Mentari

Mentari
Episode 123



Sementara Rembulan sangat kesal sekali, karena Radit tidak juga menemuinya sampai dengan hari ini. Bahkan semalam Radit juga entah kemana dan itu membuat mood ibu hamil itu tidak baik-baik saja. Ia mengambil ponselnya dan mencoba mengirimkan pesan, tapi ia urungkan karena malu.


"Ulan," panggil Ranti di balik pintu.


Tok tok tok.


Ranti mengetuk pintu kamar Rembulan, ia sebenarnya biasanya tidak begitu. Namun kini sudah berbeda ia takut ada Radit juga di dalam sana, Ranti cukup mengerti dengan pasangan muda dan ia tidak mau malah nantinya melihat yang aneh di dalam sana.


"Masuk aja kali Ma!" jawab Rembulan setelah berteriak dari dalam sana.


Clek.


Ranti membuka pintu dan melihat wajah kusut anaknya, bahkan Rembulan masih setia di bawah selimut nya. Padahal jam sudah menunjukan pukul 09:30.


"Ulan kamu kok belum bangun sih Kak, sarapan dulu dong," kesal Ranti, karena ia tau kandungan Rembulan sangatlah lemah, di tambah lagi Rembulan pernah pendaran beberapa waktu yang lalu.


"Ulan nggak laper Ma...." jawab Rembulan.


"Radit mana?" Ranti mengedarkan pandangannya, ia tidak melihat Radit di sana.


"Nggak tau!" ketus Rembulan. Karena ia juga sedang mencari Radit. Apa lagi ia sangat kesal Radit tidak tidur dengan nya di sana.


"Kok nggak tau sih?" Ranti merasa aneh dengan pasangan Rembulan dan Radit, "Kalian itu sebenarnya kenapa sih? Menikah diam-diam, udah berumah tangga tapi masih keliatan canggung, Mama heran dan sebenarnya kalian nikah karena cinta atau nggak sih?" tanya Ranti yang memang menemukan banyak kejanggalan dalam pernikahan putrinya, karena ia memang tidak tahu apa alasan Radit dan Rembulan memutuskan menikah saat itu.


Deg.


Rembulan diam, dan ia merasa Ranti tidak perlu tahu awal mereka menikah. Tapi di saat seperti ini Ranti juga merasa bingung melihatnya dan Radit.


"Udah-udah!" Ranti mengibaskan tangannya, "Kamu sekarang tanya di mana suami kamu sekarang! Terus kamu suruh pulang, kamu juga cepetan makan!" titah Ranti tidak ingin di bantah.


"Tapi Ma," Rembulan ragu untuk mengirimkan pesan pada Radit, tapi Ranti malah menatapnya dengan tajam.


"Cepat!" kata Ranti dengan menaikkan nada bicara nya.


"Iya Ma...."


Dengan ragu dan tangan gemetaran Rembulan mulai mengetik pesan untuk Radit. Berulang kali ia mengetik pesan namun berulangkali menghapusnya kembali.


"Usah belum Kak?" tanya Ranti.


Rembulan melihat Ranti sejenak, kemudian ia mulai mengirimkan pesan.


[Assalamualaikum,] Umi.


Rembulan kembali melihat Mama Ranti, "Udah Ma," kata Rembulan.


Ting.


Satu pesan masuk dan itu balasan dari Radit.


[Waalaikumusalam Umi ku,] Abi.


Rembulan langsung meloncat dari ranjang, dan memeluk Mama Ranti dengan cepat karena sangking bahagia.


"Kamu itu sedang hamil!" kesal Ranti, bahkan ia setengah berteriak, "Kamu kenapa sih, tadi murung tiba-tiba loncat-loncat! Kamu itu bukan cuman bahayain nyawa kamu tapi anak kamu," omel Ranti.


"Maaf Ma," Rembulan menyadari kesalahannya, tapi terlalu bahagia benar-benar membuatnya menjadi lupa segalanya.


"Iya," Rembulan tersenyum dengan paksa pada Ranti, karena ia benar-benar takut pada Ranti. Apa lagi setelah menyadari kesalahannya barusan.


"Kalau kamu nggak mau makan sendiri, kamu pergi ke tempat Radit sana....bawa makan Mama udah masak, sekalian makan sama Radit," titah Ranti. Walaupun nada bicara Ranti yang keras bahkan terkesan membentak, tapi itu wajar karena ia takut kalau Rembulan dan cucunya malah kenapa-kenapa.


