
Makan malam di rumah orang tua Awan dimulai pukul tujuh malam. Seluruh keluarga inti Awan dan Lusi datang dalam acara tersebut. Makan malam yang hangat dan terasa keakrabannya. Berbagai hidangan telah tersedia di sana.
"Bagaimana dengan calon cucu mama Lus? perasaan cepet banget gedenya nih perut", Bu Mayang mengelus perut menantunya yang sudah membuncit.
"Baik ma,calon cucu mama perempuan nanti", Lusi tersenyum ramah.
"Oh ya? Nanti bakalan mama dandanin jadi gemes,terus mama pamerin sama temen arisan mama", Bu Mayang antusias.
"Saya juga mau Jeng, teman-teman saya suka ketemuan ngajakin cucu. Jadi pengen juga", sambut mama Lusi.
"Iya Jeng,pasti dia gadis yang sangat cantik seperti mamanya",puji Bu Mayang.
Para papa hanya menimpali dengan senyuman tulus. Sedangkan Cloudya sang Adik,hanya melirik Awan yang sedari tadi diam saja dengan wajah dingin. Dari Awal, Cloudya paham ada yang tidak beres dengan pernikahan kakaknya meskipun dia tidak ada keberanian untuk bertanya. Hanya saja di awal pernikahan,kakaknya itu masih terlihat bahagia. Tidak seperti sekarang yang nampak dingin. Tidak tahu saja Cloudya kalau bahagia kakaknya itu karena Mentari,bukan karena istrinya.
Makan malam telah selesai ,namun mereka tetap mempertahankan posisi masing-masing.Mereka bicara seputar bisnis dan rencana-rencana kecil yang akan mereka lakukan bersama nanti,seperti liburan bersama saat Lusi telah melahirkan.
"Ehem", Awan yang sangat diam hari ini berdehem keras. Semua menoleh heran kepadanya. Terlebih Cloudya yang merasakan aura menegangkan.
"Ada yang mau saya bicarakan"
Mama Awan mengubah ekspresi seriusnya menjadi ekspresi senormal mungkin." Mau ngomong ya ngomong aja Wan, dari tadi kita juga ngomong kan?", beliau mencoba mencairkan suasana yang dirasanya berubah tegang.
"Ada apa? Sepertinya penting sekali." Sang papa angkat suara.
"Benar Pa,Awan mau bicara serius"
Cloudya semakin tegang, sedangkan Lusi sudah mulai muncul firasat buruk. Ia takut Awan akan mengeksekusinya sekarang. Padahal wanita itu sudah punya rencana perihal tes DNA nanti setelah anaknya lahir. Biar bagaimanapun Lusi sangat mencintai Awan meskipun sering ia hianati.
Semua masih menunggu yang akan Awan sampaikan. Semua tampak serius memperhatikan.
"Awan ingin bercerai dengan Lusi". Kalimat yang sangat mengejutkan bagi seluruh anggota meja makan.
"Sayang, kenapa kamu ngomong kayak gitu?", Lusi memelas. Tapi tak dihiraukan sama sekali oleh Awan.
"Apa maksud kamu?",Papa mulai terpancing. Sedang orang tua Awan masih menunggu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Seperti yang papa dengar. Awan ingin bercerai dengan Lusi", Awan berbicara tegas.
"Kenapa?", Papa masih mendominasi pembicaraan diantara keluarga yang lain.
"Awan punya banyak alasan"
"Sebutkan!",titah sang papa tak kalah tegas.
"Alasan pertama, anak Lusi bukan anak Awan"
"Ini anak kamu sayang,darah daging kamu", Lusi tak bisa menahan tangisnya.
"Bagaiman bisa itu kamu bilang itu anakku? Bukankah kamu tahu sendiri berapa usia kehamilan kamu?", Awan mencoba bersikap sopan di depan orang tua Mereka dengan meninggalkan panggilan 'lo gue'nya.
"Kalau kamu tidak percaya,kamu bisa tes DNA setelah dia lahir", Lusi mencoba membujuk Awan dengan tangisnya.
"Nggak perlu!"
"Sabar dulu Wan, selisih usia kehamilan biasanya tidak langsung dihitung dari saat kalian berhubungan,tapi dari haid terakhir Lusi", Mama memperingatkan.
"Awan sudah pelajari semuanya Ma. Mana ada orang yang di setubuhi empat bulan lalu bisa hamil enam bulan lebih? Bahkan sudah masuk trimester tiga", jelas Awan. Semua nampak terhenyak.
"Mungkin dokter kemarin salah prediksi sayang", Lusi masih belum terima.
" Dan aku punya banyak bukti perselingkuhan kamu selama ini"
"Aku udah nggak kayak gitu,Wan", Lusi menyangkal.
Awan diam tidak menanggapi Lusi. Dia merogoh kantongnya mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan. "Masuklah!". Setelahnya sambungan ditutup.
Belum juga Awan menjawab pertanyaan mamanya, Indra dan James datang menghampirinya dua keluarga itu.
"Selamat malam Pak", Indra membungkuk diikuti oleh James,mereka memberi hormat kepada Pak Roby sang tuan utama.
