Mentari

Mentari
Episode 152



"Caileeh......Kak Ulan, malu-malu meong," Seloroh Rembulan, "Udah Kak Radit, sosor bae lah....." kata Mentari lagi sambil cekikikan.


"Tari, sekali lagi lu ngomong!" Rembulan melihat Mentari dengan tajam, "Gelas ini nyampek ke muka lu, gue pastikan itu!!!" geram Rembulan.


"Ulan......" Ranti mendengar ada keributan di meja makan, hingga ia penasaran. Dan ternyata kedua putrinya tengah bertengkar seperti biasanya.


"Kak Ulan ni Ma," adu Mentari.


"Apanya? Lu ya Dek!!!" Rembulan juga tidak mau mengalah.


"Kakak ngalah," kata Ranti pada Rembulan.


"Ish....." Rembulan kesal, "Lihat tu anak kesayangan nya di bela!" ujar Rembulan.


"Aduh Mama pusing sama kalian berdua kalau udah gabung ribut, kalau lagi berjauhan saling kangen. Sehari nggak ketemu nannyak-nanyak. Pas udah ketemu modelnya begini, ribut aja," omel Ranti.


Kedua putrinya sejak dulu memang begitu, tidak ada yang mau saling mengalah. Tapi sebenarnya Ranti juga rindu dengan pertengkaran kecil anaknya. Karena selama ini begitu banyak nya masalah yang menimpa keluarga mereka.


"Dasar!!!" kesal Mentari, karena bagaimanapun Mentari sudah membongkar rahasia nya pada Radit. Rembulan kan juga merasa malu.


"Apa!!!" seri Mentari.


"Ehem....." Arka berdehem, dan semua mata melihat kearah nya. Dan sesaat kemudian Arka duduk di samping kursi meja makan yang di duduki istrinya.


"Cukup ya, Kak Ulan!" kata Ranti memberikan peringatan.


"Dengerin tu kata Mama, jangan jadi anak durhaka!!" timpal Mentari yang merasa menang karena Mama Ranti membelanya.


"Adek!!!" kini Ranti menatap Mentari dengan tajam, "Kalian berdua sudah menikah, Tari kamu itu sebentar lagi mau jadi Ibu....sama Ulan juga, jadi coba sedikit dewasa," pinta Ranti sambil melihat kedua wajah masam kedua putrinya saling bergantian. Kemudian Ranti melihat Arka dan Radit, "Arka, Radit maaf ya.....tapi memang begini kalau mereka sudah gabung," kata Ranti dengan tidak enak hati.


"Iya Ma," jawab Radit.


Arka hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum pada Ranti. Semua nya sudah tahu Arka yang irit berbicara, jadi tidak ada lagi yang bingung dengan sikap dingin Arka.


"Mama apasih, kok ngomong begitu.....yang salah tuh anak bungsu Mama!!!" Rembulan belum bisa melupakan kekesalannya pada Mentari, karena adiknya itu sudah membuka aibnya di depan Radit. Rasanya dendam kesumat itu terus bergelora di hati nya.


"Hey Ulan! Ngomong hati-hati!" kata Mentari kesal.


"Lihat Ma," Rembulan menunjuk Mentari, "Lihat cara bicara nya tuh, Mama dengar kan tadi dia panggil Ulan kan enggak sopan!" kata Rembulan merasa ia benar dan tidak salah.


"Tari kenapa kamu enggak panggil Kakak?" tanya Ranti.


"Mama ku sayang, Kak Ulan nikah sama Kak Radit kan?" tanya Mentari.


"Iya, terus?" tanya Ranti bingung.


"Kak Radit ini adik sepupunya Kak Arka.....berarti posisi nya Tari naik, Tari yang Kakak....." Mentari berdiri dan menepuk dada dengan bangga nya.


"Tari bener Kak," kata Ranti yang ikut membenarkan apa yang di katakan Mentari.


"Ulan panggil Kak Tari!!" kata Mentari dengan bangga.


Rembulan memberikan senyum miring, "Lu di rumah Mama Tari, gue Kakak lu!" kata Rembulan lagi, "Udah enggak waras ini anak," tambah Rembulan lagi.


Radit baru tahu Rembulan ternyata bisa juga adu mulut, karena setahu Radit selama ini Rembulan adalah wanita anggun yang kal. Bahkan tertutup dan irit dalam berbicara.


