Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Bela terus



"Bohong! buktinya uang itu ada di dalam tas mereka? menyangkal kaya gimanapun sudah ada buktinya kok." Kata paman Dandi kekeh menyalahkan adik-adiknya Sukma.


"Tidak, Kak. Kami tidak mencuri, demi Allah Kak," elak Jihan sambil menangis wajahnya banjir dengan dengan air mata.


"Jangan sebut-sebut nama Tuhan kau bocah." Paman Dandi mengayunkan tangan hendak memukul Jihan.


Sehingga Bu Lilian dan Sukma menjerit. "Jangan?" dan Sukma memeluk Jihan, memunggungi paman Dandi.


"Jangan begini, Paman? ini bisa diselesaikan baik-baik bukan?" suara Sukma parau, menahan tangisnya. Sedih melihat adik-adiknya diperlakukan seperti ini.


"Sudah di tampung, tidak tahu diri ya? sudah numpang hidup, di kasih makan. Malah ngelunjak." Sergah paman Dandi sambil nunjuk-nunjuk pada Sukma.


Huuh ... Sukma mengehala napas panjang dan berusaha tegar. "Berapa uang paman yang hilang itu? Nanti aku bayar, Paman. Setelah gajian."


"Saya menyimpan uang lima ratus ribu. Dan yang ada tiga ratus ribu, berarti yang hilang dua ratus. Bayar?" Paman Dandi menatap tajam ke arah Sukma sambil membuka tangannya.


"Iya nanti aku bayar kok, paman! pasti. Aku mohon maafkan kami, Paman? tidak bisa sekarang," Sukma setengah memohon.


"Saya butuh sekarang, bukan besok atau lusa apalagi bulan depan?" tegas paman Dandi.


"Tapi, aku belum ada uang, Paman. Saya mohon, lain kali saja ketika saya sudah menerima kajian." Sukma menunduk memeluk adik-adiknya yang terisak.


"Sukma, bawa adik-adik mu masuk!" kata Bu Lilian. Bagaimanpun Sukma dan adik-adiknya itu adalah keponakannya. Dan rasanya gak mungkin juga kalau anak-anak itu yang ambil.


Sukma mengangguk dan berterima kasih pada bibinya, lanjut mengajak adik-adiknya masuk kamar.


"Bela terus, bela?" bentak paman Dandi pada Lilian istrinya.


"Bukan membela. Tapi saat ini mereka susah, biarlah mereka bernapas lega dulu?" bela Lilian sambil meniggalkan suami dan anak-anaknya.


"Kalian jujur sama Kak Sukma sekarang. Apa benar kalian mengambil uang paman? dan mana uangnya? kembalikanlah, Kakak mohon?" ucap Sukma sambil menatap lekat kedua adiknya dengan tatapan nanar.


"Kami harus berapa kali bersumpah, Kak? Jihan dan Marwan tidak melakukannya." Jihan kekeh begitupun Marwan mengangguk sambil mengusap pipinya.


Membuat hati Sukma mencelos dan lagi-lagi memeluk kedua adiknya itu.


"Aku gak betah kak. Pindah yu? jangan tinggal di sini lagi kak." Rajuk Marwan dan Jihan.


"Iya, nanti kalau sudah ada uangnya ya? sekarang Kakak belum ada uang," kata Sukma lirih. Pedih, sedih yang di rasakan Sukma di saat ini bercampur aduk.


Adik-adik nya terdiam lalu masing-masing mendudukkan dirinya di lantai. Sukma ke kamar mandi sebentar.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Sukma setelah kembali dari kamar mandi.


Jihan dan Marwan menggeleng. Dan berucap serempak. "Belum!"


"Ya Allah ..." suara Sukma pelan. "Ya sudah. Kalian ke warung sana? beli mie aja ya?" hati Sukma kian hancur berkeping tidak tega dengan kondisi ini.


Jihan dan Marwan langsung pergi ke warung setelah menerima uang dari Sukma buat membeli mie rebus.


"Kalau gini caranya ... aku harus nekad membawa adik-adik ku mencari kontrakan yang dekat dengan kerjaan ku. Nggak enak lama-lama di sini." Batin Sukma.


"Ya, harus garcep demi keutuhan keluarga bibi. Kasihan, aku akan membawa adik-adik ku secepatnya." Batin Sukma terus bermonolog sendiri. Ekspresi wajahnya yang tampak resah mengangguk-anggukan kepalanya.


...---...


"Mi, sepertinya aku harus nekad nih, aku ingin mencari kontrakan yang dekat-dekat dari sini. Aku gak kuat. Kasihan dengan adik-adik ku." Keluh Sukma sambil terus bekerja.


