
Firza dan Fikri melihat ke arah sang mama yang sedang berpelukan dan berciuman dengan kekasihnya, Firza langsung menutup kedua matanya Fikri agar tidak melihat apa yang dilakukan oleh ibunya itu.
“Yo, kita mendingan pulang dengan menggunakan taksi saja?” Firza memutar tubuh sang adik agar kembali berjalan meninggalkan tempat tersebut.
“Tapi Kak, mama kan mau antar kita pulang? kenapa harus pake taksi? kita tunggu saja mama!” ucap Fikri sambil berjalan yang setengah di dorong sama kakaknya itu.
“Mama gak akan bisa kita tunggu bila sudah bertemu temannya itu, mendingan kita pulang saja pake taksi,” sambung sang kakak kembali.
“Terus, mama gimana?” tanya Fikri sambil terus berjalan mendekati eskalator.
“Sudah jangan pikirkan mama. Percaya deh sama aku.” Firza memegangi tangan sang adik.
“Tapi Kak?” kata Fikri kembali.
“Apa lagi sih? banyak tapi nya kau ini, sudah percaya saja sama Kak Za, kenapa sih?” Firza tampak kesal.
“Aduh Kakak ini, ada buat ongkosnya gak buat naik taksi? aku sih gak ada uang.” Timpal sang adik sambil menatap pada sang kakak yang langsung merogoh sakunya.
Cuma ada uang Rp 15000, mana cukup buat taksi. “Sudah, jangan khawatir. Kita naik saj dan bayarnya nanti di rumah. Dari pada nungguin mama gak bakalan datang.”
Fikri celingukan, mencari-cari siapa tahu sang mama menyusulnya, namun tidak ada bayang-bayang atau suara memanggil nama mereka berdua.
“Iya, ya ... mama gak menyusul kita, Kak. Emang siapa sih si om yang tadi itu, Kak?”
“Mana ku tahu.” Firza terus menuntun tangan sang adik menuju jalan raya dan menunggu taksi lewat.
“Kak telepon pak Luky dong biar jemput, mommy atau papa gitu. Mereka pasti jemput kita Kak.” Keluh Fikri.
“Kakak gak bawa handhepone, mau telepon pakai apa?” sahutnya Firza sambil mencari-cari taksi yang lewat.
“Kak, lihat deh di sana ada orang yang melihat ke arah kita, jangan-jangan mau jahat sama kita, Kak. Aku takut?” Fikri ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh kakaknya yang lebih tinggi itu.
Firza menoleh ke arah yang Fikri tunjukan, dan memang iya ada dua orang yang mencurigakan menatap terus ke arah mereka berdua. Bikin hati Firza menciut takut dan mencari cara agar mereka bisa segera pergi dari sana.
Kebetulan suasana masih ramai dan mungkin mereka menunggu suasana lengah atau sepi. “Kita harus berada di tempat yang ramai, jangan sampai kita berada di tempat yang sepi.”
“Iya Kak, gimana dong?” tanya Fikri sambil memegangi ujung baju dari Firza.
Firza membawa sang adik ke tempat yang agak ramai dan mendekati scurity di sana dan minta tolong untuk dicarikan taksi.
Lantas scurity tersebut mencarikan taksi untuk mereka berdua dengan segudang pertanyaan, kenapa dan sama siapa? dimana orang tua nya?
Saat ini Firza dan Fikri sudah berada di dalam taksi. Dan sedikit merasa lega karena sudah berada dalam taksi, namun tetap mata mereka celingukan takut orang jahat itu mengikuti dari belakang.
“Kalau mereka mengikuti kita gimana ya Kak? aku jadi takut Kak, cepetan jalan? Taksinya cepetan?” Fikri tampak pucat.
Firza mengusap tangan sang adik. “Tenang,” dengan mudahnya dia bilang seperti itu, padahal hati pun tidak dapat dipungkiri merasa gelisah.
Mendengar obrolan kedua anak laki-laki itu, si supir taksi mendapat kesimpulan. Kalau kedua anak ini sedang di landa ketakutan, dan akhirnya taksi berjalan melaju dengan sangat cepat ke tempat yang di sebutkan oleh salah satu anak tersebut.
