
"Oke, setuju, apa?" Tanya Arka dengan senyum yang tidak luntur diwajahnya. Ia tidak bertanya lagi dan curiga sedikit pun
"Masakkan nasi goreng untuk porsi empat orang dengan kakak" ucap Mentari dengan menyipitkan matanya sambil melebarkan senyumnya
"Itu bukan simbiosis mutualisme dek.. " ucapan Arka itu dipotong langsung oleh Mentari
"Aku tau, kakak kan dosen sementara aku mahasiswi. Hhhmmm, mana aku belum proposal sampai sekarang nasib-nasib" ujar Mentari yang masih dalam pelukan suaminya itu
"Hahahaha, nyindir dek?" Tanya Arka lagi setelah tertawa
"Gak," jawab Mentari cepat, "eehhh, kakak pembimbing Mentari berarti kakak yang gantung aku" sambungnya sambil mendongak melihat wajah suaminya itu
"Hahaha.. iya ya. Lagian ngapain kuliah cukup jaga anak kita sudah membuat kakak bersyukur"
"Gak bisa, banyak diluar sana wajah cantik, berpendidikan, cerdas pula. Lah aku?" Ucapnya terhenti karena tiba-tiba suaminya mencium pipinya, sedangkan Arka sengaja melakukan itu agar istrinya itu berhenti membandingkan dirinya dengan perempuan lain
Mentari spontan memegang pipinya "kok kak Arka main cium cium sih?" Protes Mentari sambil memegang pipinya
Arka bukan menjawab malah tertawa lalu mengedipkan matanya
"Iihhh kak Arka genit" ucap Mentari lagi lalu ia melepas pelukan suaminya itu
"Gak dosa dong, sama istri sendiri" jawab Arka santai lalu ia keluar kamar menuju dapur
"Ini benar?" Mentari bertanya-tanya seakan tidak percaya apa yang ia lihat saat ini, namun sang empu pergi tanpa menjawab
Arka sesampainya di dapur langsung menyuruh ARTnya untuk menyiapkan semua bahan untuk nasi goreng
"Sudah lengkap semua tuan" ucap ART nya memberi tahu majikannya itu.
"Oke mbok.. makasih yaa, temanin dulu ya mbak takutnya salah baru Mentari gak makan" tutur Arka lagi.
"Iya tuan" jawab ARTnya lagi.
Arka dan ART memasak didapur sampai nasi goreng siap dihidangkan dengan arahan dari ARTnya dan sudah tersaji diatas meja untuk makan malam mereka.
Arka kembali ke kamar untuk membersihkan badan lalu mereka makan malam, sedangkan Aldi dan asisten Brian malah santai di ruang tengah sambil menunggu nasi goreng buatan Arka.
"Dek, sudah masak nasi goreng kakak" ujarnya lalu ia masuk dalam kamar mandi
Mentari yang lagi menunggu masakan suaminya itu sampai ia ketiduran, deru napas Mentari begitu teratur tanda sang empu tidur begitu pulas.
Arka dengan gerakan mandi cepat agar segera makan, dengan santai menuju lemari pakaian mengambil baju rumahan sambil terus memanggil istrinya itu tanpa ia perhatikan.
"Dek, gak baik ibu hamil rebahan terus" tegur Arka
Arka yang sudah selesai pakaian pun menghampiri istrinya yang tidak menjawab setiap ucapannya itu
"Ya Allah dek, ternyata tidur" ujar Arka lagi. Ia tidak tega membangunkan istrinya itu tapi lebih kasihan kalau tidak makan, dengan terpaksa membangunkannya
"Dek, bangun kita makan" ucap Arka lagi sambil mengusap kepala istrinya itu
"Dek" panggil Arka lagi tapi Mentari tidak terusik sama sekali.
Arka mulai berpikir untuk menggendongnya dan membawanya di meja makan, tapi ia takut jika Mentari kaget dan marah, Arka mulai sibuk dengan pikirannya sambil bertolak pinggang.
Di ruang tengah tepatnya Aldi dan asisten Brian sudah tidak sabar untuk makan dikarenakan mereka sudah sangat lapar.
