
Entah kenapa, Sukma menjadi menangis. Dan dengan cepat menyekanya agar tidak ketahui orang lain. Sukma membawa langkah nya ke dalam rumah.
“Neng, kapan berangkat kuliah nya? selidik bu Puji sambil berpindah posisi ke ruang tengah bersama suaminya.
“Em ... iya, Bu ... sebentar lagi aku berangkat.” Sukma mengangguk sembari ikut duduk sebentar.
Di luar, di halaman baru saja datang seorang mobil mewah memarkirkan mobilnya di depan rumah minimalis tersebut.
Pemiliknya keluar dari mobil berwarna metalik. Dengan kepala mendongak menatap ke arah rumah tersebut yang tampak sepi dan asri. Di belakang terlihat kebun sayuran dan terlihat juga pohon pisang dan pepaya.
Wanita yang memiliki kaki jenjang itu mendekati teras, namun baru saja sekitar dua langkah maju. Pintu utama terbuka dan terdengar suara anak-anak, terutama itu suara Fikri yang sedang tertawa sangat renyah.
Pandangan wanita itu mengarah ke dalam dimana suara Fikri terdengar. “Fikri?” gumamnya.
Pintu pun semakin terbuka lebar dan keluarlah sosok Fikri dan kebetulan melihat sosok ibundanya. “Mama ...” suara Fikri dengan kencang dan menyeruak menghampiri memeluk ibundanya.
“Fikri, Mama cari-cari. Di sini rupanya jagoan Mama.” Vaula membalas pelukan dari si bungsu.
Sementara Firza hanya melongo melihat kedatangan ibundanya di sana. Bukan gak bahagia dapat bertemu dengan nya, namun entah kenapa kini merasakan yang aneh saja.
Vaula menoleh ke arah Firza yang hanya berdiri di dekat pintu bersama anak laki-laki dan anak perempuan sebaya dengan nya. “Firza, sayang. Sini? peluk Mama, Mama kangen banget sama kalian berdua.”
Sukma dengan kedua mertuanya, mendengar suara Fikri yang menyebut mama langsung kaget, dan degh. Bu Puji dan suami mengira itu pasti mantunya, Vaula.
Dan Sukma keluar duluan lantas berdiri di belakang Firza. Dada Sukma mendadak berdebar tak karuan. Akhirnya bisa bertatap muka dengan madu nya, yaitu mama dari kedua putra sambung nya.
“Sayang ... kok kamu berdiri di situ? Gak kangen sama Mama ya? mama minta maaf ya? mungkin Mama banyak salah sama kalian, maafin Mama ya?” ucap Vaula kembali setelah melihat putra sulung nya hanya terdiam tanpa ekspresi padanya.
Mulanya Vaula tidak melihat keberadaan Sukma di tempat tersebut, karena terhalang tubuhnya Firza. Namun seiring bergeraknya Sukma yang memperlihatkan dirinya, membuat Vaula bengong dan menajamkan penglihatannya.
“Firza, salam sama mama. Sambut mama dan jangan bersikap seperti itu, kurang baik.” Sura sukma pelan pada Firza yang hanya berdiri begitu saja.
Firza berdecak tidak suka dan hendak masuk ke dalam rumah, namun bahunya Sukma pegang dan seraya berkata. “Firza. Jangan seperti ini? hormati ibu mu, bagaimanapun dia ibu mu, saya tidak mau ya kamu bersikap seperti ini pada ibu mu sendiri.”
“Ck, Mom. Mama selama ini tidak perduli pada kami, kemana saja selama ini. Mom? dia lebih perduli dan sibuk dengan kekasihnya itu,” pekik Firza sambil menatap ke arah Sukma dengan tatapan tajam.
“Firza-Firza ... Mommy gak mau ya kamu kurang ajar terhadap mama kamu?” Sukma balik menatap ke arah Firza.
Prok-prok-prok ....
“Hebat, hebat?” Vaula bertepuk tangan sambil mendekati ke arah Firza dan Sukma. “Di depan ku kau sok pahlawan, padahal di belakang ku kau meracuni isi otak mereka kan? ku tau akal bulus mu itu.”
Sukma menggeleng dan menatap tajam ke arah Vaula yang lebih tinggi darinya itu. “Mbak perlu memfitnah saya ya? karena mereka lebih tau saya ketimbang anda!”
“Oh, begitu? apa namanya kalau wanita sepertimu masih muda dan lumayan cantik, tapi gak laku sama pria lajang. Dan malah lakunya sama pria beristri dan anak berdalih, menyayangi, padahal bulsyit lah. Yang ada itu yang jadi incaran adalah harta!” Vaula mengamati rumah dan mobil yang ada di depan rumah tersebut.
“Kakak, tidak seperti it—“
Jihan, Marwan. Masuk sana kami akan mengobrol sebentar?” sukma menyuruh kedua adiknya untuk masuk dan memotong perkataan dari Jihan.
"Tapi, Kak?” Jihan tampak kesal, dia merasa kalau yang menjadi kekhawatiran nya akan terbukti. Yaitu sang kakak akan di cap wanita kurang baik karena sudah menikahi pria beristri.
Namun dengan gerakan mata saja, Jihan dan sang adik masuk ke dalam.
