Mentari

Mentari
Episode 136



Ranti tertunduk lesu, ia juga sangat terluka dengan penjelasan Rembulan. Bahkan kini ia tahu penyebab Rembulan menghilang saat itu, selama ini Ranti menganggap Rembulan adalah biang masalah dari semua ini, tapi ternya tida Rembulan juga hanya korban dari ini semua. Bahkan kedua putrinya ternyata sama-sama korban.


"Ulan, kamu harus tenang ya Nak....." Ranti tahu Rembulan sangat terluka dan ia berusaha untuk menenangkan Rembulan.


"Ulan benci sama Radit, Radit udah jahat sama Ulan Ma!!!" seru Rembulan.


Mentari yang melewati kamar Rembulan tidak sengaja mendengar suara Rembulan yang sepertinya sedang menangis, dengan perlahan dan rasa penasaran Mentari memasuki kamar Rembulan yang pintunya setengah terbuka.


"Kak Ulan, Mama," Rembulan langsung mendekati Mama Ranti dan Rembulan, "Kak ini kenapa? Mama kok juga nangis?" tanya Mentari bingung.


"Nggak papa Dek, kamu ada apa?" tanya Ranti, ia tidak ingin Mentari tahu apa yang sedang terjadi. Karena kenyataannya kandungan Mentari memang bermasalah, ia tidak mau nantinya malah Mentari stres. Karena Mentari sangat menyayangi Rembulan.


"Mama apasih, Mama udah nggak anggap Tari anak lagi ya?" tanya Mentari, tampaknya ibu hamil itu sensitif sekali hingga ia terus bertanya sebelum dijelaskan padanya.


"Radit jahat Tar, dia jahat sama Kakak, dia nggak sebaik yang kita kira," kata Rembulan.


"Umi....." pintu kembali terbuka, dan ia adalah Radit.


Saat beberapa saat lalu Rembulan tengah berbicara dengan Iqbal, dan setelah itu Rembulan pergi begitu saja sambil menangis. Kemudian Iqbal menghubungi Radit dan menceritakan apa yang sudah terjadi, akhirnya Radit meminta Adam untuk menggantikan dirinya. Dan Radit langsung pulang untuk menemui Rembulan. Hingga sampai di rumah ia langsung menuju kamar, dan melihat Rembulan menangis sambil duduk di lantai dan ada Mentari juga dengan Ranti di sana.


Ranti dan Mentari yang melihat Radit. Dan keduanya berdiri.


"Tari permisi," pamit Mentari. Ia keluar dari kamar Rembulan, karena ia tahu sedang ada ketegangan di sana. Mentari memang wanita gesrek yang sangat suka menggoda orang, tapi ia tahu saat nya dan itu bukan waktu yang tepat.


Sementara Radit juga berjalan kearah pintu, dimana ada Radit yang masih berdiri di dekat pintu yang terbuka lebar. Ranti menghentikan langkah kakinya di depan pintu dan menatap Radit, "Selesai masalah kalian dengan baik-baik, jangan bawa emosi....ada nyawa lain di rahim Rembulan," setelah mengatakan itu Ranti langsung keluar dari kamar, Ranti hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak nya hingga ia sangat berharap semua baik-baik saja. Walaupun sejujurnya ia sangat kecewa pada Radit yang sudah merusak keluarganya.


Radit menatap Rembulan yang terdiam di lantai, bibirnya terus saja bergetar karena tangisan. Ada rasa bersalah yang ia rasakan, sungguh Radit tidak menyangka Rembulan begitu kecewa padanya. Sebenarnya Radit memang ingin menceritakan semuanya dan minta maaf pada Rembulan, hanya saja tidak sekarang. Ia menunggu sampai Rembulan lahiran dan setelah ia dan Rembulan menikah resmi, karena setelah itu Rembulan sudah menjadi miliknya tanpa bisa lagi pergi darinya. Bahkan Radit siap dengan segala kemarahan Rembulan, namun tampaknya semua tidak berjalan dengan yang ia rencanakan. Justru Rembulan tahu lebih awal, bahkan dari bibir orang lain. Perlahan Radit berjalan mendekat Rembulan, ia ikut berjongkok tapi Rembulan membuang pandangannya kearah yang lain.