Fikri duluan turun dan berlari ke arah Sukma seraya berkata.
“Mom, aku takut. Di mall ada orang yang mencurigakan melihat kita terus. Untungnya kita cepat dapat taksi.” Fikri memeluk Sukma.
“Lho, kenapa naik taksi? emang mamanya mana?” Sukma merasa heran melihat ke arah Fikri yang padahal kan pergi sama mamanya tapi pulang dengan taksi, lebih-lebih ketika Firza meminta uang untuk bayar ongkos sama papanya.
Semakin membuat Sukma tidak mengerti, kan setidaknya walau tidak dia tar pulang pun di kasih ongkos buat taksi.
Namun sebelum Sukma melanjutkan interogasi, mengajak masuk terlebih dahulu dan duduk di ruang tengah. Dimana di sana ada Mimy, pak Sardi dan beserta istri.
“Kini katakan sama Mommy, kenapa kalian pulang dengan taksi dan gak punya ongkos segala? mamanya mana?” Sukma sangat penasaran dan yang lain pun terutama Alfandi melihat kedua putranya dan ingin tahu jawabannya.
Fikri dan Firza saling bertukar pandangan sejenak. Lalu Fikri bercerita kalau mulanya sang bunda mau mengantar mereka pulang! tapi setelah mamanya bertemu dengan seorang pria, dia tidak menyusul lagi dan mereka pun memutuskan untuk pulang naik taksi saja dan sempat bertemu orang yang mencurigakan membuat mereka berdua tampak ketakutan.
Semua yang mendengar melongo, ada yang mengerti dan ada yang tidak. Alfandi dan Sukma menggelengkan kepalanya tidak menyangka kalau mereka akan pulang tanpa mamanya. Dan Sukma tidak bisa membayangkan kalau kedua anak itu kenapa-napa atau di culik atau gimana-gimana membuat Sukma bergidik lalu mengusap rambut Fikri dan Firza dengan rasa cemas.
“Ya Allah ... gimana kalau kalian kenapa-napa coba?” gumamnya Sukma sambil menatap keduanya.
“Apa Vaula lupa sama kalian dan dia pikir kalian menunggu di mobilnya mungkin!” ucap bu Puji sambil mengedarkan pandanganya ke arah putra dan mantunya juga cucu mereka.
“Kita tunggu, apakah Vaula akan menanyakan anak-anak dalam waktu dekat ini? atau kah lupa dan merasa kalau kalian sudah pulang? dimana rasa ke ibuan nya terhadap kalian.
“Em ... ya sudah, kalian bobo sana? takut kesiangan besok kan mau sekolah.” Sukma menyuruh anak-anak untuk tidur, takut kesiangan sekolah besok.
“Iya, kalian istirahat sana? jangan dipikirkan kejadian tadi, kalian harus berpikir positif thinking saja.” Lirihnya pak Sardi sambil menatap kedua cucunya itu.
Firza dan sang adik pun berbarengan beranjak menuju lantai atas, Firza tidak menceritakan kalau mamanya itu bertemu dengan kekasihnya dan bermesraan di depan mata.
Fikri menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Marwan yang sedang menonton televisi. “Kak Wawan? bobo dengan Fikri yo? aku takut bobo sendirian.”
“Idih ... cemen, penakut!” kata Marwan, namu tak ayal berdiri dan mengikuti anak itu. “dasar manja, si manja,”
Sukma tersenyum melihat Fikri dan Marwan, biarpun Marwan suka mencibir pada Fikri tetapi dia tampak sayang sama Fikri.
Kemudian mereka pun bubar, masuk ke kamarnya masing-masing.
“Huam ... gue juga ngantuk. Pengen tidur,” gumamnya Mimy sambil beranjak dari tempatnya duduk.
“Iya, Ibu juga My ... ngantuk,” timpal bu Puji dan pak Sardi pun menyusul sang istri.
Begitupun Sukma dan Alfandi, mereka berdua berjalan menuju ke kamarnya juga. Dengan membawa hati yang gelisah dan was-was, bisa-bisa nya Vaula membiarkan anak-anak pulang tanpa adanya campur tangan dia sebagai ibunya ....
.
...Bersambung!...
Jangan lupa dukungannya ya? like komen dan lainnya.