Mentari

Mentari
Episode 170



Setelah berjam-jam di perjalanan kini Rembulan berhasil di larikan ke rumah sakit, bayi nya juga langsung mendapat penanganan. Karena bayi itu hanya terbalut handuk, dan belum meminum susu dari dua jam yang lalu.


"Radit...... Rembulan di mana?" Ranti tidak kuasa menahan tangisnya, setelah ia tahu jika Rembulan di larikan langsung ke rumah sakit.


Radit yang duduk di kursi sambil tertunduk tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya diam sambil menitihkan air mata. Tidak ada lagi wibawa ataupun wajah datar nya yang selama ini sering di liat orang, ia terlihat rapuh dengan segala rasa takut kehilangan Rembulan.


"Ulan masih di dalam Ma," Radit menunjukan ruangan di mana istri nya tengah di tangani di dalam sana, Radit sebenarnya ingin masuk tapi dokter Adam melarangnya. Karena Radit terlihat sangat panik, dan keadaan Radit juga tidak memungkinkan. Jadi Radit juga setuju dengan usul dokter Adam.


Nina yang juga baru datang bersama Mahesa langsung memeluk Ranti, keduanya seakan merasakan apa yang kini di rasakan oleh Rembulan.


"Rembulan pasti kuat jeng," kata Nina ya g terus menguat hati besannya, walaupun Nina juga merasa sedih. Tapi sedih yang di rasakan oleh Ranti jauh lebih besar, Nina sangat tahu rasanya mengkhawatirkan seorang anak yang di lahirkan dari rahimnya sendiri.


"Dokter Radit, bayi anda sudah kami bersihkan," kata seorang perawat yang menggendong bayi di tangannya.


"Apa sudah di beri susu?" tanya Radit yang mengambil anak nya dari perawatan tersebut.


"Sudah dokter, atau kami saja yang dulu menjaganya," tawar perawat tersebut.


"Biar saya saja," Nina cepat-cepat mengambil cucunya dari tangan Radit, karena terlihat Radit gemetaran saat memeluk anaknya. Tidak pernah terjadi dengan itu semua, pekerjaan nya sehari-hari adalah memegang cairan merah. Memegang bayi juga sudah menjadi hal mudah baginya. Tapi untuk kali ini ia lemah, saat cintanya nya di uji dengan penuh rasa sakit dan perasa tidak tenang. Semua itu hilang seketika.


"Cucu Oma," Ranti melihat cucunya, ia tersenyum. Tapi tetaplah saja ia masih terluka, putrinya masih berjuang melawan segala keadaan yang menyudutkan nya, Ranti hanya berdoa semoga putrinya baik-baik saja.


Setelah berjuang berjam-jam, akhirnya dokter Adam keluar dengan wajah yang tertunduk.


"Bagaimana?" tanya Radit yang langsung berdiri dan tidak sabar.


Adam tersenyum dengan terpaksa, ia memegang pundak Radit, "Sabar, kita doakan semoga istri mu segera sadar," jawab Adam dengan tidak tega.


"Maksud anda dokter?" tanya Ranti yang tidak mengerti.


"Pasien koma, keadaannya drop. Banyak darah yang keluar, penanganan yang terlambat, kita berdoa semoga ada keajaiban," jelas dokter Adam.


"Hiks....hiks....hiks....." Ranti menangis, dan tidak tahu harus apa. Yang jelas ketakutan begitu terasa.


"Anak kita kuat Ma, bukankah selama ini anak kita bisa melewati semua kesedihan seorang diri? Rembulan wanita kuat, dia hebat. Dia akan melewati masa ini dengan baik," hati Arya memang sakit, tapi ia pun mencoba kuat karena tidak ingin melihat istrinya semakin terpuruk. Padahal jika di tanya hati Arya juga hancur berkeping-keping, hati Ayah mana yang tidak sakit melihat penderitaan anaknya. Tidak ada, meskipun Ayah bukan lah yang mengandung dan melahirkan, tapi cinta Ayah juga tidak kalah bila di bandingkan dengan cinta seorang Ibu pada anaknya. Jadi jangan pernah remehkan kasih sayang seorang Ayah.


