Mentari

Mentari
Episode 56



"Sup iga" jawab Aldi yang membuat Mentari kaget dan spontan melihat wajah kakaknya itu


"Kok sama, Mentari baru saja pesan sup iga"


"Ini" Aldi memberikan paper bag itu kepada adiknya. Aldi tidak mau tau sudah jauh-jauh bawa tapi tidak dimakan


Mentari menerima itu lalu ia menuju keruang tengah dan paper bag itu ia berikan kepada ARTnya


"Pizza kak" tawar Mentari dan Aldi menggeleng


"Hamburger"


"Kenyang dek" tolak Aldi


"Makan hati aja kak kalau gitu" kesal Mentari kepada kakaknya


Aldi malah cuek bebek dengan ucapan adiknya itu. Sedangkan


Arka setelah selesai ritual makannya ia menghampiri istri dan iparnya dengan santai, ia bersandar di sofa sambil memperhatikan film yang istrinya tonton,


"Tumben datang Di? Aku kira gak datang lagi"


"sibuk aja akhir-akhir ini" jawab Aldi sambil memukul pelan pundak Arka


Mentari melihat itu langsung menatapnya dengan tajam, "jangan pukul-pukul suami Mentari"


"Idih... Baru juga pukul pelan sudah marah-marah" gumam Aldi lalu ia kepikiran dengan Brian yang membawa makanan dan buah-buahan tadi, "ehh Brian mana? Sudah pulang?" Tanya Aldi sambil mencari keberadaan asisten Brian itu


"Iya" jawab Arka


"Pesanan aku?" Tanya Mentari setelah mendengar jawaban dari suaminya itu


Mentari sampai lupa dengan pesanannya setelah bertemu dengan kakaknya. Ia kembali melirik kakaknya lagi dan bertemu mata membuat sang empunya yaitu Aldi langsung bertanya


"Mau usir kakak?" Tanya Aldi lagi dengan cepat Mentari menggelengkan kepala, "terus menatap kakak seperti itu, apa maksudnya?" Tanya Aldi lagi masih penasaran dengan tatapan adiknya itu


"Mentari hanya berpikir kalau aku terus kesal sama kakak nanti anak aku mirip kakak" ujarnya kepada kakaknya itu, ia mengutarakan isi pikirannya dengan jujur


"Gak masalah dek, lagian kakak kamu ini ganteng juga kok... Supaya di tau kalau ponakan aku itu keturunan Algantara.. hahahaha" ucap Aldi dengan ketawa bangga yang membuat bapak sang cabang baby tidak terima


"Heee, lupa siapa bapaknya?" Ujar Arka sambil menunjuk dirinya sendiri, "keturunan Purnawan" sambungnya dengan bangga


"Ingat bro ini cucu pertama dalam keluarga Algantara"


"Sama, anak aku itu cucu pertama dalam keluarga Purnawan"


"Hmmmm.. iya iya,.. siapa yang mau lawan kalau sudah menyemaikan kata anak" Aldi mengalah


"Hehehe...baby lihat papa dan om Aldi lapuk adu pendapat tentang kamu, tapi om Aldi lapuk gak sadar baby maunya cari istri supaya dia semaikan nama Algantara diakhir nama anaknya, iyakan baby?" Tanya Mentari kepada bayinya itu yang ia belum tau jenis kelaminnya itu. Semenjak hamil salah satu rutinitas Mentari selalu mengajak cabang bayi cerita, ia tau secara medis yang dilakukan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan otak yang berfungsi pendengaran dan bahasa sang bayi.


Aldi dan Arka seketika berhenti bicara mendengar ucapan Mentari itu. Aldi terbelalak matanya mendengar namanya Aldi lapuk sedangkan Arka hanya menutup mulut menahan tawa


"Baby, papa dan om berhenti, kira-kira kenapa ya baby?" Mentari terus mengajak anak bicara tanpa menghiraukan orang disampingnya


Arka melirik Aldi sekilas dengan tawa yang sudah mengembang, "nak, jangan seperti itu sama om mu nak" ucapnya sambil menempelkan tangannya diatas tangan istrinya, ucapan itu sebenarnya membuat Arka geli sendiri apalagi didepan iparnya sendiri.


