
"Umi," Radit menggaruk kepalanya karena ada hal yang harus ia katakan pada Rembulan, tapi sangat sulit di katakan karena belum terbiasa.
"Em," Rembulan yang tengah memberikan asi pada baby Raka, kini beralih menatap Radit, "Apa?" tanya Rembulan lagi, karena Radit masih diam.
"Enggak papa," Radit kemudian diam dan menggaruk kepalanya, "Abi mau ke dapur, Umi mau di buatin minuman?"
"Boleh deh, teh hangat aja," kata Rembulan.
"Ok....."
Radit segera keluar dari kamar dan segera menuju dapur, ia juga ingin minum teh. Tapi karena Rembulan tengah memberikan asi pada baby Raka. Radit memutuskan untuk membuat sendiri saja, sebenarnya bisa saja ia meminta Bik Sum untuk membuat teh. Tapi sepertinya ada tujuan lain di balik membuat teh, karena ia sedang menginginkan hal lain.
"Tumben buat teh sendiri!" kata Arka yang tiba-tiba juga berada di dapur.
"Sialan lu!" Radit terkejut, dan ia langsung menyiku Arka.
"Sakit gila!" geram Arka.
"Siapa suruh tiba-tiba muncul, enggak istrinya. Enggak suaminya sama aja, sama-sama aneh!" gerutu Radit.
"CK....." Arka berdecak, sejenak ia sadar. Semenjak beristrikan Mentari ia kini memang tertular segala keunikan istri nya, tapi tidak masalah. Karena cintanya pada Mentari memanglah sangat besar, "Ngapain bikin teh sendiri?" tanya Arka. Saat melihat apa yang tengah di lakukan oleh Radit.
"Hehehe," Radit terkekeh dan melihat teh buatannya nya, "Ini teh rasa cinta," Radit melihat kanan dan kiri dan tidak ada siapa-siapa. Kemudian ia kembali menatap Arka.
"Ngapain lu liat kanan kiri, kayak Ayam aja!" kesal Arka.
"Gue lagi bikin teh hangat, maklum lah bini gue udah bisa lah ya. Jadi gue mau berbuka," jelas Radit dengan suara pelan.
"Cakep, ide lu memang mantap parah," Arka menyisir rambut nya kebelakang, ia sudah beberapa hari tidak mendapat jatah dari Mentari. Karena Mentari tidak mau.
"Lu kenapa?" kini bukan lagi Arka yang bingung, tapi Radit. Karena exspresi Arka yang terlihat aneh, "Kesurupan!"
"Gue juga mau nyobain ide lu, abis gue juga belum berbuka. Padahal udah bisa," kata Arka, "Gulanya dimana?" tanya Arka dengan semangat, kemudian ia mengambil gelas.
"Dasar gila!" gumam Arka, "Noh gula," Radit menunjukan toples garam.
"Ok....terima kasih," Arka langsung mengambil garam yang di katakan gula oleh Radit, kemudian ia mulai membuat teh terbaik nya.
Radit hanya berusaha tenang, karena sebentar lagi Arka bukan mendapatkan jatah. Tapi tamparan yang memabukkan dari istri tercinta nya Mentari.
"Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Arka yang melihat Radit aneh.
"Enggak gue cuman bayangin, lu di kamar matep-matep. Nah gue juga," bohong Radit memberikan alibi, padahal ia sedang menahan tawa karena sebentar lagi Arka akan habis di timpuk Mentari.
"So pasti," Arka tersenyum, "Selamat bekerja bro, gue ke tempat istri dulu," Arka dengan bangganya keluar dari dapur, ia menuju kamar karena malam ini mereka menginap di rumah Mama Ranti.
Sampai di depan pintu kamar Arka sejenak berhenti, ia menarik nafas dengan panjang. Kemudian menyisir rambut nya. Belum sempat ia memutar gagang pintu, ternyata Mentari sudah membuka pintu.
"Kakak ngapain berdiri aja di depan pintu?" tanya Mentari bingung.
"Hehehe....." Arka menggaruk kepalanya, kemudian ia melihat teh di tangannya.
"Kakak buat teh?" tanya Mentari tersenyum.
"Ada harapan," gumam Arka, karena setelah melihat teh di tangannya Mentari langsung tersenyum. Tentu saja ada kebanggaan tersendiri di hati Arka, "Iya, ini buat kamu. Kakak buat sendiri, pakek cinta," ujar Arka sambil memberikan tehnya pada Mentari.
