
"Kamu sudah berapa lama kerja di sini My?" tanya Sukma ketika memasuki kantin yang ada di area Rumah sakit tersebut.
"Aku sudah ... sekitar enam bulan." Jawab Mimy sambil menoleh ke arah Sukma.
Lalu keduanya mendekati ibu kantin. Mimy dan Sukma langsung to the point saja, menyampaikan kalau Sukma sementara waktu ini ingin ngutang sampai gajian. Meskipun malu namun apa daya Sukma tidak punya cara lain dan gak mungkin juga meminjam kepada bibinya.
Dan Alhamdulillah nya, Sukma diberi kepercayaan oleh ibu kantin tersebut. Tentang dirinya atas nama Mimy sebagai pekerja yang senior. Membuat bibir suka tersenyum merekah, bahagia dengan diberinya kepercayaan itu, Sukma pun berjanji akan membantu ibu kantin di sela-sela jam istirahatnya, mencuci atau apalah.
Kini keduanya duduk di meja yang sama tepatnya di pojokan dan saling berhadapan.
"Aku merasa sedikit lega, makasih ya Mimy, kau begitu baik padaku?" Sukma tersenyum kepada Mimy, gadis itu sangat baik padanya walaupun baru saja kenal.
"Sama-sama, emang apalagi sih yang buat kamu masih bingung? kelihatannya bingung mulu!" tanya Mimy sembari menyedot minumannya.
Sukma pun menyesap minumnya lalu berkata. "Aku bingung. Gak ada buat ongkos sehari-hari, aku di sini bisa makan yang aku mau, sementara adik-adik ku di rumah paling dapat nasi doang. Lauknya harus beli sendiri." Sukma menunduk sedih.
Mimy bengong sementara waktu. Mengunyah pun bagai terhenti. "Kamu tinggal--"
"Aku dan kedua adik ku tinggal numpang di tempat bibi. Dari seminggu lebih ini, orang tua ku meninggal! dan rumah satu-satunya peninggalan pun di sita pihak BANK." Tak terasa air mata Sukma menetes membasahi pipi.
Mimy merangkul bahu Sukma. Dengan rasa haru. "Yang sabar ya? kau pasti bisa melewatinya kok, yang penting kamu terus berusaha dan berdoa."
"Jadi aku bukan cuma memikirkan diriku sendiri. Melainkan harus memikirkan adik-adik ku yang di rumah bibi. Rencananya kalau aku sudah jelas kerjanya, pengen mencari tempat tinggal lebih dulu agar kami tidak lagi menyusahkan bibi ku. Hik hik hik," tangis Sukma pun pecah.
Tangisan Sukma membuat semua yang berada di sana menoleh ke arah Sukma dengan terheran-heran.
... ---...
Di sebuah rumah mewah bertingkat dua. Dalamnya luas dan terdapat kolam renang pula yang besar. Semua barang tertata dengan sangat rapi, yang akan membuat betah para penghuninya. Namun tidak dengan kenyataan yang harus penghuninya rasakan.
Pemilik rumah tersebut adalah Alfandi Damian. Seorang arsitek yang terkenal dan beberapa bidang usaha lainnya termasuk dia pun menanam saham yang lumayan besar di beberapa Rumah sakit swasta.
Dan sang istri yang bernama Vaula Veronica, seorang wanita karier di bidangnya ya itu model dan peragawati dan pembisnis juga. Mereka berdua memiliki dua anak laki-laki yang satu masih di bangku SMP dan satunya lagi masih di bangku sekolah dasar.
Kehidupan mereka mulanya sangat bahagia adem-ayem namun lama-lama semua berubah setelah sang istri lebih mementingkan kariernya. Semua pekerjaan rumah dan anak-anak, asisten yang tangani. Vaula jarang berada di rumah, suami tak terurus. Apalagi melayani nya sudah jarang tersentuh.
"Mah, kok baru pulang jam segini?" tanya Al pada sosok istrinya yang baru saja datang dengan langkah gontai tampak capek, memasuki kamarnya itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Sang istri baru pulang tanpa pedulikan sang suami dan anak-anaknya.
"Anak-anak sudah tidur?" malah balik bertanya sembari duduk didepan meja rias, melepas semua aksesoris yang ia kenakan di saat ini.
Al yang sedang berbaring. menaikan tubuhnya lantas duduk dengan tegak. Pria tinggi sekitar 170.cm dan memiliki tubuh tegap atletis itu menatap lekat ke arah sang istri.
