Mentari

Mentari
Episode 52



Arka kembali dikamar setelah setengah kue yang ia makan habis sedang Mentari masih menikmati bolu nya sambil nonton, hanya nontonnya saat ini pindah dikamar dengan posisi selonjoran


Arka mendekati istrinya itu dan sekilas mencium kepalanya, seperti sedang mengambil milik orang lain dan takut ketahuan. Mentari menoleh ke suaminya sembari senyum lalu Arka ke kamar mandi


"Kak Arka aneh, aku yang hamil dia yang aneh. Apa jangan-jangan anak aku cewek yaa, kalau cewek bisa diajak jalan-jalan tapi kalau cowok gak masalah juga supaya nanti bisa menjaga adik-adiknya" ucap Mentari sambil mengusap perut ratanya itu, "eehhh adik-adiknya, itu berarti banyak.. aahhh gak jadi, menjaga adiknya saja" sambungnya lagi


Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi dan matanya langsung tertuju kepada Mentari yang lagi mengusap perut ratanya sambil komat kamit seperti sedang bicara


"Kalian lah penyemangat ku" batin Arka lalu ia jalan menghampiri istrinya itu dan tanpa aba-aba ia langsung memeluk Mentari


"Jangan pernah tinggalin kakak sendiri ya" lirih Arka yang membuat Mentari melonggarkan pelukan suaminya itu dan menatap wajah suaminya


"Kakak kenapa?" Tanya Mentari sambil menghapus air mata Arka yang berada disudut matanya


"Tidak, janji gak akan ninggalin kakak kan dek?" Tanya Arka lagi dan dengan cepat Mentari mengangguk


"Terbalik kak, aku sebenarnya yang khawatir sama kakak jangan sampai setelah aku jelek nanti kakak cari perempuan cantik" Mentari pun mengeluarkan isi hatinya selama ini yang ia simpan-simpan


Perempuan selalu takut saat ia hamil, takut suaminya nanti kepincut perempuan cantik yang lebih dari dirinya, dan namanya laki-laki mustahil tidak menyukai perempuan yang glow-up


"Gak akan, kakak cukup kalian saja, gak perlu yang lain" jelas Arka lalu ia kembali memeluk istrinya itu dengan erat


Mentari hanya mengusap lembut punggung suaminya itu, "sudah-sudah, kita tidur yuk" ajak Mentari


"Iya" jawab Arka singkat lalu merebahkan badan bersamaan dengan istrinya pelan dan tidak lupa menyelimuti istrinya


Mentari melihat itu mendongak melihat muka suaminya itu


"apa ini efek baby kita?"


"Sudah tidur, kakak lagi senang... Cup cup istri kecil kakak ini sebentar lagi akan jadi ibu" ucapnya sambil mencium kepala istrinya dengan lembut menariknya masuk dalam dekapannya lalu mereka tidur.


...💛💛💛...


Tepat 4 bulan pernikahan Arka dan Mentari, Rionaldo pun selama itu tidak ada kabar sama sekali bagaikan ditelan bumi.


Hari ini dimana Rionaldo pulang bersama pamannya dari luar negeri, Rionaldo dan Paman Ilham baru sampai bandara langsung menelfon ibunya


📞"Assalamualaikum bu, Rio dan paman Ilham sudah di bandara tunggu Rio ya bu" ucapnya diseberang telepon lalu ia matikan sambungan telepon


"Paman, ibu sudah menunggu dirumah" sambungnya Rionaldo kepada pamannya itu sambil menggiring kopernya keluar dari bandara


"Iya, sekaligus paman ingin berziarah ke makam ayahmu" ujar Ilham


Ibu ayu sudah tidak sabar menyambut putra semata wayangnya itu. Semenjak kepergian suaminya 3 bulan yang lalu ia memutuskan untuk mencari ART untuk sekedar menemaninya dirumah.


