Mentari

Mentari
Episode 140



Buk!!!


Buk!!!


Buk!!!


Arka terus melayangkan bogem mentah pada Radit, rasanya Arka sudah muak dengan Radit yang selalu bertindak semaunya. Bahkan kini Radit terduduk di lantai, dengan ada darah di sudut bibirnya. Perlahan Arka setengah berjongkok dan menarik kerah kemeja Radit.


"Kau punya otak apa tidak?!" tanya Arka dengan emosi, "Dulu kau menjebak Rembulan, setelah kau mendapatkan nya sekarang dia kau biarkan!" kesal Arka dan menghempaskan Radit.


"Kak Radit sebenarnya gimana sih? Kakak sayang nggak sama Kak Ulan?!" Mentari juga geram kepada Radit, sungguh Radit sangat berbeda dengan Arka.


Radit menundukkan kepalanya, tidak tahu harus bicara apa pada Mentari dan Arka.


"Jawab dong Kak Radit, maunya apa?!" seru Mentari.


"Apa yang harus aku katakan Mentari, aku sadar aku salah dan sekarang aku menyerah saja pada keadaan......mungkin takdir ku memang bukan bersama Ulan," jawab Radit dengan putus asa.


"Sekarang kau berani berkata begitu! Dulu saat berhadapan dengan ku dengan angkuhnya kau mengatakan hanya kau yang pantas untuknya!" ujar Arka, karena saat dulu itulah yang dikatakan oleh Radit. Saat itu Arka sangat marah karena mengetahui dengan sengaja Radit melakukan hal itu, tapi Radit berkata seolah tidak ada yang pantas menikahi Rembulan selain dirinya.


"Kak Radit tega banget, Kak Ulan sekarang entah kemana....." ujar Mentari sambil menangis.


Radit langsung berdiri dan melihat Mentari, "Ulan entar kemana?" tanya Radit terkejut.


"Iya, dia stres kadang tertawa karena tidak jelas, kadang menangis tiba-tiba, kadang dia bicara sendiri! Dan itu karena Kakak yabg udah menghancurkan semua!!!" teriak Mentari.


Radit melongo mendengar apa yang dikatakan oleh Mentari, ia seperti semakin bertambah berdosa sudah menghancurkan Rembulan seperti sekarang.


Brak!!!


Terdengar lagi suara pintu yang di banting, dan itu Nina yang datang bersama dengan suaminya. Mereka ke sana karena Arka yang memberitahu tentang persembunyian Radit, tentu saja Nina tidak akan menunda untuk menemui putra nya.


"Dasar anak tidak tahu diri!"


Plak!


Tangan Nina langsung melayang di pipi Radit begitu saja, nafas nya sudah menggebu karena menahan amarah.


"Apa kau sudah tidak berniat menemui istri mu?" tanya Nina.


"Ma, kenapa semua menyalahkan Radit, bukannya Ulan enggak mau Radit ada di sana?" tanya Radit.


"Mama bicara apa?!" kata Radit kesal, "Radit masih suami Ulan, tapi kenapa Mama yang malah mau menikahkan Ulan dengan orang lain?" tanya Radit dengan tidak mengerti maksud dari Nina.


Nina kembali menatap Radit, "Bukannya tadi kamu bilang kalau Ulan tidak mau melihat mu lagi, dan kamu pun tidak ingin lagi berusaha untuk mendapatkan maaf dari Ulan, jadi kamu jangan lagi temui Ulan.....nanti Mama kabari kalau anak kamu sudah lahir agar kamu bisa menceraikan Ulan dan dia menikah segera dengan orang lain yang bisa membahagiakan nya!" kata Nina.


Nina menghempaskan tangan Radit yang terus memegang lengannya, kali ini kemarahan Nina sudah sampai pada puncaknya. Tidak bisa lagi di toleransi tapi apa yang di lakukan Radit sudah sangat keterlaluan sekali, tidak perduli Radit adalah anaknya sendiri. Karena di kandungan Rembulan juga ada cucunya, tidak mungkin Nina menyia-nyiakan janin yang tidak bersalah itu.


