Mentari

Mentari
Episode 111



Saat Radit keluar dari kamar, bersamaan dengan itu terlihat Bik Sum berjalan kearah nya.


"Tuan ini pakaian yang katanya dari rumah anda," tangan Bik Sum memberikan sebuah paperbag.


"Terima kasih Bik," jawab Radit.


Bik Sum langsung pergi, karena ia merasa malu saat melihat Radit hanya dengan balutan handuk putih saja.


Radit kembali masuk ke kamar, karena tadi ia memang meminta seorang pekerja di rumahnya untuk mengantarkan sebuah pakaian lengkap pada alamat yang ia kirim. Dan tadi Radit keluar berniat ingin mengambil pakaian itu, tapi tanpa di duga ternyata Bik Sum yang mengantarkannya.


"Kenapa masuk lagi?" tanya Rembulan saat melihat kembali masuk ke kamar, bukankah tadi Radit sudah pergi menuju rumah Arka.


"Kangen sama kamu!" ujar Radit lalu ia masuk kedalam kamar mandi.


Glek.


Rembulan lagi-lagi terkejut mendengar yang dikatakan oleh Radit, bahkan ia baru tahu Radit bisa berkata demikian. Rasanya Rembulan sampai merinding, karena mendapat gombalan dari sahabat karibnya tersebut.


Tidak menunggu lama Radit keluar dari kamar mandi, ia terlihat memakai kemeja lengan panjang dan berpadu celana jeans. Sambil tangannya melipat lengan kemejanya, ia melihat Rembulan yang masih berdiam di atas ranjang.


"Kamu kenapa?" tanya Radit.


Rembulan tersentak, kemudian ia melihat Radit yang sudah siap dengan pakaiannya, "Kamu udah pakek baju?" tanya Rembulan, karena ia tidak tahu darimana Radit membawa pakaian bersih.


Radit melihat dirinya, kemudian melihat Rembulan, "Memangnya kamu tidak suka kalau aku pakai baju?" tanya Radit dengan jailnya.


"Hah," Rembulan melongo saat mendengar hal konyol yang dikatakan oleh Radit.


"Biasa aja Umi," tutur Radit dengan suara yang terdengar lembut, kemudian ia keluar dari kamar.


"Ya ampun Ulan.....kamu kenapa?" Rembulan memukuli kepalanya karena, tingkah Radit membuat nya mendadak diam dengan rasa yang aneh.


Radit kini sudah memasuki gerbang kediaman Arka, kakinya terus berjalan masuk melalui pintu utama dan ia melihat ada Tante nya di sana.


"Tante sedang apa?" tanya Radit.


Linda yang mengenali suara Radit langsung melihat kearah Radit, namun tanpa di duga reaksi yang di berikan Linda sangat berbeda dari biasanya. Linda malah membuang pandangannya, bahkan ia terlihat kesal pada Radit.


"Tante kenapa?" Radit bingung dengan Tantenya, karena ia sangat tahu sipat Linda tidak begitu.


"Tante nggak kenapa-kenapa, Tante cuman pengen pites-pites ponakan Tante.....dia nikah sama Ulan tapi nggak bilang-bilang," kesal Linda tanpa melihat Radit, yang ada ia menyemprotkan air pada bunga anggrek nya dengan kencang. Seolah ia sangat kesal.


"Hehehe....." Radit menggaruk kepalanya, karena ia tahu Tantenya itu tengah menyindir dirinya, "Abisnya udah nggak tahan Tante, nggak sempat nunggu besok!" ujar Radit lalu ia berlari takut mendapatkan amukan dari Tante Linda.


"RADIT!!!!!!" teriak Linda.


Semua orang di dalam rumah besar itu langsung seketika menutup telinganya, karena suara Linda sangat mengganggu gendang telinga mereka. Begitu juga dengan Radit yang sejenak berhenti berjalan untuk menutup telinganya, tepat di depan pintu kamar Arka.


Radit tersenyum saat mendengarkan suara kesal Tante Linda, ia kemudian mengangkat tangannya dan berniat mengetuk pintu kamar Arka. Tidak biasanya Radit mengetuk pintu kamar Arka, tapi kini harus dibiasakan karena sudah ada Mentari juga yang menjadi pemilik kamar tidur tersebut. Dan benar saja telinga Radit malah mendengar suara-suara aneh dari dalam sana.