Mentari dengan cepat memindahkan tangan suaminya


"Kenapa sayang?" Tanya Arka


"Baby bukan nak" jelas Mentari


"Oohhh.. iya iya.. hehehe lupa" kilah Arka sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Aku pulang, jadi obat nyamuk disini. Assalamualaikum" pamit Aldi, kerena sejak tadi hanya menyaksikan kemesraan adiknya itu


"Tunggu kak" larang Mentari kepada Aldi


"Apa? dijadiin lagi obat nyamuk?" Tanya Aldi bertubi tubi


"Mana ada sih nyamuk disini? Gak ada kak" jawab Mentari sambil geleng kepala dan pergi meninggalkan kedua laki-laki itu


Aldi menghela napas panjang, "mati berdiri aku kalau setiap hari kayak gini" kesal Aldi


Sedangkan Arka hanya duduk diam disofa sambil menunggu Mentari, tiba-tiba kepikiran rencananya untuk ajak jalan-jalan istrinya itu


"Di, gimana kita jalan-jalan" ajak Arka


"Ber tiga?, ogah bangat" jawab Aldi sambil buang muka


"Memang sudah punya calon mau jalan berempat.. hmm?" Tanya Arka sambil menaikkan sebelah alisnya, mencoba untuk menganggu ipar sekaligus sahabatnya itu


"a a a.. maksud aku gak kayak gitu juga konsepnya" jawab Aldi lagi


"Gima..." usul Arka tiba-tiba berhenti setelah melihat Mentari memegang loyang dan pisau, "untuk apa itu sayang?" Tanya Arka lagi


"Ngerujak"


"Ohhh.. siapa yang makan dek?" Tanya Aldi ingin tahu


"Kita bertiga" jawab Mentari dengan senang


"Hahaha.. hore kita bertiga" ucap Arka sambil tepuk tangan dan tidak lupa mengedipkan mata kepada Aldi untuk ikut tepuk tangan.


"Hore" ucap Aldi bertepuk tangan sambil berdiri


"Berlebihan, duduk kak.. mbok bawa buahnya yaa" setelah melarang kakaknya ia lanjutkan memanggil ARTnya untuk membawa buah.


Dengan cepat ART membawakan semua buah yang Mentari pesan yang tersisa nangka karena besar dan berat


Arka dan Aldi hanya diam sambil melihat ART yang pulang balik membawa buah-buah itu beserta dengan keranjangnya.


"Kakak-kakak tersayang, bawa nangka kesini yaa" ujar Mentari


"Satu aja" ucapnya sambil mengangkat jari


Aldi dan Arka menuju dapur tempat dimana nangka itu disimpan. Aldi sudah melihat semua buah-buahan itu jadi sudah tidak kaget lagi berbeda, dengan Arka yang baru tau ternyata buah yang dipesan istrinya sebanyak itu.


"Sebesar ini di?" Tanya Arka tidak percaya dan Aldi hanya menjawab dengan anggukan


"Perut siapa yang bisa muat nangka sebesar ini" Arka mulai mengeluh


"Angkat aja dulu" ujar Aldi lalu mereka angkat berdua


Setelah sampai diruang tengah dengan napas yang ngos-ngosan menaruhnya dilantai dan Arka kembali bertanya


"Terus, ini diapain?" Tanya Arka lagi


Mentari mulai berpikir, "gak jadi disini, tapi di taman" perintahnya lalu dengan santai mengangkat loyang dan pisaunya menuju taman


Arka dan Aldi melihat punggung Mentari yang jalan dengan santainya, membuat Aldi ingin mengumpat


"Di, kita bawa yuk ke taman" ajak Arka yang sudah tidak mau lagi membuang-buang waktu agar cepat selesai


Arka dan Aldi mengangkat semua keranjang buah tersebut termasuk nangka yang baru mereka bawa tadi.


Setelah semua buah-buahan disimpan diatas meja taman belakang rumah. Arka dan Aldi memutuskan untuk duduk terlebih dahulu


"Dek, kakak pulang yaa" pamit Aldi lagi


"Gak boleh, kak Aldi harus kupas semua buah-buahan ini.. hari ini kita ngerujak" ucap Mentari


Arka selain tidak doyan rujak, ia juga takut nanti sakit perut. Begitupun dengan Aldi ditambah dia malas kupas kulit buah tersebut


Arka dan Aldi tidak bergeming membuat Mentari mengerjakan semuanya dengan hati kesal. Mentari mengupas buah mangga bukan hanya kulitnya yang ia hilangkan melainkan dagingnya juga sehingga hampir terlihat biji mangga tersebut


Mentari menyuruh ART nya mengambil parang untuk membela buah nangka


"Ini nyonya" ART memberikan parang tersebut


Aldi dan Arka menatap Mentari dengan heran. Aldi memukul pelan lengan Arka, "bro kayaknya anakmu nanti jadi petani sukses"


"Perusahaan aku gimana? Kalau anakku jadi petani, ada-ada saja kamu bro" jawab Arka yang masih memperhatikan Mentari


Mentari mengupas buah-buahan itu tidak luput dari pengawasan suaminya. Mentari kewalahan membelah nangka besar itu, tapi mau minta bantuan suaminya gengsi.