"Mama takut Pa, hiks.....hiks...." Ranti terus memeluk suaminya, ia berusaha menguatkan dirinya. Walaupun sulit tapi ia tetap berusaha.


"Kita Lihat Ulan kedalam," kata Arya.


Arya dan Ranti masuk kedalam dan melihat putri mereka terbaring di sana, banyak alat yang terpasang pada tubuhnya.


"Ulan, bangun Nak," Ranti mengecup pucuk kepada Rembulan, hatinya terus terasa sakit karena melihat anak nya yang terbaring di sana. Dan entah sampai kapan, Ranti masih belum percaya ini bisa terjadi pada Rembulan.


Sementara Radit hanya diam di luar, entah bagaimana ia bisa sanggup melihat wajah Rembulan di dalam sana. Ia hanya mengingat bertapa menyesalnya sudah membuat ini terjadi, andai saja ia tidak menjebak Rembulan saat itu. Rembulan tidak akan seperti ini, andai saja saat itu ia tidak menerima perjodohan dari kedua orangtuanya. Rembulan pasti juga tidak berada di dalam sana dengan keadaan seperti ini, sesal yang semakin terasa membuat dada seakan sesak. Cinta yang ia paksakan kian membuat kehancuran secara perlahan, namun apakah kah salah bila ia berusaha menghapuskan kata jika cinta tidak harus memiliki? Karena menurut Radit cinta itu harus memiliki. Hingga saat di ambang puncak nya cinta tidak bisa lagi di pendam dan di tahan, tidak sanggup melihat Rembulan bila bersanding dengan orang lain membuat jalan apapun akan ia tempuh hanya demi bisa terus bersama cinta pertama nya Rembulan.


Perlahan Radit bangun dari duduknya, ia menatap istrinya dari pintu kaca. Tangis semakin tidak bisa tertahankan, karena ia merasa gagal dalam menjaga cinta yang selalu ia perjuangkan. Padahal ini bukanlah kesalahan Rembulan. Tapi mengapa dengan teganya Diva menjadikan istrinya sasaran, bukankah Radit sudah meminta maaf dan memohon pada Diva untuk tidak menggangu nya dan Rembulan. Seperti nya wanita itu tidak di lahirkan dari rahim wanita, hingga ia begitu tega menelantarkan seorang ibu hamil di tengah hutan. Bahkan dalam keadaan yang sangat memprihatikan, lalu sampai kapan Rembulan terus berada di ruangan itu? Di bantu dengar alat yang begitu banyaknya.


"Kamu harus sabar, jangan terus menyalakan diri sendiri," kata Arka yang mengerti perasaan Radit.


"Tapi ini memang karena aku," kata Radit sambil menghapus jejak air matanya.


"Ini semua bukan salah mu, kau tidak usah pikirkan masalah wanita itu biar aku yang mengurus. Kau di sini sana menjaga istri mu," kata Arka lagi. Sebab kali ini Arka yang akan turun tangan mengurus Diva, sebab tidak mungkin Radit yang harus mengurus itu semua dalam keadaan Rembulan yang seperti ini.


Radit mengangguk, "Terima kasih," ucap Radit.


"Kita saudara, dan harus saling membantu."


Radit membuka pintu, dan ia masuk mendekati Rembulan. Tidak ada yang dapat ia katakan selain dari diam menatap iba pada kekasih halalnya yang terbaring di sana. Wajah cantik Rembulan kini berganti dengan wajah pucat, senyum manisnya yang dulu selalu membuat hati Radit bergetar kini sudah diam tanpa bergerak.


*


Like dan Vote. Author balik lagi.