
Keesokan harinya Rembulan membuka matanya, ia merasa tidurnya sangat lelap sekali. Wajah saja itu karena Radit yang memberikan obat, dengan cepat Rembulan turun dari ranjang kemudian ia langsung menuruni anak tangga. Dengan berlari.
"Ulan kamu jangan begitu Nak!!!" seru Ranti dengan jantung yang berdebar, "Kamu itu sedang hamil, tidak boleh begitu!" kata Ranti lagi.
Rembulan tersenyum, "Udahlah Ma, Ayahnya aja enggak pusing.....jadi Mama santai aja," kata Rembulan seolah tidak perduli, "Ulan lapar Ma, mau makan," kata Rembulan dan ia segera menuju dapur, "Bik Sum!!!!!" teriak Rembulan, padahal Bik Sum ada di depan matanya.
"I....iya Non?" tanya Bik Sum dengan takut, karena Rembulan bukanlah wanita yang suka berteriak maupun marah-marah. Jika Mentari yang berteriak itu sudah biasa, mereka sudah mengenal baik seperti apa Mentari. Sungguh Rembulan kini bukan dirinya sendiri.
"Bikinin telor ceplok!" teriak Rembulan lagi.
Kaki Bik Sum bergetar, ia sangat takut melihat Rembulan yang kini.
Brak!
Rembulan menggebrak meja makan, "Cepat!!" teriak Rembulan lagi.
Bik Sum langsung mengerjakan apa yang di pinta oleh Rembulan, bahkan ia mengerjakan nya dengan tubuh gemetaran.
"Ulan," Ranti yang mendengar suara Rembulan berteriak mulai mendekati putri nya, "Kaku kenapa Nak?" tanya Ranti.
"CK...." Rembulan tidak perduli dengan pertanyaan Mama Ranti, yang ada ia hanya melihat kukunya.
"Ini Non," Bik Sum cepat-cepat meletakan telor ceplok yang di pinta Rembulan di atas meja.
"Nasinya mana!! Kamu bodoh sekali!!" kata Rembulan sambil mendorong piring berisi telor ceplok buatan Bik Sum menjauh darinya, "Itu aja nggak bisa!" kesal Rembulan.
"Ulan," Ranti tidak pernah melihat Rembulan bicara dengan nada membentak, bila pun ia tidak salah Rembulan tetap berbicara dengan nada lembut. Apalagi dengan yang lebih tua dari nya.
"Cepat sana, aku lapar!!!" kata Rembulan lagi, "Apa kau juga ingin membuat aku dan anak menderita!" tanya Rembulan.
"Ulan....." Ranti tidak suka dengan cara bicara Rembulan, tidak pernah Ranti mengajak Rembulan bicara begitu.
"Apasih! Nggak jelas....semua sama aja!" kata Rembulan. Kemudian ia bangun dari duduknya menatap Ranti dengan tajam.
Plak!
Tangan Ranti melayang begitu saja di pipi Rembulan, hingga Rembulan merasa sakit pada wajahnya. Wajahnya terbawa kesamping, Rembulan seperti akan menangis tapi ternyata tidak ia malah tertawa.
"Ahahahhaha......." tawa Rembulan pecah, "Tamparan lebih baik karena sakitnya hanya sebentar saja, kalau bisa yang lebih sakit dari ini agar aku lupa dengan sakit hati ku ini," pinta Rembulan, "Ahahahhaha....." Rembulan tertawa kemudian ia berjalan keluar.
Radit yang terbangun dan tidak melihat Rembulan di ranjang, merasa khawatir ia awalnya mencari di kamar mandi. Tapi tidak ada kemudian ia keluar dari kamar, saat mendengar suara Rembulan ia menuju dapur. Bahkan Radit melihat saat Ranti menampar Rembulan. Ada rasa sakit yang di rasakan Radit, apa yang ia lakukan sangat membuat penyesalan yang begitu dalam. Dengan langkah cepat Radit mengejar Rembulan, dan ternyata Rembulan tengah duduk di teras sambil menangis. Dengan tubuhnya yang bersandar pada dinding. Perlahan Radit duduk di samping Rembulan, tanpaknya ia tahu kejiwaan Rembulan mulai terganggu.
"Ulan," kata Radit sambil melihat Rembulan.
Rembulan hanya menatap lurus dengan air mata yang semakin berlinang, pikiran yang tidak terkendali membuatnya jadi seperti orang gila. Bahkan untuk menguasai dirinya sendiri saja sudah tidak bisa.
"Ulan," Radit merapikan rambut Rembulan yang terurai namun kusut, "Ulan," kata Radit lagi. Namun Rembulan seperti tidak mendengar ia hanya diam saja, hingga Radit mengambil ponselnya dan mencari kontak dokter Sahara.
"Waalaikumusalam dokter Sahara," kata Radit karena panggilan nya sudah terhubung.
"Ada yang bisa di bantu?" tanya dokter Sahara lagi.
"Iya, dokter bisakah anda sebelum ke rumah sakit mampir di rumah saya....em, maksud saya di rumah mertua saya....karena istri saya sepertinya membutuhkan anda," kata Radit menyampaikan maksud nya menghubungi dokter Sahara pagi hari begini.
"Em, iya baiklah, kebetulan saya sudah di jalan....bisa anda kirimkan lokasi anda dokter," kata Dokter Sahara.
"Iya dok," Radit memutuskan panggilannya dan mengirimkan lokasi nya, agar dokter Sahara bisa langsung menuju tempatnya.
Setelah itu Radit kembali menatap Rembulan, sakit sekali melihat orang yang kita cintai menderita. Hingga tidak lama berselang sebuah mobil berwarna hitam memasuki gerbang, dan Radit tahu itu dokter Sahara.
"Assalamualaikum dokter Radit," sapa dokter Sahara.
Radit bangun dari duduknya, "Waalaikumusalam," kata Radit, kemudian ia melihat Ranti juga mulai keluar dari rumah, "Ma, ini dokter Sahara," kata Radit lagi.
"Iya," Ranti mengangguk.
Kemudian dokter Sahara melihat Rembulan, "Dia istri anda dokter Radit?" tanya dokter Sahara.
"Iya dok, dan dokter bisa lihat keadaannya," jawab Radit.
Dokter Sahara mengangguk, ia kemudian berjongkok di hadapan Rembulan, "Assalamualaikum," sapa Dokter Sahara.
Rembulan hanya diam seolah tidak ada siapa-siapa di hadapan, ia masih dalam lamunannya yang sudah entah kemana.
"Halo," dokter Sahara menggerakkan tangannya di hadapan wajah Rembulan, namun Rembulan masih saja diam tanpa bicara. Dokter Sahara berdiri dan melihat Radit, kita bicarakan nanti di rumah sakit dokter Radit atau lewat telpon saja," kata Dokter Sahara.
"Tapi apa istri saya baik-baik saja dokter?" tanya Radit.
Dokter Sahara menarik nafas, kemudian ia kembali berjongkok, di hadapan Rembulan "Wah kamu sedang mengandung ya, suami kamu dimana.... kenalan dong?" Dokter Sahara berusaha berkomunikasi dengan Rembulan
Benar saja, setelah dokter Sahara berbicara tentang kandungan Rembulan langsung mengangkat wajah nya dan melihat dokter Sahara. Tapi ia hanya diam tanpa berbicara.
"Sudah berapa bulan kandungannya, jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan? Kamu istrinya Dokter Radit Mahesa Wijaya?" tanya Dokter Sahara.
Rembulan mengangguk, namun air matanya menetes begitu saja. Tapi sesaat kemudian Rembulan menggeleng, "Bukan lagi dia sudah tidak perduli, cinta yang dia ucapkan selama ini hanya setebal kulit bawang.....tidak ada berbukit, dia pergi tanpa mau perduli," jawab Rembulan, tapi sesaat kemudian ia tertawa, "Karena aku yang memintanya pergi, Ahahahhaha....." Rembulan tertawa dengan lepas seolah ada yang lucu, padahal tidak sama sekali.
Dokter Sahara berdiri dan melihat Radit, "Sepertinya masalahnya ada pada anda tuan Radit, istri anda depresi berat.....mungkin ada sesuatu yang mengganjal di pikirkan nya hingga ia tidak bisa menguasai dirinya.....nanti saya akan minta seseorang untuk mengantarkan obat untuk istri anda, dan nanti sore saya kembali lagi," kata dokter Sahara,"Bu saya pamit," pamit dokter Sahara pada Ranti.
"Apa anak saya bisa sembuh dok?" tanya Ranti.
"Ibu tenang saja, kita berusaha sambil berdoa.... semoga bisa di sembuhkan, tapi coba jangan membentaknya.... berikan dia kasih sayang dan banyak berbicara dengan pasien.... seperti nya dia punya masalah dan semua dia pendam begitu saja," jelas dokter Sahara lagi.