“Silakan duduk? kita mengobrol dengan baik, apa maksud anda ke sini?” Sukma menunjuk ke arah sofa dan dia sendiri pun lebih dulu untuk duduk seraya mengajak Fikri dan Firza untuk duduk bersamanya.
“Hem, ternyata ini wanita simpanan suami saya. Masih muda, pantas ya lebih betah dan ...” ucap Vaula sambil menatap intens ke arah Sukma.
“Hem ... wanita perebut suami orang! Itu yang pantas kau sandang, pandai kau kau membujuk kedua putra ku untuk meninggalkan ku, meninggalkan rumah yang jauh lebih mewah dari rumah ini.” Vaula mendudukkan dirinya di sofa.
“Mama, mommy gak pernah membujuk kami untuk tinggal di sini kok, kami sendiri yang mau tinggal di sini,” timpalnya Fikri seolah membela Sukma.
“Hem, Fikri-Fikri. Kau tau apa sayang? sekarang barang-barang kalian sudah di angkut sebagian ke sin bukan? berarti secara tidak langsung papa mu kemakan omongan wanita ****** ini,” ucap Vaula sambil menatap ke arah Sukma penuh kebencian.
Sukma membalas tatapan Vaula dengan tatapan nanar. Sakit rasanya di sebut ****** oleh madu nya yang menatap dirinya penuh kebencian tersebut.
“Papa nya anak-anak punya hak untuk membawa anak ikut serta dengan nya, jadi bukan atas hasutan saya. Kalau bisa, saya malah meminta mantan suami mbak untuk tidak melepaskan mbak, saya sadar kok kalau saya hanya orang baru yang tidak berhak apa-apa.” Ungkap Sukma sembari menoleh pada Fikri dan Firza.
“Heleh, gak mungkin perebut suami orang. Tidak mau menguasai segalanya daru milik suami. Saya tidak menyangka ya? kalau Fandi akan kepincut gadis seperti kamu, wanita muda yang ... oh mungkin kau itu berani menjual keperawanan mu demi uang ya?” suara Vaula pelan dan mencondongkan tubuhnya ke arah Sukma.
Plak, Sukma berasa mendapat gamparan dari dari Vaula dengan kata-kata yang sama sekali itu tidak benar. “Mbak tidak tahu apa-apa tentang saya, jadi tidak usah menghakimi saya mengata-ngatai saya,” suara Sukma bergetar.
“Mommy?” gumam Fikri sambil memegangi tangan Sukma.
“Hem, ternyata putra ku sudah tidak sungkan ya sama kamu? Kamu pakai pelet apa tuh? Sehingga mereka lengket begitu?” ucap Vaula dengan nada sinis dan melihat ke arah kedua putra nya juga bergantian.
“Tidak, Mbak. Itu musyrik ada juga pelet buat ikan tuh Mbak di belakang rumah.” Sukma menggelengkan kepalanya.
Vaula menatap intens ke arah Sukma dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Saya heran. Apa sih yang kau banggakan dan menjadi daya tarik untuk Alfandi? dan kenapa dia menjadi mempunyai selera rendahan seperti ini?”
“Cukup, Mbak. Jangan permalukan lagi diri Mbak dihadapan anak-anak!” Sukma melirik ke arah kedua anak sambungnya yang duduk di sampingnya itu.
“Apa maksud mu? Bicara seperti itu?” Vaula malah mengerutkan keningnya.
“Hem, Mbak pinter dan segalanya dari aku bukan? jadi Mbak pasti mengerti dengan maksud saya apa?” Sukma berdiri dari duduknya. “Maaf, saya harus kuliah dan silakan kalian temu kangen.”
Vaula mengalihkan pandangan kepada kedua putranya yang hanya diam dan melihat punggung nya Sukma.
Sukma yang berjalan memasuki rumah nya berhenti sebentar, melihat ke arah kedua mertua nya yang bengong melihat ke arah dirinya, lanjut Sukma berlari menaiki anak tangga untuk mengambil barang-barang di kamar, untuk pergi kuliah.
“Ibu, Bapak. Sukma berangkat dulu ya? Assalamu’alaikum?” Setelah Sukma kembali dari kamarnya dan lantas mencium tangan kedua mertuanya tersebut.
“Wa’alaikumus salam ... hati-hati ya Neng?” balas keduanya sambil mengusap punggung Sukma.
Tidak lupa Sukma pun berpamitan pada kedua putra sambungnya, yaitu Fikri dan Firza.
“Mommy, cepat pulang ya?” pinta Fikri sambil mencium tangan mommy nya.
“Iya sayang, Mommy akan segera pulang kok. Oya nanti kalau mau ikut belanja, ikut saja sama pak Luky ya, nanti ketemu sama Mommy di tempat belanja.” Kata Sukma sambil mengusap rambut si bungsu.
“Hore ... mau belanja sama Mommy, ye ye ye ...” Fikri bersorak.
“Sayang, kan mau ikut Mama, kita pulang dan kita akan belanja sama-sama.” Vaula menimpali.
“Gak mau ahc, aku mau sama Mommy saja. Kakak Za saja yang ikut Mama. Aku gak mau!” jawabnya Fikri dengan tidak terduga.
“Aku juga mau ikut belanja sama mommy, dan gak pulang kemana pun selain di sini dulu.” Sebuah jawaban yang termasuk singkat dan padat, mengungkapkan kalau Firza pun tidak mau ikut dengan mamanya ....
.
...Bersambung!...