
Pagi yang dilingkupi dengan rasa kantuk ditambah AC dalam kamar yang begitu sejuk. Semua orang dalam ruangan rawat Mentari meringkuk dibalik selimut mereka, terkecuali Mentari memilih untuk menurunkan selimutnya sampai batas pinggang dengan remote AC ditangannya.
Mentari menatap satu persatu orang yang menemaninya mulai dari bundanya, kakak dan suaminya. Hati Mentari sedikit kecewa kepada mertua dan papanya karena sampai saat ini mereka belum menjenguknya walaupun mereka sudah di kota yang sama.
Mentari memutar muter remote AC itu, "Apa papa, ibu dan ayah sudah gak sayang sama Mentari lagi?, Apa karena aku sudah jelek dimata mereka, makanya mereka sudah tidak peduli lagi, padahal kan aku hamil gara-gara kak Arka juga" Mentari mulai membatin yang tidak-tidak tentang mertua dan papanya itu.
Mentari menarik napas begitu sesak rasanya, ia merasa hanya bunda, Aldi dan Arka yang peduli padanya.
"Iihhh kesal lama-lama sama papa, masa anaknya sakit gak jenguk" Mentari sudah tidak mampu membendung air matanya lagi.
Sedikit demi sedikit mulai keluar suara isak nya. Ia kembali masuk dalam selimut tebalnya dan tidak lupa mematikan AC dalam ruangan itu. Menit berjalan hingga sekarang sudah memasuki pukul 7 pagi, semua dalam ruangan itu seketika mengibaskan selimut sembari berkata.
"Panas" Ucap mereka.
"Pantas AC nya mati" sambung ibu Anita lalu melihat mantu dan putranya itu, "Kalian sudah shalat subuh?" sambungnya dengan pertanyaan.
"Sudah bun" jawab Arka dan Aldi bersamaan dan ibu Anita pun meresponnya dengan anggukan. Mereka melihat ponsel masing-masing dan disana sudah berbagai informasi masuk mulai perkembangan informasi Mentari jatuh sampai perusahaan.
Ponsel Aldi, pesan masuk dari anak buah yang menjaga ruangan Mentari.
✉️ Anak Buah xxx : Maaf bos, dari kemarin saya pantau tidak ada orang yang mencurigakan.
✉️ Aldi : Pantau sampai adik saya keluar dari RS ini.
Ponsel Arka, menerima pesan dari Asisten Brian tentang orang yang sengaja mencelakai istrinya itu.
✉️ Asisten Brian : Saya sudah dapat orang yang mencelakai nona Mentari pak.
✉️ Arka : Siapa Brian?.
✉️ Brian : Santi dan Rionaldo.
✉️ Arka : Kumpulkan bukti Brian, saya tidak mau bertindak tanpa bukti.
✉️ Asisten Brian : Baik pak.
Di ponsel Ibu Anita mendapat kiriman pesan dari sang suami,
✉️ Papa : Bun, Papa masih diluar mungkin sore ke RS
Ibu Anita melihat layar ponselnya itu dengan nada malas didengar langsung oleh Arka dan Aldi.
"Papa, gimana sih" Ucapnya
"Kenapa bun?" Tanya Aldi kepada ibunya itu setelah menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana.
Arka pun ikut menimpali, "Kenapa papa, bun?" tanya Arka.
"Ini lho papa, masa datangnya nanti sore" Jawab Ibu Anita yang saat itu Mentari baru saja bangun bagu.
Mentari yang biasa menguap itu langsung bangkit dengan posisi pembaringannya.
"Benar papa gak satang?" Tanya Mentari tiba-tiba.
"Sore baru datang, ada urusan mendadak katanya gak bisa ditunda" Jelas Anita
Mentari kembali diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, sampai tidak mau keluar dari selimutnya malah menutup dirinya. Suster datang membawa sarapan untuk Mentari.
"Ini untuk sarapan Bu Mentari" Ucap suster tersebut.
"Iya sus, terima kasih" Ucap ibu Anita.
Suster tersebut pergi dan ibu Anita menghampiri putrinya itu, "Sayang, bangun sarapannya udah dibawakan sama suster"
"Mentari tidur" Ucap Mentari dibalik selimut.
Mendengar itu ibu Anita senyum, "Tidur, kok bisa dengar kata bunda?" tanya ibu Anita lagi.
Mentari mengeluarkan kepalanya dari selimut itu dengan wajah murung dan mata sedikit bengkak, ibu Anita spontan bertanya,
"Kenapa sayang, ada yang sakit?" Tanyanya karena melihat putrinya itu sepertinya baru saja menangis.
"Papa gak jenguk Mentari, ibu dan ayah juga" Jawabnya sedikit lirih dan menunduk.
"Mereka lagi ada urusan sayang, tapi sore ini papa datang kok. Kok calon ibu nangis" Ucap ibu Anita lagi.
"Emang gak boleh?" tanya Mentari dengan tatapan sayu sambil lap air matanya.
"Boleh, ayo makan dulu" Bujuk ibunya lagi, "ini sudah jam 8 lho" sambungnya sambil mengambil makanan itu diatas meja.
Mentari mengangguk dan memperbaiki posisi duduknya, "Bun, apa kak Aldi dan kakak Arka sudah makan?" tanyanya.
