
"Apa anda sudah tidak waras Pak?",Jimi mencibir. Dia sedang berada di ruangan Rayan karena sang direktur memanggilnya.
"Anggap saja aku sedang beramal Jim". Berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju sofa tempat Jimi duduk."Apa beramal kau anggap tidak waras?",Rayan sembari mendudukkan bokongnya di sebuah sofa single.
"Tak masalah jika anda tidak membawa nama perusahaan Pak. Bagaimana kalau kakek anda tahu atau karyawan lain tahu? Mereka akan menuntut pertanggungjawaban yang sama"
"Padahal perusahaan kita sudah memberikan kompensasi sesuai prosedur",imbuhnya lagi.
"Udahlah Jim jangan banyak komentar. Lakiun aja seperti yang aku bilang tadi"
"Anda ingin menanggung semua biaya kuliah nona Mentari Pak?"
"Ya. Gunakan uang pribadiku"
Jimi menghela napas berat. Mau tak mau harus menuruti perintah atasannya itu. Kasihan sekali gadis itu, batin Jimi miris.
"Bilang sama Mentari, suruh datang ke sini besok"
"Hmmm,ya baiklah Pak". Jimi berdiri, lalu undur diri dari hadapan Rayan.
***
Awan melempar beberapa lembar foto secara kasar ke atas meja kerjanya. Ada Indra dan James,orang kepercayaan Awan yang selama ini mengawasi Mentari untuknya.
"Bagaimana menurut lo Ndra?", Awan menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di meja.
"Apa lo ada masalah dengan Rayan selama ini?",Indra malah balik bertanya.
"No!",jawab Awan tegas.
"Setahu gue Rayan tahu Mentari itu cewek lo boss",ia beralih mengambil foto-foto yang sudah berantakan karena Awan." Foto ini belum cukup membuktikan apa-apa boss"
"Bagaiman menurut kamu James?",Awan bertanya pada orang yang mendapatkan foto itu. Foto Mentari dan Rayan yang memasuki mobil Rayan.
"Sejauh ini tidak ada tanda-tanda hubungan antara pak Rayan dengan Mentari selain hubungan kerja ayahnya Mentari Pak"
"Lalu apa maksud semua ini? Kenapa mereka bisa sedekat itu?", Awan tidak terima Mentari di dekati oleh Rayan. Iya kalau Rayan memang tulus,kalau tidak?! Awan tahu permainan licik seorang pengusaha karena ia pun juga pengusaha. Ia takut Mentari terlibat masalah. Entahlah, Ia tak yakin dengan seorang Rayan.
" Jangan khawatir dulu boss. Biar James selidiki lebih jauh lagi"
"Oke, lakukan tugas kamu James!"
"Baik Pak!", James menunduk sedikit kemudian keluar dari ruangan Awan.
"Gue masih terima kalau bocah tengik itu yang deketin Mentari. Setidaknya selama ini dia tidak pernah melakukan hal yang aneh kepada Mentari"
"Tapi lo sempet kebakar cemburu juga kan boss waktu di puncak sama tuh bocah", Indra mencibir.
"Wajarlah gue serius sama Mentari"
"Hmmm,ya ya...",Indra manggut-manggut. " Yang penting sekarang lo tahu kalau mereka hanya berteman boss. Ya...meskipun anak itu sepertinya berharap banyak sama Mentari"
"Tapi gue yakin, Mentari cuma mencintai gue Ndra", Awan berbangga diri.
" Serah lo deh boss. Suka- suka lo", Indra geleng-geleng kepala. "Gue aja bingung lo bisa sebucin ini sama anak SMA yang baru lo kenal boss"
"Gue sendiri juga bingung Ndra", Awan terkekeh.
"Lo udah dapet keperawannya ya?",selidik Indra.
"Ngaco lo!", Awan melempar map berisi berkas entah apa ke wajah Indra. " Gue sangat menjaga dia Ndra"
"Gue heran deh. Mentari itu wajahnya biasa aja,bodinya juga masih rata. Tapi kenapa cowok-cowok pada bucin sama dia sih? Jangan-jangan dia pakai susuk boss", Indra berbicara ngelantur. Dia membereskan berkas berantakan yang dilemparkan kepadanya tadi.
Awan hanya menaikkan satu sudut bibirnya sambil geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan pemikiran Indra.
"Apa gue coba deketin dia aja ya boss biar gue tahu apa yang menarik dari dia", sungguh ide yang bisa membuat dirinya dalam bahaya.