"Kak pelan-pelan.....Tari nggak kuat," kata Mentari.


"Tahan sebentar saya sedikit lagi," pinta Arka.


"Ahhhh.....Kak!!!" seru Mentari.


Radit meneguk saliva, dan pikirannya mulai tercemar karena suara-suara aneh itu. Hingga ia menempelkan telinganya pada daun pintu, untuk mendengarkan lebih jelas.


"Kapan lagi yang live begini...." gumam Radit.


"Sayang akhirnya, terima kasih.....enak dan lebih lega," kata Arka.


Namun tanpa di ketahui Radit pintu tiba-tiba terbuka karena terdorong tubuhnya, sebab Arka dan Mentari memang tidak mengunci pintu kamar nya. Radit terbawa kedalam, ia sampai terkejut.


Buk.


Radit terjatuh di lantai, dan ia cepat-cepat menutup matanya. Karena ia takut jika melihat pertarungan antara Arka dan Mentari di atas ranjang.


"Kak Radit ngapain di situ?" tanya Mentari.


Arka dan Mentari saling pandang, keduanya langsung melihat Radit yang sudah terpental di lantai. Bahkan Mentari sampai sangat bingung.


"Aduh....." Radit, masih tidak berani membuka mata, ia hanya bergumam merutuki kebodohannya.


"Kak Radit!" Mentari kini berdiri di hadapan Radit, ia sangat bingung pada Kakak iparnya itu


Radit masih tidak mau membuka mata, "Maaf tidak ada maksud apa-apa, aku juga tutup mata," kata Radit masih dengan mata tertutup.


Arka yang berbaring, mulai duduk. Dengan tubuh menggigil dan selimut yang ia gulung pada tubuhnya, perlahan Arka melihat Radit.


"Heh, Dokter.....lu ngapain di situ, aku di sini!" ujar Arka, "Itu mata ngapain di tutup?"


"Arka lu jangan macam-macam, gimana aku nggak tutup mata.....kalian pasti sedang...." Radit merinding dan ia hanya menggantung perkataan nya.


"Buka mata, otak lu nggak beres banget! Buka mata!" Arka tahu Radit tengah berpikir hal negatif.


Perlahan Radit membuka matanya, dan ia melihat Mentari dan Arka masih dengan pakaian lengkap nya, "Ternyata tidak sesuai pikiran," gumam Radit.


"Kak Radit kenapa?" tanya Mentari yang masih kebingungan.


"Nggak papa cuman sakit sedikit, tadi tersandung," bohong Radit.


"O," Mentari mengangguk mengerti, ia kemudian melihat Arka, "Kak ayo berbaring lagi, biar di periksa Kak Radit," pinta Mentari.


Arka langsung berbaring, dan Radit mulai memeriksa keadaan Arka.


"Kak Radit, Kak Arka belum minum obat..... kira-kira minum obat apa ya Kak, biar Kak Arka cepat sembuh soalnya Tari nggak kuat kayak tadi buat bantuin Kak Arka ke kamar mandi padahal Kak Arka udah kebelet," jelas Mentari.


Sebab tadi Arka minta bantuan untuk di antarkan ke kamar mandi, kemudian mencoba membantu Arka karena takut Arka sudah tidak bisa menahannya. Dengan tubuh yang sedang berbadan dua Mentari tidak bisa bergerak bebas, hingga ia membantu Arka sebisa nya saja. Sebenarnya ada banyak orang yang bisa di minta bantuan, hanya saja Mentari tahu jika Arka seperti nya sangat manja bila sedang sakit begini.


"Tunggu saja sebentar, nanti ada Kak Adam....dia teman Kakak, biar dia yang datang dan membawa obatnya," jawab Radit.


"Iya Kak," jawab Mentari.


"Cantik peluk...." pinta Arka dengan manjanya.


"Jangan nanti demamnya menular!" jelas Radit.


"Nggak papa kok Kak, biar kami sembuh sama-sama sakit juga sama-sama," kata Mentari dan langsung memeluk Arka.


"Dasar bucin," kata Radit lalu ia pergi.


"Jangan ngintip-ngintip kalau mau masuk nanti masuk saja," ejek Arka. Karena ia tahu Radit pasti tadi berpikir yang tidak-tidak.


Radit hanya meneguk saliva, karena malu ia ketahuan oleh Arka