Paman Ilham dan Rionaldo baru sampai rumah setelah perjalanan cukup jauh dan ibu Rionaldo begitu bahagia setelah 4 bulan pergi dan sekarang sudah pulang


Ibu ayu menyambut mereka dengan suka cita, ia begitu berseri-seri melihat putra yang beberapa bulan dirinduinya itu. Ia mempersilahkan paman ilham masuk pada masuk dalam rumah sambil merangkul putranya itu,


"makin gagah saja" puji ibu Ayu kepada putranya itu, "Rio tidak akan pergi lagi kan?" Sambungnya


"Ibu baru pulang sudah ditanya lagi, insyaallah bu" jawab Rionaldo walaupun ia tidak jamin


"Ibu Ayu, Rionaldo akan memimpin perusahaan jadi pasti sibuk, keluar kota atau negeri pun dalam setiap bulan itu mungkin saja seminggu mungkin lamanya" jelas paman Ilham lagi


"Gini pak Ilham, ibu mau segera lamar Mentari supaya punya teman cerita dirumah" ujar ibu ayu lagi


"Mentari?, Anak siapa?, Nanti paman yang urus. Apa kolega bisnis kita?" Tanya Ilham bertubi-tubi kepada ibu ayu dan Rionaldo ponakannya itu


"Rio juga belum tau paman, putri dari pemilik perusahaan Algantara grup" jelas Rionaldo


"Algantara grup, paman tau pak Hadi. Apa paman telepon dulu sebelum kita kesana?" Tanya Ilham kepada Rionaldo dan menoleh kearah ibu Ayu, "apa orangnya baik dan cocok dengan rio, bu ayu?" Sambungnya ingin mengetahui alasan ibu Ayu


"Iya, selain cantik parasnya dia juga cantik hatinya. Saya bertemu dengannya sudah dua kali" jelas ibu ayu yang membuat Ilham ingin menyegerakan niat baik ponakannya itu


"Kalau gitu minggu depan kita ke rumah pak Hadi" ucap pak Ilham


"Tapi paman, Mentari itu sudah..." Rionaldo ingin menjelaskan kepada paman dan ibunya agar keinginannya untuk melamar Mentari itu dibatalkan, namun ibu ayu memotong ucapannya sebelum ia menjelaskan semuanya


"Sudahlah Rio, dia baik apalagi yang kamu cari?.. Pak Ilham saya harap minggu depan kita langsung ke rumah pak Hadi"


Keputusan ibunya membuat Rionaldo pusing bukan kepalang. Bagaimana tidak orang yang mereka lamar itu yang sudah bersuami


"Ibu dengar dulu penjelasan Rionaldo" Rionaldo masih mencoba untuk menjelaskan


"Sstttt... Ibu hanya pengen punya mantu Mentari" ucapnya lalu ia pergi ke kamar sedangkan pak Ilham pamit untuk pulang


"Wa'alaikumussalam paman" ucap Rionaldo dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena stress dengan keputusan paman dan ibunya itu


Rionaldo masuk kamarnya setelah beberapa bulan tidak ia tinggali, Rionaldo menatap lama setiap bingkai foto-foto yang ia gantung dikamarnya itu


Rionaldo mengambil bingkai foto itu dan berbicara layaknya foto itu manusia


"Kenapa ibuku harus kamu yang ia suka, aku gak keberatan malah aku sangat bersyukur kalau tuhan mentakdirkan kamu sebagai jodohku tapi sekarang sudah beda, kamu sudah menikah dengan pak Arka sekaligus dosen dikampus kita, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?" ujar Rionaldo dengan tatapan kefoto Mentari yang sedang senyum itu


"Mentari apa yang aku harus lakukan?" Tanya Rionaldo lagi difoto itu


"Tok tok tok"


"Rio, makan dulu nak" panggil ibu ayu dibalik pintu


"Sebentar bu, Rio istrahat dulu masih capek" jawab Rionaldo dalam kamar


"Iya, kalau lapar ibu sudah siapkan dimeja makan yaa, tinggal dimakan" ucap ibu ayu lagi


"Iya bu" jawab Rionaldo dan mengantungi foto itu ke tempatnya semula


"Rindunya sama gadis polos ini" ucap Rionaldo dengan sedikit menyungging kan senyum


Rionaldo membersihkan badan sebelum ia istrahat, dan tanpa sadar ia ketiduran. 30 menit tertidur ia terbangun dengan bunyi ponsel yang bergetar setiap detik. Bunyi ponselnya seperti tembakan senjata yang sedang menyerang lawan


"Ya Allah pantas bunyinya seperti ini, 4 bulan gak dikasih aktif" lirih Rionaldo dengan mata merah karena terbangun dari tidurnya gara-gara bunyi ponsel


Rionaldo sengaja semenjak pergi di luar negeri ia menonaktifkan kartunya. Dengan alasan agar bisa melupakan Mentari, sosial media pun ia tidak aktif selama 4 bulan terakhir. Dan saat ini sudah kembali maka nomor ponsel dan media sosialnya kembali aktif seperti semula


"Banyak bangat.. hmmmm," lirih Rionaldo sambil memilih pesan yang ia balas


Rionaldo kewalahan hanya untuk balas pesan sedang pesan di WhatsApp terus masuk dan sekarang pesannya sudah ribuan.


Rionaldo menemukan pesan Mentari yang masuk diponselnya, "Mentari" batinnya, tanpa ia menunggu lama langsung balas pesan itu


✉️Rionaldo : aku dirumah


Setelah menekan tanda send diponselnya, Rionaldo berharap kalau mentari langsung membalasnya


"Cepat balas" lirih Rionaldo lagi dan ternyata dugaan Rionaldo tidak salah pesannya langsung dibalas oleh Mentari


✉️Mentari : aku kira sudah lupa dengan sahabat mu


Rionaldo membaca pesan itu hanya senyum sembari ia balas


✉️Rionaldo : Ketemuan yuuk


✉️Mentari : Kapan?


✉️Rionaldo : Besok pagi


✉️Mentari : tergantung suami Mentari kalau diizinkan Mentari pasti datang, gimana kalau datang saja dirumah?"


Mentari menawarkan Rionaldo sahabatnya itu, ia pengen sekali bertemu dengan Rionaldo. Selama dia menikah ini belum pernah bertemu dengan sahabatnya itu komunikasi lewat ponsel saja tidak pernah dan lebih parah nomornya tidak aktif.


Sedangkan disana, Rionaldo yang sedang baca pesan itu, ia tersenyum kecewa dengan dirinya sendiri, ia menertawai dirinya sendiri yang tidak mampu melupakan Mentari itu


"Bodoh kamu Rio, kenapa terus berharap sama istri orang lain" batin Rionaldo


✉️Rionaldo : iya.. kirimkan alamat rumah kamu


✉️Mentari : aku tidak punya rumah. Yang punya rumah suami aku


Rionaldo kembali tersenyum namun di hatinya terus menyalahkan diri sendiri karena terlambat melamar gadis kesayangannya sehingga menikah dengan orang lain


"Mentari kenapa sih kamu terus seperti ini?, aku tau pesanmu ini bercanda, kamu tidak tau rasa sakit yang paling dalam adalah saat orang yang kita jaga jadi milik orang lain. Saat ini, itu yang aku rasa walaupun aku sudah mencobanya untuk ikhlas tapi rasa itu selalu ada. Lagi-lagi aku kalah dengan perasaanku sendiri gadis polos, aku tidak bisa move on dari mu" lirih Rionaldo lagi


Rionaldo lagi-lagi kalah melawan perasaanya sendiri, ia tau ini salah tapi hatinya yang selalu berbisik untuk terus mencintai Mentari. Ia sadar mencintai memang sakit karena hakikatnya berani mencintai berarti siap untuk terluka, cinta tak selamanya dibalas dengan cinta kadang cinta itu yang membuat kita patah sepatah-patahnya. Namun, kembali pada hati karena pemilik hati pun tidak tau kepada siapa hatinya untuk jatuh cinta, kita mampu mengontrol mata untuk tidak melihat, kita mampu mengontrol bibir untuk tidak berucap tapi hati tak mampu melakukan itu, semakin disembunyikan maka tingkah laku lah yang menampakkannya.


...**SEMOGA SUKA❤️...


...JANGAN LUPA DUKUNGANNYA DAN TINGGALKAN JEJAK YA. DUKUNGAN READER MERUPAKAN SEMANGAT BUAT SAYA😊...


...TERIMA KASIH 🙏**...