
"Sayang ... dapat berita itu dari orang yang memang dekat dengan istriku! memang aku tidak menyaksikannya langsung, tapi setidaknya fakta itu benar dan bukan akting tapi benar-benar real. Kenyataan sayang. Sebentar?" Alfandi beranjak dari duduknya dan mengambil ponsel dari tasnya yang berada di atas sofa yang satu lagi.
Sesaat kemudian, dia kembali membawa benda pintarnya itu ke hadapan Sukma dan buka email lantas membuka file yang tersimpan di sana. "Sayang. Ini video nya istri aku, yang aku dapat tadi dari asistennya pribadinya."
Perlahan tangan Sukma mengambil ponsel tersebut dari Alfandi, yang sedang memutar sebuah video adegan yang kurang pantas dan pemerannya itu adalah istri dari Alfandi sendiri. Yang rasanya wajah itu tidak terlalu asing.
"Bukannya ini salah satu model ya? aku pernah lihat dia sebagai model, peragawati gitu di media." Sukma melihat ke arah Alfandi dan video itu bergantian.
"Benar, benar dia seorang model." Alfandi mengangguk dan membenarkan kalau Vaula adalah seorang model.
Alfandi duduk kembali di tempat semula, dan tangannya langsung melingkar di pinggangnya Sukma serta menarik supaya lebih dekat, benar-benar dia tidak mau jauh-jauh dari wanita itu.
"Apa kau yakin? kalau ini istrimu?apa kau yakin juga ini bukan akting? mungkin saja kan kalau ini sebagian dari pembuatan film kali?" lagi-lagi Sukma melihat ke arah wajah Alfandi yang memang begitu meyakinkan.
"Kau lihat saja dulu sampai selesai, agar kau yakin itu bagian dari film atau bukan dan dengarkan dengan seksama percakapan dari mereka," ucap Alfandi dengan lirih. Serta menempelkan bibirnya di pipinya Sukma bikin Sukma gagal fokus.
Kemudian Sukma kembali memfokuskan pandangannya. Melihat yang ada di video tersebut dengan seksama, dalam hati Sukma berkata. Oh ini istri dari Alfandi, cantik sekali. Tubuhnya tinggi semampai dan tampak sangat sempurna.
Menonton video sang istri sedang bercumbu dengan pria lain, membuat Alfandi tergoda untuk melakukannya dengan Sukma. Sehingga tangan yang satu lagi kelayapan kemana-mana terutama di bagian depan tubuh Sukma yang menonjol, dengan tidak ragu-ragu tangan Alfandi bermain di sana, bak memeras cucian.
Membuat tubuh Sukma pun berasa panas dingin, bukan cuma karena melihat video tersebut, tetapi juga dari sentuhan Alfandi yang lembut namun cukup menimbulkan sensasi yang aneh menjalar ke seluruh tubuh.
Sukma memberikan ponsel tersebut pada sang empu, setelah menontonnya sampai selesai video tersebut. Alfandi menyimpan ponselnya di atas meja.
Kemudian Sukma merubah posisi duduknya agar lebih menghadap pada sang suami yang tampak mendambakan sesuatu. Terlihat dari gerakkan tubuh dan tatapannya.
Tatapan keduanya sudah dipenuhi dengan kabut hasrat yang menggebu. Sukma dengan perlahan menurunkan tali surga ke bawah bahunya, dia ingin menjadikan dirinya sebagai obat buat sosok pria yang berada di hadapannya ini.
Alfandi bengong memandangi ke arah sang istri yang tampak agresif atau erotis! bibir Alfandi senyum mengembang. Dengan tatapan lapar, haus dengan belaian dan kasih sayang. Kepada sang istri yang kini kian menggodanya.
Membuat dia tidak dapat menahan diri, dan tanpa membuang-buang waktu, Alfandi bergerak cepat untuk menikmati dua buah ranum nan segar dan pemiliknya sudah berbaring pasrah di bahu sofa panjang tersebut.
Selanjutnya Alfandi membawa Sukma ke atas tempat tidur serat langsung di serangnya dengan serangan yang bertubi-tubi. Dan akhirnya ... Alfandi dibuat bahagia, dibuat puas oleh layanan Sukma. Dan dapat melupakan semua masalah yang didapatkan nya hari ini dengan perlakuan yang sangat luar biasa dari sang istri muda itu.
Kini Sukma mengeratkan selimut, untuk menutupi tubuhnya yang hanya menyisakan segitiga saja, lalu menyandarkan kepala di bahu Alfandi yang juga merangkul bahunya.
"Al ... aku ingin menemui bibiku yang sebelumnya kemarin itu, aku tinggal di sana dan aku minta izin untuk mengambil sebagian uang untuk aku belikan oleh-oleh buat mereka." Gumamnya Sukma.
