Mentari

Mentari
Episode 127



Kini Mentari, Rika dan Lala sudah duduk manis di ruangan, dengan mahasiswa lainnya yang sedang menunggu dosen mereka. Jika Mentari dan Lala sibuk melamun maka tidak dengan Rika.


"Napa lu?" tanya Rika melihat wajah kusut Mentari.


"Kangen suami," kata Mentari sambil tersenyum pada Rika.


Ting.


Ponsel Mentari berdering.


[Sayang, Kakak berangkat ke luar kota ya,] suami ku.


Mentari sangat kesal karena Arka berangkat keluar kota, dan itu membuat nya akan sangat rindu sekali.


[Enggak!] istri ku.


Mentari membalas dengan wajah kusut nya, bahkan ia sudah tidak semangat untuk kuliah. Padahal ini adalah hari pertama ia masuk kuliah, sementara teman-teman nya sudah dari satu bulan yang lalu.


Ting.


Ponsel Mentari kembali berdering.


[Cuman seminggu,] suami ku.


[Nggak!] istri ku.


[Kakak berangkat ya sayang, jaga diri baik-baik,] suami ku.


"Napa lu bete banget!" tanya Rika lagi yang melihat wajah Mentari.


"Kangen suami!" ketus Mentari.


"Baru beberapa menit," kesal Rika. Setelah itu Rika kembali melihat Lala yang tengah senyum-senyum yang dari tadi tanpa henti, "Heh....jangan bilang lu lagi ngelamunin itu bujang lapuk ya!" tebak Lala.


"Hehehe....." Lala nyengir kuda, dan ia mangguk-mangguk karena tebakan Rika sangat benar sekali, "Makanya bantuin gue buat jadian atau sekaligus kawin gue sama Kakak lu yang tamvan itu, biar dia nggak jadi bujang lapuk," celetuk Lala dengan bangga.


"Ogah!" ketus Rika, "Kagak Sudi gue lu jadi Kakak Ipar gue!" kesal Rika, tapi itu hanya candaan saja.


Bahkan Lala tidak tersinggung, karena ia tahu Rika pasti setuju saja kalaupun nantinya ia dengan Dimas, "Caelah kasar amat!"


"Kan enak kalau Lala jadi Kakak ipar kamu Rika, kalian udah saling kenal....nggak ada lagi adegan kayak apalah itulah, yang bikin keluarga ribut," timpal Mentari.


"CK...." Rika sangat tidak tertarik dengan pembicaraan kedua sahabatnya.


"Adek Ipar," Seloroh Lala sambil mencolek Rika.


"Ogah!" Rika menepuk-nepuk tangannya seolah ia kesal ada bekas Lala disana.


"Caelah....tapi gue heran deh, kayaknya orang tua ku nggak adil banget ya," ujar Lala.


"Maksud LO...???" tanya Rika dengan wajah marah menatap Lala.


Mentari yang duduk di sebelah Rika juga menantikan apa yang di katakan oleh Lala.


"Kakak lu di kasih wajah ganteng parah, mah elu," Lala melihat Rika dengan jelas, "Burik!" lanjut Lala lagi dengan senyum penuh kemenangan.


"Ahahahhaha....." Mentari tertawa begitu juga dengan Lala, keduanya semakin tertawa lebar setelah melihat wajah kesal Rika, "Ahahahhaha....."


"Gue doa in anak lu mirip gue!" kata Rika pada Mentari.


"Enak aja, yang buat gue sama suami gue kok mirip ke elu rugi amat gua," jawab Mentari.


"Ahahahhaha....." Lala tertawa lebar, "Jadi pengen gue cepet-cepet di kawinin Kakak lu Rika, biar gue juga lebih dewasa kayak Tari," celetuk Lala.


"Makanya ceper cari gebetan!" kata Mentari.


"Entar, ngapain buru-buru cepat nikah cepat tua!" kata Rika, jujur dari hatinya sebenarnya ia sudah ingin memiliki kekasih tapi belum ada yang berhasil menaklukkan seorang Rika yang super cuek pada lelaki.


"Ehem....." terdengar suara seseorang berdehem, semua melihat kearah depan dan di sana sudah berdiri seorang dosen. Matanya menyapu ruangan itu, dan hingga akhirnya ia melihat seseorang yang sangat ia kenali.