Aldi memutuskan untuk menelepon iparnya itu
π"Bro kapan kita makan? Perut aku sudah keroncongan ini" ucap Aldi ditelepon itu
π"Ke meja makan saja, Mentari masih tidur" ucap Arka dengan lirih agar Mentari tidak kaget karena posisinya saat ini tepat dibibir ranjang samping istrinya itu
π"Oke.. dengan senang hati supaya aku pulang sebelum Mentari bangun" Aldi senang mendengar ucapan Arka kalau Mentari sedang tidur saat ini
"Asisten Brian, saatnya kita makan selagi Mentari tidur" ucap Aldi sembari senyum lalu mereka menuju meja makan. Sesampai meja makan Aldi dan Asisten Brian tanpa bertanya sedikit pun langsung menyendok nasi goreng dan Aldi melihat sambal di atas meja tanpa bertanya langsung menyendoknya lagi.
"Asisten Brian, apa kamu tidak penasaran dengan rasa sambal aneh itu?" Tanya Aldi setelah menyendok dan menaruhnya dalam piring nasi gorengnya.
Asisten Brian hanya menjawab seadanya, "saya cukup nasi goreng saja"
"Ayolah Brian, coba dulu sepertinya enak" bujuk Aldi lagi
ART membawa air minum melihat sambal Mentari yang tinggal setengah disendok oleh Aldi itu, ia ingin sekali memberitahu Aldi tapi tidak enak hati akhirnya ia urungkan niatnya itu.
ART itu mulai bingung setelah melihat Aldi yang terus menyendok sambal tersebut
"Maaf pak Aldi, itu sambal nyonya Mentari" ucapnya dengan hati-hati
"Mbok, panggil Aldi saja. Emang seenak apa sih sambal ini?" Tanya Aldi lagi penasaran. Aldi hanya menyendoknya terus menerus tanpa ia rasa terlebih dahulu.
ART itu ingin menjelaskan tapi mendengar langkah majikannya itu ia kembali diam nanti mereka yang urus semua dan ia dengan cepat-cepat pamit agar pergi dari situ.
"Saya ke dapur dulu ya pak Aldi" pamit ARTnya itu. Ia tahu kalau istri tuannya itu melihat sambalnya disendok orang pasti akan kesal dan kemungkinan akan menangis.
Aldi tidak menyadari hal itu dan Asisten Brian makan tanpa banyak bicara.
"Kak Aldi, kenapa makan sambal Mentari" ucapnya dengan mata sudah berkaca-kaca
"Lho dek, nanti mbok buatkan lagi, kan tomat dan cabai banyak dek dipasar" jawab Aldi santai
"Itu susah kak, kenapa kakak gak nanya dulu?, ituu sambal ajaib aku" ucap Mentari lagi yang mengundang tawa Aldi
Asisten Brian sekarang sudah minum tanda makan malamnya sudah selesai dan Arka hanya menuntun Mentari untuk duduk
"Duduk dulu dek" ucap Arka lagi dan Mentari hanya nurut namun tatapannya tidak pindah dari kakaknya itu
"Kenapa sih dek?" Tanya Aldi lagi dan lagi-lagi Mentari hanya menatapnya dengan diam
"Kesal, kakak minta maaf deh" ucap Aldi lagi lalu melihat Arka meminta penjelasan, kenapa Mentari diam dan mata Mentari terus menatapnya yang membuatnya sedikit takut.
"Bro, itu tomat belinya di Singapura dan cabainya itu dari Brunei" jelas Arka yang membuat Aldi menganga kaget campur heran
"Nanti masuk lalat kak" tegur Mentari dan kembali diam lagi
"Serius?" Tanya Aldi lagi tidak percaya dan Arka hanya mengangguk tanda iya
"Wah ponakanku asli indo ngidamnya harus dari negeri tetangga, sok jual mahal dek anakmu selera luar negeri" ucap Aldi lagi
"Kenapa sih, ayahnya saja gak protes. Padahal aku dan kak Arka yang biayai nanti" jawab Mentari lagi
"Demi kalian berdua apapun kakak lakukan" ucap Arka dengan senyum tulus dan bahagia tergambar jelas di raut wajah Arka
"Apalah dayaku dan Asisten Brian yang masih jomblo ini, kami pulang dulu. Assalamualaikum" pamit Aldi dan Asisten Brian
Sepulang Aldi dan Asisten Brian, Arka dan Mentari lanjut makan dengan dihiasi canda tawa. Selama Mentari hamil Arka lebih sering di rumah, kecuali ada meeting di kantor baru ia pergi
"Kak besok ke kantor?" Tanya Mentari sambil mengunyah makanannya
"Iya tapi siang, mau ikut?" Tanya Arka yang sedang makan
Mentari menggeleng pelan, ia teringat orang tuanya yang ada negeri jiran itu. Mentari menyimpan sendoknya dan diam termenung.