"Ma, maksud Radit nggak gitu Ma...." kata Radit sambil terus berusaha menghentikan langkah kaki Nina.


"Sudahlah.....salahkan saja Rembulan, Rembulan salahkan Radit?" tanya Nina, "Kamu mau menghukum Rembulan kan? Karena dia yang menolak kamu untuk bertanggungjawab?" tanya Nina lagi tersenyum sinis, "Tapi satu yang harus kamu tahu Radit, yang membutuhkan kamu itu bukan Rembulan tapi anak kamu yang masih di kandungan Rembulan!" Nina menunjuk kepada Radit, "Kamu dokter ya? Tapi sayang kamu enggak peka dengan keadaan istri kamu sendiri," ujar Nina lagi, dan ia sejenak menjeda ucapannya, "Kamu mau yang gampang aja, kami mau setelah bikin orang menderita dengan mudahnya orang itu menerima keadaan ini seolah itu bukan masalahkan? Katakan saja ini sudah takdir dan harus di terima, tapi semua tidak semudah itu Radit, jadi sekarang kamu mau bersama Rembulan perjuangkan, jika tidak ceraikan dia biarkan orang lain yang menikahinya.....Mama sendiri yang akan mencarikan orang yang bersedia membahagiakan nya!" tegas Nina lalu ia pergi begitu saja, bahkan ia menyenggol lengan Radit sambil melewatinya.


"Ma!!!!" Radit mencoba memanggil Nina, tapi Nina sudah tidak ingin berbicara lagi dengan Radit. Ia pergi dengan Mahesa dan meninggalkan Radit dengan wajah kecewa.


"Otak itu di cuci, supaya bersih!" ujar Arka.


"Arka sebenarnya Ulan di mana?" tanya Radit panik.


"Kak Ulan pergi, gara-gara Kakak!" jawab Mentari sambil menangis.


"Sayang," Arka sangat takut bila istrinya malah nantinya ikut stres. Padahal itu yang harus sangat di hindari, "Jangan terlalu di pikirkan ya," pinta Arka.


Mentari menjauh dari Arka, "Gimana enggak mikirin, Kak Ulan itu Kakak Tari," Mentari mengusap air matanya, ia masih terlalu mengkhawatirkan Rembulan.


Arka menatap Radit, "Kalau sampai terjadi sesuatu pada istri ku!" Arka mengepalkan tangannya, "Habis kau di tangan ku!" ancam Arka.


"Tapi apa hubungannya dengan aku?" tanya Radit.


"Kemari!" Arka menarik Radit, dan membawanya ke dapur. Sampai di dapur Arka menyalakan keran air pada wastafel, kemudian memasukan kepala Radit kedalam nya.


"Apa yang kau lakukan!" seru Radit sambil berusaha mengeluarkan kepala nya.


"Agar otak mu itu bisa bekerja dengan baik lagi, agar otak mu itu bisa berpikir hal baik bukan hal licik saja yang kau tahu!" Arka mengeluarkan kepala Radit, tapi hanya untuk mengambil nafas. Setelah itu ia kembali memasukan kepala Radit lagi, dan mengeluarkan nya lagi hingga berulang kali Arka terus melakukan hal tersebut.


"Arka!" Radit melepaskan diri dan menatap tajam sepupunya itu.


"Kalau kau hanya ingin menghancurkan Rembulan, lebih baik habisi saja dia! Agar tidak ada orang lain yang ikut tersakiti!" tegas Arka, "Karena dengan menyakiti Rembulan secara perlahan bukan hanya Rembulan yang menderita, tapi orang-orang di sekitarnya juga termasuk istri ku!" geram Arka.


Mentari yang dari tadi diam menyaksikan Radit dan Arka mulai berbicara, "Lihat Kak Radit suami ku, dia selalu ada membela dan melindungi aku! Tidak seperti Kak Radit, jika menghabisi Kak Rembulan jangan lupa habisi juga aku," Mentari mengambil benda tajam pada meja dan meletakkannya di tangan Radit.


"Sayang," Arka dengan cepat menarik tangan Mentari.