
"Yang akan hancur justru kita semua. Karier, nama baik dan sebagainya! jangan macam-macam kau Rosa." Yudi mencari ponsel dari tas Rosa yang dia jambret.
Rosa kaget."Ja-jangan. Jangan ambil ponsel ku? kembalikan?" pinta risa ketika ponselnya sudah berpindah tangan pada Yudi.
Yudi membawanya agak jauh dan menghidupkannya di dekat Vaula. Dia mencari fail yang sekiranya akan membahayakan mereka berdua. Hingga akhirnya menemukan video rekaman dirinya dengan Yudi sedang melakukan percintaan.
"Hapus saja? jangan biarkan itu ada di ponselnya." Vaula memberi perintah pada sang kekasih untuk menghapus fail tersebut.
Rosa tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap marah pada kedua orang tersebut.
"Saya harap, kau tidak melakukan apapun, bila tidak inginkan kehilangan pekerjaan mu dan bila ingin selamat keluarga mu itu!" Vaula dengan tegas sambil merapikan pakaiannya.
"Kau tidak punya bukti lagi untuk bisa menyebarkan skandal kami berdua, dan mereka pun tak akan percaya dengan omonganmu itu!" ucap Yudi dengan tatapan mata yang sinis.
Rossa menggelengkan kepalanya kasar, dia benar-benar merasa tidak percaya. Kalau orang-orang yang selama ini bekerja dengannya itu ternyata picik.
"Gue baru tahu! ternyata kalian berdua itu jahat! tega dibelakang gue kalian selingkuh, di belakang kalian melakukan hal rendah! seperti binatang, gua minta putusin gue dan bilang sama orang tua gua. Karena lu nggak pantas jadi calon suami gue." Teriak Rosa.
"Oke kan emang itu yang gue mau, dari dulu putusin lu! karena lu itu nggak penting buat gue!" ucap Yudi seolah-olah merasa mendapat jalan yang terbaik.
"Buat apa lu merayu gue menjadi kekasih? hingga melibatkan orang tua segala? jika memang dari lama tidak cinta sama gua?Kenapa lu pura-pura cinta sama gua? Oo! tahu gue sekarang, karena lu ingin deketin bos gue kan! lu sudah lama kan bermain sama bos gue yang notabene nya istri orang. Apa lu pikir sudah nggak ada wanita single di dunia ini ha?" Cecar Rosa pada Yudi.
"Kalau memang iya kenapa! Sudahlah. Jangan banyak bacot! lu jangan banyak cincong, emangnya lu pikir lu punya apa? dibandingkan bos mu itu! lu cuma asisten yang gak punya apa-apa dan juga nggak punya yang gue harapkan, seperti sesuatu yang ada di bos lu itu." Yudi seolah ingin merasa puas menghina Rosa tanpa perasaan.
"Brengsek, kau laki-laki yang gak bisa dipercaya. Laki-laki penjahat kelamin, Lu gak punya malu dan gak laku sama wanita single. untung gue gak mau memberikan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup gue. Kalau saja mau! gue akan hancur sehancur-hancurnya menjadi korban laki-laki model lu!" Sambung Rosa.
"Terserah lu mau ngomong apa? Dan mulai sekarang, kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi selain pekerjaan!" Jelas Yudi.
"Itu lebih baik, emang siapa sih yang mau sama lu? penjahat kelamin yang nggak punya moral, Murahan! nggak punya malu. Nggak punya hati, percayalah kalian berdua akan mendapatkan akibatnya suatu saat nanti." Ungkap Rosa dengan nada tinggi.
"Sudahlah enggak usah menyumpahi ku, sekarang gampang kamu mau melanjutkan bekerja dengan saya dan keluarga mu aman! adikmu yang sakit-sakitan saya obati atau .... mau sampai di sini aja? dan semuanya hancur?" tanya Vaula dengan jelasnya.
Rossa dibuat kebingungan dengan dua pilihan yang menyodorkan pertanyaan. Bertahan menyakitkan dan otomatis akan menyimpan semua kebohongan dan bila berhenti bekerja? keluarga yang akan menjadi korban karena dia adalah tulang punggung buat keluarga nya tersebut.
Namun pada akhirnya Rosa harus membuat keputusan, sesuatu untuk keluarganya tersebut, ketimbang hasilnya untuk sendiri sendir. Lalu tatapannya Rossa mengarah pada Yudi dan Vaula bergantian! seolah tidak mempunyai dosa ataupun kesalahan yang telah mereka lakukan.