"Maaf," kata Radit dengan kepala tertunduk.


Rembulan kembali menatap Radit, air matanya terus saja menetes ia sungguh sangat terkejut dengan apa yang ia ketahui saat ini, "Kalau kamu sayang sama aku kenapa nggak sejak dulu kamu bilang Dit?" tanya Rembulan dengan suara lemahnya, "Kita berteman lama, kemana-kemana selalu bersama....kenapa kamu nggak ngomong, kenapa di saat aku udah mau nikah sama Arka kamu malah menjebak aku Dit? Semua rusak karena kamu!" teriak Rembulan penuh luka, "Masa depan adik aku hancur karena kamu Dit, dia harus menikah tanpa cinta dulu Dit, aku hampir mati bunuh diri karena nggak di terima sama keluarga aku sendiri! Kamu kemana?!" tanya Rembulan, "Kamu nggak ada! Kamu pergi, dan kembali saat bertunangan dengan wanita lain, kamu hampir menikahi wanita lain di saat kamu sudah berhasil menghancurkan aku Dit! Kamu jahat!" teriak Rembulan.


Ingin sekali Rembulan berdamai dengan perasaan nya, ingin sekali Rembulan melupakan masalah ini karena rasa cinta untuk Radit sudah tumbuh di hatinya. Tapi tidak bisa, hal yang di mulai dengan kecurangan pasti berakhir dengan kehancuran. Perasaan yang berapi karena di permainkan begitu menggores sampai relung hati.


Tidak ada yang bisa ia katakan selain kata maaf, ia tahu apa yang ia lakukan adalah kesalahan. Tapi ia sudah sangat mencintai Rembulan, hingga ia dengan mudahnya melakukan hal tersebut.


"Keluar dari sini! Aku mau ceraikan aku setelah anak ini lahir!" tegas Rembulan dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


"Ulan, aku minta maaf," kata Radit lagi.


"Keluar!" teriak Rembulan, "Keluar Radit!"


Radit mengangguk, ia merasa saat ini Rembulan butuh waktu sendiri. Ia benar-benar menyesal atas apa yang sudah ia lakukan pada Rembulan, perlahan Radit berjalan menuju pintu.


"Hiks....hiks....hiks....." Rembulan menangis dan terus menangis, rasanya sangat sakit sekali. Hingga tangannya mulai meremas perutnya, "Aaaa....." rintih Rembulan, ia perlahan berdiri ternyata sudah ada banyak darah di lantai. Sejak kapan darah itu keluar Rembulan sama sekali tidak menyadarinya, ini sudah untuk yang kedua kalinya ia pendaran dan kali ini sangat sakit sekali.


Radit yang sudah di depan pintu merasa tidak mendengar suara tangisan Rembulan, ia berbalik saat akan menutup pintu. Dan mengikuti arah pandang Rembulan yang menatap lantai putih dengan banyak cairan merah, bahkan wajah Rembulan semakin memucat.


"Ulan," Radit mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar, ia kini kembali mendekati Rembulan.


"Tidak usah perdulikan aku! Sejak kapan kau perduli pada ku! Aku pernah hampir mati karena kau...." ujar Rembulan penuh kebencian, "Pergi dari sini!"


"Ulan, ini sangat berbahaya," Radit berusaha mendekati Rembulan.


"Tidak perlu, aku tidak butuh bantuan mu! Pergi dari sini tinggalkan saja aku!" teriak Rembulan.


"Ulan.....darah ini banyak sekali...." kata Radit semakin panik.


"Biarkan saja tidak apa! Bahkan selama kau tidak ada pun aku sudah biasa menahan sakit ku sendiri!" seru Rembulan. Tangannya terus meremas memegang perutnya yang terasa sakit, hingga perlahan kesadaran Rembulan mulai menghilang.


"Ulan...." dengan cepat Radit menangkap Rembulan, ia membaringkan Rembulan di ranjang. Dengan alat seadanya ia mulai menangani istrinya, tangan Radit terus bergetar memegang cairan merah yang tanpa henti keluar dari diri Rembulan.


*


Like dan Vote ya Kakak.