"Emang ada apa lagi Sukma?" selidik Mimy sejenak hentikan kerjaannya.


Sukma menceritakan yang adik-adiknya alami. "Aku kasihan sama mereka, gak tega." Lirih Sukma kembali.


"Aku tahu, terus, gimana dong? yang penting aku punya tempat tinggal bersama adik-adik ku." Sukma dengan nada sedih.


"Baiklah akan aku bantu!" Mimy tidak tega pada teman barunya ini.


Ketika jam makan siang, seperti biasa sesudah makan, Sukma membantu ibu kantin nyuci piring seperti janjinya dulu. Ketika dia diberi kepercayaan ngutang di sana.


Dari jauh ada seorang pria yang perhatikan Sukma, setiap gerak geriknya dia perhatikan.


Beberapa hari kemudian. Sukma menerima gaji pertama sebagai office di rumah sakit tersebut sisa bayar ke warung dan ke Mimy tinggal 500 ribu saja.


Dengan uang segitu, Sukma kembali di Landa kebingungan. Bukannya tidak bersyukur! tapi gimana buat makan? ongkos. Apalagi buat kontrak? belum juga bisa membayar hutang pada Paman dandi! walaupun adik-adiknya tidak melakukan.


"Sudah, jangan bingung. Gampang nanti kamu bisa pinjem lagi bila ada sama aku. Dan makan mu ngutang lagi deh ke ibu kantin. Hidup jangan dibuat susah atau bingung." Mimy sok bijak.


"Omongan mu memang benar My, tapi masalahnya adek-adek gue!" keluh Sukma dengan wajah yang di tekuk.


"Terus kamu mau gimana? mau jual diri? atau teriak di Monas gitu? kan gak mungkin." Mimy memutar bola matanya jengah.


"Baiklah, aku harus tetap semangat. Berusaha dan tersenyum juga sabar. Baiklah ... aku harus bisa bangkit demi adik-adik ku." Sukma menggerakkan tangan ke udara semangat.


"Nah ... gitu dong, baru itu namanya Sukma." Mimy bangga. "Ya sudah. Aku pulang duluan ya? besok aku kabari soal kontrakannya."


"Iya, makasih ya My ... aku tunggu beritanya?" Sukma memeluk Mimy sesaat, kemudian mereka terpisah.


Di depan Rumah sakit Sukma dan Mimy berpisah sebab beda jurusan. Sukma membeli dulu martabak manis untuk yang di rumah, sebelum mencari angkutan umum.


Ada sebuah mobil mewah mendekati sosok Sukma yang kini berdiri di pinggir jalan. Namun ada sebuah motor yang lebih dulu menghampiri.


"Hi ... Ama? yu naik! mau pulang kan?" Beben datang di waktu yang tepat yaitu waktu pulang.


"Hi, Ben. Kok kebetulan sih kamu ada di sini lagi?" sapa Sukma dengan senyuman manisnya.


"Ayok naik?" titah Beben lagi.


"Tidak apa-apa nih?" tanya Sukma sebelum naik.


"Cielah ... apa-apa nya sih? ayo? sebelum aku berubah pikiran nih!" gurau Beben.


Senyum di bibir Sukma kian merekah. Kemudian naik, duduk di belakang pemuda tersebut.


Sukma lagi-lagi di antar pulang oleh Beben sampai depan rumah bibi Lilian dan Sukma gak berani mengajak Beben kendati untuk sekedar mampir.


"Assalamu'alaikum ... aku pulang." Sukma masuk rumah bibinya yang terasa hening tanpa ada suara apapun.


Suasana rumah begitu hening dan yang ada bibi dan pamannya saja di ruang tengah sedang PBB alias pabetem-betem. Diam-diaman.


"Bibi. Aku bawakan martabak, masih hangat lho." Sukma memberikan satu dus kecil pada bibinya.


"Oh, gajian ya? Banyak duit dong ..." paman Dandi sinis. "Bisa bayar hutang dong?"


"I-iya, paman. Tapi sedikit, habis potongan sehari-hari." Sukma lirih. "Dan maaf paman? aku belum bisa menbayar!" Sukma menunduk.


"Sudah, kau simpan buat sehari-hari, adik-adik mu menunggu di dalam." Bibi Lilian menunjuk ke kamar yang ditempati oleh Sukma bersama adik-adiknya.


Sukma mengangguk. Dan membawa martabak satu dus kecil lagi untuk Marwan dan Jihan, Sukma bawa ke kamar buat mereka berdua ....


.


...Bersambung!...