Mentari

Mentari
Episode 194



Setelah pertempuran sengit berlangsung, kini kemenangan berhasil di dapatkan oleh kelompok Arka. Namun sayang Radit seperti nya tidak baik-baik saja, sebab kini ia merasa encok yang tidak baik-baik saja.


"Kenapa?" tanya Dimas yang belum tahu apa-apa, dari tadi sejak Radit datang pertempuran langsung terjadi hingga tidak ada waktu untuk berbasa-basi.


"CK!" Dimas berdecak kesal dan ia langsung duduk si sofa yang tertata rapi di ruang tamu.


Arka dan Dimas juga ikut duduk, hingga kemudian seorang Art membawa kopi untuk ketiganya. Dengan perlahan Arka, Radit dan Dimas langsung menyeruput kopi tersebut.


"Napa pinggang lu, tadi belum jawab. Gue penasaran," Dimas sepertinya sangat penasaran hingga ia masih saja bertanya, padahal barusan sudah jelas jika Radit tidak ingin membahas nya.


"Abis kejatuhan dari tangga," timpal Arka sambil terkekeh.


"Kejatuhan tangga?" Dimas terkejut saat mendengar jawaban Arka.


"Iya, dan itu karena dia," Radit dengan kesal menunjuk Arka, "Mau ketemu istri sendiri aja udah kayak mau nemuin istri orang, pakek manjat. Dan kurang ajar nya dia malah gerakin tangga nya kan aku jatuh, belum lagi tadi gue di tendang," gerutu Radit.


"Lagian ngapain lu ketemu istri sendiri naik tangga udah kayak maling," celetuk Dimas sambil geleng-geleng kepala.


Radit kembali menatap Radit, "Gara-gara ini orang sama bini nya, pakek acara di pingit lah apalah," jawab Radit lagi dengan kesal.


"Ahahahhaha.....itukan demi kebahagiaan mu, nanti kalau udah selesai resepsi biar lebih gregetan," seloroh Arka sambil tertawa kecil


"Gregetan gigi lu, encok ni. Sakit tau!" geram Radit.


"Buruan di obatin, nikahan lu udah enggak lama lagi. Takuknya malah enggak bisa mantap-mantap," kata Dimas dengan terkekeh.


"CK...." Radit menatap Dimas kesal, "Alah lu juga ngapain nyimpan bini orang di rumah, lakinya datangkan tu si Dimitri," balas Radit yang kini mencoba menyudutkan Dimas.


"Tau nih, dulu aja dia nolak. Padahal Lala udah banting harga, masih aja jual mahal. Sekarang dia udah jadi bini orang lu kejar-kejar!" tambah Arka yang ingin menertawakan kebodohan Dimas, padahal ia sudah pernah memperingati Dimas. Untuk tidak terus bersikap dingin pada Lala, bahkan Arka juga pernah mengatakan untuk mencoba membuka hati. Tapi tetap saja Dimas dengan angkuhnya mengatakan jika Lala tidak bisa membuatnya jatuh cinta.


"Jilat tu ludah yang udah lu buang!" kata Radit yang juga menertawakan nasib Dimas.


Dimas diam dan apa yang di katakan oleh kedua sahabatnya itu memang benar sekali, dan kini apapun akan ia lakukan asalkan bisa mendapatkan Lala. Entah mengapa kini semua berubah, walaupun Lala tanpaknya sudah menutup hatinya untuk Dimas. Tapi Dimas tidak ingin patah semangat, kini ia yang akan berjuang tidak perduli dengan arang yang melintang di depan sana.


"Kita puding yuk," ajak Arka.


"Yuk," kata Radit dengan semangat, sebab ia merasa cukup lelah sekali.


Dimas langsung meminta Art untuk membuatkan dua buah puding telur ayam setelah matang, kadang ketiga orang itu memang suka aneh-aneh. Dan ini memang di luar dugaan orang-orang di luar saja, wajah ketiganya yang terlihat dingin dan angkuh itu akan berubah menjadi kucing yang jinak bila sedang bersama.


Tiga gelas telur setengah matang sudah tertata rapi di atas meja, dengan cepat Arka dan Radit langsung menghabiskan nya.


