Mentari

Mentari
Rencana pernikahan



Liburan singkat di Bali itu benar-benar menyenangkan untuk Mentari. Begitupun dengan Awan yang percaya dengan Mentari meskipun hatinya ketar ketir. Dia dibuat cukup tenang dengan adanya bodyguard yang menjaga Mentari dari jauh. Jadilah liburan para remaja yang beranjak dewasa itu tenang dan damai tanpa drama dari Awan sampai waktu mereka pulang.


"Ayo cepat! keluargaku dan abang kamu udah menunggu kita". Awan menuntun koper Mentari, dan tangan sebelahnya merangkul Mentari keluar dari Bandara.


"Maksudnya gimana sih?",Mentari bingung, tapi dia terus menyeret langkahnya mengikuti Awan.


"Papa mama sedang ngelamar kamu buat aku"


"Oh ya? Kok Om nggak kasih tau?", Mentari cukup terkejut dengan berita itu.


"udahlah... yang penting lancar. Lagian kamu mau ngapain kalau kamu tahu mau dilamar?"


"Paling nggak aku kan bisa nyiapin hati", Mentari malu-malu. Dia juga sadar dirinya tak akan bisa menjamu dengan baik.


Mereka berhenti di samping mobil yang akan membawa mereka pulang. Ada sopir yang menunggu disana.


"Hati kamu itu udah punya aku. Jadi biar aku aja yang nyiapin hati kamu", Awan berkata tepat di depan wajah Mentari. Ia mencolek mesra hidung Mentari.


Wajah Mentari memerah, ia terlihat semakin.....ah, hanya Awan yang tahu. "Kalau lagi nggak di tempat umum, udah habis kamu Mentari", Awan gemas sendiri.


Dan Mentari makin merona. "Sudah ayo masuk! Nanti mereka kelamaan nunggunya", Awan mengalihkan atensinya. Lama-lama gerah juga deket dengan Mentari. Apalagi setelah tiga hari tak bertemu. Rindu? Sudah tentu.


***


"Maaf kami telat". Semua menoleh ke sumber suara. Itu suara Awan.


"Ayo sini gabung. Kita bicarain konsep pernikahannya", mama Awan mengajak Mentari duduk di sampingnya. Mau tak mau Awan duduk di samping Cloudya dan papanya. Menggunakan kursi yang tambahan seperti Cloudya.


Mentari melihat kakaknya. "Abang kapan dateng?", ia bertanya takut-takut.


"Tadi pagi abang sampai. Kemarin abang di telepon pak Roby secara langsung", lelaki itu terlihat bangga.


Mentari cukup mengerti dengan keluarga Awan yang mampu melakukan apapun.


"Kamu pasti bingung ya Tari?", mama Awan berbicara. "Kami sudah melamar kamu kepada abangmu. Meskipun yang kesini hanya keluarga inti tapi kami bersungguh-sungguh melamarmu untuk Awan. Dan kami sudah tau jawaban kamu. Jadi kami pikir langsung saja berbicara soal pernikahan"


"Abang yang meminta agar yang melamar kamu hanya keluarga inti saja mengingat rumah kita kecil dan abang juga sedang tidak punya waktu banyak karena dadakan. Selain itu zidan juga sedang sakit,makanya nggak bisa ikut"


"Zidan sakit apa bang?"


"Hanya demam,tapi mbakmu kerepotan karena si bungsu juga lagi rewel. Abang harap kamu nggak kecewa"


"Kenapa harus kecewa? Mentari udah seneng banget abang kasih restu Mentari sama om Awan"


"Em... tunggu... tunggu...", mama Awan menyela. "Apa nggak sebaiknya kamu ubah panggilan kamu kepada Awan sih Mentari? Kok tante jadi geli dengernya.


Semua tertawa. Benar juga, mana ada yang memanggil calon suaminya om?


"Kamu panggil aja mas gimana?",Awan sendiri yang memberi ide.


Cloudya menahan tawanya karena ulah Awan. Tapi justru keinginan Awan mendapat dukungan dari semua orang. Dan mau tak mau Mentari harus mulai membiasakan diri memanggil Awan dengan sebutan 'mas' seperti keinginan pria itu.


"Kamu mau konsep pernikahan seperti apa?", mama Awan yang mendominasi pembicaraan.


"Saya nurut aja tante", Mentari masih sungkan.