"Ya ampun sayang ... ngapain meminta ijin segala? apa yang sudah aku berikan sama kamu itu, adalah milik kamu dan nggak perlu lagi kamu meminta izin. Mau digunakan apa? mau ngasih siapa silakan?" balas Alfandi sambil mencium pucuk kepalanya Sukma dengan mesra.
"Tapi, kan ... setidaknya aku harus kasih tahu dulu jika aku mau pergi selain dari kuliah. Nanti dikira kelayapan lagi," jawabnya Sukma sembari mesem.
"Iya sih. Memang kelayapan, habis perginya tanpa aku sih!" Alfandi mencubit hidung Sukma dengan gemas.
"Kalau kamu mau? ikut boleh, nggak apa-apa! justru lebih baik biar kamu mengenal keluargaku. Bibi Lilian adalah adik dari bapak ku," ucap Sukma sambil mengusap dada Alfandi.
"Iya ... nanti lah kalau aku nggak sibuk, kapan-kapan kita ke sana lagi sama-sama. Karena bila dalam waktu dekat ini aku sibuk banget. Terus minggu depan, kan kita akan pergi liburan." Ungkap Alfandi sambil membelai rambut Sukma yang panjang di bawah nya bahu itu.
"Tidak apa-apa sayang, boleh. Ooh ya, sekarang aku harus pulang dan mau mandi dulu." Alfandi bangun dan sebelumnya mengecup kening Sukma dengan sangat lembut.
"Ya!" Sukma terpejam ketika bibir sang suami mendarat di keningnya itu.
Alfandi turun dan membawa langkahnya ke dalam kamar mandi. Namun sebelumnya Alfandi mengambilkan baju Sukma yang tadi dia lempar begitu saja.
Sukma pun segera mengenakannya, lantas turun menapakkan kedua kakinya di lantai mendekati lemari. Untuk mengambilkan baju buat ganti Alfandi, namun baru saja membukanya pintu lemari tersebut, Alfandi terdengar memekik.
"Sayang? bajuku yang barusan saja, gak usah diganti lagi? sayang baru saja aku pakai," pekiknya Alfandi, menjadikan Sukma menoleh ke arah sumber suara.
"Kecuali pakaian dalam saja," pekiknya kembali Alfandi dari kamar mandi.
"Ya sudah, kalau begitu! dan Sukma hanya menyiapkan pakaian dalam saja buat sang suami. Tidak lupa dengan sarungnya, biar Alfandi salat terlebih dahulu, kebetulan jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah lima.
Tidak lama kemudian, Alfandi pun keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang serta handuk kecil yang dipakai untuk mengeringkan rambut.
"Salat dulu ya? biar hatinya lebih tenang dan aku harap jangan mengambil keputusan yang terburu-buru ataupun ngejust seseorang! sebelum tahu kebenarannya." Pinta Sukma kepada Alfandi dan Alfandi hanya terdiam memandangi ke arah sang istri.
Namun tak ayal dia mau menuruti permintaan dari sang istri, Alfandi bersimpuh dan berdoa meminta yang terbaik dalam rumah tangga bersama Vaula, jika memang dia memang benar melakukan kesalahan.
Dengan setia Sukma menunggui Alfandi salat, duduk cantik di sofa sambil membaca majalah.
"Kenapa belum mandi Sayang? mandi dong! kan bau keringat yang bercampur dengan keringatku!" ucap Alfandi sembari membuka sarungnya.
"Mau kok, cuman nungguin kamu dulu. Takut aku mandinya lama!" jawabnya Sukma.
"Ya, sudah. Aku pulang dulu ya? jaga baik-baik dirimu dan ... jangan nakal dengan pria lain?" pinta Alfandi sambil tertawa renyah.
"Apaan sih? bila perlu setiap aku pergi temani, agar aku nggak macam-macam," Sukma menautkan alisnya.
"Iya sayang ... aku percaya kalau kau gak mungkin seperti itu!" Alfandi mengelus pipi lantas dikecup nya.
"Sifat orang itu pancaroba lho, bisa berubah kapan saja, tidak bisa kita beranggapan tidak mungkin, karena semuanya mungkin saja terjadi." Kata Sukma sambil menggeleng.
"Terus? aku tanya sama istriku yang cantik ini! apa istriku tega mengkhianati ku hem?" Alfandi menarik pinggang Sukma hingga bagian tubuh depan mereka menempel.
Sukma menatap lekat kedua netra mata Alfandi. "Sepertinya aku ... aku gak seperti itu. Doa kan saja semoga aku menjadi istri yang lebih baik dari ini?"
"Aamiin sayang! tetaplah menjadi istri ku yang baik, dan aku akan mengenalkan mu kepada keluarga ku, dalam waktu dekat ini." Alfandi memeluk sesaat lalu berpamitan untuk pulang ke rumah pertamanya ....
.
.
...Bersambung!...