"Tar," Rika menggerakkan pundak Mentari, karena Mentari hanya menunduk saja.


"Apa?" Mentari menatap Rika, dan telunjuk Rika mengarah ke depan.


Mentari penasaran dan ia mengikuti arah tunjuk Rika, mata Mentari langsung melebar sempurna. Karena ada Arka di sana, "Kakak!!!"' seru Mentari, ia langsung bangun dari duduknya dan memeluk Arka di depan sana.


Semua yang ada di ruangan itu melihat Mentari yang memeluk Arka.


"Anda siapa?" tanya Arka. Ia diam dengan wajah datarnya.


Mentari melebarkan matanya, ia seketika tersadar mereka sedang di kampus, "OMG....memalukan!" gumam Mentari, kemudian ia menatap Arka, "Maaf Pak salah orang, aku pikir tadi pemulung tamvan kesayangan aku," kata Mentari.


Arka diam saja, karena ia berharap tadinya Mentari mengatakan jika mereka suami istri. Tapi Mentari lebih suka mengerjai dirinya, Arka mengangguk mengerti.


"Maaf ya Pak," Mentari kembali dan duduk di kursinya, ia sangat bahagia sekali karena ada Arka di sana. Seketika Mentari ingat beberapa saat lalu Arka mengirimkan pesan kalau ia akan keluar kota, tapi ternyata Arka mengerjainya. Dan malah memberikan kejutan yang manis padanya. Sungguh Mentari di buat senyum-senyum tidak jelas saat ini.


Arka mengangkat sebelah alis matanya, ia menatap Mentari. Di hatinya ia tidak bisa berjauhan dengan istrinya itu, hingga ia menjadi dosen di sana. Tidak sulit bagi Arka masuk ke kampus tersebut, karena ia kenal baik dengan si pemilik.


Sampai akhirnya kelas selesai dan semua beranjak pulang.


Mentari, Rika dan Lala berjalan menuju parkiran. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti, kemudian ia membuka kaca mobilnya dan tampak wajah Arka di sana.


Mentari seolah tidak perduli, ia ingin membalas saat Arka tadi seolah tidak mengenalinya. Mentari memasang kaca mata hitamnya, dan melirik banyak lelaki yang lewat.


"Hay," kata Mentari sambil melambaikan tangannya pada seorang pria.


Arka langsung turun dari mobil, ia menarik telinga Mentari kemudian memadukan Mentari kedalam mobil. Setelah Mentari masuk Arka juga ikut masuk, dan ia menatap Mentari.


"Berani ya?" tanya Arka.


Mentari menaikan kaca matanya pada kepalanya dan membalas tatapan Arka, "Anda siapa?" tanya Mentari, seolah ia tidak mengenali Arka.


Arka malah gemas melihat kelucuan istrinya, "Aku orang yang bikin kamu hamil!!!" Arka menunjuk perut Mentari yang sedikit membuncit.


"Ahahahhaha....." Mentari tertawa terpingkal-pingkal karena jawaban Arka yang sangat konyol, walaupun benar begitu tapi terasa aneh saja di telinga Mentari, "Ah....masa iya?" tanya Mentari di sela tawanya.


"Mau bukti nya?"


"Mana?" tantang Mentari.


Arka membuka jasnya, dan seketika membuat Mentari merinding, "Kakak mau apa?" tanya Mentari panik.


"Mau buka jas, abis panas," jawab Arka santai, "Kamu pikirnya ngapain ayo???" Arka menggoda Mentari, bahkan tangannya menunjuk Mentari penuh intimidasi.


"Nggak ada..." elak Mentari karena sebenarnya pikiran nya memang memalukan sekali.


"Ayo mikirin apa?" tanya Arka lagi sambil mengkritik Mentari tanpa henti.


"Ahahahhaha....." Mentari terus tertawa, karena suaminya terus mengkritik dirinya tanpa jeda.


Rika dan Lala yang berdiri di luar mobil merasa bingung, karena mobil Arka bergerak-gerak.


"Lala mereka ngapain?" tanya Rika.


"Nggak tau, aku masih di bawah umur," jawab Lala dengan tubuh bergetar, karena pikirannya sudah sangat kotor sekali.