"Iya Mama ku," Rembulan kembali tersenyum, "Mama Ulan ganti baju dulu, Mama siapin ya bekalnya," pinta Rembulan sambil cengengesan.


Ranti menatap Rembulan dengan tajam, "Dasar anak tidak sopan! Ya sudah Mama siapkan tapi cepat sana siap-siap nanti itu cucu Mama kelaparan!"


"Siap Mama ku sayang," Rembulan mencolek dagu Ranti kemudian ia menuju kamar mandi sambil membawa ponsel nya.


Rembulan kembali membuka pesan yang tadi di kirimkan oleh Radit, kemudian ia kembali mengirimkan pesan.


[Di mana?] Umi.


[Siapa,] Abi.


Rembulan tahu jika Radit itu harus di panggil Abi, dan itu masih sulit Akhirnya dengan susah payah Rembulan berhasil juga mengerti kata Abi.


[Abi di mana,] Umi.


[Abi di rumah sakit Umi,] Abi.


Rembulan tidak lagi membalas pesan tersebut, ia cepat-cepat mandi. Setelah selesai dengan pakaian rapi nya Rembulan menuruni anak tangga, dan ia menuju dapur hingga matanya melihat sudah ada kotak bekal di atas meja. Dan itu adalah Ranti yang menyiapkannya.


"Ma Ulan pamit ya, Makasih udah siapin bekalnya..." teriak Rembulan, karena sang Mama sedang berada dalam kamar mandi dapur.


Rembulan mulai keluar dari rumah, ia terus tersenyum bahkan ia mengemudikan mobilnya dengan sangat baik. Hingga akhirnya ia sampai di rumah sakit tempat Radit bekerja, dengan bekal makanan dan juga senyum di bibirnya Rembulan melangkah masuk. Ia tidak tahu dimana ruangan Radit hingga perawatan yang menunjukan ruangan Radit dan Rembulan langsung menuju ke sana.


Tok tok tok.


Rembulan mengetuk pintu, Radit tidak tahu tentang kedatangan Rembulan.


"Masuk!" kata Radit dengan suara berat dan tertahan nya, karena ia yakin itu adalah seorang perawat. Hingga ia tidak perduli dan hanya fokus pada data pasien yang sedang ia tangani.


Rembulan membuka pintu, ia masuk dan kembali menutup pintu. Kaki Rembulan berjalan mendekati Radit, la Rembulan berdiri terdiam karena Radit tidak meliriknya sedikit pun.


"Ada apa?" tanya Radit, ia bahkan tidak sedikitpun menatap orang di hadapannya.


Rembulan merasa Radit tidak ingin di ganggu, suara Radit yang dingin membuat Rembulan takut dan tidak berani berbicara. Bahkan ia ingin menangis karena Radit terlihat begitu dingin, ia meletakan kotak bekal di tangannya pada meja.


"Maaf..." lirih Rembulan. Kemudian ia berbalik pelan dan berniat pergi.


Radit sejenak merasa mengenal suara itu, itu suara Rembulan pikir Radit. Hingga dengan cepat ia melihat wanita tersebut, dan ini memang di luar dugaan Radit. Di sana Rembulan yang datang ia sama sekali tidak bermaksud bersikap dingin pada istrinya itu.


Sedangkan Rembulan mulai memegang gagang pintu, perasaan ibu hamil itu sangat berubah-ubah dalam waktu yang bersamaan.


"Umi," dengan cepat Radit mengejar Rembulan, ia memegang lengan Rembulan agar Rembulan tidak pergi.


Rembulan berhenti melangkah dan berbalik, "Maaf ya aku udah ganggu," kata Rembulan dengan sedih.


"Nggak gitu Umi," Radit benar-benar merasa tidak enak hati, karena maksudnya memang tidak begitu, "Maaf tadi Abi pikir perawat, atau dokter lainnya," jelas Radit, "Abi nggak nyangka kalau Umi yang datang, tapi Abi seneng banget," Radit tersenyum dan menarik Rembulan untuk duduk di kursi kerjanya, sedangkan Radit berdiri di samping Rembulan.


*


Kak minta Vote nya dong