Mentari

Mentari
Episode 98



Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore hari. Para tetua ke kamar istrahat sejenak sedang orang tua Mentari balik rumah diantar oleh supir.


"Gak capek kak?" Tanya Mentari.


"Lumayan capek rasanya" Jawab Arka sambil memijit pelan lengannya. Ia rasa badannya sakit semua setelah pulang dari gedung tadi.


"Istrahat kak" Ucap Mentari lagi sambil membaringkan anaknya diranjang bayi setelah selesai memberikan ASI.


"Iya, aku istrahat sebentar. Bangunin kalau adzan magrib ya" Ucap Arka lagi sambil merebahkan badannya dan mencari posisi ternyaman dengan membelakangi Mentari.


"Siap ayah Balqis" Ucap Mentari dengan sengaja. Ia ingin lihat reaksi suaminya kalau dipanggil ayah Balqis.


Arka yang sudah memejamkan mata, tiba-tiba matanya terbuka mendengar ucapan istrinya. Arka bangkit dengan mata sedikit merah dan sayu.


"Coba ulang" Minta Arka.


"Iya, nanti aku bangunin" Ucap Mentari.


"Bukan itu, tadi aku dengar ada nama Balqis" Ujar Arka.


"Iya ayah Balqis" Ulang Mentari dengan senyum diwajahnya.


Arka langsung tersenyum, "Sepertinya aku langsung sembuh dengar kalimat itu, jadi mulai sekarang jangan panggil kakak tapi ayah Balqis"


"Gak biasa kak" Mentari pura-pura menolak.


"Dibiasakan dong, pokoknya ayah Balqis. Gak mau tau ya" Ucap Arka final lalu kembali merebahkan badannya, karena ia rasa kepalanya sekarang nyut-nyut.


"Gak janji ya" Ucap Mentari.


Arka mendengar itu hanya memejamkan mata sembari berkata, "Kalau mau cepat sidang maka panggil suamimu ini dengan panggilan yang aku mau".


"Haaa, skripsi" Gumam Mentari tiba-tiba mengingat Skripsinya.


"Oke. Tapi ingat ya besok aku harus bimbingan" Ucap Mentari dengan semangat.


"Boleh, sebagai hadiahnya kalau sudah sidang, saya minta adik untuk Balqis" Respon Arka.


Mentari mendengar itu langsung menoleh melihat suaminya, "Suamiku, please balik badan dulu."


"Bicaralah, saya masih bisa dengar."


"Ok, kalau seperti kakak ucapkan tadi, hadiah setelah sidang meminta agar Balqis punya adik, maka kakak salah menikah dengan saya" kesal Mentari. Bagiamana tidak kesal dengan ucapan suaminya, dirinya masih mengingat rasa sakitnya operasi dengan santainya berkata seperti itu.


Arka membalikkan badan pelan, "Terus aku cocok dengan siapa?" tanyanya penasaran .


"Kucing" Jawab Mentari asal.


"Kucing" Ulang Arka lalu ia kembali memejamkan mata.


...💛💛💛...


Sinar pagi mulai mulai masuk dalam kamar. orang tua muda ini yaitu Mentari dan Arka membicarakan masa depan anak mereka, sehingga muncul perdebatan kecil diantara mereka.


Jujur semenjak mereka menikah, tidak ada perdebatan sedikit pun diantara mereka baru kali ini dan itu tentang anak mereka.


"Pokoknya aku mau Balqis sekolah di pesantren" Ucap Mentari kekeh dengan pendiriannya.


"Sekolah umum saja" Arka pun tetap dipendiriannya.


"aku mau anakku itu jadi wanita sholehah sesuai standar islam."


"saya pun demikian, tapi jangan sekolah langsung masuk pesantren."


Arka sangat tidak terima jika anaknya jauh darinya.


Perdebatan itu terus berlanjut sampai Balqis merasa terganggu dengan kedua orang tuanya. Balqis mulai menggeliat, membuka mata pelan-pelan menyesuaikan dengan cahaya yang sedikit masuk dari jendela kamar tersebut.


Balqis mulai menghisap jarinya dengan sedikit pergerakan dari kakinya dan suara kecil darinya.


"Kak.." Panggil Mentari.


"hmmm" respon Arka.


"Marah ya? maaf" Ucap Mentari dengan wajah sedikit memohon kepada suaminya.


"hmm" jawab Arka lagi.