"Sudah, kenapa gak lihat sendiri mereka? tunjukan perhatian mu sebagai ibu, mereka juga butuh perhatian," ungkap Alfandi.
Vaula menatap Alfandi dari pantulan cermin seraya berkata dengan nada dingin. "Kamu kan tau aku sibuk, lagian banyak asisten kok."
"Sebenarnya apa sih yang kamu cari ha? uang? apa gak cukup uang yang ku berikan setiap bulannya?" lirih Alfandi lagi.
Alfandi menggeleng. "Anak-anak juga ingin perhatian dari mamanya. Bukan cuma uang atau kebebasan yang diberikan pada anak, mereka butuh kasih sayang juga."
"Kan ada kamu, Pah ... jadi kamu yang harus melakukan itu semua." Timpal Vaula.
"Aku? aku gak usah kau ingatkan. Aku bisa mengatur waktu ku sendiri, setidaknya ada waktu-waktu tertentu yang aku berikan pada mereka." Tambah Aldian.
Vaula terdiam dan sesekali melihat ke arah Alfandi dari cermin.
"Anak-anak butuh perhatian dari seorang ibu, sehingga mereka membuat ulah! hanya ingin mencari perhatian dari orang tua nya." Sambung Alfandi.
"Terus, aku harus diem di rumah dan mengorbankan semua yang sudah aku rintis gitu? aku sudah terlalu happy dengan keseharian ku. Jadi jangan kau ganggu." Vaula berdiri mengayunkan langkah nya ke kamar mandi.
"Bukan begitu maksud ku, kau boleh bekerja! tapi bisa mengatur waktu." Alfandi menggeleng dan menatap punggung Vaula yang memasuki pintu kamar mandi, ada rasa sesak yang menyiksa dadanya.
Sesaat kemudian Alfandi membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur besar nan empuk itu, namun bagusnya tempat tidur ini tidak terasa lagi indah dan empuknya. Tanpa kehangatan dari sang istri seperti dulu.
Dalam beberapa tahun ini, semakin berjalannya waktu Vaula kian sibuk dan keharmonisan rumah tangganya pun berkurang. Sebagai pria normal dia pun menginginkan kehangatan dan belaian tangan lembut sang istri.
Vaula kembali dengan pakaian tidurnya yang menerawang. Membuat jiwa lelaki nya meronta, Alfandi tampak bergairah menyambut kedatangan sang istri yang berjalan melenggok.
Baru saja tangan Alfandi menyentuh bahu sang istri dan hendak mengajaknya menunaikan kewajiban sebagai pasangan pasutri. Namun balasan apa yang Al dapat? bikin ngenes. Kecewa, sakit hati! bikin mandeg, dongkol.
"Aku capek," ucap Vaula seraya menyingkirkan tangan Alfandi dari bahunya.
Al menatap kecewa ke arah sang istri yang membaringkan tubuhnya serta menarik selimut, menutupi tubuhnya itu sampai dada.
"Sayang, kita sudah lama tidak melakukan hubungan! kau selalu menolak ku," Al berucap lirih dan menyembunyikan segala perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.
Vaula menoleh dan menatap kesal, berkata dengan nada angkuh. "Kan sudah saya bilang, saya capek."
"Kalau setiap hari sibuk. Capek! kapan buat saya nya?" ucapan Alfandi sedikit meninggi.
Dengan perasaan marah, Vaula mengibaskan selimut menyingkirkan pakaiannya ke atas, membuka kaki seraya berkata. "Lakukan, ayo?"
Namun Alfandi justru turun mood nya, boro-boro mau menyentuh, ilang filing yang ada. Karena bukan cuma itu yang dia mau. Tetapi kehangatan serta kelembutan sikap yang akan membuatnya bertambah bergairah itu tiada.
Dengan hati yang marah. Alfandi menjatuhkan kepalanya ke atas bantal, menatap langit-langit sejenak. Setelah itu berusaha untuk tidur.
"Diperbolehkan malah tiduran. Di tolak, meminta! di kasih malah gak mau. Aneh, dasar laki-laki." Gerutu Vaula sambil menarik kembali selimutnya dan berbaring memunggungi suaminya itu.
Alfandi bungkam tidak ingin berkata-kata lagi. Berusaha memejamkan matanya merasakan rasa kesal yang memenuhi ruang dada ....
.
...Bersambung!...