Mentari

Mentari
Episode 106



"Kandungan kamu udah berapa bulan?" tanya Nina lagi.


"Dua Ma," kata Rembulan.


"Em......" Nina mengangguk, "Mama boleh pegang?"


Rembulan mengangguk, karena ia sungguh terharu dengan kebaikan hati mertuanya yang menerima nya dengan begitu baik.


"Cucu Oma..... baik-baik ya Nak, biar nanti kita bisa main bareng," kata Nina seolah ia tengah berbicara pada cucunya yang masih di kandungan Rembulan.


"Iya Oma...." jawab Rembulan, walaupun terasa canggung tapi Rembulan tetap berusaha biasa saja. Karena Nina terlihat sangat baik.


Setelah perbincangan hangat antara kedua orang tua Radit dan Rembulan, kini mereka memutuskan untuk makan siang bersama di kediaman Arya. Itu hanya sekedar makan siang biasa agar mereka lebih dekat lagi.


Semua kini bahkan sudah duduk di kursi meja makan, kecuali Radit. Karena ia ada pekerjaan di rumah sakit, hingga tidak bisa datang ke sana. Bahkan ia tidak tahu jika orang tuanya mendatangi kediaman keluarga Rembulan.


"Ayo Jeng," Ranti mempersilahkan semuanya untuk mulai makan.


"Iya," Nina mulai mengambil nasi begitu juga yang lainnya.


Mereka terlihat bahagia, dengan beberapa obrolan ringan yang menjadi topik pembicaraan.


"Ulan kamu kapan pindah ke rumah Mama," kata Nina, sebab Rembulan juga ikut makan bersama.


Rembulan tersenyum dan ia tidak langsung menjawab, yang ada ia melihat kearah Papa Arya. Karena Rembulan menurut saja apa yang di katakan oleh kedua orang tuanya.


"Kok kamu bingung sih?" ujar Nina lagi sambil menyendok nasi kemulut nya.


"Kamu apasih Nin, kasian Ulan lah.....baru kenal kamu kok udah maksa dia sih, buat tinggal sama kamu," jawab Linda, karena ia merasa tidak tepat saat ini membicarakan itu.


"Aku udah nggak sabar lho Mbak, aku kan juga pengen bawa mantu sama cucu ku ke rumah," kata Nina lagi.


"Iya juga sih....." Linda mengangguk dan mulai mengerti dengan keinginan adik iparnya, karena ia juga begitu dulunya ingin Mentari tinggal bersama dirinya.


"Saya mohon maaf Nyonya, kalau Rembulan tinggal bersama anda kami tidak melarangnya.....hanya saja untuk saat ini saya tidak mengijinkannya, karena Radit belum memintanya dari saya.....dan Radit pun belum menikahi anak saya secara resmi," Arya mulai bersuara, dengan alasan yang menurutnya sangat logis. Ia tidak ingin harga diri anaknya di injak-injak, walaupun itu tidak mungkin terjadi. Tapi takdir tidak ada yang tahu hingga ia ingin memastikan dulu posisi anaknya dengan baik di keluarga Mahesa sebagai istri sah secara hukum dan agama. Karena ia hanya ingin yang terbaik untuk putri sulungnya.


"Tentu saja tuan Arya, kami mengerti.....kita nikahkan saja mereka dalam waktu dekat ini," jawab Mahesa, karena ia juga mengerti dengan perasaan menjadi seorang ayah seperti apa pada anaknya. Mahesa pun bisa melihat jika Arya sangat mencintai anak-anak nya, "Agar semua lebih baik."


"Caelah Kak," Mentari yang duduk di sebelah Rembulan, mulai menyenggol Kakaknya, "Kawin resmi juga lu," bisik Mentari.


"CK...." Rembulan sangat kesal, karena adiknya itu sekarang memiliki hobi baru. Yaitu menggoda dirinya dan Radit.


Mentari tahu Rembulan kesal padanya, kemudian ia tersenyum pada suaminya yang duduk saling berhadapan dengan nya. Namun tanpa di duga Arka mengedipkan sebelah matanya, Mentari malah tersenyum dan berbunga-bunga dengan keromantisan Arka. Tapi tidak ada yang menyadari pasangan muda itu, kecuali Rembulan. Karena Rembulan duduk di samping Mentari. Rembulan hanya menggaruk kepala melihat keromantisan konyol dua pasutri yang terus berbunga-bunga itu.


"Saya menghargai maksud baik anda tuan Mahesa," ujar Arya seraya tersenyum, "Tapi sebaiknya pernikahan di laksanakan setelah Rembulan melahirkan, bukan kah itu yang benar begitu tuan?"


"Iya Anda benar tuan Arya, bagaimana baiknya saja.....yang terpenting kita bahagia," tambah Mahesa dengan bahagia.


"Kalau begitu Rembulan dan Radit akan menikah ulang setelah Rembulan melahirkan?" tanya Anggara yang dari tadi diam, karena ia ingin mendapatkan satu keputusan yang baik di sana.


"Iya," kata Arya.


"Itu baik sekali, dan saya rasa kita semua sangat setuju ini," Anggara terkekeh, karena semua terlihat bahagia dengan kehangatan keluarga mereka.


"Nanti Ma, sabar dulu.....Mama saja untuk sementara main kesini," jawab Mahesa.


"Iya baiklah," kata Nina, dan semua tersenyum.


"Jadi begini Jeng, saya mau resepsi untuk Arka dan Mentari juga di adakan.....mengingat pernikahan mereka yang sangat menyedikan dulu," kata Linda sambil terkekeh, karena ia baru menyadari ternyata Mentari dan Arka sedang saling pandang-pandangan.


Namun keduanya seketika menghentikan pandangan mesranya karena menyadari nama mereka di sebut, "Dalam waktu dekat ini saya mau buat resepsi, lagi pula agar tidak terlalu berdekatan dengan resepsi nya Radit dan Rembulan nantinya."


"Iya jeng, saya setuju sekali.....saya juga ingin sekali membuat resepsi," Ranti tersenyum bahagia mendengar rencana besannya itu.


"Caelah Kak Ulan, entar malam udah di kelonin Kak Radit lagi niye....." seloroh Mentari dengan suara yang cukup keras hingga sampai di telinga yang lainnya.


Wajah Rembulan memerah, karena Mentari tidak tahu waktu sekali, "Brisik lu!" gertak Ulan dengan suara pelan.


"Cie Kak Ulan...." seloroh Mentari lagi.


"Ish...." Rembulan langsung mencubit lengan Mentari.


"Mama!!!!" seru Mentari, "Kak Ulan jahat, cepet-cepet aja kawinin sama Kak Radit biar dia pergi dari sini...." kata Mentari, cepat-cepat ia bangun dari duduknya. Karena takut pada Rembulan, setelah itu ia pergi bersama Arka yang menyusul di belakangnya.


"Dasar, pasangan bucin," gumam Rembulan.


"Maaf ya Jeng, Mentari memang sangat jail sekali sama Kakaknya Ulan.....dia memang sudah menikah, tapi sipat jailnya tidak pernah hilang," kata Ranti dengan tidak enak hati.


"Tidak masalah Jeng, justru saya suka anak seperti Mentari....dia terlihat selalu ceria dan kalau ada anak seperti Mentari rumah akan terasa ramai Jeng, nggak seperti rumah saya terasa sepi sekali," kata Nina, dan seperti nya rumah nya sebentar lagi juga akan terasa ramai setelah Rembulan tinggal bersamanya. Apa lagi bila ada Mentari yang berkunjung lengkap sudah keramaiannya.


"Semuanya, Ulan ke kamar dulu ya...." Rembulan bangun dari duduknya, ia merasa ingin istirahat hingga ia memutuskan untuk ke kamar saja.


"Biar Mama bantu," Nina juga ikut bangun, dan dengan cepat ia memegang lengan Rembulan.


"Makasih Ma," kata Rembulan tersenyum.


"Iya," Nina dan Rembulan mulai berjalan menaiki anak tangga.


"Jadi semuanya sudah kita putuskan, kalau Rembulan dan Radit akan menikah ulang setelah Rembulan melahirkan begitu ya tuan Arya?" tanya Mahesa lagi.


"Iya benar sekali tuan, saya tidak melarang Radit untuk menemui Rembulan.....hanya saja kalau ia mau tinggal di sini bersama kami silahkan," ujar Arya dengan senyuman.


"Sepertinya tidak usah tuan Arya," kata Mahesa.


"Kenapa tuan?" tanya Ranti yang bingung.


"Biarkan anak nakal itu mendapatkan hukumannya dulu, karena dia sudah sempat menyia-nyiakan menatu dan cucu ku yang sedang di kandang Rembulan," kata Mahesa sambil terkekeh.


"Nah ini bener nih," Linda mengangguk, "Dia mau datang silahkan, biar dia dapat hukumannya.... sama kita juga dia jahat udah nyimpan pernikahan nya," tambah Linda.


"Terserah bagaimana baiknya saja," kata Arya.


Semua ikut tertawa renyah, karena keakraban mereka yang terlihat semakin hangat. Dan sebentar lagi akan ada resepsi untuk Mentari dan Arka juga. Yang kemudian di susul oleh Rembulan dan Radit.