
Rembulan sangat terharu dengan apa yang di lakukan Mentari, tapi ia juga malu sendiri karena malah terpancing karena ulah Mentari. Tapi tidak di pungkiri mungkin jika bukan kata itu yang di ucapkan Mentari ia tidak akan berusaha untuk membuka mata dengan susah payahnya.
"Cie Kak Ulan," seloroh Mentari lagi.
Rembulan benar-benar malu sekali, ia perlahan melirik Radit dengan perasaan bersalah. Sebenarnya ia tadi sedang kesal, tapi mendengar penjelasan Mentari kesalnya berubah menjadi rasa malu.
Radit yang di tatap Rembulan hanya diam saja, ia memasang wajah datar seolah sedang marah pada Rembulan.
"Abi," Rembulan dengan cepat memegang tangan Radit, ia sangat berharap Radit tidak marah pada nya. Wajah Rembulan benar-benar menatap Radit penuh harap, "Maaf," kata Rembulan lagi.
"Kenapa?" tanya Radit.
"Ya maaf," kata Rembulan lagi, karena Radit terlihat cuek Rembulan bingung harus bagaimana, "Maaf," kata Rembulan lagi dengan penuh harap.
"Ternyata kamu udah bisa cemburu ya?" seloroh Radit.
Deg.
Wajah Rembulan kembali memerah, ia cepat-cepat melihat Raka karena Radit membuatnya salah tingkah.
"Jeng ngerasa nggak sih, kita berasa figura di sini?" tanya Nina yang mulai bertanya.
Ranti hanya diam dan tersenyum, karena apa yang di katakan oleh besarnya memang benar sekali. Tapi tidak di pungkiri ia sangat sangat bahagia melihat Rembulan dan Radit kembali tersenyum, dengan penuh bahagia.
"Umi enggak cemburu, ish...." kesal Rembulan sambil berdalih, "Ngapain coba cemburu!" kata Rembulan lagi.
Radit mendekat pada Rembulan dan berbisik, "Abi cinta sama Umi," bisik Rembulan, kemudian Radit menatap Rembulan dan menjauh.
Glek.
Rembulan meneguk saliva, Radit punya banyak cara untuk membahagiakan dirinya dengan cara yang sederhana. Dan Rembulan merasa kini ia seperti sedang pacaran bersama Radit, wajar saja sebab mereka memang tidak berpacaran sebelum menikah dulu. Hingga kini semua terasa begitu indah, apa lagi rasa cinta yang semakin besar. Cinta dalam halal memang begitu indah, bahkan tanpa ada dosa di dalamnya.
"Ish....Abi apaansih!" Rembulan seolah kesal padanya, tapi padahal ia tersenyum samar.
"Ya ampun Kak Ulan, Kak Radit. Kalian nganggap kita ada di sini enggak sih!" kesal Mentari, "Kak, yuk pulang," pinta Mentari pada Arka, karena ia merasa di acuhkan.
"Yuk, bro kita balik," pamit Arka pada Radit.
"Balik gih, ganggu aja di sini!" kata Radit di selingi tawa kecil.
"Sialan lu!" kata Arka.
Kini yang kesal bukan hanya Mentari, tapi juga Arka. Walaupun kesal tapi sebenarnya itu bahagia, karena kini mereka sudah bisa bernafas lega setelah Rembulan sadar. Dan mereka juga tahu Rembulan dan Radit butuh waktu berdua, untuk saling meluapkan rasa rindu.
"Ulan, Mama juga mau keluar dulu. Mama mau telpon Papa," pamit Ranti, ia memang belum menghubungi suaminya karena dari tadi ia terlalu bahagia saat Rembulan sadarkan diri. Tapi yang alasan yang paling besar adalah ia juga ingin memberikan ruang untuk Radit dan Rembulan. Ia tahu Radit begitu menghargai dirinya di sana, maka dari itu Radit terlihat biasa saja.
Sementara Nina yang masih mematung mulai di tatap oleh Radit, "Mama ngapain masih di sini?" tanya Radit.
"Terus Mama kemana dong?" tanya Ni a bingung.
"Ya ampun Ma," Radit menepuk jidatnya, "Mama mau lihat yang extrim?" tanya Radit.