"Hemmm", Pak Roby mengangguk sekilas. "Cepat jelaskan James!", beliau tahu jika sudah ada James,berarti memang ada fakta yang tidak dapat dipungkiri. Karena James orang kepercayaan mereka.
"Silahkan Pak!", James memberikan map coklat besar yang sepertinya banyak isinya. Kemudian Pak Roby membukanya dengan sesekali melirik Awan. Beliau menghela napas saat mengamati satu per satu isinya.
"Ada apa Pak Roby?", papa Lusi penasaran. Beliau langsung mengambil tumpukan lembaran yang telah diletakkan di atas meja oleh Pak Roby.
Seketika mata papa Lusi terbelalak. Dia tidak menyangka dengan isi map tersebut. Banyak bukti perselingkuhan Lusi dengan Juan, teman Lusi saat di Jerman. Beberapa foto dan ada juga beberapa lembar bukti slip check in hotel atas nama Juan ataupun Lusi.
"Dan ini, bukti yang lain Pak", James menyerahkan ponselnya kepada Pak Roby yang siap memutar sebuah rekaman suara. Beliau menekan tombol play dan mendengarkan dengan seksama.
"Katakan atau kami hancurkan bisnismu!", perintah seseorang yang Pak Roby sendiri tak mengenali suaranya, tapi dia yakin orang itu suruhan Awan.
"Oke fine. Iya memang benar anak yang dikandung Lusi itu anak gue. Mau apa lo? Mau ngadu sama boss lo yang tolol itu?", Ucap seseorang yang diyakini sebagai Juan.
"*Jadi benar kalian selingkuh selama ini?"
"Bukan urusan kalian. Bukankah kalian hanya ingin tahu siapa ayah dari bayi itu? Ya, itu gue. Dan bodohnya lagi, Lusi malah pulang ke Indonesia dan meminta pertanggungjawaban dari Awan. Yang katanya lelaki yang sangat dia cintai*",ucapannya terdengar penuh emosi.
"*Kamu mencintai Lusi?"
"Asal kalian tahu,gue bukan manusia brengsek yang bisa tidur dengan orang tidak gue cintai seperti Lusi. Tapi sialnya gue tetap mencintainya meskipun dia brengsek"
"Sekarang lepasin gue,lepasin keluarga gue dan biarkan gue pergi*" . Orang dalam rekaman tersebut seperti dalam tekanan.
Pak Roby mengembalikan ponsel kepada James. Beliau terlihat mengurut keningnya.
"Pak Roby percaya dengan rekaman itu? Sepertinya orangnya sedang dalam tekanan", Papa Lusi mencoba memprovokasi.
"Kami memang melakukan tekanan terhadap target. Tapi bisa saya pastikan target berbicara jujur", Kali ini James angkat suara.
Melihat ketidakberdayaan suaminya, mama Lusi turut bicara," Awan,tunggulah sampai Lusi melahirkan. Setelah itu kamu bisa tes DNA biar semua jelas"
"Maaf tante, Awan tidak bisa menunggu lagi", tegas Awan.
"Sayang,please! Jangan seperti ini", Lusi terus menangis dipelukan ibunya.
"Kamu bahkan tak menyangkal rekaman tadi. Apa kamu juga mengakui kalau suara itu adalah suara kekasihmu?", Awan menyeringai.
"Kamu mengancamnya, jadi dia bicara seperti itu"
"Orang yang sedang dalam tekanan biasanya akan bicara jujur"
"Papa serahkan semua keputusan di tangan kamu Wan". Pak Roby berdiri hendak meninggalkan meja makan. Beliau lebih mudah mempercayai James karena lelaki itu bertindak sesuai fakta,data dan bukti kongkrit. Beliau tidak meragukan lagi kemampuan pria 43 tahun itu. Karena James sudah mengabdi padanya hampir 20 tahun.
"Terima kasih Pa", ucap Awan tak mendapat tanggapan papanya.Pak Roby meneruskan langkahnya menaiki tangga.
"Tunggu Pa!",Awan menghentikan langkah sang papa. Ternyata Awan mengikuti papanya keluar dari ruang makan.
"Awan sudah punya calon yang ingin Awan kenalkan kepada papa"
Pak Roby menoleh," Maksud kamu anak ingusan yang bahkan belum lulus SMA itu?"
Awan bungkam, mana mungkin ayahnya tak mengawasi anaknya. Hanya saja orang tua itu terus memberikan kepercayaan anaknya untuk menyelesaikan masalahnya tanpa campur tangannya. Kecuali sang anak meminta. Pak Roby hanya mengawasi kedua anaknya bukan orang lain. Dan hanya sebatas mengawasi yang beliau lakukan tanpa mengorek lebih dalam kecuali bersifat mencurigakan.
"Kalau kamu memang serius, tunggulah sampai dia lulus sekolah. Jangan jadi seperti pedofil". Pak Roby berbalik dan melanjutkan langkah.
Awan menyeringai, ia kenal papanya. Dan dia suka cara papanya. Papanya bukan tipe orang yang melihat status sosial. Tapi beliau selalu melihat dengan logika.