"Lu enggak mau?" tanya Dimas.


"Enggak, kalian aja. Gue takut....." kata Dimas sambil terkekeh.


"Lemah lu!" ejek Radit.


"Dim, ngomong-ngomong keadaan Lala gimana?" tanya Arka yang penasaran.


"Dia sekarang tidak baik-baik saja, aku juga sedang mencari psikiater untuk nya. Karena trauma nya itu yang kadang membuatnya ketakutan sendiri," jelas Dimas mengingat keadaan Lala yang tidak baik-baik saja, sungguh keadaan yang sangat memprihatikan.


Arka mengangguk mengerti, "Tidak menyangka dia bisa begitu trauma, aku rasa nasib Dimitri hampir sama dengan nasib mu," ujar Arka.


"Iya, dan aku bisa bernyanyi....kalau sudah tiada baru terasa.....bahwa kehadiran nya sungguh berharga," kata Radit yang langsung bernyanyi dangdut.


Dimas melempar bantal sofa pada Radit, "Pinggang mu itu di urus, entar encok susah mau apa-apa. Mungkin duduk di pelaminan juga enggak bisa!" ejek Dimas.


"Mending gue duduk di pelaminan susah, nah elu. Gagal nikah udah dua kali, sekarang malah jadi pembinor!" ejek Radit lagi.


Dimas langsung bangun dari duduknya, dan mencekik leher Radit.


"Sialan!" Radit mencoba melepaskan diri, karena itu membuat nya sulit bernafas.


Arka bangun dari duduknya dan memisahkan antara Radit dan Dimas yang tengah saling menyerang.


"Cukup!!" geram Arka.


Dimas dan Radit sudah berhasil di pisahkan, tapi keduanya masih menatap dengan saling bermusuhan.


"Kalian berdua apa-apaan sih, lu juga Dim. Apa yang Radit katakan itu benar, kau memang pembinor kan? Salahnya di mana?" tanya Arka pada Dimas.


"Dengar tu," Radit tersenyum penuh kemenangan, karena Arka ada di pihaknya.


"Lu juga sama, kalau ngomong jangan asal!" bentak Arka pada Radit.


"CK....Taulah," Dimas langsung kembali duduk dan mulai mengambil gelas dengan berisi telur ayam setelah matang, dan itu tanpa sadar.


"Gue balik dulu ya, pengen kelonin bini," pamit Arka.


"Gue juga," pamit Radit.


"Kemana lu?" tanya Arka.


"Temuin bini jugalah," jawab Radit.


"Di pingit!" Arka mengingat Radit, tentang ritual pingit yang masih di jalani oleh Radit.


"CK....terus gimana nasib gue, itu telur setengah matang dua gue abisin!" kesal Radit.


"Ahahahhaha......lu udah punya bini mikir, nah gue? Nangis aja," kata Dimas, sebab ia sudah menyadari jika ia malah meminum telur setengah matang barusan.


"Ada-ada aja," gerutu Radit, "Udah gue mau balik, buat para pembaca setia. Besok di undang buat acara nikahan saya, dan sekaligus resepsinya. Jangan lupa saksikan juga saat-saat saya ada deh," kata Dimas tersenyum penuh bahagia.


"Pinggang lu di perbaiki dulu, jangan sampai malu-malu in!" Dimas memberikan peringatan.


"Tau nih, takut nya entah orang mikir kalau lu itu baru di sunat. Karena jalan lu yang aneh!" timpal Arka.


"Hehehe..... tenang gue bakalan urut!" jawab Radit.


"Gue kapan ya?" tanya Dimas dengan melas.


"Tunggu ayam jantan bertelur, baru lu nikah! Kemarin udah ada yang mau lu sok, makan tu nasib lu sekarang!" kata Arka kesal.


"CK.....lu nikah pas kita udah punya cucu aja, jadi elu bisa di panggil Om Lajang abadi," seloroh Radit.


"Ahahahhaha......" Arka tertawa lepas karena apa yang di katakan oleh Radit memang sangat lucu.


"Kalian tega banget deh," Dimas melas dan merasa sedih, sedangkan Radit dan Arka menertawakan nasib Dimas.