"Ayah Balqis, saya minta maaf lho ini dengan hati yang paling tulus. Aku sadar seharusnya aku mengikuti keinginan suamiku bukan kehendak sendiri. Jadi urusan Balqis, aku ikut saja" Ucap Mentari panjang lebar membuat Arka hanya melirik istrinya itu sekilas lalu fokus kearah ranjang anaknya.


"Iya, saya juga minta maaf" Jawabnya lalu bangkit dari duduknya menghampiri ranjang anaknya, "Anak ayah sudah bangun, makin cantik dan pintar gak nangis saat bangun" sambung Arka lagi sambil mengangkat Balqis mengeluarkan dari ranjang itu.


"buk" bunyi kentut Balqis.


"Hahahaha" seketika Arka dan Mentari ketawa mendengar suara kentut Balqis.


"Kentutnya bau" Ucap Arka lagi sambil membaringkan anaknya diatas tempat tidur.


"iya nih, cantik-cantik kentutnya bau" timpal Mentari lagi yang sudah duduk disamping anaknya itu diatas tempat tidur.


Mereka asyik bertiga dikamar, sementara diluar kamar sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dewi yang sudah menahan cucunya untuk kembali dirumah mereka berbagai cara ia gunakan, tapi cara baik yaa bukan cara kotor membuat Arka dan Mentari sulit untuk nolak.


Dewi lagi duduk sendiri memikirkan cara apalagi yang ia lakukan sekarang Anita agar Arka dan Mentari tetap di rumah. Soalnya ia sudah terbiasa setiap hari gendong cucunya tiba-tiba tidak ada di rumah pasti sunyi.


Dewi memutuskan ke kamar Arka dan Mentari, sesampainya langsung mengetuk pintu dan masuk. Ia melihat Arka dan Mentari duduk berhadapan ditengah tempat tidur dan Balqis ditengah mereka.


"Apa kalian tidak mau belanja?" tanya Dewi.


"Untuk apa bu?" tanya Arka.


"Bukan untuk apa-apa, hanya belanja saja atau makan malam berdua" Usul ibu Dewi lagi.


Mentari dan Arka fokus kearah Dewi.


"Balqis kasian kalau keluar malam" Respon Mentari.


"Ada ibu yang jaga" Jawab ibu Dewi, "luangkan waktumu Arka untuk istri jangan hanya kerjaan terus yang diurus" Sambungnya.


"Benar kata ibu, nanti malam kita makan diluar" Ucap Arka.


"apa Balqis gak nangis nanti?" tanya Mentari tanpa menjawab ucapan suaminya itu.


"Stok ASI kan banyak" Timpal Dewi lagi.


"Benar kata ibu" Ucap Arka dan Mentari hanya mengangguk.


"Udah fix dan sekarang kita sarapan. Apa Balqis udah berjemur pagi ini?" Tanyanya diakhir ucapannya.


Arka dan Mentari lupa karena diawali dengan perdebatan kecil dan kentut Balqis sehingga lupa dengan kebiasaan putri kecil itu berjemur di pagi hari.


Arka dan Mentari sambil memandang dan menggeleng pelan.


Dari gelengan kepala itu ibu Dewi sudah paham dengan jawaban anak dan mantunya.


"Inilah yang aku khawatirkan kalau balik di rumah kalian. Jadi untuk beberapa bulan kedepan umur Balqis 6 bulan baru bisa balik rumah" Jelas Dewi.


Arka sebenarnya tidak terima dengan ucapan ibunya tapi mengingat kalau istrinya urus tugas akhir dan jaga anak pasti kewalahan. Adapun jika ia mengusulkan untuk mencari pengasuh pasti keluarga besar tolak mentah-mentah. Pikiran Arka berkecamuk saat ini sampai ia disadar oleh istrinya.


"Mikirin apa kak?" tanya Mentari.


"ayah Balqis" Ucap Arka, ia tidak ingin dipanggil kakak lagi oleh istrinya.


"iya, iya" Mentari mengalah.


Ibu Dewi saking senangnya langsung mengirim pesan kepada besan sekaligus sahabatnya itu.


✉️Dewi : Arka dan Mentari mau tetap stay disini sampai 6 bulan umur balqis


^^^✉️ Ibu Anita : Alhamdulillah, salam kepada^^^


^^^kepada anak dan cucuku ya Dewi^^^


✉️Dewi : Iya, selang seling Anita. 1 bulan Balqis disini, 1 bulan di situ.