"Suami tidak peka bangat sih, gak tau apa kalau ini susah bangat parangnya dibuka" kesal Mentari sambil menarik parang yang sudah tertanam dalam belahan nangka tersebut.


"Bantu adik aku, dia kewalahan. Jadi suami peka sedikit" sindir Aldi


Arka segera menghampiri Mentari dan membuka parang tersebut dari buah nangka. Sementara Aldi mengambil kesempatan untuk kabur. Aldi dengan pelan dengan kaki menjinjing sampai masuk kembali dalam rumah dan dengan cepat mengambil jaket serta kunci mobilnya lalu menuju halaman rumah dimana mobilnya berada. Aldi tancap gas setelah keluar dari halaman rumah seperti jadi buronan polisi seketika dan tidak lupa ia matikan ponselnya agar tidak bisa ditelepon.


Aldi santai membawa mobil sampai ia kesebuah Mall terbesar di kotanya, ia singgah sejenak hanya untuk beli dompet untuk adiknya itu.


"Yang ini" tunjuk Aldi lalu penjaga toko itu membawanya di kasir


"Langsung ke kasir ya pak" ucap penjaga toko tersebut dan Aldi tidak menunggu waktu lama langsung ke kasir untuk bayar setelah penjaga toko membawa dompet tersebut


Setelah membeli dompet, Aldi ke kantor terlebih dahulu untuk meeting siang ini.


Berbeda dengan keluarga kecil yang sedang menikmati masa ngidam sang istri. Arka sudah kenyang dengan buah-buahan yang Mentari kupas.


"Sayang, kamu gak kasihan sama kakak dipaksa makan buah?" Tanya Arka


Arka bicara seperti itu sengaja agar Mentari menyuruhnya berhenti makan


"Jadi kakak terpaksa makan?" Tanya balik Mentari tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya itu


Arka dengan cepat geleng kepala, "ngambek lagi" batin Arka


"Gak sayang, tapi kan kita mau makan diluar" jawab Arka lagi


"Makan atau jalan-jalan?" Tanya Mentari lagi


"Dua-duanya" jawab Arka mengambil jalan tengah dengan tujuan agar Mentari diam dengan segala pertanyaan


"Iihhh.. hambur-hamburkan uang, aku gak mau" Mentari menolak lalu memanggil ARTnya, "Mbok tolong buah ini dimasukkan dalam kulkas yaa"


ARTnya itu dengan cepat mengambil buah yang sudah dikupas lalu memasukkannya dalam kulkas


"Kita nikmatin momen ini, oke" ucap Arka dan menuntun istrinya masuk kamar agar mereka siap-siap untuk keluar seperti yang direncanakan diawal


Mentari dituntun oleh suaminya itu, dia terus berpikir seperti ada yang kurang tapi ia tidak tau, Mentari terus mencoba ingat


"Eehhh kak, kak Aldi mana? dari tadi gak lihat.. apa dia kabur? Hmmm tunggu saja ya, berani kabur tanpa pamit" Mentari mengoceh seperti ibu-ibu yang kalah tarung


"Emang ada orang kabur harus pamit, ada-ada saja bumil sekarang" batin Arka sambil menghela napas, begitu berat hari-harinya sejak Mentari hamil


"5 menit ya sayang, karena sebentar lagi makan siang" ujar Arka dan Mentari yang awalnya sudah menuju kamar mandi langsung kembali dan menatap Arka penuh arti


Arka yang tidak tau maksud dari tatapan itu langsung bertanya, "kenapa sayang? Kagum dengan ke gantengan suamimu ini..hehehe.. aku tahu, aku ini hanya untuk kamu jadi tidak usah kembali" ucap Arka sambil menyisir rambutnya pakai jari


"Geer bangat, hhmm" jawab Mentari lalu ia kembali ke kamar mandi


"Hahaha, ternyata pacaran setelah menikah itu indah yaa" teriak Arka lagi setelah ia ketawa puas


Mentari yang mendengar itu hanya senyum, walaupun ia kadang pura-pura ngambek sama suaminya itu. Namun jauh dari lubuk hatinya ia sangat mencintai suaminya itu


...**SEMOGA SUKA ❤️...


...MAAF BARU UPDATE LAGI...


...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAA...


...TERIMA KASIH 🙏**...