Arka tidak menyadari hal itu, ia masih menikmati nasi gorengnya sampai habis dan mengakhirinya dengan minum.
"Alhamdulillah" ucap Arka setelah ia selesai minum, "lho dek, kenapa gak dihabisin, gak enak?" Sambungnya sambil memperbaiki posisi duduk dan menghadap ke istrinya itu.
"Enak"
Jawaban singkat itu membuat Arka bingung. Apa ia punya salah tapi seingatnya dari kemarin sampai saat ini istrinya baik-baik saja gak ada mode ngambek yang ia lihat.
"Kamu sakit?" Tanya Arka lagi dan Mentari hanya menggeleng pelan
Mentari tidak enak hati jika keinginannya itu ia utarakan pada suaminya, ia merasa selama ini sudah merepotkan sekali
"Mau makan sesuatu?" Tanya Arka lagi dan lagi-lagi Mentari hanya menggeleng pelan
"Gak mau kalau kakak ke kantor besok?" Tanya Arka lagi
Mentari melihat wajah suaminya itu dan tidak terasa butiran air mata jatuh tanpa permisi
"Kenapa dek? Jangan buat kakak takut" Arka panik dan langsung berdiri memeluk istrinya itu.
Arka setiap hari dihantui rasa cemas kalau mengingat istri kecilnya itu akan melahirkan, semakin hari usia kandungan Mentari semakin bertambah jadi waktu melahirkan Mentari semakin dekat.
Arka mulai mengusap-usap punggung Mentari sedangkan Mentari masih duduk dikursi meja makan. Mentari memeluk pinggang Arka karena posisi Arka yang sedang berdiri
"Apa baby yang membuatmu menangis?" Tanya Arka lagi, ia masih mencoba bertanya kenapa istrinya itu tiba-tiba diam dan menangis
Mentari menggeleng lagi dan Arka langsung melonggarkan pelukan istrinya itu dan kembali duduk dikursinya semula yang terlebih dahulu ia tarik agar lebih dekat dengan istrinya itu
"Apa mau jalan-jalan?" Tanya Arka lagi
"Nggak"
"Gimana besok kita ke dokter kandungan?" Tawar Arka lagi
"Besok bukan jadwal kedoktar kak" jawab Mentari setelah dari mode diamnya sambil menghapus air matanya
Arka tersenyum melihat Mentari seperti itu, ia mengingatkan dirinya waktu membawa Mentari ke KUA
"Kenapa senyum-senyum kak?" Tanya Mentari bingung
"Masih ingat waktu kakak membawamu ke KUA?" tanya Arka sambil menaik turunkan alisnya
Mentari kembali meraih sendoknya lalu ia makan tanpa menjawab pertanyaan suaminya itu. Ia sebenarnya malu mengingat masa lalunya saat itu dengan ucapannya kalau menikah dengan Arka cepat ubanan dan sekarang sudah menjadi istri Arka
"Masih ingat?" Goda Arka lagi
Mentari menyipitkan matanya, "kakak mau aku mati tersedak?" Mentari balik tanya untuk menghindari pertanyaan suaminya itu
"Mana ada sih dek, kakak gak sampai pikirannya kesitu, tapi sambalnya kenapa gak dimakan?" Tanya Arka heran. Karena dipiring Mentari sambal yang ia sendok tadi masih utuh
...Mohon maaf lahir dan batinπ...
...**SEMOGA SUKA β€οΈ...
...TERIMA KASIH π**...