"Extrim gimana?" tanya Nina bingung.
"Gini," Radit. mendekati wajah Rembulan, tapi sebelum sampai Nina malah langsung berlari dan ikut keluar.
"Mama keluar!!!!" dalam sekejap Nina sudah tidak lagi di ruang rawat Rembulan.
"Dia mirip siapa ya Bi?" tanya Rembulan.
"Kok Umi nanya begitu sih," tanya balik Radit.
"Enggak tahu, tapi kan Umi hanya aja," kata Rembulan lagi.
"Kan Bapaknya Abi Mi, atau Umi ada main sama orang lain. Kalau ada wajar Umi tanya?" seloroh Radit.
Rembulan menatap Radit, tanpaknya Rembulan kini masih terlalu sensitif, ia mulai menatap Radit dengan pandangan berkaca-kaca, "Umi hamil sendiri berbulan-bulan Umi terusik sendiri, sekarang Abi ngomong begitu," kata Rembulan yang mulai menangis.
"Sayang maksud Abi enggak begitu," Radit dengan cepat memeluk Rembulan, kalau saat bersekolah dulu Radit sangat suka menggoda Rembulan dan Rembulan juga menyambut dengan baik. Tapi tanpaknya setelah ada rasa cinta di hati Rembulan untuknya, Radit harus mulai membatasi diri bila ingin bergurau dengan istrinya itu, "Sayang maaf, Abi bercanda," kata Radit dengan cepat mengusap air mata Rembulan.
"Enggak lucu!" kata Rembulan.
"Ya maaf," kata Radit lagi.
Rembulan membuang pandangannya dan ia tidak ingin menatap Radit.
"Sayang maaf," kata Radit yang semakin merasa bersalah, ia merasa salah setelah menyadari pertanyaan bodohnya.
"Iya," ketus Rembulan.
"Sayang," Radit merasa Rembulan masih terlalu cuek, hingga ia terus berusaha deki mendapatkan maaf dari Rembulan.
"Janji jangan ulangi lagi, Umi tersinggung beneran. Abi ngerasa nggak sih? Umi itu hamil sendiri, Abi pergi gitu aja. Biar pun cuman bercanda tapi rasanya sakit banget," jelas Rembulan.
"Sayang maaf," Radit terus memeluk Rembulan, ia benar-benar menyesal, "Hukum Abi aja," kata Radit.
"Ya udah Abi keluar dari sini, kita enggak usah ketemuan dulu!" kara Rembulan.
"Sayang Abi enggak kuat, masa ia satu Minggu. Satu jam aja lah ya?" tawar Radit.
"Abi aneh, nawarnya segitu banget. Dari satu Minggu ke satu jam," jawab Rembulan.
"Kan ada satunya juga Umi, satu Minggu satu jam," jawab Radit yang tidak mau kalah.
Rembulan tersenyum melihat wajah kesal Rafit, tapi sebenarnya Rembulan tidak serius untuk tidak bertemu Radit satu Minggu. Karena ia pun tentu saja tidak bisa.
"Mi," Radit menggenggam tangan Rembulan.
"Em?" Rembulan juga menatap wajah Radit.
"Abi kangen," kata Radit, dan ia semakin mendekat bibir Rembulan. Dalam sekejap ia melahap bibir Rembulan yang sangat ia rindukan itu, Rembulan juga membalas dengan baik.
Clek.
Pintu terbuka dan itu Linda, Linda yang baru tahu tentang Rembulan yang sudah sadar langsung menuju rumah sakit. Bahkan sangking tidak sabarnya Linda langsung masuk, tidak hanya Linda yang masuk. Tapi juga Nina dan Ranti. Dan ada dua pria yang berdiri di belakang wanita itu, Arya dan Mahesa.
"Ya ampun," Linda sengaja berteriak, agar Rafit dan Rembulan segera menjauh. Karena Mahesa dan Arya akan segera masuk.
Dan benar saja, Rembulan langsung mendorong Radit. Dengan kesal Radit juga menjauh.
"Abi," Rembulan cepat-cepat memeluk Raka yang sedang tertidur pulas, sedangkan Radit yang merasa kesal juga cepat-cepat pindah duduk ke sofa. Radit mengacak rambutnya, dan menahan rasa malu.