Sedangkan Arka menarik Mentari dan berbisik di telinga istrinya, setelah itu keduanya saling pandang. Sesaat kemudian Mentari membenarkan duduknya.


"Ngapain bisik-bisik.....dasar aneh! Gesrek....mulut lemes....." kesal Rembulan mengeluarkan unek-unek di dadanya.


"Iya Kak Ulan, Iya Tari ngalah....Tari sadar kok," kata Mentari santai.


"Bagus kalau sadar!" kata Rembulan masih dengan emosi.


"Maksudnya gue gila Dek?" tanya Rembulan sesaat menyadari perkataan Mentari barusan.


Mentari dengan santai mengangkat bahunya, karena itu tadi kata yang di ajari Arka padanya. Dan ia puas melihat Rembulan emosi, dan merasa tersudut, "Lu kan emang gila Kak, buktinya lu butuh psikiater....kemarin dokter Sahara kan...." kata Mentari.


"Tari!!!!" Rembulan berdiri dan ingin sekali mencekik adiknya.


"Kok marah Kak, ngerasa ya?" tanya Mentari santai.


"Tari.....Ulan.....cukup-cukup ya.....atau kalian berdua Mama hukum!" kata Ranti mengeluarkan ancaman yang biasanya mujarab untuk meredakan pertengkaran kedua putrinya.


"Maaf ya Ma, Tari ini bukan lagi anak bungsu Mama yang tiap hari mengharapkan transfer dari Mama.... suami Tari itu CEO Ma, bahkan Tari punya black cards," kata Mentari sambil mencium pipi Mama tercintanya.


"Sama Ma, Ulan juga udah punya suami.....jadi kalau Mama ngancemnya uang seperti biasanya udah nggak mempan Ma, karena Ulan juga punya ATM berjalan," Rembulan juga memegang lengan Ranti yang sebelahnya lagi.


"O.....jadi kalian udah berani sama Mama ya!!!" kata Ranti.


"Hehehe......ampun Ma," kata Rembulan, karena ia hanya menggoda Ranti saja.


"Tari juga bercanda Ma, Tari juga masih butuh Mama," timpal Mentari sambil cengengesan.


"Karena kalian sayang sama Mama?" tanya Ranti dengan bahagian.


"Karena harta Mama sama Papa belum dibalik nama atas nama Tari," kata Mentari asal. Kemudian ia menjauhi Ranti.


"Mentari!!!!!" seru Ranti.


"Ahahahhaha......" Mentari tertawa sambil pergi dari sana, karena ia tidak ingin menggoda Mamanya lagi.


Semua orang tahu dan mengerti jika Mentari adalah wanita penuh humoris, wajah cantik, cerdik dalam mengelabui orang lain dan selalu ingin membuat orang lain bahagia.


"Sayang....." Arka menyusul Mentari yang pergi ke taman belakang.


"Kak, lihat ada buah mangga," Mentari menunjuk pohon mangga yang cukup tinggi, tapi ada buah yang cukup banyak di atas sana.


"Tapi masih kecil sayang," kata Arka.


"Tari emang maunya yang kecil begitu Kak," kata Mentari.


"Kakak cari kayu dulu ya," Arka.


"Tari maunya Kakak yang panjat," pinta Mentari.


"Sayang," Arka langsung menunjukkan wajah melasnya.


"Tari pengen Kakak yang panjat gimana dong," Mentari juga menunjukkan wajah sedihnya, karena ia memang sangat ingin buah mangga itu.


"Sayang pohon mangga itu sangat tinggi, Kakak enggak bisa manjat juga," kata Arka berharap Mentari mengerti.


"Anak Kakak pengen Kakak yang manjat," Mentari menunjukkan perut buncitnya.


Arka menggaruk kepalanya, "Kita cari di mall aja kali yang," tawar Arka lagi, "Sekalian shopping juga kan?" Arka menaik turunkan kedua alis matanya.


Mentari diam dan menimbang tawaran Arka, "Kak Ulan," teriak Mentari saat melihat Rembulan tidak jauh darinya.


"Apa?" jawab Rembulan.


Lihatlah Kakak beradik itu, seolah tadi bukan mereka yang bertengkar. Bahkan Arka sampai sedikit bingung.


*


Jangan lupa Like dan Vote Kakak.