Dewi sengaja mengirimkan pesan seperti itu, ia tahu bagaimana rasanya rindu kepada seorang anak, meskipun Anita tidak mengatakannya tapi Dewi seorang ibu juga jadi tau persis perasaan besannya.


^^^✉️Ibu Anita : Alhamdulillah, aku selalu^^^


^^^mimpikan Balqis, Dewi. Saking rindu^^^


^^^kayaknya.^^^


✉️ Dewi : Nanti besok Balqis ke sana. Suruh sopir yang antar Mentari, kalau Arka tau sendiri kan sibuk kantor.


^^^✉️Ibu Anita : Jangan Dewi, nanti Aldi yang jemput.^^^


^^^Takut kejadian dulu terulang lagi.^^^


✉️ Dewi : Baiklah.


Setelah mengakhiri percakapan lewat pesan, Dewi mengajak mantu dan anaknya untuk sarapan pagi dan dirinya menggendong Balqis. Dewi semenjak ada Balqis selalu sarapan terakhir setelah mastikan semua dalam rumah sudah makan, kecuali jika ia buru-buru maka ia sarapan bersama dan Mentari yang jaga Balqis.


"Sibuk, pesan dari siapa?" tanya Arka.


"biasa besan sekaligus sahabat ibu" jawaban sembari mengukir senyum disudut bibirnya membuat Arka tidak tenang kalau tidak bertanya kembali.


"kok senyum-senyum" Arka penasaran.


"namanya bahagia pasti senyum lah" Timpal Mentari.


"tidak biasanya"


"Sudah-sudah, sarapan sana.. Dan Anita rindu pada cucunya" Ucap Ibu Dewi lagi.


"nanti akhir pekan kesana" Jawab Arka.


"Rencana Aldi besok kesini mau jemput Mentari, gak masalah kan?" tanya Dewi, karena ia lupa tidak tanya Arka terlebih dahulu langsung mengambil keputusan sendiri.


"Gak masalah bu, nanti dari kantor langsung kesana"


Dewi tidak sampai pikirannya kalau mereka akan menginap disana, "menginap nih?" tanya Dewi.


"Iya bu, bunda pasti tidak mau kalau hanya sehari" Timpal Mentari.


"Benar juga, gak apa-apa" Ucap Ibu Dewi lalu mereka keluar bersama dari kamar sembari Dewi menggendong sang cucu.


Mereka makan setelah duduk dikursi meja makan, sarapan bersama lalu pak Rahmat ndan Arka ke kantor sedangkan Mentari gantian menggendong Balqis dan sekarang giliran Dewi yang sarapan.


🌺


Hari dengan semangat teriknya, sekarang sudah pukul 11 siang Aldi dikantor memutuskan untuk makan siang sekaligus menjemput adik dan ponakannya. Sebelum pergi Aldi terlebih dahulu memberitahu sekertarisnya kalau ia tidak akan kembali dikantor dan berkas yang ingin ditanda tangani diarahkan untuk bawa pulang di rumah.


Aldi menuju kediaman Purnawan tanpa embel-embel singgah di toko kue Mentari seperti biasa semenjak Siska menolak dirinya. Sebenarnya Aldi tidak terima dengan alasan yang dilontarkan oleh Siska tapi mau bagaimana lagi Siska memilih untuk tidak mau bertemu dengan Aldi lagi.


Beberapa menit kemudian Aldi sampai dan memarkirkan mobilnya tepat dihalaman rumah dan masuk dalam rumah sembari beri salam.


"Beri salam itu masih diambang pintu bukan sudah dalam rumah" Tegur Mentari bercanda.


"Kelamaan, sudah siap nih?" tanya Aldi.


"Udah dong, Balqis lagi tidur" Ucap Mentari sembari jalan beriringan dengan kakaknya masuk dalam kamar bayi tersebut.


"Yakin dan percaya dia sudah bangun" Ujar Aldi dan benar saja Balqis sudah bangun dan lagi menghisap jarinya sebagai mainannya sendiri.


"Belikan empeng untuk Balqis, hmm kalau aku tau belum ada empengnya aku singgah tadi di toko perlengkapan bayi" Ujar Aldi lagi yang berada disamping ranjang ponakannya.


"Iya juga ya, gak kepikiran" Jawab Mentari. Ia baru sadar ternyata kebutuhan yang paling penting untuk anaknya ia tidak sadari sedangkan pakaian dan fasilitas lainnya lengkap bahkan sampai satu tahun umur Balqis tidak beli pakaian pun tidak masalah, secara ibu Dewi atau nenek Balqis setiap keluar rumah selalu pulang bawa pakaian.