"Makan sendiri ya bun" izin Mentari dan mengambil sendok ditangan ibunya itu dan makan sampai habis lalu ibunya ia kembalikan diatas meja.
Sedangkan Aldi dan Arka ke kantin RS mencari makan untuk sarapan pagi hari ini dan tidak lupa pulang membawa kotak nasi untuk ibu Anita. Sepanjang perjalan Arka terus kepikiran Santi dan Rionaldo, ia tidak menyangka melakukan hal itu kepada istrinya.
"Di, ternyata suruhan Rionaldo yang membuat Mentari jatuh" Ujar Arka tiba-tiba.
"Saya sudah bilang dari minimarket, ohh lupa yang aku video call itu Mentari bukan kamu" Ujar Aldi.
"Memangnya di minimarket ada Rionaldo kemarin?" tanya Arka.
"Kan lihat sendiri, cepat ahh. Belum punya anak sudah suka lupa" Ucap Aldi dan masuk diruangan itu dengan kantung plastik berisi kotak nasi untuk ibunya.
Waktu begitu cepat berlalu arah jarum jam seakan berputar seperti sedang lari maraton, tidak terasa sudah sore dan Mentari sudah tidak sabar ingin bertemu dengan papanya. Mentari sambil mengelus perutnya yang membuncit itu,
"Papa lama bangat" lirihnya sudah tidak sabar.
Beberapa menit kemudian Mertua dan papa Mentari masuk bersamaan, membuat Mentari langsung berkaca-kaca.
"Kok baru datang?" pertanyaan itu kena semua orang baru datang dan orang tua yang super peka langsung menghampiri Mentari.
"Maaf ya nak, kemarin ada urusan mendadak jadi gak bisa langsung ke sini" Jawab ibu Dewi
"Iya, ayah dan papa ku juga begitu" timpal Pak Rahmat.
"Iya" ujar ibu dewi lagi sembari senyum.
Mentari melihat mereka satu persatu untuk meyakinkan diri agar percaya tapi setiap hatinya dipaksa untuk percaya maka dia malah tidak percaya.
"Tapikan bisa datang dulu semenit aja, lihat Mentari disini" Ucapnya lagi yang sudah mulai ngambek.
Seketika dalam ruangan itu hening, bingung berkata apa lagi agar Mentari percaya. Ibu Dewi mulai memanggil anaknya itu untuk membujuk Mentari, tapi Arka malah menghampiri Aldi yang duduk diluar sudut ruangan itu.
"Arka" panggil Ibu Dewi pelan sambil melambaikan tangan.
"Capek bu, mau istrahat dulu" Arka bicara hanya comat camit tanpa mengeluarkan suara.
"Gimana kita main game" Usul papa Hadi.
"Tapi Mentari masih gak mau berpikir, lagi kumpulkan tenaga dan otak untuk proposal" Ucapnya membuat mereka kaget dan seketika menoleh kearah Arka.
Semua orang dalam ruangan itu tidak ada yang tau kalau Mentari sudah mau proposal. Pemikiran ibu-ibu langsung berputar terbalik jauh dari kata normal.
"Jangan berpikir yang membuatmu stres sayang" Ucap ibu Dewi yang sudah duduk disamping Mentari sambil memperbaiki kerudung mantunya itu.
"Benar kata ibu Dewi, ingat bayi yaa Mentari dan Arka" Timpal Ibu Anita.
"Mentari yang mau bun" Jawab Arka membela diri.
"Soalnya Mentari pengen juga pakai toga agar anakku bangga juga" Jelas Mentari.
"Tapi sebenarnya itu tidak terlalu penting nak, ingat anakmu, kasian dia kalau ibunya stres" ucap ibu Anita lagi.
"Itu, gak ada yang ngertiin Mentari. Semua hanya sayang anak Mentari saja" rajuk Mentari.
"Anita kok malah salah paham" ucap ibu Dewi.
"Lagian kalau Mentari tidak selesai kuliah, cari kerja itu susah dan kak Arka pasti cari perempuan berpendidikan bunda, ibu" Rengek Mentari.
Semua diam lalu ketawa kecuali Mentari sendiri bingung. Masih dalam masa bahagia karena bar kali ini kumpul keluarga, tiba-tiba ada yang ketuk pintu.
"Aku saja yang lihat" Ujar Aldi lalu membuka pintu kamar Mentari itu dan disana terlihat anak buah Aldi.
"Ada apa?" tanya Aldi.
"Gini bos, mungkin Rionaldo dan Santi akan kesini" Ucapnya lalu pergi.
Aldi kembali dan mengirim pesan kepada Arka meskipun duduknya bersampingan. Arka kaget melihat pesan dari iparnya itu, ia tidak habis pikir dengan tingkah laku dan pola pikir Santi dan Rionaldo itu.
✉️ Arka : Brian, tolong ke resepsionis rahasiakan nama istri saya di RS ini.
✉️ Asisten Brian : Iya pak, tapi kalau saya yang pergi nanti diikuti anak buah Santi dan Rionaldo pak, bagaimana kalau anak buah saja pak?"
✉️ Arka : Menurut mu aman Brian
Asisten Arka itu langsung menelpon anak buah yang selalu standby, setelah itu ia kembali menjalankan tugasnya yang belum selesai yaitu mencari bukti yang lebih kuat untuk menjebloskan Rionaldo dan Santi kepenjara dan sebagian anak buah yang lain.
...SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏...