Mentari

Mentari
Episode 69



"Dek, makan dulu, ini udah malam kasian baby" bujuk Arka dibalik pintu kamar.


Mentari mendengar itu samar-samar, "Aku sudah kenyang" jawab Mentari dengan gumam dan sudah tentu sang suami tidak mendengar itu.


Arka memutuskan untuk kembali di meja makan hanya untuk menunggu istrinya. Sudah lama Arka menunggu tapi Mentari tidak kunjung datang juga, dia kembali ke kamar mengetuk pintu untuk kedua kalinya hanya membangunkan istrinya itu.


"Dek, makan dulu" panggil Arka lagi


"Tidur kayaknya" batin Arka dan kembali dimeja makan untuk makan malam sendiri dan tidak lupa menanyakan kunci cadangan kamar mereka itu.


"Mbok kunci cadangan kamar mana?" Tanya Arka.


ARTnya yang masih didapur langsung menghampiri tuannya itu,


"Saya ambilkan sekarang?" Tanya ARTnya itu dan Arka hanya menjawab dengan anggukan kepala.


ART pergi mengambil kunci tersebut disalah satu ruangan dirumah itu, satu ruangan kecil khusus untuk tempat menggantung kunci dalam rumah itu. ART datang dengan kunci ditangannya.


"Ini tuan" ucapnya lalu ia kembali didapur


"Terima kasih ya mbok" ucap Arka


Arka kembali dikamar dengan membawa kunci cadangan, sesampainya langsung mencoba untuk membuka kamar tersebut namun tidak bisa karena dibalik pintu tersebut masih tertancap kuncinya jadi otomatis Arka tidak bisa membukanya.


"Aduh gak bisa lagi, apa aku telepon aja kali" Arka membatin sambil berpikir, "hmm, ponselku ada didalam" sambungnya dengan gumam


Arka memutuskan untuk tidur disamping kamar mereka. Ia tidur dengan terjaga agar kalau Mentari meminta bantuan tengah malam ia langsung dengar, begitu posesifnya Arka pada sang istri.


Arka merebahkan badannya tidak tenang, selalu terbayang oleh keadaan Mentari didalam kamar seorang diri. Arka kembali bangkit dari tempatnya tidur dan keluar kamar hanya untuk cek istrinya dengan cara menempelkan telinganya di pintu kamar.


"Huuff, aku gak tenang kalau gini" batin Arka lalu kembali dalam kamar tempatnya berada sekarang


Arka duduk dibibir ranjang dengan pemikiran tidak tenang, tiba-tiba terlintas dibenak Arka tentang proses lahiran sang istri dan membayangkan akan menggendong anaknya nanti, tanpa sadar Arka menyunggingkan senyum saking bahagianya dan senyum itu luntur seketika saat membayangkan wajah Mentari yang menahan rasa sakit.


"Ya Allah andaikan rasa sakit yang dialami saat istriku melahirkan nanti itu bisa dipindahkan pada orang lain maka aku ridho, biarkan aku yang menanggung semua" batinnya.


Arka begitu takut setiap melihat keadaan sang istri ditambah perut yang semakin membuncit. Arka yang terus kepikiran Mentari sampai tidak sadar ia ketiduran. Sedangkan Mentari disebelah kamar, jangankan mau ingat persalinan dia saja hanya yang ia sebut rindu orang tuanya dan mertuanya. Mentari begitu santai seperti tidak ada beban sama sekali.


...********...


Sinar matahari sudah mulai meninggi, tapi dua insan berbeda kamar itu belum bangun juga. ART sudah menyajikan makanan diatas meja untuk tuan dan istrinya. Namun, sampai makanan diatas meja sudah dingin Arka dan Mentari belum bangun-bangun juga.


ART memutuskan untuk membangunkan Mentari dan Arka.


"Tok.. tok.. tok"


ART sudah berulang kali mengetuk pintu belum ada ciri-ciri bangun. ART kembali mengetuk pintu dan kali ini pintu yang terbuka bukan pintu didepannya melainkan pintu samping kamar utama.


"Klek" bunyi pintu dibuka


"Mbok, Mentari belum bangun?" Tanya Arka dengan mata masih ia coba buka tuan.


"Belum tuan" jawab ART.


"Ya sudah, nanti aku bangunin" jawab Arka lalu ia kembali masuk dalam kamar untuk cuci muka.