"Tapi kamu bersedia kan menikah dengan Awan?", Pak Roby berbicara kali ini. "Sekali lagi saya tanya agar kami yakin, meskipun kami sudah tau sejauh mana hubungan kalian"


"Baiklah, biar istri saya yang urus semuanya. Satu bulan lagi kalian menikah"


"Satu bulan?",Mentari sangat terkejut. Dia yang mau menikah tapi dia sendiri tak tahu rencananya. Memang keluarga Awan yang berkuasa.


"Kenapa? Kamu keberatan?",Pak Roby mengernyit.


"Bu..bukan begitu Om"


"Tunggu!", Pak Roby menyela tiba-tiba. Mentari mendadak takut. "Kamu bilang om itu, ke saya apa ke Awan?"


Sontak semua orang tertawa. Awalnya mereka juga tegang karena pak Roby. Tapi, setelah tahu yang diungkapkan olehnya, semua malah tertawa.


"Maaf om",cicit Mentari malu-malu. anak itu menunduk dengan wajah memerah.


"Jadi kamu setuju menikah satu bulan lagi?", sekali papa Awan menegaskan.


"Iya Om", jawab Mentari. Lagian punya kuasa apa dia menolak? Yang ada dia tak jadi menikah dengan Awan. Jadi mau tak mau ia mengiyakan permintaan yang lebih mirip perintah itu.


"Cloudya aja yang nentuin konsepnya kalau Mentari nggak mau", Cloudya menyela. Sudah banyak ide yang akan ia kembangkan di konsep pernikahan Mentari dan Awan.


"Oke. Kamu harus bantuin mama. Biar Mentari fokus dulu masuk kuliah awalnya"


Cloudya mengangguk mantap. Dia antusias. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya. Hanya wisudanya saja yang di tunda. Dia berniat membuat gaun untuk pernikahan Mentari sebagai awal menggunakan ilmunya setelah menempuh pendidikan designernya.


"Semua sudah jelas. Sekarang bagaimana kalau kita makan dulu", pak Roby mengajak terlebih dahulu padahal bukan tuan rumah.


Mentari terkesiap. Mau dijamu dengan apa keluarga Awan, mengingat abangnya baru datang pagi tadi dan dia sendiri baru pulang liburan.


"Nggak usah tegang gitu. Semua udah tante siapin", mama awan bisa membaca raut cemas Mentari. Beliau menuntun seluruh keluarga untuk ke ruang makan yang sempit itu, langsung satu ruangan dengan dapur.


"Apa Nak Rendy mengijinkan jika Awan merenovasi rumah ini? Kemarin dia sudah berbicara dengan saya". Obrolan itu terjadi saat mereka menikmati santap siang dengan aneka hidangan yang disiapkan mama Awan.


"Boleh pak, saya sudah menyerahkan rumah ini untuk Mentari. Saya sendiri tak enak hati, sebagai anak laki-laki tak bisa menjaga adik perempuannya saat ayah kami meninggal", wajah Rendy berubah sendu.


"Abang nggak perlu seperti itu. Abang udah jadi abang terbaik buat Mentari", ia genggam tangan abangnya itu tanda kasih sayang yang besar.


"Kamu jangan sungkan nak Rendy, nanti saya siapkan usaha untuk istri kamu sambil ngurus anak. Seperti yang nak Rendy bilang tadi kalau istri nak Rendy punya bakat memasak",.ujar pak Roby.


"Terima kasih banyak pak", jawab Rendy sungkan.


***


Mentari melongo saat masuk kamarnya. Hanya tinggal Cloudya bersamanya karena Awan yang menyuruhnya. Dia harus kembali ke kantor karena memang sedang sibuk-sibuknya. Begitupun orang tuanya yang memilih pulang. Rendy juga langsung tancap gas untuk pulang karena anak sulungnya sedang sakit.


"Ngapain sih berhenti?", Cloudya heran dengan Mentari yang bengong di depan pintu kamarnya. Dia kan pengen masuk.


"I...ini nggak salah?", gadis itu memandang takjub kamarnya yang penuh dengan seserahan branded dari Awan.


"Gimana? Lo suka? Gue sama mama yang milihin"


"Ini terlalu banyak Dy". Mentari memegang satu persatu seserahan itu.


"Ini belum seberapa. Akan lebih banyak lagi saat lo nikah nanti", ujar Cloudya yang membuat Mentari semakin melongo.