
"Ini gara-gara lu Kak!!!" Mentari membawa baby twins ke kamar dan mulai memberikan asi pada dua bayinya, Mentari memang belum terlalu pintar dalam mengurus bayi. Tapi untuk memberikan asi sekaligus pada kedua bayinya ia sudah cukup pintar, sebab dokter sudah mengajari dirinya.
Setelah dua jam berlalu akhirnya Mentari berhasil menidurkan dua bocah kesayangannya, perlahan Mentari memasukan baby Sea ke dalam box bayi. Setelah itu barulah Satya.
"Huuuufff......." Mentari menarik nafas, merasakan bertapa indahnya saat kedua bayinya sudah tertidur, "Indahnya nikmat mu Ya Allah....." kata Mentari dan ia langsung melempar dirinya pada ranjang, tidak lupa dua tangannya yang juga terlentang dengan nyaman.
Tidak lama berselang datang seorang pria bertubuh kekar dan langsung masuk, mata elangnya menatap seorang wanita cantik yang berstatus istrinya. Dengan langkah kaki yang cukup pelan Arka mendekati Mentari.
"Kami kayaknya capek banget yang?" tanya Arka saat melihat wajah lelah istri nya.
"Lumayan Kak, tapi nikmati aja," jawab Mentari.
"Aduh, kasihan. Sini Kakak pijitin," Arka ikut naik ke atas ranjang.
Mentari tersenyum saat Arka menawarkan pijitan, dan tentunya itu bisa membuatnya lebih rileks pikir Mentari. Namun pijitan itu terasa aneh, karena Arka hanya memijit bagian yang menurut Mentari tidak seharusnya.
Plak!
Mentari langsung bangun, dan memukul tangan Arka.
"Aduh yang," Arka meringis dan menggosok tangan nya.
"Katanya mau pijitin!!!"
Arka dan Mentari kini duduk bersila di atas ranjang, jika Arka menatap Mentari dengan wajah melas sambil menggosok tangannya. Maka lain halnya dengan Mentari yang menatap Arka penuh kekesalan.
"Kakak kan tadi beneran mijitin," jawab Arka, karena barusan memang ia memijat Arka.
Mentari memutar bola matanya, karena kesal pada Arka, "Pijitan Kakak itu lho, pijitan apaan model begitu!!!" geram Mentari.
"Hehehe....." Arka tertawa kecil, "Yang penting kan mijitin yang!" Arka tetap berusaha membela dirinya dan merasa benar.
"Pijitan nyeleneh!" gerutu Mentari.
"Sayang kopi satu," pinta Arka.
Mentari langsung melebarkan matanya, karena baru saja Arka di marahinya. Tapi sudah meminta kopi.
"Ya udah bentar, Tari minta tolong sama Bik.Sum," jawab Mentari sambil kakinya mulai turun dari ranjang.
"Enggak, harus kopi buatan kamu!" kata Arka lagi.
"Apa bedanya coba buatan Tari sama buatan Bibik!" geram Mentari.
"Kami kenapa sih? Biasanya juga enggak pernah protes!"
"CK....." Mentari berdecak kesal dan kembali duduk pada sisi ranjang, "Jadi semalem itu Raka kan bobo sama Mama."
"Iya terus?" Arka mendengarkan curhatan hati istri, andai Mentari orang lain ia pasti tidak akan mau. Tapi kali ini ia sudah terbiasa mendengar curhatan hati istri nya, sebab kalau tidak akan menjadi masalah yang besar.
"Terus, Tari minta malam ini baby twins yang bobo sama Mama. Tapi Mama nolak," jelas Mentari.
"Ya salahnya di mana?" tanya Arka bingung.
Buk!
Mentari melempar bantal pada dada Arka, "Makanya dengerin dulu!" kesal Mentari, "Orang belum selesai bicara udah nyambar aja kayak gedek!" gerutu Mentari.
Arka mengusap dadanya, dan banyak beristighfar agar tidak emosi hingga menimbulkan perdebatan, "Ya maaf, ayo lanjut cerita."
"Jadi Tari ngerasa kalau Mama pilih-pilih, kenapa Mama enggak mau kalau bobo sama baby twins? Alsan Mama itu capek, terus kalau ke Kak Ulan Mama bilang karena Kak Ulan kasihan dia belum pernah rasain nikah selayak nya!" geram Mentari, "Emangnya kita begitu nikah langsung bahagia? Enggak! Kita nikah banyak dramanya juga kan Kak?!" kesal Mentari.
Tatapan Mentari mulai tajam dan itu membuat Arka tidak lagi berani berbicara.
"Jadi Kakak bela Kak Ulan juga!"
"Kakak enggak belain siapa-siapa sayang."
"O, sekarang Kakak juga udah enggak butuh sama Tari!"
"Aduh...." Arka menggaruk kepalanya, karena berhadapan dengan wanita sangat sulit sekali. Bahkan Arka yang seorang mafia pun langsung kalah bila berhadapan dengan Mentari, padahal Arka sering menghadapi mafia seperti Dimitri suami dari Lala yang kejam dan seorang yang tidak segan melenyapkan setiap orang yang tidak ia inginkan. Tanpaknya istrinya jauh lebih menyeramkan, hingga Arka tidak tahu harus melakukan apa.
Arka merangkul pundak Mentari, "Sayang kamu mau liburan enggak?" tanya Arka dengan hati-hati.
Bibir Mentari seketika tersenyum, dan kini ia menatap Arka dengan rasa penasaran, "Mau."
"Kita liburan ke Bali, soalnya sekarang ini sedang pandemi. Jadi kasihan anak-anak kita kalau di bawa ke luar negeri, jadi pilihan Kakak ya ke Bali," kata Arka lagi.
"Ok, Tari setuju," Mentari tersenyum mengangguk tanpa membantah apa lagi marah.
"Gitu dong kan enak kalau senyum," kata Arka yang sudah mulai bahagia karena melihat istrinya.
Tapi tidak dengan tanggapan Mentari yang malah jauh dari dugaan Arka, sebab saat ia mengatakan itu kini wajah Mentari kembali lagi terlihat tidak enak, "Jadi menurut Kakak, Tari ini bisa enggak cantik! Atau Kakak udah naksir sama yang lain, udah hamil, udah gemuk, udah enggak menarik. Jadi udah enggak menarik!!" kesal Mentari.
"Racun!" gumam Arka, "Sayang maksud Kakak enggak begitu...." Arka mencoba untuk mengusap punggung Mentari.
"Enggak usah pegang-pegang!" kesal Mentari.
"Sayang."
"Lepas!!!"
"Suaranya, nanti anak kita bangun gimana? Kan kasihan," kata Arka mencoba kembali menenangkan emosi Mentari.
"Kakak juga ngeselin!"
"Nanti pas di Bali kamu shopping sepuasnya, terus Kakak juga punya kejutan buat kamu," kata Arka sambil memeluk Mentari.
"Kejutan?" tanpaknya Mentari cukup penasaran dan kini ia menatap Arka dengan penuh tanya.
"Iya, dan kejutannya Kakak yakin kamu pasti suka sekali," jelas Arka lagi.
"Makasih Kak, Tari pasti suka apapun kalau dari Kakak," Mentari seketika tersenyum lebar.
"Huuuufff wanita memang penuh misteri," gumam Arka, "Sayang buatkan Kakak kopi, besok pagi kita berangkat ke Bali," kata Arka.
"Ok," Mentari langsung bangun dari duduknya, dan ingin membuat kopi untuk Arka.
Kaki Mentari melangkah keluar dari kamar, dan sampai di depan kamar ia melihat Rembulan yang berjalan dengan santai.
"Ngapain lu ngeliat gue gitu banget!" tantang Rembulan.
"Biasa aja!" ketus Mentari.
"Lu liat gue, malam ini bisa honeymoon lagi. Karena anak gue di bawa Oma Nina tersayang," Rembulan dengan angkuhnya berbicara dan langsung masuk ke kamarnya, "Bye..." kata Rembulan lagi dan ia tersenyum penuh kemenangan.
Mentari tidak jadi membuatkan kopi untuk Arak, ia kembali masuk ke dalam kamar, "Kak hiks.....hiks...." Mentari menangis dan langsung memeluk Arka.
"Gini banget ya nikah sama bocah," gumam Arka, dan ia yakin ini pasti hanya perihal masalah yang cukup mudah dan sangat tidak harus di pusingkan.