"Oh ya?" Mentari semakin tersenyum bahagia, "Tari cobain ya?" tanya Mentari sambil memegang cangkir pada tangannya.
"Iya dong," kata Arka tersenyum, "Sayang?" tanya Arka lagi.
"Apa?" Mentari sejenak hanya memegang cangkir di tangannya karena ingin mendengar apa yang di katakan oleh Arka.
"Itu yang Ehem-ehem," kata Arka sambil cengengesan.
"O...." Mentari tersenyum, "Tari lagi datang bulan Kak, makanya Tari dari kemarin nolak," jelas Mentari.
Arka meneguk saliva, karena ternyata Mentari tengah kedatangan tamu bulanan. Pantas saja ia menolak, dan setelah ia susah-susah membuat secangkir teh. Lalu mendapat senyum tulus dari istri nya, dan ternyata sia-sia.
"Nanti kalau udah selesai ya Kak, sabar," kata Mentari.
"Iya..." Arka mengangguk dan ingin sekali ia menangis karena nasib nya yang malang, "Sabaruddin sabar ya, ini cobaan," gumam Arka untuk diri nya sendiri.
"Kakak kenapa?" tanya Mentari karena Arka terlihat melas.
"Enggak papa," jawab Arka, "Minum teh nya, itu teh buatan spesial buat istri cantik Kakak," kata Arka. Paling tidak ia sudah membuat sedikit kebahagiaan untuk istri dengan secangkir teh.
"Iya, Tari coba," kata Mentari lalu ia mulai meneguk teh rasa spesial yang kata Arka. Setelah meneguk teh itu mata Mentari melebar, dan menatap Arka dengan tajam.
"Sayang kenapa?" tanya Arka bingung.
"Rasa teh nya Emmmm...." kata Mentari seolah sangat nikmat, "Ayo Kakak coba," Mentari memberikan cangkir berisi teh buatan Arka di tangannya, pada Arka.
Dan Arka mulai meneguknya.
Byurrr!
Arka menyemburkan nya, kemudian ia melihat Mentari.
"Gimana rasanya Kak?" tanya Mentari.
"Asin," kata Arka.
"Besok-besok bikin teh pakek gula, jangan garam. Kecuali buat teh Kakak, Kakak jinak!" kesal Mentari.
"Jinak, emang Kakak sapi!" geram Arka.
"Iya, dan Tari kesel sama Kakak! Baru bahagia di buatin teh udah begini. Teh apaan coba pakai garam, jangan-jangan Kakak mau kerjain Tari?!" tebak Mentari.
"Enggak sayang enggak, ini gara-gara Radit."
"Kebiasaan! Selalu nyalahin orang!" geram Mentari lalu ia pergi.
"Sayang ini beneran, Kakak enggak nyalahin orang tapi dia memang salah. Radit tadi pasti sengaja ngerjain Kakak," kata Arka dengan suara sedikit meninggi, karena Mentari sudah jauh berjalan karena kesal pada Arka.
"Bodo amat!" seru Mentari.
"Sayang!!!" teriak Arka, tapi Mentari sudah berlalu dan tidak terlihat lagi, "Sayang!!!" panggil Arka lagi.
"Ahahahhaha......" Radit yang kini sudah berada di depan pintu kamar nya tertawa, karena sudah berhasil mengerjai Arka. Kamar Mentari dan Rembulan memang saling bersebelahan. Walaupun pintunya agak berjauhan. Tapi tetap saja bersebelahan.
"Ini gara-gara lu!" kesal Arka karena ini memang ada unsur kesengajaan, buktinya Radit tertawa dengan lebar, "Lu sengaja kan ngasih garam dan bilang nya gula!" geram Arka.
"Iya, Ahahhaha....." Radit tertawa lepas melihat penderitaan Arka, "Dan tidak sia-sia," ujar Radit lagi sambil memutar gagang pintu, "Selamat menikmati ibadah perpanjangan puasa....Ahahahha!" Setelah puas menertawakan nasib Arka kini Radit masuk kedalam kamarnya.
"Kita lihat aja, apa ia kau bisa bahagia di atas penderita ku," kata Arka sambil tersenyum misterius, karena tidak adil jika Radit bahagia. Sedangkan ia menderita.
*
Buat.
Kak Anindya Azzahra
Kak @Ify
Kak Siska Diana Wati
Selamat menikmati pulsa cuma-cuma nya ya, udah di transfer sama Othor.