Awan menatap tajam Indra." Kalau sampai lo berani,gue bikin bini lo balik ke mantannya", ancam Awan.
"Canda boss. Elah...gitu aja ngambek", Indra jiper dengan ancaman Awan. Dia cinta mati kepada istrinya.
Awan berdiri dari duduknya. Menuju kaca besar yang menampakkan pemandangan dari ketinggian.
Indra mendekati Awan. Menepuk pelan bahu kekar itu sambil merangkulnya." Sabar sebentar boss. Kita tinggal nunggu pengakuan dari Juan". Juan adalah orang yang dicurigai sebagai ayah si janin dalam perut Lusi.
"Gue nggak bisa lama-lama biarin Mentari dikejar banyak pria Ndra. Hati gue sakit", Awan meremas dada kirinya yang seras diiris sembilu. Selama ini dia memendam rasa luar biasa terhadap Mentari. Dia memang jauh, tapi dia selalu memantau Mentari. Dia tak ingin Mentari mengalami sesuatu yang buruk.
"Sabar boss,bukannya selama ini lo lihat dia baik-baik saja?"
"Ya, dia lebih aman bersama Angga daripada dekat dengan Rayan. Gue ngerasa ada yang nggak beres sama Rayan"
"Lo tahu boss?kayaknya cinta kalian sama-sama kuat", Indra tertawa kecil. "Menurut James, Angga sudah mulai bermain dengan banyak cewek lagi. Menurut pengamatannya, Angga tak sanggup terus-terusan di PHP sama Mentari.Mentari nggak bener-bener bisa ngasih hatinya ke orang selain lo. Mungkin itu juga berlaku buat Rayan kalau memang dia berniat mendekati Mentari"
"Gue harap gitu Ndra. Gue akan segera menikahi Mentari kalau masalah Lusi selesai"
"Doa terbaik gue buat lo boss, sahabat gue",Indra tersenyum yang dibalas senyum pula dari Awan.
***
"Loh, Pak Rayan? Ada perlu apa Pak? Bukannya besok saya di suruh ke kantor bapak?", Mentari terkejut mendapati tamu yang mengetuk pintunya adalah Rayan.
Rayan tersenyum menikmati wajah terkejut Mentari. "Iya, besok urusan kamu dengan Jimi. Kalau sekarang urusannya dengan saya"
"Ada apa Pak?", Mentari penasaran.
"Boleh saya masuk?"
"Oh iya, silahkan Pak", Mentari menggeser tubuhnya mengijinkan Rayan untuk masuk.
"Silahkan duduk Pak",ucapnya lagi." Maaf rumahnya kecil", Mentari merasa tak pantas Rayan bertamu ke rumahnya.
"Kamu tinggal sama siapa Mentari?"
"Sendiri Pak, abang tinggal di Bogor". Mentari hampir duduk,tapi teringat sesuatu." Oh iya, mau minum apa Pak?"
"Adanya apa?"
"Teh atau kopi atau air putih?"
"Teh manis aja boleh"
Mentari bergegas menuju dapur untuk membuat teh untuk Rayan.
"Silahkan diminum Pak, maaf seadanya". Mentari duduk di depan Rayan setelah meletakkan cangkir teh di atas meja.
"Terima kasih", Rayan meneguk sedikit tehnya.
"Ada apa ya pak sampai bapak repot-repot datang kesini?"
"Jangan panggil saya Pak, kamu bisa panggil saya Om seperti kamu panggil pak Awan dan pak Indra"
Mentari tersenyum kaku. "Iya Pak,eh Om"
"Santai aja Mentari. Saya cuma ingin main ke rumah kamu aja"
Mentari mengernyit. Apa iya seorang direktur hebat mau berkunjung ke rumah Mentari hanya karena 'ingin main'?
"Jangan takut sama saya Mentari. Anggap saya sama dengan pak Awan dan Pak Indra. Saya rasa kami juga seumuran"
Bedalah...apanya yang sama. om Awan dan om Indra kan udah kenal baik.
" Iya pak, eh Om", Jawabnya kikuk.
"Kamu sudah punya kampus pilihan?",Rayan mencoba mencairkan suasana.
"Udah sih Om, tapi saya takut nggak di acc sama perusahaannya om"
"Pilih saja, kami membebaskan soal itu"
"Beneran Om?",Mentari kembali antusias.
"Ya memang begitu kebijakannya". Sekali lagi Rayan berbohong dan Mentari percaya.
Sungguh tingkah polos dan lucu Mentari mengingatkannya kepada sosok Amel 11 tahun lalu.