Mentari kadang bingung sendiri, ia juga ingin ke toko beli baju untuk anaknya tapi kembali berpikir baju Balqis sudah satu lemari sedangkan yang dipakai baru beberapa lembar. Ia urungkan niatnya itu. Kadang hati kecilnya ingin melarang stop dulu beli barang untuk Balqis lagian anaknya juga masih kecil belum mengerti fashion tapi jawaban Arka, Rahmat dan Dewi membuat Mentari membiarkan begitu saja.


"Kalau kami belanja barang untuk Balqis kami sangat bahagia dan selalu ingin cepat sampai rumah" Ungkapan itu yang selalu terngiang di telinga Mentari.


"Pakaian Balqis semua?" tanya Aldi.


"Iya kak, ini tasnya. Gak sabar ingin ketemu bunda" Ucap Mentari.


"Ternyata gak salah diberi nama Balqis, ratu Balqis" Ucap Aldi lagi lalu mereka keluar dari kamar dan tidak lupa mereka memberitahu ART sebelum pergi.


Dalam perjalanan menuju rumah tidak sedikit Mentari berbagi cerita tentang perubahan hidupnya setelah memiliki Balqis, bahagia itu gambaran ungkapan Mentari.


"Kakak sendiri kapan rencana menikah?" tanya Mentari.


"Gak tau, nanti kalau sudah ketemu pasti nikah juga" Jawaban santai itu membuat mentari melihat kakaknya lama.


"Kenapa menatap aku seperti itu, apa ada yang salah dengan jawaban ku?" tanya Aldi.


"Tidak.. hanya saja.. atau kakak ini tidak suka perempuan"


"Astaghfirullah dek, iihhh amit-amit. Aku ini laki-laki normal yaa" Jawab Aldi kesal kepada Mentari.


"haha, lagian sih"


Aldi memilih diam dibandingkan merespon perkataan adiknya yang mulai ngawur itu. Dan bisa-bisanya dia dibilangkan tidak normal.


Beberapa menit kemudian mereka sampai, Mentari kelaur dari mobil sementara Aldi mengeluarkan tas perlengkapan Balqis selama dikediaman Algantara.


Bunda Anita mendengar mobil berhenti langsung menuju pintu utama dan seketika senyum Anita merekah melihat anak dam cucunya datang.


"Assalamualaikum bunda" Ucap Mentari.


"Wa'alaikumussalam Balqis" Jawab Bunda Anita membuat Mentari cemberut.


"Kok bunda sebut Balqis bukan aku"Protes Mentari.


Aldi terkekeh mendengar itu, "cemburu sama anak sendiri, hahaha" Ucapnya menuju kamar dimana biasa Balqis tidur kalau berada di Algantara.


"Gak apa-apa dong, Balqis sekarang itu peri cantik" Ucapnya sambil menuntun anak dan cucunya itu masuk dalam rumah dan duduk diruang tengah untuk istrahat sejenak.


Bunda Anita melepas rindu pada cucunya yang sudah tunggu-tunggu kedatangannya setelah beberapa hari tidak datang.


"Kenapa bawa pakaian Balqis disini? ada pakaiannya, bunda sudah beli" Ujarnya membuat Mentari menghela napas pasrah. Ternyata bukan hanya dirumah suaminya seperti itu dirumahnya sendiri pun Balqis selalu dibelikan pakaian.


"Gak apa bunda, mubazir juga kan baru pakai satu kali pas untuk kedua kalinya udah sempit" Ujar Mentari, "Semoga masuk akal" Sambungnya dalam hati.


"Gak masalah, beli lagi" Jawab bundanya membuat Mentari berpikir dimana bundanya yang selalu mengajarkannya sederhana dulu.


"Istrahat dulu dikamar sambil tunggu papa,. dia pasti rindu sama Balqis nih" Ucap bunda Anita lagi.


"Gak diajak makan siang?" tanya Mentari kepada bundanya.


"Oh iya, bunda lupa, hehehe" Jawabnya, "langsung ke meja makan sayang. Aldi tidak muncul berarti dia lagi makan" Sambungnya lalu ia pergi menuju kamar yang sengaja disediakan khusus Balqis menginap dirumah itu.


"Nasib jadi emak" Gumam Mentari lalu ia jalan menuju meja makan.


Makan siang sudah selesai, Aldi dan Mentari santai duduk depan tv sambil nonton. Bernostalgia dimasa kecil itu yang selalu mereka lakukan.