi, sebab dia pun merasakan kebaikan pria itu. Karena bila ada paket makanan yang Alfandi dikirimkan Mimy pun pasti kebagian.
"Sudahlah, jangan pikirkan itu dulu kalian mau melanjutkan sekolah bukan? saya siap untuk membantu kalian," ungkap Alfandi.
"Beneran, Om? kami mau dimasukkan sekolah?" Marwan melonjak, sangat antusias mendengar kalau mereka mau dimasukkan sekolah kembali.
"Iya, beneran? kami mau di bantu sekolah? Mau, Om. Aku mau!" timpal Jihan.
"Iya aku juga mau, aku bosan di rumah terus, aku pengen belajar. Aku pengen pintar, pengen jadi orang yang sukses," cecar Marwan.
Alfandi tersenyum pada kedua anak itu yang begitu antusias dan tampak sekali dingin bersekolah. "Tentu boleh, apalagi kalau kalian berdua mau. Tidak mau pun pasti saya masukan sekolah, apalagi mau!"
"Ya Allah ... makasih beneran aku pengen sekolah ya kan, Wan? Jihan melirik pada sang adik, lalu mendongak seolah berdoa mengusap wajahnya.
Alfandi mengangguk, meyakinkan kedua anak itu. Kalau dia bersedia membantu.
Kedua wajah anak itu begitu sumringah, tampak bahagia kalau mereka bisa sekolah lagi.
Tanpa terasa, air mata menetes merasa terharu. Dengan kebahagiaan yang dia lihat dari wajah kedua adiknya itu.
Kalau sebenarnya dia berat hati, sekaligus sedih. Sebab bukan dari hasil keringat dirinya yang membahagiakan mereka berdua dalam hal pendidikan, namun Sukma berharap. Kalau Alfandi tidak main-main dengan ucapannya itu.
"Kak. Aku mau sekolah lagi, Kak," kata Marwan pada Sukma dengan raut yang bahagia.
"Iya, Kak jihan juga mau sekolah ya, Kak? aku pengen jadi orang pintar, aku pengen bantu Kakak bekerja untuk kita semua," Jihan menggenggam tangan Sukma dengan erat ....
.
...Bersambung!...