Vaula menoleh dan menatap tajam kembali kepada gadis tersebut yang menjadi asistennya selama ini. Dalam hati tidak bisa dipungkiri kalau dihantui rasa was-was bilakah Rosa laporan pada Alfandi tentang dirinya yang selingkuh.
Ini benar-benar akan menjadi perang dunia ketiga dalam keluarganya. Orang tua nya dan orang tua Alfandi akan marah besar bila tahu ini semua.
"Jawab? maunya Gimana? mau tetap bekerja atau berhenti? saya gak bingung kalau kau ingin berhenti!" ulang Vaula yang di arahkan pada Rosa.
Dengan tatapan yang sulit di artikan, Rosa pun mengangguk pelan. Tatapannya yang nanar dan dada yang terasa sesak, Rosa mengayunkan langkahnya dengan hati yang hancur.
Vaula dan Yudi tertegun dan saling pandang satu sama lain. Perasaan keduanya yang tidak menentu.
"Gimana nih beb? aku gak mau kehilangan kamu sayang!" Vaula menatap cemas.
"Jangan khawatir beb! kalau cuma omongan. Pasti orang-orang gak akan percaya, sebab akan membutuhkan bukti. Sementara bukti sudah kita hapus." Yudi memeluk Vaula erat.
Hati Yudi pun ikutan was-was dengan terbongkarnya skandal mereka berdua. Tapi dia yakin, kalau bukti sudah tidak ada dan sekarang harus lebih hati-hati bila ingin melakukan sesuatu.
Di kediaman Sukma, tepatnya di meja makan tengah berkumpul dan menikmati makan malamnya termasuk bibi yang di ajak makan bareng.
"Siapa yang masak ikan balado asam ini? ternyata Bibi pandai juga ya?" Alfandi menoleh pada bibi yang juga sedang makan bersamanya dan keluarga.
"He he he ... itu yang masak. Non Sukma, Tuan. Bibi masak yang lainnya saja." Jawabnya bi Lasmi.
"Oh!" Alfandi melirik pada sang istri dan memberikan senyumnya yang manis. "Kau pandai memasak juga, makasih ya? aku suka!"
Sukma mengangguk lalu menawarkan Alfandi untuk menambahnya lagi.
"Boleh, kamu gak suka sayang?" tanya Alfandi ketika Sukma mengambilkan ikan ke piringnya.
Sukma menggeleng. "Tidak."
"Marwan. Jihan, kalian pasti suka ikan, makan?" Alfandi menyodorkan piring ikan pada mereka berdua.
"Aku suka banget," sahutnya Marwan sambil menambah lagi ikan ke piringnya.
"Mimy mana?" tanya Alfandi pada Sukma karena Mimy tidak ada di meja makan. "Kenapa gak di ajak makan?"
"Belum pulang dia, jalan dulu kali." Lirihnya Sukma.
"Ooh, belum pulang." Alfandi melanjutkan kembali makannya.
"Om. Kami berdua mengucapkan banyak-terima kasih atas segala kebaikan, Om. Serta ponsel nya makasih banyak ya? Om!" ucap Jihan pada Alfandi mengingat segala kebaikan Alfandi kepada mereka semua.
"Sama-sama, semoga bermanfaat ya? lagian ... kalian ini sudah menjadi kewajiban saya, Oya jangan panggil deh! kan sekarang sudah jadi Abang kalian. Panggil saja Abang." Alfandi meminta Jihan dan Marwan.
"Iya, Bang." Marwan langsung menyahut.
Alfandi baru saja selesai makan dan membawa langkahnya ke lantai atas.
Sukma yang membereskan dulu meja makan membantu bibi yang beres-beres dan sebentar lagi akan pulang.
"Bentar lagi bibi mau pulang ya, Non?" Bibi sekalian pamit sebelum Sukma pergi ke kamarnya.
"Oh. Iya Bi ... hati-hati dan makasih ya? atas hari ini sudah bantu-bantu." Sukma yang bertutur lembut.
"Sama-sama, Non. Sudah, susul tuan ke kamarnya, bukankah tuan mau pulang malam ini ke rumah yang di sana? yang ini biar Bibi yang bereskan," ucap Bu Lasmi begitu perhatian.
Sukma menoleh ke arah lantai atas. "Iya. Makasih ya Bi? atas pengertiannya? ya sudah, kalau begitu aku mau ke atas dulu."
"Iya, Non. Disayang suaminya ya? dan pandai-pandai lah merawat diri, biar sayang suami." Bibi mengusap bahu Sukma ....
.
.
...Bersambung!...