Disisi lain, Rionaldo pagi ini kembali untuk menjalankan ide barunya. Sambil bersiul masuk kamar mandi, tidak membutuhkan waktu lama Rionaldo selesai mandi, pakaian dan lanjut menuju meja makan untuk sarapan pagi.


"Pagi" ucap Rionaldo dengan senyum yang tidak luntur diwajahnya


"Pagi, tumben pagi-pagi sudah senyam-senyum. Ada hal apa?" Tanya ibu ayu penasaran pada putranya itu.


"Gak bu, hanya senang saja" jawab Rionaldo sambil menyendok nasi goreng.


"Benar, gak bohong kan sama ibu?" Tanya ibu Ayu lagi.


"Gak bu" jawab Rionaldo singkat lalu memasukkan nasi goreng itu dalam mulutnya.


"Sayang, Mentari kapan kesini lagi?" Tanya ibu Ayu yang membuat Rionaldo mendongak melihat ibunya sejenak lalu kembali menunduk kearah piringnya.


"Belum tau bu" jawab Rionaldo lagi, "Rio mau keluar, ibu minta dibelikan apa?" Tanya Rionaldo mengalihkan pembicaraan.


"Tumben, mau kerumah Mentari?" Tanya balik ibu Ayu dengan sedikit senyum, "hmmm ngaku aja" sambungnya dengan godaan, Rionaldo menjawab dengan seulas senyum, membuat ibu Ayu berpikir kalau ucapannya itu benar.


Rionaldo kembali dikamar hanya untuk mengambil kunci mobil dan dompet.


"Ibu Rio pergi dulu, assalamualaikum" pamit Rionaldo lalu mencium tangan ibunya itu.


Selama dalam perjalanan tidak henti-henti Santi menelfon Rionaldo.


"Aakhhh, sialan" umpat Santi karena sudah berkali-kali menelfon tidak diangkat oleh Rionaldo


📞 "Cari tau mobil ini" ucap Santi kepada suruhannya itu dengan mengirimkan sebuah gambar mobil.


📞 "Baik bos" jawabnya diseberang telepon.


"Awas saja kalau diam diam bermain melangkah tanpa sepengetahuanku" gumam Santi lagi


Menjelang beberapa menit datang ibu Tati dengan nada marah sambil memegang beberapa bukti transfer.


"Apa ini Santi?" Tanyanya sambil melempar kertas kertas itu.


"Ini sudah lama" jawab Santi


"Lihat tanggal yang tertera disitu, mau makan batu kamu" marah ibu Tuti.


"Santi pusing sekarang Mi, Arka sudah tidak peduli sama Santi lagi" adu Santi pada ibunya.


"Hahaha.. payah, hanya satu orang kamu tidak mampu taklukkan" ucap ibu Tati dengan nada mengejek, "singkirkan rasa cintamu jika ingin berhasil" sambungnya lalu ia pergi.


"Tidak segampang itu Mi, Santi sayang kak Arka" teriak Santi.


"Cinta hanya akan merusak rencana mu, ingat itu" ucap ibu Tati lalu ia benar-benar menghilang dikamar anaknya itu.


"Maafkan aku Dewi" batin ibu Tati.


Kepergian ibunya dengan meninggalkan kalimat itu membuat Santi berpikir sejenak.


"Benar kata Mami, jika tak ku dapatkan maka siapapun tidak boleh mendapatkannya" batin Santi lalu kembali meraih ponselnya


📞 "Temui saya di taman, sekarang" ucap Santi


📞"Oke bos" jawab orang tersebut


Santi keluar dengan menggunakan taksi kali ini, sesampai di taman mereka menyusun rencana lalu pulang.


Berbeda dengan di kediaman Arka, saat ini siap-siap untuk kekantor. Dengan berbagai cara Arka membujuk Mentari dan akhirnya baikkan dengan hasil akhir yaitu setiap hari ikut kekantor.


"Mbok, kami kekantor dulu, assalamualaikum mbok" pamit Mentari.


"Wa'alaikumussalam tuan dan nyonya" jawabnya lembut dan sopan.


Arka dan Mentari pergi, baru beberapa menit mobil Rionaldo berhenti tepat didepan gerbang rumah Arka itu. Rionaldo turun dan bertanya pada satpam.


"Ada Mentari pak?" Tanya Rionaldo


"Maaf, nyonya baru saja pergi bersama tuan" jawabnya.


"Ohh, terima kasih" ucap Rionaldo lalu pergi.


...SEMOGA SUKA ❤️...


...TERIMA KASIH 🙏...